MISTERI VITAMIN YANG DIBERIKAN OLEH SUAMIKU
BAB 8
Tring!!!
[Pergilah dari rumah itu, Amira. Sebelum semuanya terlambat dan membuatmu berada dalam dosa seumur hidup.] pesan dari Mbak Dian kembali masuk.
Aku membacanya dengan degup jantung yang semakin tidak beraturan. Aku segera menghela napas panjang dan duduk di bibir ranjang, sekali lagi aku menarik napas dan membuang lewat mulut untuk meredakan rasa kecemasan yang berlebihan.
Tenang Amira, tenang. Aku tidak boleh percaya begitu saja dengan Mbak Dian, Mbak Dian pasti ingin mempermainkanku seperti hari itu. Tidak mungkin suamiku sebejat itu!
Tidak mungkin juga kalau Mas Aldi sudah mengancamnya, dan membuatnya pindah dari sini. Ya, itu sama sekali tidak mungkin.
"Duh!" Aku bersandar dibantal dan langsung memijit pelipis, karena kepalaku terasa sakit sekali.
Aku meraih botol minum dan ternyata airnya sudah habis. Karena membaca pesan yang mengejutkanku, sungguh membuat tenggorokan ini terasa kering.
"Huh! Malas sekali mau keluar kamar, tapi rasanya haus sekali." Aku berbicara sendiri dan ingin beranjak dari tempat tidur.
Ponselku kembali bergetar, aku hanya melihat sekilas dan memilih untuk mengacuhkan panggilan dari Mbak Dian.
Jangan sampai Mbak Dian meracuni pikiranku, kemarin dia berhasil membuatku percaya. Tapi, tidak lagi dengan sekarang. Aku tidak akan percaya lagi dengannya.
Ponselku kembali bergetar, pesan apa lagi yang dikirimkan Mbak Dian? Aku penasaran dan membuka pesannya sambil berjalan keluar kamar.
[Kamu pasti sudah tidak percaya lagi, 'kan? Ya, sudahlah, setidaknya aku masih berbaik hati untuk menyelamatkan dirimu dari laki-laki b***t itu. Gara-gara ingin menyelamatkanmu, aku sampai terusir dari sana. Baiklah, Amira. Kamu pasti akan menyesal nantinya, hari ini aku memutuskan untuk tidak mencampuri urusanmu lagi, Amira.]
[Terima kasih.] balasan singkat aku kirim kepada Mbak Dian. Karena tidak ingin memperpanjangkan masalah dengan membahas yang tidak-tidak tentang suamiku.
_______
Tok!
Tok!
Pintu utama terdengar diketuk saat aku dan Mas Aldi sedang menonton tv di ruang tamu.
"Siapa?" tanya Mas Aldi dengan mata tetap fokus melihat ke arah tv. Aku mengedikkan kedua bahuku dan berlalu dari hadapan Mas Aldi.
Selama aku tinggal di sini, sangat jarang bahkan bisa dibilang tidak pernah ada tamu datang ke rumah ini, selain adik dan keponakannya bapak mertua yang datang tempo hari.
Sebelum memutuskan untuk membuka pintu, aku menyibak sedikit gorden untuk melihat siapa yang sudah bertamu ke rumah ini.
"Ibu, Kak Zoni, ya Allah, ibuku datang." Hatiku bahagia dan langsung membuka pintu, senyum semringah dari ibu membuatku langsung memeluknya.
"Amira." Ibuku juga membalasnya dengan isak tangis yang begitu pilu.
"Aku sangat merindukanmu, Bu. Sangat rindu." Aku berkata pelan sambil menciumi kedua pipi ibuku.
"Kamu hanya rindu, tapi tidak pernah mau pulang ke rumah, kamu benar-benar keras kepala, Amira." Ibu mencubit lenganku pelan.
"Amira takut, Bu. Ibu kan dengar sendiri apa kata Ayah waktu itu. Ayah akan membunnuh Amira, bila nekat menampakkan batang hidung Amira di sana," jelasku, seperti yang pernah Ayah katakan kalau aku berani pulang ke rumahnya.
"Itu hanya dimulut, tidak mungkin ayahmu tega melakukan itu, kamu tahu sendiri kalau ayahmu itu sama keras kepalanya denganmu, pulanglah sekali saja, ayahmu pasti merindukanmu,"
"Nanti Amira akan pulang, tunggu lebaran," ucapku sambil memeluk ibuku lagi. "Kak Zoni, dari mana kalian mendapatkan alamat rumah ini?" tanyaku. Aku tidak pernah memberikan alamat rumah ini kepada keluargaku, karena mereka juga tidak pernah menanyakannya.
"Dari-"
"Aku, aku yang memberikan alamat rumah ini, dan menyuruh Kakak dan ibumu datang ke sini, kamu pasti rindu sama ibumu, 'kan?" Mas Aldi memotong ucapan Kak Zoni.
Dia mendekat ke arah kami, lalu meregangkan badannya sambil menguap, aku pikir Mas Aldi akan bersalaman dengan kakak atau pun dengan ibuku. Ternyata tidak sama sekali.
Aku sedikit mecewa melihat sikapnya, namun tetap harus berterima kasih karena dia sudah berbaik hati untuk memberikan alamat rumah ini, dan menyuruh Ibu dan kakakku datang.
"Makasih ya, Mas? Aku pikir, kamu tidak akan peka terhadap kerinduanku kepada Ibu," ucapku.
"Iya, aku masuk dulu, mataku ngantuk. Puas-puaslah melepaskan rindu kepada ibumu, karena kita mau berlibur dengan waktu yang sangat lama." Mas Aldi berkata sambil menguap lagi.
Aku menatapnya lekat dan menggelengkan kepalaku pelan, berharap Mas Aldi tidak masuk ke dalam kamar, karena akan membuat kakak dan ibuku akan berpikir kalau Mas Aldi tidak menyukai kedatangan mereka berdua ke sini.
Aku mengerti kalau Mas Aldi sangat mengantuk, karena tadi malam terpaksa harus menemani bapaknya bermain catur.
Aku pikir, Mas Aldi memahami dengan kodeku menggelengkan kepala, ternyata ... dia tetap ingin tidur dan berbalik badan meninggalkan kami yang masih berada di teras.
"Memangnya kalian mau pergi ke mana?" tanya Ibu.
"Hanya ingin berlibur sebentar kok, Bu. Mas Aldi itu cuma bercanda kalau mau pergi lama. Maaf, ya, Bu? Mas Aldi tadi malam bergadang, jadi-"
"Laki-laki seperti itu yang kamu banggakan, Amira? Seharusnya, dia duduk di sini, bukannya malah tidur," protes Kak Zoni memotong ucapan yang belum terselesaikan. Sorot matanya penuh kekesalan terhadap suamiku itu.
"Tidak apa-apa, Zoni. Setidaknya, Aldi sudah berbaik hati mau memberikan alamat rumahnya ini, kita harus bisa menerima dia. Bagaimana pun, dia adalah suami adikmu." Ibu menenangkan emosi Kak Zoni yang mulai memanas.
"Iya, Kak. Mungkin, Mas Aldi benar-benar mengantuk, tolonglah, jangan mengedepankan emosi yang membuat kita rugi." imbuhku yang terdengar bijak sekali.
"Ck!" Kak Zoni berdecak dan tersenyum miring mendengarnya. Kak Zoni pasti ingin meledekku, karena ucapan bijakku tidak berguna sama sekali. Karena aku sudah melawan orang tua dengan menikah tanpa restu dari mereka semua.
Kami duduk di ruang tamu, Kak Zoni hanya diam, hanya aku dan Ibu yang berbicara hangat.
Deru mobil terdengar berhenti di depan rumah, entah mobil siapa yang datang? Sedetik kemudian Bapak mertua masuk ke dalam rumah. Setelah itu, tidak ada siapa pun yang masuk ke dalam rumah. Tapi ... aku mendengar suara mobil, apa Bapak mertua yang membawa mobil? Tapi, mobil siapa?
Bapak mertua menatapku sekilas dan melengos pergi dari hadapan kami.
"Sombong sekali, itu Bapak mertuamu?" tanya Kak Zoni, setelah Bapak mertua benar-benar jauh pergi ke belakang.
"Itu, Bapak angkatnya Mas Aldi," jawabku dengan suara sepelan mungkin.
"Kita pulang yuk, Bu. Kita di sini hanya dianggap lalat saja, tuan rumah Sepertinya tidak menyukai kehadiran kita di sini," ajak Mas Aldi pada Ibu. Dia pasti tersinggung dengan sikap Mas Aldi dan Bapak mertua.
"Makan dulu, Kak. Amira sudah masak, kita makan sama-sama, ya?" pintaku penuh harap.
"Tidak perlu, ayo, Bu." Kak Zoni tetap ingin pulang. Dia beranjak meninggalkan ruang tamu terlebih dulu.
"Ibu pulang, Amira. Sering-sering kabari Ibu, kalau ada apa-apa, telpon Ibu," pamit Ibu dan berpesan.
Aku hanya menghela napas berat, saat Ibu ingin berpamitan pulang.
Kak Zoni yang sudah menghidupkan mesin motor, hanya memandang sekilas ke arahku. Lalu Ibu naik keatas boncengan motor. Aku sedih saat motor yang dikendarai Kak Zoni mulai keluar dari halaman rumah ini.
"Sudah pulang?" Suara Mas Aldi yang kudengar dari belakang.
Tanpa menjawab, aku berbalik badan dan meninggalkannya yang heran melihat sikapku.
Benar apa yang dikatakan Kak Zoni, suamiku tidak senang bila mereka berkunjung ke sini, kenapa dia baru keluar kamar setelah Ibu dan Kak Zoni pergi pulang? Kalau tahu seperti ini, memang lebih baik tidak perlu repot-repot dia menyuruh Ibu datang, dari pada membuatku kecewa melihat sikapnya itu.
BERSAMBUNG...