BAB 9

1103 Words
MISTERI VITAMIN YANG DIBERIKAN OLEH SUAMIKU BAB 9 "Aku minta maaf, tadi aku beneran sangat ngantuk, lagian kenapa ibumu cepat pulang? Setidaknya, makan dulu baru pulang," kata Mas Aldi setelah lebih satu jam aku berada di dalam kamar. "Sudah terlambat, Mas!" sahutku malas. "Terlambat kenapa?" tanyanya yang tampak tidak merasa bersalah sama sekali. Dia duduk di sampingku, lalu memegang kedua pundak ini. "Kamu marah jangan lama-lama, apalagi masalahnya sangat sepele sekali," lanjutnya. "Seharusnya kamu tahan dulu ngantuknya, Kak Zoni tadi menilaimu tidak baik, karena sikapmu yang sangat bikin aku kecewa, Mas," lirihku. Sambil membuang pandangan ke arah lain, agar dia tahu, kalau aku benar-benar kecewa. "Maaf, nanti, sepulang dari bulan madu, kita ke rumah ibumu, ya? Kita akan menginap seminggu di ruang ibumu, gimana?" Mendengarnya aku langsung melihatnya dan mengangguk cepat. "Gitu dong, kalau senyum kan, terlihat lebih cantik dan manis," pujinya sambil mengelus pipiku. "Apa ini, Mas?" Aku melihat ke arah paper bag yang berada diatas sofa. Entah sejak kapan paper bag itu berada di sana? Karena aku baru menyadarinya sekarang. "Peralatan makeup, kamu harus dandan yang cantik ya? Besok kita akan pergi lebih pagi, biar sampainya tidak kesiangan, takut macet," jelasnya sambil tersenyum. Terlihat jelas sekali kalau Mas Aldi sangat bahagia saat ini. "Di depan mobil siapa?" tanyaku. "Mobil kita, Paman Sugi yang memberinya, makanya, kamu harus ramah kalau bertemu dengan mereka, mereka itu baik dan sangat royal," jelas Mas Aldi. Lalu dia bangkit dari duduknya dan meraih handuk untuk mandi. Pintu kamar mandi ditutup, ponsel Mas Aldi yang sedang dicas pun bergetar. Aku melihat nama yang tertera dilayarnya. Karena nama Paman Sugi yang menelpon. Aku pun ingin mengangkatnya tapi keburu mati. Mas Aldi keluar kembali dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Dia berjalan ke arahku, dan mengambil ponselnya. Lalu membawanya ke dalam kamar mandi. Aku melihatnya heran, kenapa membawa ponsel ke kamar mandi? Apa Mas Aldi punya wanita idaman lain? "Ah, ada-ada saja pikiranku." Aku berbicara sendiri dan menepis pikiran buruk terhadap suamiku itu. ______ Aku menunggu balasan pesan dari temanku. Karena dua hari yang lalu aku mengirimkan sebuah paket berisi vitamin kepadanya. Aku ingin tahu, apa sebenarnya fungsi dari vitamin itu. Aku memilih mandi, agar mengurangi rasa sakit kepala dan kecemasan berlebihan. Semenjak membaca pesan dari dari Mbak Dian, membuatku dilanda rasa takut dan cemas yang datang tiba-tiba. "Sudah selesai 'kan?" tanya Mas Aldi saat melihatku keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut yang sudah basah. Bukan tanpa sebab dia menanyakan itu, pastinya dia sudah tidak sabar untuk meminta haknya. "Apanya, Mas?" Aku balik bertanya sambil mengeringkan rambutku menggunakan handuk. Dan pura-pura tidak tahu. Mas Aldi langsung memelukku dari belakang, membuatku spontan mengembangkan sebuah senyuman. "Kalau sudah selesai, kita akan menuntaskannya sekarang," bisik Mas Aldi di telingaku. Dan berakhir dengan ci*man di leherku. Aku bergidik geli mendapatkan perlakuannya itu. "Tapi, aku masih sakit perut, Mas. Mungkin, masih-" "Minum obat ini, ini bisa memberhentikannya tanpa harus menunggu lagi." Mas Aldi memotong ucapanku, dan menyerahkan obat yang terbungkus di dalam kertas plastik kecil berwarna biru. Obat apa lagi ini? "Obat apa ini, Mas?" "Jangan banyak tanya, minum saja," jawabnya dengan nada memaksa. "Baiklah, kalau gitu, aku mau beres-beres pakaianku dari sekarang, jadi besok tinggal berangkat," ucapku sambil membalikkan badan dan melingkarkan tanganku ke lehernya. Lalu menatapnya dalam. "Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Mas Aldi. "Tidak apa-apa, Mas. Aku hanya kagum melihatmu, dan aku bangga bisa menjadi