Naomi terperanjat kaget setelah mendengar Andre berkata dengan nada tegas namun hangat. Sorot matanya tak dapat dipungkiri kalau dia orang yang tulus. Tapi, begitu Naomi mendapat kado menyakitkan dari Zidan yang berupa pengawal pribadi, wanita itu merasa muak menghadapi kehidupannya sekarang. Tak ada lagi gairah hidup sama sekali. Namun, dia harus berani mengambil semua resiko untuk menjadi istri seorang Pangeran Zidan demi mengeluarkan Elea dari dunia hitam.
“Nyonya?” Seru Andre, sudah memanggil Naomi ribuan kali karena melihat istri bosnya itu akan pingsan. Pandangan Naomi terlihat kabur serta tubuhnya kentara dalam keadaan linglung. “Apa Anda baik-baik saja? Apa perlu saya menggendong Anda ke mobil?” Andre menawarkan diri sembari mendekatkan wajah pada Naomi. Sejurus kemudian, Naomi mendorong paksa wajah kekar Andre untuk menjauh darinya.
“Apa aku terlihat tua dipanggil ‘Nyonya’?” Naomi protes menggunakan nada tinggi membuat Andre bingung karena keadaan Naomi kembali normal. “Kamu menghinaku karena aku sudah terlihat tua?”
“Maaf… saya hanya menghargai Anda sebagai istri dari Tuan Zidan.” Ucap Andre terbata-bata.
“Aku tidak peduli. Panggil aku Naomi saja!” Sahut Naomi, meninggalkan Andre seorang diri. Kemudian dia berjalan menuju pintu utama mencari keberadaan Zidan, suaminya.
***
Naomi membelalakkan kelopak mata melihat Zidan sedang berjalan bersama wanita cantik. Keadaan Zidan setengah sadar dan sedang dipapah oleh wanita di sampingnya. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih, jauh berbeda saat Zidan sedang bersama Naomi.
“Siapa kamu?” Tanya Naomi dengan nada cemburu, kepada wanita yang bernama Vera. Sudah beberapa menit Naomi menunggu kemunculan Zidan di pintu masuk. Tak jauh dari keberadaan Naomi, terlihat Andre mengawasi Naomi.
“Perkenalkan, saya asisten Zidan.” Jelas Vera, tersenyum licik pada Naomi.
Naomi melihat ekspresi wajah Vera langsung melotot terkejut. Secepat mungkin dia menghilangan rasa cemburu agar terlihat tegar. “Aku akan mengantarkan Zidan pulang ke rumah.” Tambah Vera, nada bicara terdengar manja seakan sengaja membuat Naomi emosi.
“Sejak kapan Mas Zidan punya asisten?” Naomi menaikkan sebelah alis. “Sebaiknya suamiku pulang bersamaku, paham?” Naomi ingin merebut tubuh Zidan dari Vera, sayangnya Zidan menghentikan gerakan Naomi dengan kasar.
Naomi mengernyitkan kening saat Zidan membuka mulut. Tercium bau yang begitu asing bagi Naomi namun sangat tidak nyaman. “Ah.., sepertinya aku sedang tidak sadarkan diri setelah berpesta.” Seru Zidan. Dua bola matanya menatap intens ke arah Naomi tanpa berkedip. “Astaga, rupanya aku membawa seorang istri di tempat ini. Dan semua orang jadi tahu kalau aku pria beristri!” Seru Zidan, sedikit menambah nada bicara. Sorot matanya mulai tidak fokus, menatap ke segala arah. Sedangkan tubuhnya berpegangan pada bahu Vera. “Masa bodo. Hal terpenting aku tetap bisa menikmati hidupku yang menyenangkan ini!” Zidan mendongakkan kepala ke atas sehingga membuat tubuhnya sedikit tidak seimbang.
“Hati-hati sayang!” Seru Vera secara refleks. Kedua tangannya sibuk menangkap dan meluruskan tubuh Zidan.
“Sayang?” Tanya Naomi pada Vera. “Kamu bilang…” Ucapan Naomi dipotong oleh Zidan secara mendadak.
“Dia kekasihku… tolong jangan cemburu, ya.” Jelas Zidan pada Naomi, berakhir dengan senyum menggoda.
Naomi menghela napas panjang. Ingin rasanya dia berlari ke tengah jalan dan menabrakkan diri ke arah kendaraan yang lewat. Tapi, semua akan sia-sia. Dia tidak bisa menyelematkan Elea. Malam ini begitu suram dan menyedihkan. Semua rahasia besar diketahui Naomi secara bersamaan. Padahal ini hari pertama dia menjadi istri Zidan, tapi dia mengalami nasib sial. Apa ada orang lain yang memiliki nasib lebih sial dari Naomi.
“Terserah dan aku tidak peduli.” Jawab Naomi meninggalkan Zidan dan Vera seorang diri. Lalu, dia berjalan ke tepi jalan. Sepertinya dia akan pulang ke rumah dengan jalan kaki. Untuk apa satu mobil bersama mereka berdua, yang ada malah pemandangan tidak diinginkan membuat Naomi kecewa.
“Hei, cantik?” Suara pria membuyarkan Naomi dalam lamunan.
“Aku sudah bilang, jangan ganggu aku!” Naomi menyentak pria di belakangnya, yang dia pikir adalah Andre. Rupanya dia salah orang. Pria bertubuh kekar dengan kedua otot lengan menampakkan diri di depan Naomi, membuat wanita itu mendadak memiliki penyakit jantung. “Maaf… saya salah orang!”
“Aku akan memaafkanmu, tapi aku harus mendapatkan hadiah darimu.”
“Aku tidak memiliki apa-apa. Bahkan aku tidak memiliki sepeser uang sama sekali.” Sahut Naomi dengan wajah polos. Dia begitu terlihat seperti seorang anak gadis berumur belasan tahun yang belum mengenal dunia luar. Sangat menggemaskan bagi pria lain yang melihatnya. “Jadi, aku tidak bisa memberimu apa-apa. Permisi, aku harus pergi.”
“Tunggu,” Pria itu langsung mencengkram pergelangan tangan Naomi dengan kasar ketika melihat Naomi berjalan meninggalkannya. “Aku tidak butuh apa-apa darimu…”
“Hah?” Naomi berteriak histeris ketika melihat pria di hadapannya jatuh tersungkur ke tanah. Sorot matanya langsung fokus pada Andre yang sekarang sedang berdiri di depannya. “Apa yang kamu lakukan? Kenapa memukulnya?” Tanya Naomi pada Andre. Sejurus kemudian, Naomi duduk mendekati pria kekar dan menempuk pipi berulang kali.
Pria itu langsung berusaha beranjak berdiri setelah mengumpulkan tenaganya.
“Kenapa kamu menampar pipiku?” Bentak pria itu pada Naomi. Naomi langsung membulatkan mata, terkejut melihat pria itu langsung bangun dengan gagah.
“Aku hanya ingin menyadarkanmu saja!”
“Dasar polos!” Teriak pria itu. “Hei! Siapa kamu?” Tanya pria kekar kepada Andre.
“Aku pengawal Naomi! Apa kamu tidak mengenali Tuan Zidan? Dia istri dari Tuan Zidan.” Jelas Andre tanpa rasa takut sama sekali. Padahal pria kekar itu sebentar lagi akan menerkam Andre dalam hitungan detik. Namun, mendengar ucapan Andre membuatnya diam seribu bahasa. Bibirnya terbungkam dengan sendiri. “Aku akan menceritakan kejadian ini kepada Tuan Zidan atas pelecehan pada istrinya, ingat itu!”
Andre langsung mendekap lengan Naomi, membawa ke parkiran mobil. Sedangkan Naomi menahan napas saat Andre menyentuh tubuhnya tanpa izin. Bibirnya juga sulit bergerak untuk berteriak, ingin mencerca Andre tapi anehnya tidak bisa. Bahkan dia memasrahkan diri sampai ke dalam mobil.
“Dia tadi preman.” Ucap Andre setelah meninggalkan tempat mengerikan bagi Naomi tadi. “Dia ingin melecehkan Anda, tapi kenapa Anda sangat polos dan tidak menyadarinya?”
“Iya-kah?” Naomi tiba-tiba melembut hatinya. Suaranya yang biasa terdengar kesal dan acuh mendadak berubah. “Aku tidak menyadarinya. Aku tidak tahu apa-apa, bahkan tempatku tidak seharusnya disini.” Naomi yang duduk di kursi penumpang bagian belakang menundukkan kepala.
Andre mengamati dari spion tengah sembari menaikkan sebelah alis. “Aku akan selalu menjaga Anda, Naomi. Jadi jangan khawatir.” Ucap Andre sangat lantang.
Naomi meluruskan wajah, melirik Andre beberapa detik dengan tatapan luluh. Tiba-tiba saja dia mengerutkan kedua alis. “Aku tidak perlu diawasi denganmu. Aku ingin hidup bebas, mengerti?”
“Tapi itu perintah dari Tuan Zidan, Nyonya!” Sahut Andre, dia lupa memanggil Naomi dengan sebutan Nyonya.
“Nyonya? Hei! Jangan pernah mengajakku bicara lagi. Aku muak denganmu!” suara Naomi yang imut-imut menggemaskan langsung membuang muka, menatap jendela. Tanpa disadarinya, Andre tersenyum simpul melihat sikap Naomi yang gemas.
***
Naomi hendak memasuki kamarnya. Tapi dia sadar, melihat Vera keluar dari sebuah kamar yang tak jauh dari keberadaannya berdiri. Lantas, dia mendekati Vera yang memasang wajah sumringah.
“Hai, baru sampai rumah ya?” Tanpa basi-basi Vera menyapa Naomi.
Naomi menghembuskan napas jengah. Mana ada seorang asisten bersikap tidak sopan pada istri bosnya. “Kenapa kamu disini dan kamu keluar dari kamar siapa?”
Naomi tidak mengetahui kalau Vera keluar dari kamar Zidan. Naomi yang istrinya saja tidak tahu letak kamar Zidan, sedangkan Vera wanita lain malah tahu.
“Aku bebas memasuki rumah ini dan aku baru saja keluar dari kamar Zidan.” Sahutnya dengan bangga. Dia melipat kedua tangan di depan d**a, bola matanya masih menyiratkan sebuah kemenangan.