prolog
Joy Farlensia
Menurut banyak orang Joy itu gadis yang arogan banget.
Gadis yang berengsek dan semaunya sendiri.
Dia tidak pernah perduli dengan sekitar. yang dia perdulikan Cuma satu. "Kebahagiaannya sendiri!"
Menjalani hidup semaunya sendiri. Perceraian orang tuanya yang membuat ia seperti ini.
Kalau kalian pikir ini lebay karena cuma anak "Broken Home" kalian salah besar! karena itu sangat menyakitkan. Kalian yang tak pernah merasakan tidak akan tau rasanya hancur sehancurnya hidupmu.
Semua akan berubah seratus delapan puluh drajat.
Di saat kalian di beri pilihan yang membuat hati kalian sakit "kamu mau tinggal sama papah atau mamah?" pertanyaan sederhana yang memporak porandakan hati.
Kenapa orang dewasa se egois itu.
Mereka saling menghianati satu sama lain tidak memperdulikan Hati anak mereka yang hancur lebur.
Salahkah kalau seorang Joy Farlensia mencari kebahagiaannya di luar???
Dia dulu gadis yang manis, mudah senyum, dan anak penurut. Semua berubah drastis saat mendengar ke dua orang tuanya resmi bercerai.
Kini Joy menjadi gadis yang sangat berengsek. Walau masih SMA kelas 2. Dia sudah merokok, minum, bahkan parahnya dia pernah di rehabilitasi karena narkoba.
semua itu bentuk pemberontakannya. Memang terdengar sangat negatif tetapi apa boleh buat dia mencari kesenangannya di luar.
Munkin kalian menganggap yang di lakukan Joy salah Tapi pada dasarnya.
rumah adalah tempat paling nyaman, mau seajuh apa kita pergi pasti akan merindukannya.
Tetapi yang di rasakan Joy, rumahnya panas seperti neraka. Setiap hari dia selalu disuguhkan dengan kemesraan Papahnya dengan Istri Mudanya.
Itu terasa sangat MEMUAKAN! Rasanya ingin mutah.
Mamahnya juga menikah lagi. Orang tuanya menghianatinya, rasanya cinta Joy sudah mati sebelum tumbuh.
Lalu apa yang di harapkan dari kenyamanan di rumah, rumah yang mana? apa yang dia rasakan, rasanya seperti luka menggrogotimu secara perlahan secara kejam dari dalam!
---
Gina Stevi
Gina itu gadus yang penurut banget sama orang tua.
dia tidak keluarga broken, Ayah Ibu nya juga akur-akur aja.
tetapi siapa bilang itu tidak ada masalah.
Ayahnya selalu menuntut ini itu dari Gina, Ayahnya mengekangnya secara berlebihan.
Beliau suka sekali memaksakan kehendaknya pada Gina. Gina tidak kuasa untuk menolak.
Karena pemikiran orang tua selalu "Itu yang terbaik untuk Anaknya." Padahal sebenarnya meraka tidak merasakan bagaimana rasanya tertekan setiap harinya. Atas keinginan orang tua yang selalu banyak menuntut!
tetapi apa mereka pernah berfikir, apa yang menjadi keinginan Gina sebenarnya.
mereka bahkan tidak pernah tau dan tidak mau peduli. Apa yang Gina suka, yang meraka tau cuma Gina harus bisa lebih dari kakaknya.
Mereka juga tidak pernah menghargai usaha Gina yang belajar sampai tengah malam setiap harinya.
kalau nilai ulagan Gina tidak mencapai seratus. Walau itu sembilan puluh, Bagi Ayahnya tetap masih kurang memuaskan.
Ayahnya akan selalu membanding-bandingkannya dengan Kakaknya. Walau kakak sendiri tetapi rasanya sakit.
Tidak bisakah Ayahnya menghargai sedikit usaha Gina??
"Belajar Gina biar jadi orang yang berguna!"
"Kenapa nilai kamu Cuma segini!"
"Kenapa kamu bodoh sekali Gina, contoh kakak kamu!"
Ucapan itulah yang setiap hari selalu Gina dengar dari mulut Ayahnya.
Gina muak seperti ini terus. Ingin brontak. Tetapi dia tidak berani. Dia memilih memendam lukanya sendiri. Alhasil dia menjadi anak yang sangat tertutup.
---