POV author Ken menghela napas panjang, lalu menghembuskannya. Lagu sendu yang sedang diputar di cafe shopnya, membuat dadanya terasa sesak karena terkenang seseorang. Padahal lagu dari Stevan Pasaribu tersebut sedang hits dan sering diputar di media elektronik. "Gas, matikan lagu itu. Putar yang lain saja," titahnya pada pegawainya bernama Bagas, yang kebetulan lewat di hadapannya. "Siap Bro!" Ken hanya mengerjap. Ia kembali duduk di pojok kursi sambil mengamati ruangan cafe yang mulai terisi oleh para pengunjung. Cafenya mulai menampakkan hasil. Pengunjungnya selalu rame. Apalagi di hari weekend. Ken meminta pegawainya memanggil Bro bukan Pak, apalagi bos. Dia tidak ingin tampak terlihat sebagai pemilik cafe ini. Apalagi usianya yang terbilang lebih muda dari para pegawainya. *** "

