Sepanjang jalan pulang, aku ngedumel. Aku marah, kesel, bahkan menangis pilu mengingat kejadian barusan. Kenapa bisa terjadi seperti ini? Kenapa bisa seorang Nirmala yang tidak pernah dicampakkan laki-laki diputuskan begitu saja? Rasanya sesak sampai menghimpit d**a. Ternyata sesakit ini rasanya. Apa jangan-jangan ini karma? Aku akhirnya merasakan sakit yang dirasakan Kak May. Jahatnya aku yang dulu tega menyuruh para lelaki tersebut memutuskan Kak May, dan menganggap semua itu adalah kesenangan untukku. "Mala, kamu kenapa? Mana Raihan?" Ibu bertanya dengan mengitari halaman depan saat membuka pintu untukku. Aku abai dan mengacuhkannya. Ketika ingin menutup pintu kamar, Ibu mencegatku. "Mala, kamu belum jawab pertanyaan Ibu. Kamu kenapa? Kamu nangis? Kamu pulang naik taksi? Bukankah ta