istrimu," jawabku dengan senyum menghiasi bibirku. Tidak dipungkiri bahwa aku beruntung memilikinya, tapi, ada sedikit rasa ragu dihati ini. Entahlah, mungkin aku masih kepikiran dengan pesan yang dikirim Mbak Dian. "Aldi, kamu keluar sebentar, Bapak mau ngomong sama kamu." Aku terkesiap dan langsung melepaskan peganganku dari leher Mas Aldi. "Bapak kamu kok lancang sih, Mas? Pintu ditutup malah langsung dibuka, seharusnya ketuk dulu, untung aku sudah menggunakan pakaian!" gerutuku setelah Bapak mertuaku pergi dari kamar. "Tidak apa-apa, itu hal biasa, kamu saja yang berlebihan," sahut Mas Aldi santai. "Berlebihan-" "Sssttt! Jangan diperpanjangkan lagi, kamu beres-beres dari sekarang, aku mau keluar dulu," kata Mas Aldi yang membuatku kesal mendengarnya. Dia keluar sambil bersiul tanpa beban. Ponselku bergetar, aku langsung duduk di meja rias dan menjawab telpon dari temanku. "Bagaimana, Sintya? Apa hasilnya, kamu tahu apa kegunaan vitamin itu?" tanyaku beruntun. "Amira, ini bukan vitamin, tapi obat tidur," Deg! Aku memegang dadaku yang terasa sesak. Jantungku rasanya mau lepas dari tempatnya. Apa yang terjadi selama ini? Kenapa Mas Aldi memberikanku obat tidur? Kenapa dia menyebut obat itu vitamin? "Sejak kapan kamu mengkonsumsi obat tidur ini, Amira?" tanya Sintya. "Sudah hampir tiga bulan," jawabku dengan suara tercekat. "Sebaiknya, kamu hindari menggunakan obat ini secara berlebihan, ini tidak baik untuk dikonsumsi jangka panjang. Siapa yang memberikan obat ini padamu?" "Baiklah, Sintya. Aku tidak menjelaskannya, dan terima kasih ya, aku tutup dulu," ucapku yang lebih dulu mengakhiri sambungan. Aku harus mencari tahu, apa sebenarnya yang sudah terjadi selama aku mengkonsumsi obat tidur itu? Aku harus memeriksa ponsel Mas Aldi. Ya, pasti jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku ini ada di dalam sana. Dan ini, ini entah obat apa lagi? Aku harus menyingkirkannya. Aku membawa bungkusan obat itu ke dalam kamar mandi, lalu membuangnya ke dalam kloset dan menyiraminya agar hilang dari pandangan. ________ "Malam terakhir, Bapak ingin-" Karena melihatku keluar kamar, ucapan Bapak mertua terhenti, matanya langsung menatapku penuh kebingungan. Entah apa yang mereka bicarakan? Kenapa dengan malam ini? Apa yang terakhir? "Lho, Amira. Kamu belum tidur? Ini sudah hampir jam dua belas malam. Kenapa masih sadar?" tanya Bapak mertua sambil menyeruput kopi. Matanya masih menatapku yang berdiri di dekat ruang makan. "Kamu belum minum vitamin?" Mas Aldi juga bertanya sambil mematikan puntung rokok dengan menekannya ke dalam asbak rokok. "Aku tidak minum, Mas. Aku merasa tidak enak badan. Kepalaku juga sakit, mungkin kurang d4r4h karena tamunya datang lagi, tunda dulu ke puncaknya, ya?" jawabku sambil memijit pelipisku, kubuat ekspresi wajah tidak bersemangat untuk membuatnya percaya. "Tidak bisa begitu, bagaimana ini!" Bapak mertua menyahut dengan nada tinggi. Kenapa dia yang kesal? Seharusnya, Mas Aldi yang kesal karena tidak jadi berbulan madu sesuai dengan rencananya. "Kenapa, Pak? Kenapa marah?" tanyaku langsung. "Eh, tidak, hanya mewakili perasaan Aldi saja, kamu pasti marah 'kan, Aldi?" Bapak mertua menjawab dengan melempar tatapan ke arah Mas Aldi. "Iya, sedikit marah, tapi tidak apa-apa, masih bisa menunggu, ya sudah, kamu istirahat saja." imbuh Mas Aldi. Bapak mertua langsung berdiri dan pergi dari hadapanku. Sorot matanya penuh kemarahan, entah apa yang membuatnya ingin marah sekarang? Sebenarnya, aku belum tidur karena ingin menunggu Mas Aldi masuk ke dalam kamar, aku ingin memeriksa ponselnya ketika dia sudah tidur nyenyak. Tapi, hingga larut malam, Mas Aldi tidak kunjung masuk ke dalam kamar. Terpaksa penyelidikan harus tertunda sampai Mas Aldi lalai dengan ponselnya. BERSAMBUNG...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD