04 Five Little Birds

1663 Words
Warning: 21+ Content. Harap bijak memilih bacaan. Jika tidak sesuai dengan usia kalian, harap melewati bagian ini. Terima kasih.   Ariana POV Aku mengernyitkan dahi setelah mendengar pertanyaan itu diucapkan olehnya. Hei, tuan! Kau telah menjamah tubuhku serta membuatku sangat bergelora, bagaimana bisa aku tidak yakin? Tanpa menjawab, aku menarik tengkuknya dan kembali melumat bibirnya. Aku memang masih perawan, tapi bukan berarti tak pernah berciuman. Aku pernah memiliki kekasih sebelum semua tragedi itu terjadi. Bahkan aku hampir kehilangan kegadisanku di hari ulang tahunku yang ke delapan belas. Jadi, tidak perlu heran jika aku cukup pandai berciuman. “Just do it, baby! Puaskan aku!” bisikku disela-sela ciuman kami. Pria itu menghela napasnya seraya mengangguk. Kulihat ia mulai bersiap-siap untuk menyatukan tubuh kami. Jujur saja, aku sangat takut saat ini. Aku takut miliknya tidak akan muat pada milikku yang masih belum pernah terjamah pria lain ini. Tapi, aku juga penasaran dengan rasanya, sekaligus reaksi pria itu jika mengetahui aku masih perawan. “Nona, kau sangat sempit!” ujarnya sambil mengerang. Tak ingin pria ini kabur, aku memeluknya dengan sangat erat. Aku bahkan kembali melilitkan kakiku pada pinggulnya sambil menekan tubuhnya. Sakit. Ini sungguh sakit. Siapa bilang s*ks terasa enak? Ini sangat perih, for god sake! Namun, aku tak bisa berhenti sekarang. Pria ini telah menjamahku dan ia harus menyelesaikannya sesuai perjanjian awal. Bless “Aaakkk!” “Aaarrgghh!” Kami berteriak disaat yang bersamaan. Dia berhasil mengambil kegadisanku. Ya Tuhan, ini sangat sakit! Aku sampai memejamkan mata seerat mungkin untuk menahan rasa sakitnya. Bahkan sepertinya aku juga meluruhkan air mataku. Siapapun kau tuan, kau sangat beruntung bisa mengambil kegadisan seorang Ariana Durand. Tapi kau tak akan pernah tahu jika ini adalah aku. “Nn-nona, kk-kau, masih perawan?” Pria itu berkata dengan terbata serta wajah yang sangat terkejut. Ia juga hendak mencabut kembali miliknya dari tubuhku, namun aku sudah lebih dulu mengeratkan belitanku pada tubuhnya. Tak akan kubiarkan kau kabur, tuan! “Jangan pergi!” perintahku yang disambut oleh pria itu dengan raut kebingungan. “Walau kau menghentikan ini, aku tetap bukan lagi perawan, tuan! Lanjutkan saja!” “Tt-tapi, kenapa anda hmmpphh,-” Aku tak suka orang yang banyak bicara, sehingga kubungkam saja bibirnya dengan bibirku. Kami kembali beradu bibir dan sedikitpun aku tak akan melepaskannya sebelum ia memberikan benihnya untukku. “Sudah terlanjur, jangan berhenti!” perintahku yang membuatnya ragu. Tapi, aku tak menerima penolakan hingga akhirnya ia pun menyerah. “Aku akan berhati-hati!” Gesekan pelan di pangkal pahaku kembali terasa. Pria itu kembali bergerak dengan hati-hati seperti yang dikatakannya. Sangat hati-hati hingga membuatku kesal meski ia masih bisa membuat bibirku mengerang. Aku bukanlah porselen, tuan! “Tak bisa-kah, kau, lebih ce-path?” tanyaku sambil meremas rambutnya yang ada diatasku. “Anda akan kesakitan, nona!” bantahnya. “Aku bisa menahannya!” Sekali lagi pria itu menghela napasnya panjang karena kekeras kepalaanku. Namun, ia tak bisa menipuku. Wajahnya menunjukkan gairah yang sama besarnya denganku meski gerakannya memang sangat hati-hati. Pria ini sangat lembut dan aku bisa merasakan betapa ia menghargai seorang wanita. Benar-benar pria yang langka. “Maaf jika aku menyakitimu, nona! Aku akan lebih cepat!” Benar saja. Gerakannya semakin cepat. Meskipun terasa menyakitkan, tetapi ini semakin nikmat. Rasanya seperti terbang dan aku sangat menyukainya. Kutarik kembali umpatanku tentang rasa sakit yang tadi kuucapkan. Pria ini benar-benar bisa membuatku mengerang puas. “Nona, lepashkan kaki anda! Akuh hampir sampai!” Kurasakan miliknya semakin memenuhi tubuhku. Aku tahu dia akan segera klimaks, lebih dulu dariku. Meski otakku telah dipenuhi gairah, aku masih bisa berpikir dengan logika. Kueratkan lilitan kakiku agar ia tak bisa mencabut miliknya hingga menumpahkan benih itu diluar tempatnya. Tak akan kubiarkan hal itu terjadi. “Argh...nona!” Ia tak bisa menghindar. Bersamaan dengan erangan itu, benihnya keluar dan memenuhi rahimku. Dalam hati aku pun berdoa agar aku segera hamil. Karena aku tak mungkin lagi mencarinya untuk kembali melakukan hal ini jika sampai benih ini tak berhasil. Untuk memastikannya, aku harus membuatnya menumpahkan sp*rmanya lebih banyak lagi dalam tubuhku. Lagipula, aku juga belum mencapai klimaks, ini bisa menjadi alasan untuk meminta ronde kedua bukan? Aku sungguh terdengar seperti ja*ang. “Kenapa anda huhh tidak melepashkankuh, nona? Bagaimana huhh kalau anda sampai h-hhamil?” ia menyuarakan protesnya dengan keras dan napas yang terengah. “Akuh sudah meng-konsumsih birth controlh. Kau takh perlu khawatir, tuan!” Balsku dengan sama terengahnya. “Sungguh? Anda mengkonsumsi birth control, nona?” Aku mengangguk dengan pasti. Namun, tentu saja hal itu adalah sebuah kebohongan belaka demi melancarkan rencanaku. Pria itu masih tampak ragu dengan pengakuanku. “Kalau kau tak percaya, kau bisa memeriksanya!” Aku pun menoleh kesamping ranjang yang terdapat sebuah nakas. Diatasnya terdapat satu strip birth control. Ada beberapa butir yang sudah digunakan. Namun, tentu saja aku hanya membuat pil itu sebagai alibi. Karena sesungguhnya aku malah mengkonsumsi obat penyubur kandungan agar usahaku ini cepat berhasil. “Sudah puas memperhatikannya? Bisakah kita melanjutkan hal ini, tuan? Kau belum memuaskanku.” tanyaku tak sabar. Pria itu kembali menghela napasnya kasar. Ia tampak frustrasi. “Kuharap kau jujur padaku, nona! Dan kalaupun kejadian ini tetap membuatmu hamil, tolong temui aku! Aku akan bertanggung jawab padamu.” Pria yang bertanggung jawab. Tidak salah aku memilih pria ini sebagai pendonor. Meski begitu, aku tetap tak akan memberitahumu saat aku hamil. Kau tak perlu mengetahuinya. “Aku akan memastikan hal itu tidak terjadi, tuan!” Dengan sekuat tenaga, aku membalik posisi kami, dan ganti menindihnya. Aku harus kembali membangunkan juniornya agar ia siap kembali membuahi. Ini juga sekaligus meredam rasa perih pada pangkal pahaku. Untuk itu, aku mulai turun kebawah dan hendak melakukan b*owjob. Pertama dan terakhir kalinya aku melakukan hal ini adalah lima tahun lalu bersama mantan kekasihku. Meski ragu aku bisa melakukannya dengan baik, namun ini patut dicoba, bukan? “Jika tidak merasakannya sendiri, saya tak akan percaya anda adalah perawan, nona! Argh, f*ck! Ini sangat nikmat!” Aku menyunggingkan senyum saat pria itu mulai merancau serta menggeram menikmati tangan dan bibirku yang mengerjai miliknya. Tak butuh waktu lama sampai benda tumpul itu kembali tegak. Tanpa diminta, aku mengangkat tubuhku hingga berada diatasnya. Sebelum benar-benar kembali menyatukan tubuh kami, sepertinya aku ketagihan sentuhan bibirnya. Ini berbahaya, tapi aku ingin menikmatinya selagi ada. Sambil melumat bibir tebalnya, perlahan-lahan aku mulai mengarahkan miliknya untuk masuk dalam diriku. Sial. Meskipun nikmat, tapi ini masih sangat sakit. Akupun memeluk tubuh pria ini dengan sangat erat untuk meredakannya. Setelah kurasakan miliknya telah masuk secara keseluruhan, aku berdiam sesaat. “Ini adalah pertama kalinya saya bermain dengan virgin seperti anda. Bagaimana jika saya ketagihan tubuh anda yang nikmat ini, nona? Apa kompensasi untukku?” Pria itu bertanya saat aku masih menindihnya. Sebenarnya, pertanyaan yang sama juga bergelayut dalam benakku. Pengalaman pertama ini terasa sangat nikmat. Aku juga takut akan ketagihan hingga membuatku terikat padanya. Namun, hal itu adalah terlarang untukku. Aku tak bisa membiarkan orang asing, siapapun itu masuk dalam hidupku. Tak terkecuali calon ayah dari anakku. “Kau bisa mencari gadis diluar sana, tuan!” Jawabku ringan seraya menegakkan tubuhku. “Sulit mencari gadis perawan seusia anda diluar sana. Kalaupun ada seorang virgin, mereka pasti sangat muda dan saya bukan ped*fil, nona!” Ia melayangkan protes seraya menggenggam erat pinggulku dan memberikan topangan. “Di laci paling atas nakas ada sepuluh lembar cek yang masing-masing berisi sepuluh ribu pounds, kau bisa mengambil semuanya nanti.” Nominal itu sangat besar untuk ukuran berhubungan satu malam seperti ini. Seratus ribu pounds, jika membawanya ke Asia Tenggara, itu bisa membuat siapapun menjadi miliarder. Namun, aku tak ragu sedikitpun untuk menggelontorkan dana sebanyak itu. Karena aku bisa mendapatkannya kembali dalam beberapa jam pula. Pria itu berdecih. “Apa semua orang kaya selalu mengukur apapun dengan uang?” “Kau tidak menyukai uang?” “Tidak. Tapi, aku membutuhkannya untuk bertahan hidup.” Benarkah di zaman seperti ini masih ada orang yang tak menyukai uang? Mengapa pria ini sangat menggelikan? Aku bahkan sampai terkekeh dibuatnya. Aku tak menimpali kalimatnya dan terus bergerak naik-turun diatasnya. Dari posisiku saat ini, aku bisa melihat wajah pria bertopeng ini dengan jelas. Meski cahaya kamar ini temaram, aku bisa melihat kulit eksotisnya berkilauan dibeberapa bagian karena keringatnya. Tubuhnya juga sangat bagus hingga tak bosan-bosannya aku menyentuh torso pria itu. Aku bahkan sempat menghadiahi warna kebiruan pada kulit dadanya. Namun, atensiku terpaku pada sekitar bahu hingga tulang selangka kanannya. Ada sesuatu yang menarik disana. Tato lima burung mungil yang sedang berterbangan. Sesaat aku penasaran dengan maknanya. Apakah ia ingin terbang bebas layaknya burung-burung kecil itu? Aku mulai kelelahan berada diatas. Pria itu pun berinisiatif mengubah posisinya dan menggempur tubuhku untuk mengejar klimaks kami. Berbagai posisi dicobanya dan aku sangat menikmati permainan pria asing ini. Rencana satu jam hanya tinggal rencana. Bahkan ia sepertinya lupa jika aku membayarnya hanya untuk satu jam atau paling lama dua jam. Kami baru benar-benar selesai saat matahari hampir terbit. Namun, karena kelelahan serta bagian intimku yang terasa sakit, aku bertahan di club itu hingga siang. Aku baru membuka mata saat petugas kebersihan mengetuk pintu kamarku. Dan setelah melihat sekeliling, aku tak lagi menemukan pria itu. Mungkin ia sudah pergi. “Aaakk!” Bahkan untuk bangun pun pangkal pahaku masih perih. Akhirnya dengan perlahan aku mulai duduk bersandar pada kepala ranjang. Saat menolehkan kepalaku kearah nakas, aku melihat nampan berisi minuman serta makanan disana. Kuraih nampan itu yang ternyata juga terdapat sebuah notes disana. “Bagian intimmu akan sakit selama beberapa hari kedepan. Ada salep untuk meredakannya dan maaf aku telah mengaplikasikannya saat kau tidur. Kau juga bisa menggunakan air hangat untuk mengurangi perihnya.” “Pria yang manis.” Gumamku sambil tersenyum. Kertas itu tak hanya satu, sehingga aku membaliknya dan kembali membacanya. “Aku tidak tahu seperti apa seleramu, tapi semoga kau menyukai sarapan yang kupesankan.” Aku kembali membalik kertas itu untuk membaca kalimat selanjutnya. “Terima kasih atas bayarannya, tapi aku hanya akan mengambil sesuai perjanjian kita. Dan jika terjadi apa-apa pada tubuhmu, sungguh beritahu aku melalui manager club. Aku serius bersedia bertanggung jawab dalam hal apapun. – Juli” ♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD