Warning: 21+ Content. Harap bijak memilih bacaan. Jika tidak sesuai dengan usia kalian, harap melewati bagian ini. Terima kasih.
Evander POV
Pukul setengah dua belas malam saat aku keluar dari ruangan VIP tersebut. Sendirian, karena Kane serta Bastian masih melayani para wanita dengan tubuhnya. Lama juga aku menari tadi, pantas saja aku sangat lelah.
Saat hendak beristirahat, Michele, manager club mendekatiku. Pria tiga puluh lima tahun itu tersenyum penuh arti. Oh tidak! Semoga pikiranku salah.
“Juli, kau temui klien di diamond room! Jangan mengecewakannya, karena ini tangkapan besar untukmu!”
Pria hidung*belang itu tersenyum puas dan membuatku bergidik. Ternyata benar. Ada yang menyewa pelayananku.
“Bukannya aku sudah bilang, kalau aku tidak mau menjual tubuhku?” Aku menyahut dengan ketus.
“Dia bersedia membayarmu ribuan pound hanya untuk beberapa jam. Tidak tertarik?”
“Kau saja!” aku hendak pergi meninggalkannya, namun Michele lebih dulu menahan pundakku.
“Kalau saja dia mau denganku, aku sendiri yang akan melayaninya.” Pria itu mendesis dengan tajam. “Aku tidak tahu apa istimewanya dirimu yang bahkan tak pernah menunjukkan wajah ini, tapi dia hanya menginginkanmu! Bukan stripper yang lain!”
“Bos, apa perlu kupertegas lagi? Aku bukan gi*olo ataupun sugar*baby! Sudahlah, aku mau pulang karena tugasku sudah selesai!” kuhempaskan cekalan tangannya, namun Michele malah semakin mempererat pegangannya.
“Lakukan atau kau kupecat!”
Selalu ancaman seperti itu. Jika biasanya aku bisa melihat raut gertakan dari air muka Michele, kali ini terlihat sangat serius. Sepenting apa klien itu sampai bisa membuat Michele seperti ini? Akupun menghela napasku panjang seraya mengiyakan permintaannya. Jika aku tak bisa bernegosiasi dengan p****************g dan mata duitan ini, aku akan mencoba bernegosiasi secara langsung dengan wanita itu.
Uang yang ditawarkan memang menggiurkan. Jumlahnya bisa sama dengan gajiku beberapa bulan dan aku bisa mendapatkannya hanya dalam beberapa jam. Namun, menjual tubuh dan harga diriku? Tidak! Meski aku tidak lagi perjaka dan berprofesi sebagai penari, tapi aku tidak serendah itu.
♥♥♥
Aku melangkah gontai menuju ruangan yang tadi Michele sebutkan, diamond room. Sebuah ruangan paling mahal dan private yang club ini miliki. Sewanya perjam bisa menjapai ratusan pound. Aku tak mungkin bisa menyewanya karena sayang saja uangnya.
Tok tok tok
Kuketuk pintu berbahan kayu entah apa itu. Setelah beberapa saat, kudengar suara lembut dari dalam sana yang mengizinkanku masuk.
Aku masih mengenakan seragamku, seragam ala malaikat lengkap dengan topengku karena disini adalah heaven. Cih, heaven. Tempat ini seperti neraka untukku?
Didalam ruangan, aku melihat sosok wanita yang tengah menghadap kearah luar jendela. Ia memakai lingerie merah yang sangat seksi. Tak perlu menampik, aku sempat kesulitan menelan salivaku setelah melihat lekuk tubuh wanita itu yang menggiurkan.
“Anda memanggil saya?” tanyaku basa-basi.
“Ya.”
Suara itu sungguh indah. Bayangkan betapa indahnya desahan wanita itu nanti! Evan jr bahkan mulai bangun karenanya. Hey! Apa yang kau lakukan, burung nakal? Bukankah kau hanya akan bangun saat dihadapan Aria? Sebelumnya kau tak pernah bangun karena wanita lain, ‘kan?
Aku menunggu wanita itu. Setelah beberapa saat, ia mulai bergerak dan berbalik. Ruangan yang remang-remang membuatku kesulitan melihat wajahnya. Namun aku tahu jika ia adalah wanita yang sangat cantik. Terilhat dari siluetnya.
Wanita itu berjalan mendekat. Kenapa rasanya ruangan ini jadi sangat jauh? Lama sekali ia sampai didepanku.
Sh*t!
Dia adalah wanita yang tadi ada di ruang VIP. Hanya pakaiannya saja yang telah berganti menjadi lebih minim bahkan terawang. Tetapi aku tak mungkin melupakan wajahnya yang cantik elegan itu. Kuakui jika ia sangat menawan meski dalam sapuan make-up yang menutupi garis wajah aslinya.
“Hey! Kau tidak mendengarku?”
Suara lembut wanita itu membuyarkan lamunanku. Aku pun berdehem sejenak, membersihkan tenggorokanku, sekaligus memanipulasi pita suaraku, seperti biasanya. Tak mungkin aku operasi pita suara saat ini demi melancarkan penyamaranku. Untunglah topengku masih terpasang dengan sempurna. Setidaknya aku masih memiliki tameng.
“You look stunning, miss!” Pujianku menghasilkan semburat kemerahan pada pipi wanita itu. Atau itu hanya blush on yang semakin jelas terlihat?
“Thank you.” Balasnya dengan senyum yang sangat manis.
Tuhan! Siapakah wanita ini? Jika ia terus tersenyum seperti ini, aku bisa diabetes dibuatnya. Tidak-tidak! Aku tidak boleh terpancing. Hatiku hanya milik bos mudaku, Aria. Aku tidak boleh tergoda oleh wanita asing yang ingin membeliku ini.
Ah, hampir saja aku lupa menyuarakan tujuan utamaku memasuki ruangan ini. Aku harus segera menolaknya sehalus mungkin. Sepertinya ia tipe wanita yang rapuh sekaligus tidak menyukai penolakan.
“Andakah yang ingin membeli pelayanan saya?” tanyaku memastikan.
“Kau tak melihat ada wanita lain lagi disini, jadi sudah pasti itu aku.” Jawabnya sambil mengedikkan bahu. “Ada masalah?”
“Ya, nona. Saya tidak ingin basa-basi, nona. Jika anda menginginkan kepuasan, saya bukanlah orang yang tepat karena saya tidak bersedia menjual tubuh saya.” Jawabku tegas.
“Aku akan membayarmu tiga puluh ribu pound untuk dua jam.” Sahutnya menawar.
G*la! Aku harus bekerja sebagai asisten Aria selama sebulan untuk mendapatkan nominal itu, tetapi wanita ini menawarkannya hanya untuk dua jam? Tidak! Meskipun ini menggiurkan, ini menghancurkan idealismeku.
“Maaf nona, tubuh saya tidak bisa dinilai dengan uang!”
“Empat puluh ribu!” ia kembali menawarkan seolah aku adalah barang dagangan.
“Aku memang seorang penari rendahan, nona. Tapi aku bukan gi*olo yang bisa anda beli!” bentakku keras.
“Lima puluh ribu untuk satu jam!”
Sekaya apa sebenarnya wanita ini sampai mau menghambur-hamburkan uangnya untuk hal ini? Tak bisa kupungkiri jika akupun mulai goyah oleh tawaran itu. Ya Tuhan, tolong kuatkan hatiku!
“Dengar tuan! Aku bisa memberikanmu berapapun selama kau bisa memuaskanku. Inilah alasanku memilihmu, karena kau berbeda dari pria penghibur yang lain. Aku menyukai pria yang bermartabat.” Jelasnya.
“Lalu kenapa anda tidak mencari pria kaya dan terhormat diluar sana, nona?” tanyaku mematahkan keyakinannya.
“Karena mereka merepotkan. Sementara denganmu, aku bisa yakin jika setelah ini kita tak akan bertemu lagi.” Jawabnya menjelaskan jika hubungan kami memang hanya akan berakhir sebagai ONS. “Sebut berapa yang kau inginkan dan aku akan memberikannya padamu. Kalau perlu, aku bisa membayarmu didepan.”
“Saya sungguh tidak nyaman dengan ini nona!” aku terus membantah. Namun, suaraku semakin lirih. Sepertinya aku mulai tergiur dengan uang yang ditawarkan wanita ini.
Wanita itu menghela napasnya panjang. Dengan perlahan ia berjalan mendekat padaku lalu tanpa permisi jemarinya yang lentik serta lembut itu mulai menyentuh rahangku. Gerakannya sangat lembut hingga menghantarkan gelenyar aneh dalam diriku. Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan diperutku, bahkan tanpa sadar jantungku telah berdetak lebih cepat hanya karena sentuhannya. Wanita yang tak kuketahui namanya itu menarik tengkukku dan kini wajahku berada sangat dekat dengannya.
“Apa kau benar-benar tak bisa memuaskanku, tuan? Apa aku seburuk itu sampai kau terus menolakku?”
Kalimatnya terdengar putus asa. Mengapa ia sampai seperti ini? Membuatku merasa begitu bersalah telah menolaknya berkali-kali. Padahal sejujurnya aku sudah tergoda olehnya. Bukan hanya pada uangnya, namun juga sentuhannya.
“Sungguh, ini hanya satu kali, nona?” tanyaku mencoba meyakinkan.
Wanita itu mengangguk pasti dengan tatapan memohon, bagaikan kucing yang sedang kelaparan.
“Tak akan ada masalah apapun dibelakang?” tanyaku lagi.
“Ini hanya one night stand, tuan. Tak ada yang perlu kau khawatirkan. Setelah kita keluar dari ruangan ini, kita hanya dua orang asing yang tak pernah saling berinteraksi.” Jelasnya dengan sangat yakin.
Aku menghela napasku panjang dengan mata yang tertutup. Apakah keputusan ini benar? Sebelumnya aku bahkan belum pernah melakukan hubungan satu malam dengan wanita manapun. Aku hanya berhubungan seksual dengan pacarku. Itupun sejak sebelum aku menjadi asisten pribadi Aria, karena setelah itu aku sudah tak lagi berkencan dengan siapapun.
Aria, kuharap kau tidak kecewa padaku yang tak bisa menahan godaan wanita ini. Ah, apa yang kupikirkan? Mengapa juga Aria sampai kecewa padaku? Aku ‘kan hanya pegawainya.
“Baiklah, nona! Aku akan melakukannya untukmu!”
Wanita itu tersenyum lebar, senyum yang sangat mempesona dan menghanyutkan. Semoga aku tak menyesali keputusan bodoh ini dan bisa segera melupakan wanita ini nanti.
Sedetik kemudian, aku merasakan kedua lengan wanita itu membelit leherku. Ia sedikit berjinjit, mendekatkan wajahnya padaku.
“F*ck me hard, baby!” bisiknya dengan suara serak yang membangkitkan gairahku.
Sudah terlanjur. Kesepakatan telah diucapkan dan aku tak bisa lagi menolak, lagipula dia sangat menggiurkan. Segera saja aku memulai permainan yang sudah beberapa tahun ini tak lagi kulakukan. Aku memulai dengan melumat bibirnya dengan cukup menggebu. Bibir mungil yang terasa bagai madu itu terasa sangat pas untukku.
Ia yang sudah siap itupun membalas pagutan yang kuberikan dengan sama panasnya. Kami saling melumat, bertukar saliva, hingga saling mengabsen yang ada didalam mulut kami. Aku bisa mengatakan jika wanita ini adalah seorang pencium yang baik. Dia mampu menaikkan gairahku dengan sangat cepat hanya dengan sentuhan bibirnya.
Tubuhnya yang beberapa puluh senti lebih rendah dariku membuatku agak kesulitan, sehingga aku pun mengangkat tubuhnya yang ringan. Ia semakin mengeratkan pelukannya serta melilitkan kakinya disekitar panggulku.. Tanpa melepas pagutan kami, aku membawanya berjalan kearah ranjang.
Aku merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan terus mencumbunya. Sesaat, kuberikan jeda kala napas kami semakin memendek. Aku menatap kedua netra hitamnya yang berkabut dengan gairah.
“You’re stunning, miss!” gumamku.
Ia tak membalas dan kembali menciumku dengan sama panasnya seperti tadi. Posisinya yang berada dibawahku membuatku lebih mudah menjamah tubuhnya. Jemari ini mulai memindai lekuk tubuh yang seperti dugaan awalku, sangat indah.
Ciumanku berpindah pada rahangnya. Mengabsen setiap inci kulit putih itu serta memberikan kecupan menggoda pada titik sensitif wanita yang berada balik telinga.
“Aahh...”
Wanita itu mengeluarkan erangannya yang sensual. Aku lanjut mencecap lehernya yang jenjang dan wanita itu memberikan akses lebih dengan mendongakkan kepalanya. Kedua tanganku tak tinggal diam dan mulai menyentuh bagian-bagian privat serta sensitif wanita itu. Erangan serta desahannya yang merdu memenuhi ruangan paling eksklusif di club ini. Bagai irama musik yang menenangkan sekaligus memancing gairah.
Hasratku yang telah terpancing membuatku menyesap lehernya dengan cukup kuat hingga meninggalkan bekas kebiruan. Ia tak melayangkan protes apapun, sehingga aku terus melanjutkannya. Cukup banyak jejak kutinggalkan disana.
Aku juga bisa menghirup aroma parfum wanita itu dengan sangat jelas. Aroma yang secara langsung mengingatkanku pada hawa segar pantai. Perpaduan wangi bunga, sitrus, serta musk yang memabukkan. Belum pernah aku mencium aroma parfum yang seunik ini.
Saat terlarut dengan aromanya, aku tak sadar jika tanganku telah berhasil melucuti seluruh lingerie wanita itu, termasuk seragamku yang entah telah terlempar kemana? Kami telah sama-sama polos saat ini. Bahkan jejak kebiruan pada leher serta dadanya juga semakin banyak. Dan entah sejak kapan jariku telah menjamah miliknya yang sudah basah. Aku sedikit mengangkat kepalaku dan kembali bertatapan dengannya.
“Sebelum semakin jauh, apa anda yakin akan melanjutkan hal ini nona?”
♥♥♥