Kembali ke Rumah Zafran

1150 Words
Zafran berdiri di ruang tengah, menatap Shiren yang tertidur asal di atas sofa. Dua jam setelah Shiren merapikan kamarnya sendiri dan menata batang-barangnya, wanita itu duduk santai di ruang tengah. Dia tadinya sempat terkejut dan tak menyangka rumah Zafran akan sebesar ini. Siapa yang mengira lelaki mengesalkan ternyata memiliki kemampaun untuk bermain bisnis dan menjadi akuntan perusahaan keluarga yang bergerak dalam bidang properti? Setelah kelelahan, Lynelle tanpa sadar memejamkan mata dan menghabiskan waktunya untuk berbaring sebentar. Sebentar itu ternyata berubah menjadi menit, bahkan kini menjadi jam. Satu jam lebih Shiren tertidur, nafasnya teratur. Ujung bibirnya mengerucut kecil, tampak celah di antaranya. Zafran melirik sebentar dan menggelengkan kepala. Bukankah wanita ini sendiri yang berkata tubuhnya sakit karena tidur di sofa hotel? Sekarang, kenapa dia melakukan hal yang sama setelah berada di rumah? Apakah pikiran wanita itu cukup aneh? Atau memang dia memiliki bibit abnormal tertentu? Setelah mempertimbangkan beberapa kali, akhirnya Zafran menyeret kasur busa dari salah satu kamar yang berada di lantai bawah, dan mendekatkannya ke sisi Shiren. Dengan pelan, dia mengangkat tubuh Shiren dan meletakkannya dengan hati-hati di atas kasur busa. "Gila. Ramping sih ramping. Tapi beratnya nggak kira-kira!" Zafran menggeleng lemah, menyadari lengannya sedikit gemetar karena menahan beban tubuh Shiren yang terasa berat. Wanita itu sama sekali tak bergerak. Sepertinya dia sangat lelah. Zafran membiarkan saja Shiren di ruang tengah, dan memutuskan untuk menyeduh kopi di dapur. Langkahnya ringan, bibirnya tertarik membentuk senyum simpul. Entah kenapa, beban yang ia tanggung semenjak berpisah dengan Avana, kini mulai terurai secara perlahan. Zafran duduk di teras belakang rumah, menatap halaman belakang yang dipenuhi banyak pepohonan. Siang ini cuaca Jakarta cukup panas, membuat Zafran sedikit gerah. Tetapi lelaki itu tetap asyik menyesap kopinya yang masih mengepulkan uap panas. Matanya yang tajam dan gelap seperti palung laut tanpa dasar. Ada ketenangan yang mulai merasuk ke hati Zafran. Seperti angin segar yang lama tak ia rasakan. Seperti embun pagi yang telah lama tak ia sentuh. Pernikahan ini, mau tak mau harus Zafran akui sebagai sesuatu yang tidak membebaninya. Padahal, sebelumnya Zafran berpikir pernikahan mereka akan menjadi sesuatu yang merepotkan. Tak disangka, hanya dalam beberapa hari mengenal Shiren, Zafran mengubah pendapatnya secara penuh. Wanita itu cukup cakap dan bisa menjadi partner yang menyenangkan. "Heh, Zafran! Loe pindahin tubuh gue barusan waktu tidur?" suara cempreng Shiren membuat Zafran menoleh dengan tiba-tiba. "Bukan! Ada jin kali!" jawab Zafran sekenanya. Dia tak mengira Shiren akan bangun lebih cepat dari yang ia duga. "Awas ya! kalo terbukti loe punya niat buruk sama gue! Awas loe!" Shiren menunjuk-nunjuk Zafran, memberi ultimatum. Dia tak ingin memberikan celah apa pun pada Zafran untuk melakukan hal-hal yang tak seharusnya. Mereka telah sepakat menjaga privasi masing-masing dengan batasan-batasan tertentu. "Niat buruk? Bagian mana dari tubuh loe yang bisa membuat gue punya pikiran buruk? d**a kecil, pinggang nggak berbentuk, pinggul selurus papan, kaki segede gebugan maling, wajah—" Bug! Shiren menendang kaki Zafran dengan sekuat tenaga. Dia memelototi lelaki itu, tak menyangka Zafran yang sekilas penampilannya sopan, ternyata memiliki mulut seperti perempuan tanpa rem sama sekali. "Apa itu tendangan kasih sayang?" Bukannya marah, Zafran justru menyipit penuh arti. Dia menatap kaki Shiren yang masih berpose siap siaga untuk menendang lagi. Dari mana wanita ramping itu memiliki kekuatan tersembunyi? Satu tendangan saja membuat Zafran merasa sakit. "Gue heran. Di mana lelaki dingin yang gue temui dulu? Sekarang mulut loe comelnya nggak beda jauh sama ibu-ibu PKK. Apa loe mulai berubah kepribadian?" Shiren menghentakkan kakinya, kembali ke ruang dalam dengan gerutuannya yang tak berkesudahan. Zafran hanya bisa mematung lama. Dia mengusap wajahnya, memejamkan mata. Shiren benar. Jiwanya telah lama merasakan kedinginan. Dia menciptakan sebuah pembatas yang sangat kuat, terutama saat berinteraksi dengan lawan jenis. Jadi, kenapa secara sembrono, dirinya menurunkan pertahanan dan membuka celah lebar untuk bersikap terbuka dan tak masuk akal pada Shiren? Apa yang salah dari dirinya? … Shiren menatap layar ponsel utama. Dia mengerutkan kening, tak mengerti kenapa Damar menghubunginya. Ayolah. Damar adalah salah satu teman yang jarang Shiren hubungi. Meskipun pertemanan mereka cukup baik, tetapi antara Damar dan Shiren tak bisa dikatakan dekat. "Ya. Halo, Dam? Ada apa lo hubungi gue? Gue nggak punya hutang nyawa dan hutang harta sama loe kan ya?" tanya Shiren, mulai curiga. Dia memijat kepalanya pelan-pelan, siapa tahu saja dia memamg punya tanggungan hutang. "Loe pikir gue punya kemampuan buat ngutangin loe? Gue aja kaum dhuafa. Dari mana gue dapat modal buat ngasih hutangan?" Damar menjawab ringan, sangat khas dirinya. Shiren bisa membayangkan lelaki itu sedang duduk di kursi loket, bermain-main dengan ujung bolpoin dan menepuk-nepuk kaki kirinya secara periodik. "Oh iya lupa. Kita kan sama-sama kaum marginal ya! Ada apa, Dam, loe hubungi gue?" tanya Shiren, langsung pada pokok pembicaraan. "Pengen tahu aja loe masuk kerja kapan? Pekerjaan loe, itu gue yang lakuin. Yang lain pada angkat tangan. Mana kerjaan loe banyak lagi nggak kelar-kelar!" Shiren memiliki job untuk merekap stok tiket wahana dan rekap pengunjung rombongan. Setiap staff tiket selain melaporkan rekap harian, juga diberi tanggung jawab membuat laporan bulanan tergantung bagian masing-masing. Bagian Shiren-lah yang paling berat katena rentan terjadi selisih perhitungan. Makanya, yang lain biasanya langsung angkat tangan jika harus merangkap pekerjaan Shiren. "Bersyukurlah sama gue, Dam! Gue ngasih ladang ibadah baru sama loe! Kapan coba loe bisa beramal begini, ye kan?" tanpa rasa bersalah, Shiren justru tertawa lebar. Rasain sekarang! Biar yang lain merasakan juga beban dan tugas miliknya. Selama ini Shiren selalu merasa jobnya memusingkan. Sementara teman-teman lain bisa lebih santai. Sekarang, giliran Shiren bersantai ria, pekerjaan akan ia limpahkan pada teman-temannya. Jika perlu, Shiren bisa mengambil cuti lebih lama. Hanya untuk membuat teman-temannya kelimpungan. Pikiran Shiren dipenuhi kelicikan. Senyum puas tersungging di bibir indahnya. "Loe mau balik kerja lagi kapan?" tanya Damar, kali ini terdengar serius. Tak ada nada jenaka dan main-main dari nada suaranya. "Gue belum tahu, Dam. Kemarin gue ngajuin cuti empat belas hari karena cuti tahunan gue kan juga jarang gue ambil sebelumnya. Sekarang, tinggal sembilan hari lagi. Bisa jadi nanti gue perpanjang!" Shiren berkata riang, menakut-nakuti Damar. Rasakan sekarang! Shiren ingin cuci tangan dulu dari semua jobnya yang rumit dan memusingkan. Dalam hati, Shiren mulai tertawa iblis. "Kayaknya pernikahan loe berjalan lebih baik dari yang diharapkan, sampai-sampai loe ogah balik ke gawe loe lagi!" Damar berkata ringan, tetapi entah kenapa, Shiren mampu menangkap keseriusan dari suaranya. "Nggak ada yang spesial dari pernikahan gue! Nanti, kalau gue udah istirahat bentar dan badan gue enakan, gue bakal secepatnya balik kerja, kok! Jangan khawatir!" Shiren menenangkan. Dia tersenyum kecil, tahu jika sepertinya cutinya tidak akan bisa lebih lama lagi. "Janji?" Suara Damar setengah putus asa. "Iya, janji!" Shiren tak memiliki pilihan lain selain berjanji. "Baik-baik, ya di situ! Gue harap loe bisa segera berangkat!" Shiren mengernyitkan dahinya, sedikit bingung. Dia menangkap ada nada keputusasaan dari Damar. Meskipun itu samar, tetapi masih mampu Shiren rasakan. Ada apa sebenarnya dengan lelaki itu? …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD