“Seorang pemuda tidak akan memberikan senyum kepada kalian atau bersikap halus kepada kalian, atau memberi suatu pelayanan bagi kalian, kecuali senyum, sikap halus, dan pelayanan itu adalah sebuah pembuka untuk apa yang mereka inginkan ...”
***
Selama dua tahun ke depan, Risa bisa terhindar dari bau-bau tentang perjodohan. Ya ... setidaknya untuk sementara waktu, meski nanti setelah Yunus selesai kuliah S2, sesuatu yang bukan menjadi hal yang ditunggu-tunggunya lagi akan terjadi juga. Akan tetapi, Risa tidak akan tahu mengenai rencana Allah ke depannya bagaimana. Jalani dan pasrah, takdir Allah adalah yang terbaik.
Saat ini, gadis dengan cadar dan jilbab hitam tersebut berada di mobil yang tengah melaju dengan kecepatan rata-rata. Pandangannya tertuju ke luar jendela.
Sebenarnya, niat Risa untuk mengenakan cadar sudah tepikirkan sejak lulus SMA. Namun, seiring bertambah usia dan semakin dewasa pemikiran, dia urungkan sebab merasa belum mampu menjadikan cadar sebagai kain suci yang amat sangat berharga.
Ternyata, niatnya yang belum benar. Hanya karena melihat orang lain tampak menarik ketika mengenakan cadar. Lantas, membuat dia ingin seperti orang tersebut, tanpa tahu tujuan dan hikmah di balik penggunaan helai kain suci bernama cadar.
Selain itu, Risa masih gemar upload foto pribadi ke sosial media. Tidak ayalnya memancing komenan dari kaum ajnabi untuk memuji kemolekannya. Bahkan, ada yang berani merayu-rayu.
Risi? Tentu saja, tetapi hasutan dari setan mampu menundukkan nafsu untuk patuh, berujung pada timbulnya hasrat untuk terus upload foto pribadi yang tampakkan kecantikan demi mendapat pujian dan like banyak. Sangat pernah terjadi pada diri Risa kala masih duduk di bangku sekolah menengah.
Betapa sayangnya Allah pada Risa, karena setelah mengalami kejadian di mana dia mendapat pesan dari seseorang yang menyebut dirinya sebagai ‘muslimah hunter’ (Ind: Pemburu perempuan muslim), sejak saat itu upload foto ke sosial media mana pun dihentikan. Bahkan, akun-akun sosial medianya dihapus, kecuali w******p.
Ceritanya, laki-laki itu mengirim gambar Risa melalui dm i********:, lalu berkata jika senyum dan pandangan mata gadis itu sangat mengundang syahwat. Risa marah, memaki-maki, hingga menyalahkan laki-laki yang entah siapa nama aslinya, sebab seenaknya mengambil gambar orang dan melakukan dosa besar. Namun, si muslimah hunter malah balik menyalahkan, salah Risa sendiri, kenapa meng-upload foto pribadinya ke sosial media yang ranahnya global, dengan gaya tidak biasa pula.
Meski hanya tubuh bagian atas saja yang tampak di gambar, meski syar'i sekalipun, tetapi mata adalah sumber paling berbahaya untuk menjangkit birahi. Mata adalah bagian tubuh yang paling indah, sebab mampu menimbulkan pikiran paling kotor bagi yang memandang.
Si muslimah hunter mengaku dirinya salah. Akan tetapi, ketika wanita juga tidak bisa menjaga muruah atau izahnya, bagaimana laki-laki bisa menjaga diri dari perbuatan tidak pantas, sedangkan dia juga memiliki nafsu dan khilaf?
Supaya tidak terjadi demikian, maka laki-laki yang berusaha gadhul bashor (menjaga pandangan), harus diikuti dengan usaha seorang wanita yang menjaga muruah (harga diri atau kehormatannya). Harga diri yang mana? Dengan menutupi aurat dan tidak mengumbar gambar dirinya ke khalayak, meski gambar belakang badannya sekalipun. Sebab, setan bisa melakukan segala hal dengan memanfaatkan kecerdasannya yang penuh tipu daya.
Pesan-pesan itu berhasil menampar keras Risa. Sekeras dia membela diri bahwa kebenaran ada di pihaknya, lebih keras lagi kalimat tamparan yang didapat. Kejadian itu peringatan bagi Risa, bahwa upload foto peribadi ke sosial media tidaklah baik, banyak mudaratnya.
Seperti buku berjudul Yaa Binti atau Wahai Putriku karya Ali Tantowi yang pernah dibacanya, dalam buku tersebut dikatakan, “ ... laki-laki yang pertama kali melangkahkan kaki menuju dosa, perempuan sama sekali tidak melangkahkan kakinya, tetapi, kalau bukan karena kerelaan kalian wahai putriku, para lelaki tidak akan melangkahkan kaki mereka, kalau bukan karena sifat lunak kalian, mereka tidak akan bersikeras untuk melakukan keburukan, kalianlah yang membuka pintu dan mereka memasukinya.
“Seolah-olah kalian berkata kepada pencuri “silahkan masuk” dan ketika mereka mencuri, kalian berteriak minta tolong: “wahai siapa pun, tolonglah aku, seseorang telah mencuri barangku.” ”
Dikatakan pula, “Asal kalian tahu, semua laki-laki itu serigala dan kalian layaknya domba bagi mereka. Kalian seharusnya lari dari mereka seperti larinya domba dari serigala, dan jika kalian tahu semua lelaki adalah pencuri, kalian seharusnya menjaga diri seperti orang yang pelit menjaga harta mereka dari para pencuri.
“Dan jika serigala hanya menginginkan daging dari domba, maka sejatinya yang diinginkan seorang laki-laki dari kalian itu lebih mulia dari sekadar daging bagi domba, mereka menginginkan sesuatu dari kalian yang kematian lebih ringan daripada kehilangan hal itu, mereka menginginkan hal paling agung yang pernah kalian miliki, mereka menginginkan kehormatan kalian, kehormatan yang dengannya kalian menjadi mulia, kehormatan yang kalian banggakan, kehormatan yang dengannya kalian hidup.
“Kehidupan perempuan yang telah dilukai kehormatannya oleh laki-laki itu lebih berat daripada seratus kematian bagi domba yang dagingnya dikoyak serigala.”
Kemudian kalimat yang membuat Risa benar-benar menyesal telah melakukan kegiatan tiada faedah itu berbunyi,. "Sungguh, demi Allah, tak seorang pun dari laki-laki yang melihat perempuan kecuali ia akan membayangkan di otak mereka bahwa mereka telah melepaskan pakaian perempuan itu, untuk kemudian membayangkan perempuan itu benar-benar tanpa pakaian.
“Sungguh, demi Allah, aku bersumpah untuk keduakalinya. Jangan kalian percaya omongan sebagian laki-laki yang berkata bahwa mereka tidak melihat dari perempuan melainkan akhlak dan kecantikan dalamnya, bahwa mereka berbicara dengan perempuan sebagaimana seorang teman saling mengasihi selayaknya sahabat. Dusta. Sungguh itu adalah dusta.
“Seorang pemuda tidak akan memberikan senyum kepada kalian atau bersikap halus kepada kalian, atau memberi suatu pelayanan bagi kalian, kecuali senyum, sikap halus, dan pelayanan itu adalah sebuah pembuka untuk apa yang mereka inginkan ...”
“Risa.”
Panggilan itu membuat Risa tersadar dari lamunan. Ternyata mobil sudah berhenti untuk mengisi bensin di sebuah pom bensin. Lantas dia menoleh ke kanan, tempat sang mama. “Iya, Ma?”
“Ngelamunin apa, sih? Dari tadi mama panggil nggak nyaut-nyaut.”
Setelah membayar pada kasir, mobil pun kembali melaju. Perjalanan masih tersisa sekitar dua jam lagi, terlihat di google maps yang memampangkan jalur menuju tujuan mereka sekarang, yaitu rumah sanak keluarga dari sang mama yang kebetulan berada di Semarang. Ternyata rencana Allah memang yang terbaik.
“Nggak ada, kok, Ma. Agak gugup aja, soalnya bentar lagi Risa udah mau jadi mahasiswa. Mana bakalan jauh dari Mama juga,” tutur gadis itu terdengar sedih.
“Kenapa harus sedih? Nanti, kan, mama bisa dateng ngunjungin kamu kapan aja.”
“Bukan gitu ... nanti, kan, Mama jadi sendirian di rumah.”
Hana terkekeh kecil menanggapi rengekan dari gadisnya yang terbilang dewasa, dia seperti Risa kecil menggemaskan. “Kan ada Mang Ujang, mama jadi nggak sendirian, 'kan?”
Mendengar hal itu, menciptakan tekukan wajah masam di balik cadar Risa. Dia tahu betul sang mama sedang bergurau, tetapi terdengar sangat tidak mengenakkan. “Ngapain sama Mang Ujang? Mama mau selingkuh dari Papa? Ih, Risa nggak terima!”
Seketika tawa Hana meledak atas tanggapan bernada marah Risa yang lebih ke kecemburuan seorang gadis kecil ketika sang mama lebih perhatian pada anak lain. Percakapan berbumbu candaan mereka pun terus berlanjut.
***
Hana mengusap kepala Risa yang tertutup kerudung merah muda. Saat ini, gadis yang akan selalu dianggap putri kecilnya meski sudah dewasa itu tengah terlelap syahdu. Hana tersenyum miris, betapa banyak penderitaan yang harus ditanggung sang putri, bahkan sejak dia kecil.
Ibu yang jahat, itulah julukan yang pantas untuk Hana. Hanya karena kesalahan yang dilakukan gadis kecil yang belum bisa berpikir layaknya orang dewasa, berujung pada kebencian mendalam.
Andai Allah tidak melembutkan hati sekeras batunya, mungkin sekarang dia masih menyimpan benci pada Risa. Allah Mahabaik, tiada yang bisa menandingi.
Pikirannya teralihkan ke kejadian beberapa waktu lalu. Hana tahu betul jika Risa tidak memiliki perasaan apa pun pada Yunus, tetapi berusaha untuk menyenangkan hati orang tua dengan mengorbankan perasaannya sendiri. Sekali lagi, dia adalah ibu yang jahat bagi Risa.
Besok adalah keberangkatan putrinya ke luar kota untuk menempuh pendidikan lanjutan. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Hana sempat meragukan jurusan yang dipilih Risa dan membuka kesempatan untuk gadis itu lolos dari seleksi mandiri.
Sudah jelas keinginan terbesarnya adalah melihat sang putri lolos di FK. Akan tetapi, dia juga harus memikirkan perasaan Risa yang dari dulu memang sangat menyukai dunia tulis menulis, bahkan mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi nilai paling tinggi di rapornya sepanjang duduk di bangku sekolah.
“Kamu mirip banget sama mendiang papa kamu, Nak,” lirih Hana menarik kedua sudut bibir sembari terus mengusap lembut puncak kepala anak gadisnya. Ya, Risa menuruni kecintaan sang papa di bidang literasi.