“Ma, Pa, aku akan belajar menerima, meskipun itu sulit, sekalipun aku sakit, walau bukan bagian dari doaku yang terlangit. Namun, aku akan selalu dan terus percaya, bahwa takdir Allah adalah yang terbaik.”
***
Sedari tadi Yunus hanya bisa mengembuskan napas pasrah ketika kedua orang tuanya memborbardirkan kalimat bernada kecewa. Risa dan Hana baru saja pulang setelah sebelumnya bertandang guna berpamitan karena besok, gadis itu akan berangkat ke Semarang. Tanpa sengaja gadis yang akan melanjutkan sekolah ke luar kota itu mengungkit masalah tentang Yunus yang lagi-lagi membatalkan khitbah.
Dua hari yang lalu, selagi kedua orang tuanya pergi, Yunus manfaatkan untuk datang ke rumah Risa dan beruntung, mama gadis itu juga tidak berada di sana. Hal itulah yang membuat Dini dan Arda marah besar sekarang, apalagi setelah tahu anak mereka membatalkan khitbah untuk ke sekian kali. Mau ditaruh di mana muka mereka?
“Kali ini kamu benar-benar kelewatan, Nak. Ayah tidak tahu lagi jalan pikiran kamu. Bisa-bisanya kamu permalukan Ayah dan Bunda di depan keluarga Risa! Pasti almarhum Arka sangat kecewa ...” Laki-laki berumur 53 tahun itu tertunduk lemah, tak pelak membuat sang istri mengusap pundaknya yang tidak lagi kekar.
Keheningan menyelimuti suasana di ruang tengah tersebut, hingga suara Yunus merasuk ke telinga Arda dan Dini. “Alasan Yunus bukan hanya karena ingin melanjutkan S-dua, itu juga bukan yang utama. Yunus terus-terusan membatalkan khitbah karena Risa adalah sepupu tingkat satu Yunus, banyak risiko yang akan kami dapat jika pernikahan benar-benar terjadi.”
Dua orang itu kini memandang Yunus dengan raut penuh tanda tanya. Risiko apa yang akan Yunus dan Risa dapat jika benar-benar menikah?
Selama ini, mereka sebagai orang tua tidak pernah memikirkan hal itu, hanya terpikir untuk menjodohkan keduanya. Semata-mata gar hubungan keluarga terus terjalin erat dan tidak lain supaya Risa bisa bahagia.
“Secara biologis, pernikahan antarsepupu akan berdampak buruk pada keturunan. Sering kali bayi yang terlahir mengalami cacat bawaan, gangguan mental, gangguan sistem kekebalan tubuh atau dalam dunia medis disebut kelainan genetik primary immunodeficiency, anak juga akan lebih rentan terkena infeksi dan penyakit autoimun. Bahkan, risiko lahir mati atau stillbirth lebih tinggi, dengan kata lain, kemungkinan terbesar bayi meninggal saat dilahirkan.
“Walaupun secara agama, pernikahan antarsepupu diperbolehkan, tapi Yunus tidak mau ambil risiko, apalagi dampaknya itu lebih besar bagi Risa.” Raut Yunus tampak sendu, penuturannya benar-benar mengubah persepsi Arda dan Dini terhadap alasan laki-laki tersebut yang setahu mereka hanyalah karena hendak melanjutkan S2.
Mereka baru tahu bagaimana kritisnya Yunus dalam menanggapi sebuah persoalan. Dia yang kini sudah mendapat gelar sarjana kedokteran, tidak membuat heran keduanya ketika anak itu menyebutkan dampak buruk dari menikah dengan sepupu dari segi biologis.
Lalu, bagaimana dengan Hana yang sudah lama menjalani hidupnya sebagai dokter? Apakah dia tidak tahu hal ini? Dini berpikir akan menanyakannya nanti pada Hana.
“Selain itu, Risa tidak menyimpan perasaan apa-apa terhadap Yunus, demikian juga dengan Yunus, sama sekali tidak ada rasa. Mungkin Ayah sama Bunda berpikir, cinta bisa tumbuh setelah menikah. Ya, itu juga pernah berlaku pada Baginda Nabi, tapi menurut Yunus, hati yang tidak menginginkan, tidak sepenuhnya berhak untuk dipaksakan.
“Yunus hanya menganggap Risa sebagai adik sepupu dan selama ini, tidak sekalipun ada perasaan melebihi itu. Yunus mengaku salah telah terus-terusan membatalkan khitbah, apalagi Risa pasti sakit hati dan marah. Akan tetapi, Yunus punya alasan kuat di balik itu semua, bukan karena sekadar memikirkan perasaan diri sendiri sebab tidak memiliki rasa, tapi semua alasan sudah Ayah dan Bunda dengar langsung barusan.”
Tatapannya tertuju pada kedua orang di depan yang terhalang meja. Berharap, mereka bisa menerimanya dengan lapang d**a dan tidak ada lagi kata memaksa.
“Apa yang kamu katakan mungkin ada benarnya, tapi kita sudah berjanji akan membahagiakan Risa karena selama bertahun-tahun anak itu merasakan penderitaan mendalam, dan hanya kita tempatnya kembali. Bagaimanapun, Ayah sudah menganggapnya seperti putri kandung ...”
“Risa sudah bahagia, Yah. Apa Ayah tidak bisa melihat bagaimana hubungannya sekarang dengan Bibi Hana? Mereka sudah berbaikan, untuk apa lagi menjalankan perjodohan ini?” Nada Yunus terdengar sedikit meninggi.
“Yunus, pelankan suara kamu, Nak. Kamu tidak ingat sedang berbicara dengan siapa?” peringat Dini cepat, membuat Yunus meredupkan raut kemarahannya.
Arda menghela kasar. “Ayah butuh menjernihkan pikiran sejenak, nanti kita bicarakan lagi.” Lantas, laki-laki itu beranjak dari sana dengan langkah melemah.
Dini memalingkan arah pandang dari suaminya pada sang putra, perasaan bersalah semakin menyergap. Berdiri, dia beranjak mendekati Yunus, lalu memposisikan diri sedekat mungkin dengan pemuda tersebut.
Tangan renta Dini mengusap pundak Yunus lembut seraya berucap, “Maafkan bunda karena telah memaksa kamu untuk menikah dengan Risa. Selama ini, bunda pikir kamu sudah menerima gadis itu sepenuhnya karena tidak lagi ada penolakan setelah belasan tahun silam.
“Dari penilaian bunda, kamu menolak karena waktu itu masih kecil dan belum tau apa-apa. Setelah beranjak dewasa, kamu tidak lagi melakukan penolakan satu kali pun. Bunda kira itu karena kamu sudah mau menerima dan mencintai Risa.”
Kalimat sang bunda membuat Yunus memutar lehernya 30°, tetapi memilih diam dan mendengarkan. Yunus cukup terkejut atas ungkapan perempuan yang amat dia hormati tersebut, mengingat sang bundalah yang pertama kali menjodohkannya dengan Risa.
“Benar apa yang kamu katakan, Risa sudah bahagia sekarang, mamanya sudah berubah, tidak lagi menyimpan kebencian. Bunda juga terlalu berharap dan hanya memikirkan kebahagiaan satu pihak, sementara tidak memikirkan bagaimana perasaan putranya, bahkan tidak pernah bertanya, apakah anaknya bahagia atau tidak dengan perjodohan ini.” Wanita tersebut menangis, merasa amat bersalah.
“Bunda, Yunus minta maaf karena tidak bisa melanjutkan perjodohan ini. Yunus benar-benar tidak bisa, maaf,” cicit Yunus sembari menggenggam tangan sang bunda yang tidak lagi bertengger di pundaknya.
Dini mengangguk pelan. “Bunda tidak mungkin memaksa kamu, sedangkan hati kamu tidak menginginkan hal itu. Akan bunda bicarakan hal ini dengan ayah kamu, semoga beliau bisa mengerti.”
Sebuah senyuman terbit di wajah Yunus yang masih melukiskan sendu. “Terima kasih banyak, Bunda, sudah mau mengertikan Yunus.”
Anggukan dan ulasan senyum dari sang bunda membuat Yunus bergerak memeluk tubuh ringkih dari wanita yang merupakan cinta pertamanya tersebut. Namun, mereka tidak tahu, bahwasanya Arda sudah mengambil keputusan untuk tetap melanjutkan perjodohan setelah berpikir lama.
Mungkin, risiko yang dikatakan Yunus memanglah benar, tetapi pasti akan ada jalan keluar, begitu pikirnya. Bagaimanapun, dia sudah berjanji akan menjaga Risa, dan dengan cara ini, Arda bisa lebih leluasa untuk memberi perhatian pada gadis itu.
***
“Perjodohan ini akan tetap kita lanjutkan.”
Di malam sebelum esok harinya keberangkatan Risa, ketiga orang yang ada di ruangan bernuansa merah muda itu seketika bereaksi sama: terkejut, kecuali Dini. Sebelumnya, dia berniat membicarakan tentang pembatalan perjodohan, tetapi malah mendapat kabar jika suaminya lebih memilih meneruskan.
Kalimat Arda barusan berhasil mengubah suasana semakin tegang. Pasalnya, mereka sepemikiran untuk tidak melanjutkan perjodohan, kecuali laki-laki yang akan kembali berbicara, Arda.
“Aku sudah memikirkannya matang-matang, dan kuputuskan untuk tetap melanjutkan perjodohan antara Yunus dan Risa. Karena bagaimanapun, aku sudah berjanji pada almarhum Arka akan menjaga Risa, sehingga dengan jalan perjodohan ini, janji itu akan bisa kutepati.
“Setelah Yunus menyelesaikan S-duanya, sesegera mungkin kita susun rencana, mulai dari khitbah hingga pernikahannya nanti.”
“Ayah–”
“Ayah tidak menerima penolakan, sekalipun itu dari Bunda, termasuk kamu Yunus,” kata Arda memotong ucapan Dini dan berhasil membuat Yunus melayangkan tatapan kecewa pada dirinya.
“Maaf, Mas, tapi saya keberatan.”
Suara Hana mengalihkan perhatian semua orang, termasuk Arda yang kini memasang wajah aneh karena merasa jika adik iparnya akan mengucap kalimat penolakan. Hana menatap gadis yang tengah tertunduk dalam di sebalahnya dengan perasaan tidak tega.
“Kenapa kita tidak tanyakan langsung pada Risa dan Yunus, apakah mereka masih mau menerima perjodohan ini? Jangan hanya memikirkan perasaan pribadi, tapi pikirkan perasaan mereka juga.
“Jika Risa dan Yunus sama-sama ingin menghentikan perjodohan ini, lalu kita paksa untuk melanjutkannya, itu sama saja dengan mengorbankan perasaan dan kebahagiaan mereka. Apa Mas tidak berpikir sampai ke situ?” Kedua mata Hana berkaca, tampak jelas dia menahan emosi.
“Tapi ini mengenai janji aku, Hana. Aku sudah berjanji pada suamimu untuk menjaga dan memberi perhatian layaknya seorang ayah kandung bagi Risa!” timpal Arda, seakan apa yang dia ucap titik penyelesaiannya mutlak dengan jalan menjodohkan anak mereka.
Saat itu juga Hana berdiri, menatap nyalang pada Arda, mengenyahkan perasaan tidak enakan-nya.
“Mas! Apa pemikiran Mas sesempit itu, sehingga berpikir bahwa perjodohan adalah satu-satunya jalan untuk menebus janji?! Lalu kamu kemanakan dampak yang akan mereka tanggung?! Anak yang lahir dari pernikahan keduanya berisiko cacat fisik dan mental, bahkan berujung pada kematian!” Kini, air mata membasahi pipi Hana.
Dini terperanjat mendengar penjelasan Hana, ternyata wanita itu juga sudah tahu dampaknya. Akan tetapi, kenapa dari dulu dia tidak berusaha untuk menolak perjodohan?
“Aku tau betul akan risiko itu, tapi aku juga tidak memiliki keberanian untuk menentang keputusan Mas dan Mbak. Mungkin saja itu bisa menyinggung perasaan kalian dan hubungan kita bisa merenggang. Aku takut akan mengecewakan almarhum Mas Arka lagi.
“Aku juga salah karena dulu pernah membenci darah dagingku sendiri, bahkan menyakitinya berulang kali,” tutur Hana di sela tangisan. Menghapus air matanya, Hana kembali mendudukkan diri dan sekarang, dia memilih diam.
Risa bergerak menggenggam tangan sang mama, memberi senyum ketenangan. “Risa nggak pa-pa, Ma. Mungkin ini jalan dari Allah,” bisiknya, lantas kembali menghadap ketiga orang yang duduk berjejer di depan sana dengan meja kaca sebagai penghalang.
“Risa akan turuti kata Ayah Arda. Mungkin, Papa juga akan mengambil keputusan sebagaimana keputusan Ayah Arda, karena yang Risa tau, Papa sangat menyayangi Bang Yunus, sebagaimana beliau sayang sama anak kandungnya.”
Itulah keputusan Risa, menyenangkan perasaan orang lain, tetapi dengan cara menyakiti perasaannya sendiri.