Evander POV
Hari Senin datang. Bagi sebagian besar orang, ini adalah hari tersibuk yang mengawali minggu ini. Tak terkecuali untukku. Hari ini aku juga kembali melakukan aktivitas favoritku, bekerja sebagai asisten pribadi Aria.
Seperti biasanya, jika tidak diminta menjemput Aria ke mansion, aku akan selalu datang beberapa menit lebih awal dari jam kerja yang dimulai pukul delapan pagi. Aku akan menyiapkan keperluan Aria sembari menunggunya datang. Mulai dari memilih dokumen-dokumen berdasarkan prioritas yang harus gadis itu kerjakan hingga hal sekecil menyiapkan minuman untuknya. Padahal tugas itu bisa saja dilakukan oleh office boy atau Charlotte, sekretaris Aria yang lain dan aku tak perlu melakukannya. Namun, dengan suka rela aku akan melakukannya tanpa diperintah sekalipun.
Ah, aku juga akan selalu membawakan gadis itu beberapa tangkai tulip kuning untuk menyegarkan ruangannya. Awalnya Aria merasa aneh melihatku melakukan hal ini, namun ia juga tak melakukan protes sehingga aku terus saja mengulangnya. Perlu diketahui, tulip kuning artinya adalah crush, cinta tulus pada seseorang yang tak mungkin bisa dimiliki. Entah Aria mengetahuinya atau tidak, tapi kuanggap itu adalah langkah terjauh yang bisa kulakukan untuk menunjukkan perasaanku padanya.
TING
Denting lift di lantai direksi paling atas berbunyi. Pintu berbahan metal itu terbuka dan menampilkan sesosok gadis muda dengan setelan rapi, mahal, serta elegannya. Gadis itu adalah bos mudaku, Ariana Bellrose Durand yang sedang berjalan dengan tegap menyusuri koridor menuju ruangan CEO. Auranya memancar dengan sangat indah seperti biasanya. Tapi, entah mengapa rasanya hari ini ia terlihat berbeda. Aku tak bisa menjelaskannya, hanya saja perasaanku berkata seperti itu.
“Selamat pagi, miss!” sapa Charlotte dari balik mejanya.
“Selamat pagi, miss!” Aku yang saat ini berdiri didepan pintu ruangan Aria juga ikut menyapa.
Sama seperti biasanya, Aria hanya menanggapi ucapan salam kami dengan mengganggukkan kepala sekilas. Tak ada ucapan balasan apalagi senyuman. Bahkan balasan berupa anggukan saja sudah bagus untuknya. Jika perasaannya sedang buruk, ia bisa sangat acuh bahkan menghantarkan hawa dingin yang bisa menembus tulang.
“Apa jadwalku hari ini Mr. Young?” tanya Aria seraya berjalan masuk kedalam ruangannya setelah melewati pintu yang kubuka.
Aku mengekor dibelakang sambil mengoperasikan tablet fasilitas kantor yang berlogo apel digigit. Posisiku selalu kujaga satu atau dua langkah dibelakang Aria meski gadis itu tak pernah membuat peraturan seperti itu. Ini hanya bentuk profesionalitasku dalam bekerja.
“Pukul sembilan anda dijawalkan rapat dengan divisi design interior untuk membahas proyek apartemen Wembley. Lalu pukul sebelas tiga puluh anda memiliki janji makan siang dengan supplier di pusat kota. Setelah itu jadwal anda cukup lengang miss.” Jelasku seraya menyerahkan tablet kehadapan Aria yang telah duduk di kursi kebesarannya.
“Bagus! Jangan buat jadwal untuk sore nanti karena aku akan mengerjakan kertas-kertas ini!” balas Aria sambil melirik mejanya yang penuh dokumen.
Aku mengangguk mengiyakan. “Baik miss.”
“Keluarlah!” Aria mengembalikan tabletnya padaku. Gadis itu tak pernah repot-repot menatap wajahku dan mulai sibuk memulai pekerjaannya.
“Kalau begitu saya permisi, miss!”
Kuanggukkan kepala sekali dengan tubuh yang tegap, kemudian berbalik untuk meninggalkan ruangan CEO. Namun, sebelum tanganku meraih gagang pintu, suara Aria menghentikan langkahku.
“Mulai sekarang bawakan minuman non-kafein untukku!” seru Aria yang bahkan tanpa mengalihkan perhatian dari komputer dihadapannya.
Refleks aku mengernyit heran setelah mendengar permintaan itu. Pasalnya kopi adalah teman terbaik Aria saat sedang bekerja dan aku sangat mengetahuinya. Aria bahkan bisa menghabiskan dua hingga tiga cup kopi dalam sehari. Cukup aneh rasanya mendengar permintaan itu secara tiba-tiba.
“Anda baik-baik saja, miss?” tanyaku agak khawatir dan tak langsung menyetujui permintaannya.
“Lakukan saja perintahku!” balas Aria dengan nada yang datar serta intonasi yang lirih. Ia tak ingin membahasnya.
“Baik, miss!”
Memangnya apa yang bisa kulakukan selain memenuhi perintah itu? Aku sangat sadar dengan posisiku yang hanya bawahan Aria. Aku bahkan paham jika aku tidak berhak bertanya macam-macam, terlebih masalah pribadi pada bos mudaku itu. Ya sudahlah, aku akan menurutinya.
“Ada permintaan khusus jenis minuman yang ingin anda konsumsi, miss?” tanyaku sambil mengangkat kembali cangkir kopi dari hadapannya.
Gadis itu tampak menghentikan kegiatannya dan sedikit berpikir. Tak lama kemudian ia melanjutkan mengetik sambil menyebutkan keinginannya.
“Susu.” Jawabnya singkat.
“s**u seperti apa yang anda inginkan, miss?” tanyaku lagi.
Aku tahu jika saat ini aku terdengar seperti pelayan di restoran. Tetapi, ini harus kulakukan mengingat Aria memang sangat pemilih dan sulit dipuaskan.
“Kedelai, almond, oat, apa saja selama itu segar.” Jawabnya detail. Jarang-jarang Aria berbicara sejelas ini.
“Baiklah miss, saya akan menyiapkannya!” Setelah diizinkan pergi, aku pun mulai mengerjakan perintah itu.
Tanpa kutahu, ini adalah awal dari beragam permintaan tak biasa dari seorang Ariana Durand. Hari-hari berikutnya, ia memintaku untuk semakin melonggarkan jadwal meetingnya. Padahal setahuku, Aria selalu bersemangat setiap kali harus meeting di luar kantor. Ia juga semakin jarang lembur akhir-akhir ini. Entahlah, ini seperti Aria sedang menghemat energinya. Dan yang lebih aneh lagi, tak pernah sekalipun mood Aria tampak menurun, meskipun ekspresinya masih tetap sangat datar seperti biasanya. Ah, jangan lupakan juga menu makan siang organik yang selalu ia sebutkan. Apa dia sedang mencoba memulai gaya hidup sehat? Baguslah. Kau memang harus selalu sehat dan bahagia, Ariana.
Beberapa minggu sudah rutinitas itu kulakukan. Tak bisa kupungkiri jika aku juga merasa senang dengan hal ini. Dulu aku kerap kali khawatir pada kesehatan Aria yang seperti diforsir setiap harinya. Dan mau tidak mau, kebiasaan baru gadis ini juga berpengaruh pada pola hidupku. Aria memang selalu bisa mengarahkanku pada sisi yang lebih baik. Meski aku yakin ia tidak secara sengaja melakukannya, bahkan mungkin tidak menyadarinya.
Hari ini, tepat pukul satu siang selepas jam istirahat, aku mengetuk pintu ruangan Aria. Segelas s**u almond segar serta beberapa biskuit sudah ada diatas nampan dan siap untuk kuantarkan pada pemiliknya.
“Masuk!” seru Aria mempersilahkan.
Dengan sopan aku melangkah ke ruangan seluas keseluruhan apartemenku itu. Atau malah lebih luas ruangan ini? Sepertinya begitu.
“Minuman anda miss!” ujarku sambil meletakkan gelas berisi cairan putih itu dengan hati-hati.
“Hmm.”
Tak ada ucapan terima kasih seperti biasa, hanya deheman singkat yang kudapatkan. Aku pun hendak kembali ke ruanganku karena sepertinya Aria juga tidak akan memberiku tugas yang lain.
Namun sebelum aku benar-benar pergi, ada sesuatu yang mengganggu indra penciumanku. Sebuah aroma unik yang cukup familiar menghentikan pergerakanku. Tanpa permisi, aku mencoba kembali menghirup aroma itu.
Ya Tuhan, wanita malam itu! Aromanya persis dengan harum parfum yang kucium saat ini. Aku bukanlah ahli parfum, tapi aku yakin ini aroma yang sama dan membuatku penasaran darimana asalnya.
Tidak mungkin ‘kan aroma ini berasal dari Aria? Dia adalah pecinta aroma vanila, bukan aroma segar alam khas pantai seperti ini. Daripada menebak-nebak, sebaiknya aku bertanya saja.
“Ehm, permisi miss! Saya boleh tanya sesuatu?” tanyaku hati-hati.
“Apa?” Aria balik bertanya dengan nada datarnya.
“Apa anda mengganti parfum? Aromanya sangat segar, berbeda dari biasanya.” Pertanyaanku seperti sedang melontarkan pancingan.
Aku yang sudah sangat penasaran dan menatap Aria dengan penuh harap harus kembali menundukkan kepala saat gadis itu beralih menatapku dengan tajam. Sorot dingin dari iris hazel itu mampu menghunus layaknya pedang langsung ke ulu hati.
“Untuk apa kau bertanya seperti itu?”
Benar juga. Untuk apa aku bertanya seperti ini? Tidak mungkin ‘kan aku mengatakan jika ini adalah aroma dari wanita yang membayarku beberapa minggu lalu? Berpikir, Evan! Apa alasan yang paling tepat? Ah, sepertinya alasan itu boleh juga.
“Saya hanya penasaran. Beberapa hari lagi ibu saya akan berulang tahun, siapa tahu saya bisa membelikan parfum yang serupa sebagai hadiah.” Alasan yang sempurna.
“Kau tak akan bisa membelinya.” Gadis itu melengos seraya kembali fokus pada dokumen di depan mejanya.
Jika saja aku tak terbiasa dengan mulut sadis Aria, bisa saja aku sangat sakit hati dengan kalimatnya yang seperti merendahkan itu. Memangnya seberapa mahal parfum itu sampai aku tak bisa membelinya?
“Apakah semahal itu, miss?” tanyaku dengan nada kecewa.
Aria kembali menjeda kegiatannya, ia menatapku tajam dengan iris semanis madu tersebut. Aku tak akan pernah bosan melihatnya.
Meski kalimatnya tadi terdengar dingin dan merendahkan, namun aku tahu pasti jika itu bukanlah maksud Aria yang sebenarnya. Lihat saja! Meski ia menatapku dengan tajam, tak terlihat sedikitpun pandangan merendahkan dari matanya. Itu lebih seperti tatapan kosong tanpa bernyawa.
“Parfum ini tidak dijual dimanapun. Aku meraciknya sendiri.”
Jawaban tak terduga itu membuatku sedikit limbung. Tidak mungkin! Kalau Aria meraciknya sendiri, bukankah itu berarti hanya dia yang memilikinya? Lalu, bagaimana wanita malam itu bisa memiliki aroma yang sama? Sekali lagi, aku harus memastikannya sekali lagi. Meski aku tidak yakin jika hipotesisku benar, setidaknya aku sudah berusaha.
“Bolehkah saya bertanya satu hal lagi, miss?”
“Akan kuracikkan untuk ibumu jika kau begitu menginginkannya.”
“Terima kasih, miss. Tapi maaf, bukan itu yang ingin saya tanyakan!”
“Lalu?”
Aku menghela napas panjang untuk menguatkan diriku. Semoga Aria tidak marah dan tersinggung dengan pertanyaan ini.
“Sebelumnya saya minta maaf jika ini terdengar lancang. Satu bulan lalu, dihari jum’at malam saat teman anda nona Shannon Anderson mengadakan pesta lajang, apakah anda menghadirinya?”
♥♥♥