05 Aftermath

1743 Words
Evander POV Aku merebahkan tubuhku keatas bunk bed sempit di kamarku serta adik-adikku. Matahari sudah sangat tinggi saat aku sampai rumah. Untung saja hari ini adalah akhir pekan, sehingga aku tak perlu ke kantor. Jika tubuhku saja rasanya selelah ini, bagaimana dengan wanita yang kutinggalkan di kamar eksklusif club? Apa ia sudah bangun? Kupejamkan mataku erat-erat sambil menutupnya dengan sebelah lengan. Aku masih belum bisa mempercayai kelakuanku semalam. Seharusnya aku menyudahi semua kegilaan itu saat wanita misterius itu mencapai titik klimaksnya. Namun, entah setan darimana yang merasukiku hingga membuatku sangat bersemangat menyentuhnya. Dia memang sangat nikmat hingga bisa membuatku lupa daratan. “Haaahh!” Kuhembuskan napasku dalam-dalam dengan frustrasi. Ah, sudahlah! Untuk apa aku memikirkan wanita itu? Urusan kami telah selesai. Tapi, bagaimana jika wanita itu sampai hamil? Ini g*la, sungguh g*la. Kuharap dia tidak membuatku menjadi pria br*ngsek yang lalai pada tanggung jawab. Karena hal itu sungguh bukan diriku. Anehnya, aku sama sekali tidak merasa dijebak oleh wanita itu. Padahal sejak awal dia sudah menutupi statusnya yang masih gadis bahkan selalu membiarkanku mengeluarkan benihku kedalam rahimnya. Ia tak menyebutkan nama, tidak juga menunjukkan wajah aslinya. Meski pada beberapa titik aku merasa pernah mendengar suaranya, namun aku tak yakin dimana? Aku kemudian mengambil kertas cek yang tadi kuambil sebagai bayaranku. Ada beberapa lembar dengan nominal yang sama besarnya. Dari cek itu, aku berharap bisa mengetahui identitas si wanita misterius. “Shannon Anderson.” Gumamku membaca nama yang sangat familiar itu. Nama itu jelas bukan nama si wanita misterius. Karena aku paham betul bagaimana rupa supermodel yang semalam mengadakan bachelorette party di club. Aku juga tahu pasti jika wanita itu bahkan tak keluar dari ruangan yang disewanya hingga bisa berakhir di atas ranjang bersamaku. Ah, itu pasti salah satu temannya dan aku sudah pasti tak mengetahui secara pasti siapa saja temannya yang hadir di pesta tadi malam. BRAKK “Kakak!” “Kak Evan!” “Kakkaakk!” Tak perlu mengalihkan perhatian, aku tahu pasti jika mereka adalah para setan kecil kesayanganku. Meski mereka sudah berusia sembilan tahun, tapi masih sangat berisik dan suka sekali menempel padaku. Dan akupun menyukainya. Sebelum mereka benar-benar menyerbuku, aku kembali menyimpan kertas-kertas cek tersebut kedalam saku. “Kak Evan, bangun!” Timothy memukul-mukul bahuku dengan kekuatan penuh. “Apa? Sakit, jangan pukul-pukul kakak, Tim!” aku mendorong tubuhnya. Namun, anak ini memiliki tiga sekutu lain yang dengan sukarela akan mengganggu waktu istirahatku. Lihat saja, Troy sudah mengacak-acak rambutku, William memaksa kelopak mataku terbuka sambil mencubit-cubit pipiku, Terry sibuk menggelitiki perutku padahal ia tahu jika itu tak membuatku geli, dan Tim terus-terusan memukulku. Untung saja Amy bisa berlaku seperti anak gadis pada umumnya, tak seperti saudara-saudaranya. “Hey, Evanescence! Kakak lelah, baru pulang dan mau tidur, main saja sana diluar!” Keluhku seraya mendekap Tim serta Terry kedalam pelukanku. Mereka berontak dan malah menendang tubuhku. Kalau saja bukan adik sendiri, aku akan mengurung mereka di dalam lemari supaya bisa beristirahat dengan lebih layak. “Kakak sudah janji kalau akhir pekan ini akan mengajak kami jalan-jalan! Ayo cepat bangun!” Troy tak lagi mengacak rambutku, melainkan sudah menjambaknya. Ingin rasanya aku mengumpati bocah-bocah ini. Dengan terpaksa, aku kembali menegakkan tubuhku. Rasa kesalku langsung hilang tatkala melihat mereka menatapku dengan sangat memohon. Keluargaku memang sangat jarang berlibur. Bukan apa-apa, saat akhir pekan adalah hari tersibuk untuk orang tua kami. Aku meminta keempat adik laki-lakiku untuk mendekat dan mereka menurut. Meski sangat usil, tapi mereka adalah anak-anak yang baik. “Kakak sangat lelah, tak bisakah kita menundanya?” tanyaku memohon. “Kak Evan sudah dua kali menunda.” William yang bertubuh gempal inipun melayangkan protesnya sambil cemberut. Benarkah aku sudah sesering itu menunda acara keluarga kami? Aku bahkan tidak menyadarinya. “Tapi kakak juga tidak bawa mobil kantor.” Aku kembali bernegosiasi. Troy yang memiliki model rambut seperti mangkuk itupun mengulurkan tangannya padaku. Ia membawa ponselku yang tadi tergeletak diatas kasur. “Telfon saja kakak cantik, biasanya dia selalu mengizinkan kakak.” Troy memberikan solusi. Dan kakak cantik yang ia maksud adalah Aria, bos mudaku. Mereka memang belum pernah bertemu secara langsung, namun adik-adikku pernah beberapa kali melihatnya saat mereka berkunjung ke kantor untuk menjemputku. “Kalian sangat ingin jalan-jalan?” tanyaku memastikan. Inilah kelemahanku, aku sulit menolak sebuah paksaan. Apalagi jika kalimat itu dilayangkan oleh orang-orang yang kusayangi seperti mereka. Keempat adikku mengangguk serta mengiyakan secara bersamaan. Bahkan Amy yang baru saja bergabung pun ikut berseru girang. Tak ada lagi alasan. Aku segera meraih ponselku dari tangan Troy dan hendak menghubungi Aria untuk meminta izin. Semoga mood gadis itu sedang dalam keadaan baik. Setelah beberapa kali dering tersambung, gadis itu menjawab panggilannya. “Ya?” suara Aria terdengar serak. Apa dia sedang sakit? “Anda baik-baik saja miss Durand?” tanyaku khawatir. “Langsung saja. Ada apa?” Seperti biasa, gadis itu tak suka berbasa-basi. “Ah itu, apa saya boleh meminjam mobil kantor hari ini? Tidak apa-apa jika anda tidak mengizinkan, karena ini untuk acara pribadi, miss.” Aku langsung mengutarakan maksudku. “Apa aku terlihat akan mengurusi hal remeh seperti ini?” “Tidak, miss. Tapi saya tetap harus meminta izin pada anda.” “Lakukan saja semaumu!” Aria langsung mematikan sambungan telfonnya setelah mengatakan kalimat ketus itu. Jika orang yang baru mengenal Aria, mereka bisa saja sangat tersinggung dengan sikapnya itu. Berbeda denganku yang sudah dua tahun terakhir selalu ada disampingnya. Kalimat itu adalah salah satu yang paling ramah yang pernah diucapkannya. “Bagaimana, kak?” Tanya Amy penuh harap. “Ayo siap-siap, setelah itu kita ke kantor terlebih dahulu untuk mengambil mobil!” “Yeay!” Kelimanya bersorak dengan sangat heboh. Seulas senyum bahagia terbit dari sudut bibirku. Padahal mereka mungkin hanya akan berjalan-jalan di sekitar Hyde Park atau Trafalgar Square. Tempat yang sangat biasa untuk warga London lainnya, namun bisa sangat istimewa untuk keluarga kami yang sangat jarang berlibur. Evanescence, kak Evan akan bekerja dengan sangat keras agar suatu hari nanti bisa membawa kalian berlibur kemanapun kalian mau. Untuk saat ini, kita nikmati saja momen ini. Ah, bukankah hari ini aku mengantongi lima puluh ribu pounds? Mungkin tidak ada salahnya jika nanti malam aku mengajak keluargaku makan diluar yang lebih mewah daripada biasanya. Mereka pasti akan sangat bahagia. Asal, mereka tidak tahu jika uang itu kudapatkan dari menjual diriku semalam. ♥♥♥ Ariana POV Ponsel itu teronggok begitu saja diatas kasur setelah aku menjawab panggilan asisten yang terkadang sangat merepotkan tersebut. Dia membuat mood baikku menghilang. Padahal baru beberapa menit yang lalu aku tersenyum gemas setelah membaca catatan kecil yang dituliskan oleh pria semalam. Setelah menghabiskan sarapan yang dipesankan oleh pria itu, aku berencana untuk segera pulang. Semalam aku menumpang mobil Regina, sehingga hari ini aku harus memanggil supirku untuk menjemput kemari. Tak mungkin aku mengemudi sendiri dalam keadaan tubuh yang masih remuk redam ini. Saat hendak turun dari atas ranjang dan membersihkan tubuhku, benda pipih diatas kasur itu kembali bergetar. Kuurungkan niatku dan meraih kembali ponsel itu. Sebuah pesan grup yang dikirimkan oleh Regina. Regina Ariana Bellrose Durand, bersiaplah! Dua jam lagi aku akan menjemputmu dan kita berangkat bersama ke pesta Shannon! Me Berangkatlah lebih dulu! Aku akan menyusul. Regina Kau yakin? Me Aku pasti akan terlambat. Shannon Aku akan memitingmu kalau kau sampai terlambat hadir ke pernikahanku! Ingat, kalian itu bridesmaid! Bahkan seharusnya kalian sudah ada disini! Regina Bridezilla! Me Semua karenamu @Shannon, jangan salahkan aku! Shannon Apa yang sudah kulakukan? Me Kau mengirimkan monster padaku! Selama beberapa saat, kedua temanku itu tak menjawab. Entah mereka sedang bingung atau malah menertawakanku. Aku tak peduli. Me Aku bahkan belum pulang dari club semalam. Regina Aria g*la! Sehebat itukah dia? Berikan kontaknya padaku! Aku juga ingin merasakannya. Shannon Aku tersanjung atas pujianmu, darl :D Akhirnya temanku resmi menjadi wanita! Me Pria itu sangat mahal dan pemilih. Regina Ah, aku semakin ingin mencobanya. Shannon Ceritakan semuanya pada kami nanti. Sebaiknya kau cepat pulang supaya identitasmu tak ketahuan! Kusimpan ponselku kedalam tas tangan dari brand YSL. Dengan tertatih dan menahan perih disekitar pangkal paha, aku berjalan kearah kamar mandi yang ukurannya bahkan tak sampai setengah dari luas kamar mandi pribadiku dirumah. Setidaknya ini bersih dan nyaman. Aku menikmati waktuku berendam air hangat didalam bathup. Benar kata pria itu, air hangat sangat menenangkan trauma pada pangkal pahaku yang terasa pedih. Namun aku tak bisa berlama-lama disana. Ah, seandainya saja nanti malam aku tidak perlu menghadiri pesta pernikahan Shannon. ♥♥♥ Aku sudah menduganya. Kedua temanku itu mencecarku dengan beragam pertanyaan begitu kami bertemu. Padahal saat itu Shannon sudah begitu rapi dan cantik dengan gaun putih panjang serta veilnya. Tapi tetap saja, rasa penasarannya tak lebih bisa dibendung daripada Regina. Selama beberapa menit mereka menginterogasiku. Aku memang menjawabnya, tetapi hanya seadanya serta formalitas saja. Tak mungkin ‘kan aku menceritakan semuanya? Apalagi tentang perilakuku yang telah menjebak pria semalam agar menghamiliku. Sungguh, jika nanti aku benar-benar hamil, aku tak ingin satu orang pun yang tahu identitas bayiku. Karena aku sendiri pun tak mengetahuinya. “Jadi, apa kau akan mengulanginya?” tanya Regina berbinar-binar. “Kau pasti ketagihan, ‘kan?” tambah Shannon tak kalah antusiasnya. “Ini masih sangat sakit, bagaimana aku bisa mengulanginya?” aku malah balik bertanya pada mereka. Keduanya terkekeh meremehkan. Mungkin menurut mereka aku terlalu lemah. “Sakit tapi enak, ‘kan?” Regina menggodaku sambil mengerlingkan mata. “Ah, sayang sekali aku harus kembali ke Milan lusa. Kalau tidak, aku akan semakin mengenalkanmu dengan dunia malam, dear. Mumpung kau sudah bisa menemukan penyamaran terbaik.” “Aku juga tak bisa menemani karena harus ikut suamiku ke New York.” Shannon menghela napasnya bersalah. “Tak apa. Aku bisa bersenang-senang sendirian.” Balasku acuh. Apa yang sebenarnya kukatakan? Bagaimana bisa aku mengulangi hal itu lagi? Yang ada aku harus menjaga diriku sebaik mungkin agar benih pria semalam dapat tumbuh dengan sempurna di tubuhku. “Kau mulai liar, Aria!” Regina terus melancarkan godaannya. “Lain kali kalau aku berkunjung, kita harus menikmati semuanya bersama!” “Dan, sebelum semua itu terjadi, sebaiknya kita minum-minum untuk merayakan hari ini! Aku sangat bahagia sekali!” Shannon memberikan aku dan Regina masing-masing satu gelas champagne. Aku menerimanya dan hanya pura-pura minum. Alkohol ini berbahaya untuk janinku. Janin? Bahkan baru semalam aku membuatnya, apakah ia sudah tumbuh dan menjadi janin? Semoga saja. “Baby, mommy tak peduli kau akan berjenis kelamin laki-laki atau perempuan nantinya. Hanya tumbuhlah dengan sehat dan segera temani mommy yang kesepian ini! Mommy sudah sangat tidak sabar untuk bisa bersama denganmu!” batinku sambil mengelus perut rataku. Untung saja tak ada yang menyadarinya. ♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD