bc

Pengabdi Cogan

book_age18+
327
FOLLOW
1.8K
READ
possessive
family
boss
single mother
sweet
bxg
city
shy
like
intro-logo
Blurb

Gara-gara hendak dijodohkan dengan anak tetangganya yang sedikit kurang waras Citra Adelia pergi meninggalkan rumah dan bekerja di Ibukota menjadi babysitter anak seorang artis terkenal bernama Ayu Kenanga. Meski majikannya artis terkenal dan baik hati yang memberinya gaji fantastis tetap saja, Citra adalah seorang babu alias kacung. Anak yang dirawatnya memang baik, lucu dan penurut namun sayang, David ayah anak yang diasuhnya sangat menjengkelkan, selalu saja banyak permintaan ini itu yang membuat Citra pusing tujuh keliling. Ia bingung sebenarnya statusnya baby sitter anaknya atau ayahnya. Citra pun tak bisa resign karena ia sudah terikat kontrak selama satu tahun masa percobaan. Di tengah kegalauannya ia besahabat dengan Nabila dan Sania yang bernasib sama sepertinya memiliki majikan ganteng yang menyebalkan, jadilah mereka para pengabdi cogan.

chap-preview
Free preview
1.Kedai

"Mbak, sudah minumnya, Mbak sudah habis tiga gelas loh." Si Abang pemilik kedai memberikan peringatan kepada Citra yang sudah menghabiskan tiga gelas cairan berwarna merah dengan busa yang mengembang. Rasa segarnya memang membuat ketagihan. Bebarapa bulan belakangan Citra sangat akrab dengannya. Rasa manis dan wanginya mampu membuat pikirannya tenang. 


Malam minggu jumat kelabu ini ia habiskan di Kedai Bang Ijun bersama Nabila teman satu kampung yang mendadak akrab karena satu perantauan. 


"Eh, Bang aye kagak bakalan mabok, kecuali ini bir pletok dioplos sama alkohol." Citra menatap si Abang yang dikenal dengan nama Bang Ijun alias Junaedi. Jika sedang galau ia selalu melarikan diri ke tempat itu. 


"Minuman ini seratus persen halal karena terbuat dari rempah-rempah pilihan. Aye cuma ingetin nanti perutnya Neng Citra kembung kalau kebanyakan minum!"Bang Ijun tak ingin pelanggannya sampai sakit gara-gara minuman yang dijualnya. 


"Cerewet amat sih Bang, harusnya Abang bersyukur ada p*******n yang borong minuman. Bukannya selama ini gue selalu minum lima gelas" Citra menumpahkan kekesalannya. Bang Ijun terlalu cerewet. Pedagang macam apa dia. 


"Bang, udah biarin aja, lagian aneh banget sih masa iya pedagang ngelarang-larang konsumennya minum banyak. Pembeli itu raja. Kite pasti bayar kok." Nabila yang sengaja menemani Citra menghentikan aksi Bang Ijun yang tak terpuji menurutnya  


"Sesuatu yang berlebihan tidak baik, Abang hanya mengingatkan, asalkan Neng Citra kagak knape-nape ya silahkan. Tapi kalo ada ape ape, silahkan tanggung sendiri." Bang Ijun tetap saja memberikan nasihatnya. Sebagai pedagang yang baik ia tidak ingin selalu memikirkan keuntungan pribadi. 


Tiba-tiba datang p*******n baru, seorang wanita cantik dengan blazer. Ia nampak lelah, meski penampilannya tetep cantik dan wangi. Ia memindai kedai berukuran empat kali delapan meter itu. Hanya ada empat pengunjung, Citra, Nabila dan juga sepasang sepasang lansia di pojokan. 


Nabila diam-diam memperhatikannya. Aneh sekali wanita cantik dengan pakaian rapi dan wangi malah mampi di kedai Bir Pletok bukannya melipir ke Bar atau Cafe sekalian klub malam, sangat tidak cocok. 


"Hai, kamu Citra kan?" Tiba-tiba wanita itu menghampiiri Citra dan Nabila.  


Citra pun menoleh. 


"Mbak Sania apa kabar? Waduh makin cantik aja." Citra segera memperhatikan penampilan wanita muda yang disapa dengan sebutan Mbak Sania itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Ia lantas berdiri dan bercipika cipiki. Nabila pun tercengang karena ternyata wanita itu kenal dengan Citra. 


"Alhamdulillah sehat. Gak nyanka banget bakalan ketemu di sini." Sania tersenyum ramah memamerkan deretan gigi putihnya. 


"Bil, kenalin ini Mbak Sania." Citra melirik ke arah temannya yang sejak tadi hanya diam memperhatikan interaksi keduanya. 


"Nabila." Gadis berambut ikal itu mengulurkan tangannya dengan melempar sebuah senyuman kecil. Nyalinya sering ciut jika bertemu wanita cantik. Maklum saja ia dikategorikan berpenampilan pas-pasan. 


"Sania." Dengan penuh percaya diri, Sania mengulurkan tangannya. Bagaimana tidak percaya diri, wanita dua puluh enam tahun itu adalah wanita karir dengan penghasilan tinggi di sebuah perusahaan terkenal. Belum lagi kecantikannya yang seperti bidadari dari kahyangan. 


"Ayo, kita minum."


"Makasih."


"Bang, Bir pletok satu ya sama kerak telornya."Sania segera memesan makanan.


"Siap, Neng!"


"Sekarang kamu kerja dimana?" Sania menatap Citra, memperhatikan penampilannya..


"Aki jadi Babysitter." Citra emnghela nafas seolah pekerjaan yang dilakoninya itu sangatlah berat. Tentu saja katena itu bukan pekerjaan imoiannya. 


"Hah, gimana ceritanya bukannya kamu ingin jadi sekretaris?"Sania bengong. Mereka pernah sama-sama ikut wawancara. 


"Iya. Sayangnya takdir berkata lain. Aku selalu gagal saat wawancara."


Bayangan dirinya beberapa bulan lalu keluar masuk perusahaan untuk wawancara kembali bermunculan.


"Mohon maaf, dengan berat hati kami tak bisa menerima Anda, kebetulan kriteriabyang kami inginkan sudah kami temukan. Kalau mau pekerjaan, ada pekerjaan lainnya gajinya besar. Ini nomor yang dapat dihubungi." Salah seorang HRD memberikan tawaran.


Akhirnya Citra menghubungi nomor itu dan berhasil mendapatkan pekerjaan menjadi seorang Babysitter.


"Mbak Sania ini teman satu kos aku dulu, saat aku baru tinggal di Jakarta. Kami juga sama-sama melamar di beberapa perusahaan yang sama. Sayangnya nasib kita berbeda. Mbak Sania sukses jadi Sekretaris karena trlah banyak pengalaman. " Citra tersenyum pahit. Khayalan dirinya menjadi sekretaris supaya bertemu bos dan menikah dengan CEO di novel-novel kandas sudah. 


"Kalau kamu kerja dimana?" Sania menatap Nabila yang tak banyak bicata. Ia terlalu mengagumi Sania yang cantik. Bukan, ia sama sekali tak jatuh cinta padayakarena iagadis normal. Hanya kagum saja akan kecantikan dan keramahannya. 


"Jadi ART." Nabila tersenyum malu. Profesi ART bukanlah sebuah kebanggaan. Meski sebenarnya profesi mereka sangat banyak dibutuhkan dan besar jasanya bagi para wanita karir. ART bak dewi penolong para wanita karir dalam mengganti perannya dalam rumah tangga. 


"Kayanya kamu malu-malu gitu."


Bang Ijun datang memberikan pesanan Sania. Pun dengan Citra sudah emmgang gelas ke limanya. Kali ini Bang Ijun bungkam tak lagi protes. 


Tiga jomblowati itu akhirnya terlibat percakapan seru membicarakan tentang kehidupan masing-masing. 


"Cerita dong Mbak, jadi sekretaris itu enak gak sih?" Citra penasaran. Meski sudah menjadi babysitter namun ia masih bermimpi untuk menjadi seorang sekretaris. 


"Enak gak enak sih." Sania meneguk bir pletok di depannya. 


"Enaknya gimana?" Citra penasaran. Sejak dusuk di bangku SMA, gadis berusia dua puluh tiga itu ingin mrnjadi sekretaris. 


"Gajinya lumayan gede, terus sering makan di restoran mewah dan pergi ke luar kota." Sania menceritakan pekerjaannya. 


"Terus ga enaknya gimana?" Citra semakin kepo. 


"Ga enaknya itu harus jadi kambing conge kalau bos lagi sama pacarnya. Paling ngenes kalau dah lihat pemandangan bos lagi gituan di kantor sama ceweknya.


"Hah? Jadi beneran dong cerita di novel-novel itu?" Citra terlalu larut dalam kisah bacaan novelnya. 


Nabila hampir saja terbahak. 


"Ya, sebagian kecil benar." Sania mengangguk. 


"Terus kamu jadi Babysitter dimana?"tanyanya.


"Kamu tahu Ayu Kenanga? Artis terkrnal itu?" Citra balik bertanya. 


"Iya." Sania mengangguk.


"Nah, aku kerja di sana." 


"Wah, asyik dong gajinya gede."


"Tetep aja kacung kan. Aku bukan hanya ngasuh anak balitanya, ayahnya si bayi juga aku urusin. Dia lebih rewel dari anaknya. Minta dibikini kopi lah, pesan ini pesan itu, antar kesini, antar kesana, harus gini harus gitu, ga boleh gini, ga boleh gitu. Kalau sudah ngomel panjang lebar kayak Emak ku." Citra mengoceh. 


"Ha...ha...sabar, sabar!orang sabar jodohnya deket." Sania menepuk bahu temannya. 


"Kamu Nabila?"


"Aku ART di apartemen Bintang Kejora, majikanku anak kuliahn, tapi serem banget." Nabila terlihat sedih. 


"Bintang Kejora itu tempat tinggalku," beritahu Nabila.


"Wah masa?" Nabila tak menyangka. 


"Iya, aku di lantai sembilan," ujar Sania. 


"Aku di lantai sepuluh." Nabila memberirahukan alamatnya. 


"Tapi kita ga pernah ketemu ya." Sania tersenyum.


"Entahlah. Beda jam keluar kali." Nabila terkekeh.


"Sekarang kalian bisa saling mengunjungi." Citra memberikan saran. 


"Lanjut ceritanya dong!" Sania penasaran siapa majikan Nabila yang adalah tetangganya. 


"Tampangnya serem kenapa?" Sania penasaran.


"Tampang okey, dia juga salah satu spesies cogan alias cowok ganteng, namun rese bukan kepalang. Aku harus kerja dua puluh empat jam." 


"Dibayar berapa?"


"Sebulan lima juta, bersih tanpa potongan." Citra yang memberikan jawaban. 


"Lumayan lah." Sania tersenyum. 


"Kecil itu dibanding dengan tekanan yang diberikan olehnya." Nabila membela diri. 


"Kenapa ga pindah aja?" Sania memberi ide.


"Nyari kerjaan yang sama dengan gaji segitu sulit banget, belum tentu majikan baru lebih baik, kalau lebih buruk bagaimana." Nabila menghela nafas.


"Nasib kita itu samaan, ya kawan-kawan. Kita ini para pengabdi s***n, eh pengabdi cogan. Aku punya majikan ganteng tapi otoriter dan seenaknya nyuruh macem-macem. Majikan cewek juga tak peduli suaminya mau berbuat apapun." Citra berujar dengan nada sedih meratapi nasibnya yang harus bertahan setahun setengah lagi. 


***

Bersambung


editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Imperfect Marriage

read
270.2K
bc

My husband (Ex) bad boy (BAHASA INDONESIA)

read
218.2K
bc

Tentang Cinta Kita

read
137.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
115.6K
bc

Kali kedua

read
185.3K
bc

Obsessive Cruel Husband

read
6.0K
bc

Single Man vs Single Mom

read
86.5K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play