Pengawal Pribadi Khusus Naomi

1155 Words
Naomi masih menatap lembaran foto Elea, dimana adik kandungnya itu sedang menari diantara para pria di Klub malam. Air mata tak kunjung reda. Otaknya terus berpikir dan berusaha mencoba menerima kenyataan. Apa mungkin Elea tidak cukup puas akan kebutuhannya selama ini. Akibat usaha keluarga Naomi yang bangkrut, membuat kehidupannya berputar dan berada di bawah. Semula mereka orang kaya, tapi Tuhan sedang menguji kesabaran keluarganya. Naomi tidak mungkin mengatakan semua ini ke Ayah dan Ibu. “Bagaimana, kenapa diam saja? Apa kamu ingin ikut denganku ke Klub malam? Kamu akan menemui Elea disana.” Zidan berucap dengan nada menghina. “Dia begitu profesional dalam bekerja dan aku puas.” “Aku jijik dengan kalian.” Ucap Naomi, mengerjapkan kelopak mata berulang kali. Dadanya sedang mengatur ritme napas agar kembali normal. “Baiklah kalau tidak ingin ikut. Kamu harus berada di kamar, paham!” “Aku ikut.” Zidan kembali tertawa menggelegar, lalu mengakhirinya dengan kerlingan mata tanda setuju mengikuti keinginan Naomi. *** Dentuman musik begitu menyakiti indera pendengaran Naomi saat tubuhnya berhasil menerobos antrean para pengunjung Klub malam. Pakaian tak layak pakai masih menempel di kulit Naomi, dengan mengenakan terusan berwarna putih yang hampir menutupi tubuh mungilnya. Beberapa mata menatap sinis kedatangan Naomi bersama seorang Zidan yang begitu terkenal di area ini. Tanpa menunggu lama, Naomi menutup kedua daun telinga, guna mengurangi gangguan pendengaran. Kepalanya tertunduk karena merasa kunang-kunang berada di hadapannya. Kenyataan, sorot lampu disko membuat pengelihatan Naomi kabur. Zidan yang berdiri di belakang Naomi segera memeluk istrinya dengan cekat karena tubuhnya mulai melemah. “Astaga, tempatmu bukan disini, Sayang.” Ucap Zidan lirih. Lalu dia membawa Naomi ke meja bar. “Aku akan mencari Elea untukmu, kamu duduk disini, paham?” Naomi tidak menjawab namun dia segera mengikuti arah Zidan saat mencari Elea, tanpa diketahui Zidan. Zidan melihat seorang gadis di sudut ruangan sedang bercengkrama dengan pria berumur 30-an ke atas. Pakaian yang digunakan Elea begitu terbuka, membuat Naomi terperanjat kaget. Tanpa Zidan sadari, Naomi berjalan mendahului dan menghampiri Elea dengan cepat. “Oh… begini kehidupanmu, Elea!” Naomi menarik tangan Elea agar menjauh dari pria di depannya. “Ayo kita pulang.” “Kakak?” Seru Elea, terkejut setengah mati. Lalu dia mencari keberadaan seseorang. Dan bola matanya menangkap keberadaan Zidan di belakang Naomi. “Zidan! Kenapa kamu membawa dia kesini?” Elea mendekati Zidan, tak terima kalau Naomi mengetahui sisi gelapnya. “Agar dia tidak kabur dariku. Dengan cara seperti ini agar dia tidak macam-macam. Sekalinya nekat, aku akan memberitahu orang tua kalian!” Zidan senyum sinis. “Aku sudah menjual Kak Naomi denganmu, jadi urusan kita selesai. Kenapa masalahnya sampai ke orangtuaku?” “Oh… jadi kamu yang mengenalkan Mas Zidan ke Kakak? Dasar jalang, kamu adik tidak berguna!” Naomi menarik lengan Elea dengan kasar membawa keluar dari kerumunan orang-orang di dalam Klub malam. “Lepaskan, Kak! Aku masih memiliki teman kencan!” Elea meronta-ronta, berusaha keras melepaskan diri. Namun, tenaga Naomi mendadak kuat dan berhasil membawa Elea keluar dari Klub malam. “Kamu benar-benar tega berbuat kotor seperti ini?” Tanya Naomi lirih, kepalanya tertunduk ke bawah sambil mencengkram tangan Elea. “Kembalilah ke jalan yang benar. Kakak janji akan memenuhi kebutuhanmu.” “Dengan cara?” Tanya Elea, singkat dan sinis. “Menjadi istri Mas Zidan. Kakak rela diabaikan menjadi istrinya, yang penting Kakak tetap dinafkahi.” “Hah? Kakak sudah diabaikan dengan pria Playboy itu?” Elea pura-pura terkejut padahal dia sudah tahu akan sikap dan sifat Zidan sesungguhnya. Memang tega perbuatan Elea, menyakiti Naomi dengan cara seperti ini. Semua berawal karena Elea mencuri uang Zidan dan ketahuan oleh Zidan. Tentu saja Zidan ingin menjebloskan Elea ke penjara, tapi karena Elea berjanji akan memberikan calon istri idaman, jadi Zidan membebaskan Elea. Kabar Zidan mencari seorang istri memang sudah menyebar di setiap antero Klub malam, jadi keberadaan Naomi saat memasuki Klub tadi ditatap sinis oleh sebagaian orang yang mengenal Zidan. Naomi menghela napas panjang. Dia berusaha menerima semua perlakuan buruk Elea padanya. Mencoba tegar dan ikhlas meski menyakitkan. Kehidupan masa mudanya direnggut dengan mudah begitu saja, oleh Zidan. Andai kehidupan keluarganya tercukupi dan tidak memiliki hutang banyak, Naomi tidak akan bernasib sial seperti ini. Sekali lagi, Naomi berusaha ikhlas demi kebahagiaan dan kesehatan orangtuanya. “Tentu.” Sahut Naomi. “Bagaimana kalau Zidan tidak menafkahi Kakak?” Elea penasaran. “Kakak akan melakukan segala cara. Dan Kakak mohon, tolong keluar dari dunia gelap itu!” “Baiklah. Kakak harus memberiku uang ratusan juta terlebih dahulu. Setelah aku mendapatkannya, aku akan menjadi anak baik.” Elea tersenyum centil. Sambil menyentuh dagu Naomi dengan telunjuk. Kemudian dia pergi meninggalkan Naomi seorang diri. Naomi tidak mengejar karena kedua kakinya letih. Untuk menopang tubuh saja tidak sanggup. Dalam hitungan detik mungkin akan ambruk kalau saja tidak ada seseorang berdiri di belakangnya. Naomi terkejut, tubuhnya di dekap seseorang dari belakang. Sontak, kepala Naomi menoleh dan melihat seorang pria tampan tersenyum lebar. “Apa Anda baik-baik saja?” Tanyanya, dengan nada penuh rasa khawatir. Beberapa detik kemudian, pria bernama Andre itu membawa Naomi ke bangku kosong, mendudukkannya disana. “Terima kasih sudah membantuku. Aku harus pergi.” Naomi berusaha beranjak berdiri namun tidak berhasil karena masih lemah. Sebelah tangan memegangi kepala menahan nyeri yang menyerangnya sejak tadi. “Lebih baik Anda istirahat disini sebentar. Aku akan menjaga Anda.” Sahut Andre, nadanya begitu lembut membuat Naomi sedikit luluh akan kalimatnya. “Tapi aku harus pergi sekarang. Aku tidak memiliki waktu untuk beristirahat.” Jelas Naomi dengan nada lantang, berharap Andre tidak perlu menahan kepergiannya. Karena ini saat yang tepat bagi Naomi untuk kabur dari Zidan. Tunggu… Naomi sudah berjanji akan menyerahkan hidupnya untuk Zidan demi kebahagiaan Ayah dan ibu, begitu juga dengan Elea. Jadi untuk apa dia kabur sekarang. “Kenapa terburu-buru?” Tanya Andre penasaran. “Kenapa kamu ingin tahu?” Naomi berubah menjadi acuh, terganggu akan keberadaan Andre. “Maaf.” Andre yang sebelumnya ikut duduk dengan Naomi satu bangku segera berdiri dan menghadap Naomi. Wajahnya berkulit kuning sawo matang. Hidungnya mancung menambah kemacoan Andre yang bertubuh tinggi. Ada lesung pipi di bagian samping wajahnya. Ah, begitu manis dipandang. “Maafkan sikap saya yang lancang dengan Anda.” “Maksud kamu apa sih?” Naomi menaikkan sudut alis, memandang aneh ke arah Andre. Tanpa berpikir panjang dan setelah berhasil mengumpulkan seluruh tenaga, Naomi berdiri tegak dan meninggalkan Andre seorang diri. Tanpa disadarinya, Andre mengikuti kemana arah Naomi pergi. Tanpa diketahui Naomi sendiri. Saat tiba di toilet umum, letaknya di parkiran Klub malam, Naomi mulai menyadari keberadaan Andre yang ada di belakangnya. “Kamu penguntit? Kamu orang jahat?” jantung Naomi berdegup kencang mengingat keselamatannya diujung jurang. Kepalanya mengitari area parkir dan ternyata sepi sekali. Kepada siapa dia akan meminta bantuan, tidak mungkin Zidan tiba-tiba saja muncul menjadi pahlawan kesiangan bagi Naomi. “Jangan menyentuhku!” Ucap Naomi, pura-pura mengancam padahal sia takut setengah mati. “Perkenalkan, saya pengawal pribadi Anda mulai sekarang. Saya utusan dari Tuan Zidan Eza Atmaja, suami Anda.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD