BAB 1

1971 Words
Selama beberapa sekon, tidak ada yang berniat menolong Ellie. Sehingga, Ellie berusaha bangun sendiri. Ia meraih keranjang yang terjatuh tak jauh darinya. Namun, alangkah terkejutnya karena tangannya kalah cepat dengan tangan seseorang yang lebih dulu meraih keranjang tersebut. Spontan, Ellie mendongak. Matanya membulat melihat Grand Duke Eugene bertekuk satu lutut di hadapannya. Pria itu membawa keranjang milik Ellie. Dari jarak sedekat itu, Ellie terdiam di tempat. Wajah Eugene yang rupawan berhasil membius Ellie. “Kau tidak apa-apa?” tanya Eugene seraya menyodorkan keranjang Ellie. Mata Ellie mengerjap, segera tersadar. Ia menunduk. “Ah, iya. Maafkan kelancangan saya, Yang Mulia. Terima kasih atas bantuan anda.” Eugene tidak membalas. Mata hijaunya melirik Ellie dari atas sampai bawah, memindai apakah terdapat luka. Dirasa baik-baik saja, Eugene menoleh pada prajurit yang bertekuk di belakangnya. “Lain kali berhati-hatilah, Luke. Lihat perbuatanmu ini.” Prajurit berambut pirang pemilik nama Luke itu pun langsung menunduk. “Maafkan ketidaksopanan saya, Yang Mulia.” Eugene menoleh pada Ellie. Tatapan matanya tak terbaca. Melihat perempuan mungil itu masih menunduk, Eugene bersuara, “Angkat kepalamu, Nona.” Dengan ragu, Ellie mengangkat kepala. “Baik, Yang Mulia.” “Atas perbuatan prajuritku, aku minta maaf,” kata Eugene dengan suara beratnya. Melihat Ellie terkejut hendak menyela , ia melanjutkan, “apa kau suka kue manis?” Ellie dengan mata membulat, mengerjap cepat. “I—Iya, Yang Mulia. Tapi, Yang Mulia tidak perlu meminta maaf. Saya memang cero—“ “Terimalah kue caramel sebagai permintaan maafku. Kuharap kau menyukainya.” Wajah Eugene yang serius diikuti tatapan intens membuat Ellie terpaku. Melihat wajah rupawan pria itu dari dekat entah mengapa membuat jantungnya berdebar kencang. Kasak-kusuk di sekitar membuat Ellie kembali ke kesadarannya. Betapa lancangnya tidak menyahut ucapan baik Grand Duke! “Saya akan sangat berterima kasih, tapi mohon maaf saya tidak bisa meneri—“ “Ini kue caramelnya, Yang Mulia,” kata salah satu prajurit menyela penolakan Ellie. Kue caramel yang sudah dibungkus itu membuat Ellie mengerjap kaget. Eugene mengambil alih kue tersebut, lantas menyodorkannya pada Ellie. Terlihat tidak menerima penolakan gadis itu. “Terimalah.” Sore itu, berita Grand Duke Eugene si baik hati tersebar dengan cepat ke seluruh penjuru kerajaan. *** Ellie menghela napas berat. Ia mengeratkan syal seiring suhu semakin dingin menjelang datangnya malam. Selesai mengeratkan syal, ia menatap sekotak kue caramel pemberian sang Grand Duke. Dengan suara tertahan, Ellie menggeleng keras menahan rona di kedua pipinya menjalar. Tadi ia sungguh memalukan! “Selamat sore, Nona!” sapa Sir Darius ramah ketika Ellie datang mendekati kiosnya. “Hari ini banyak stok wortel dan daging sapi.” Ellie menatap tumpukan sayuran dengan kagum. “Wah, masih segar-segar, Sir!” “Tentu saja, Nona kecil! Aku menyimpannya dengan baik di kotak es,” kata Sir Darius semangat. “Jadi, hari ini apa yang kau butuhkan?” “Hmm, sayuran, daging sapi,” Ellie berpikir, menimbang kebutuhannya selama tiga minggu ke depan, “bumbu rempah, beberapa buah, dan daging ikan, Sir.” Sir Darius mengangguk, pria paruh baya itu lantas bergerak mengambilkan pesanan Ellie. “Untuk stok berapa minggu, Nona? Cuaca dingin seperti ini sepertinya kau harus memasok lebih banyak dari biasanya.” “Benar sekali, Sir. Saya akan memasok selama tiga minggu ke depan.” “Pastikan rumahmu selalu hangat. Belilah kayu bakar juga, Nona. Sepertinya tahun ini akan ada badai salju.” Ellie membulatkan mata. “Badai salju?” “Begitulah. Aku mendengarnya dari para pedagang dan perantau.” Ellie sedikit kalut. Tubuhnya yang lemah tidak bisa mentolerir suhu dingin dari batas wajar. Badai salju akan membuat cuaca semakin dingin hingga di bawah nol derajat. Benar kata Sir Darius, Ellie harus memasok kayu bakar sebanyak mungkin. “Jadi, rumornya benar, ya?” “Kudengar Count Efran itu akan mengalami kebangkrutan.” “Akhirnya dia menuai apa yang dia tabur, ya.” “Benar. Setelah meninggalkan kita dengan segala kesombongannya itu, akhirnya dia akan bangkrut juga.” “Pasti sekarang dia memikirkan apa yang telah dia perbuat.” “Mana mungkin! Count Efran itu sangat angkuh!” Elliana Efran, putri Count Efran yang sekarang menjadi bahan pembicaraan beberapa orang di dekatnya itu menoleh. Meski ia memendam amarah besar pada beliau, sebagai seorang anak, Ellie masih peduli pada kondisi ayahnya. Setelah sekian lama tidak mendengar kabar apa pun, mendengar ada kabar yang beredar membuat telinga Ellie menajam. Beberapa pria tua yang masih mengobrol di kios sebelah membuat Ellie semakin menajamkan telinga. “Mau bagaimana lagi? Pengusaha minyak sekarang mulai bermunculan. Persaingan semakin ketat.” “Benar. Kesalahan Count Efran adalah pindah ke Kerajaan Sulfyan. Kalau saja dia masih di Alterius, setidaknya munculnya pesaing sangat kecil, bukan?” “Kasihan sekali. Dari kabar itu, dia akan menjual putrinya demi menutup biaya kerugian, ya?” Ellie tersentak. Tanpa sadar, badannya memutar ke kiri menghadap pria-pria tua itu. “Kau pasti bercanda, bukan? Count Efran tidak memiliki seorang putri. Dia hanya memiliki seorang putra yang masih kecil.” “Aku serius. Kalau tidak salah sepertinya itu putri dari mendiang istrinya. Dulu mereka hidup di sini, bukan?” “Kalau benar seperti itu, bukankah dia sangat keterlaluan?” Saat itu, Ellie pun sadar selama ini harapannya kembali hidup bersama ayahnya adalah harapan yang hampa. *** Malam itu, di rumah peninggalan Count Efran, Elliana Efran tergopoh-gopoh mengemasi barang-barangnya. Setelah mendengar kabar menyakitkan tentang ayahnya dari para pedagang, Ellie tidak bisa diam saja di rumah. Ia tidak akan menyerahkan diri sekali pun untuk membantu ayahnya. Jalan satu-satunya adalah pergi meninggalkan semua kepahitan di rumah dingin itu. Ellie merogoh kantung uang, mengeceknya. “Uang simpanan ibu tinggal sedikit. Setidaknya akan cukup untuk menaiki kereta dan membeli rumah kecil di kerajaan sebelah.” Ellie memasukkan kantung uang ke dalam koper kemudian menutupnya. Ia menoleh ke jendela, menatap angin mulai berhembus. Dinginnya sudah terasa menusuk kulit Ellie walaupun jendela tertutup rapat. Sesaat, rasa dingin itu mampu menciutkan niat Ellie untuk pergi. Ellie yang tidak pernah pergi jauh dari pasar desa tentu goyah. Akan tetapi, ketika mengingat apa yang akan dilakukan ayahnya membuat niat Ellie kembali berkobar. Ellie membawa kopernya setelah mengeratkan syal dan membenarkan letak topi. Seiring langkah menuju pintu, Ellie merasakan tiap kenangan di tiap sudut rumah. Memang berat, sangat berat. Ellie tidak akan gentar. Dengan sekali gerakan, Ellie menutup pintu pagar rapat-rapat. Sekali lagi, mengucapkan selamat tinggal pada rumah yang telah membesarkannya tanpa kata. Ia berbalik badan, mulai memberi satu langkah pergi. Angin dingin kembali berhembus, langsung menusuk kulit Ellie seolah mencoba menggoyahkan niat gadis itu kembali. Dengan begitu, Ellie menggeleng keras, tetap teguh pada langkahnya. Di musim dingin, para warga desa akan langsung memasuki rumah. Tidak ada yang berani keluar dalam kondisi malam yang sangat dingin. Ellie tidak heran melihat jalanan desa begitu sepi. Mau bagaimana lagi, musim dingin membuat desa sesaat menjadi kota mati. “Rumah itu ada di ujung desa. Sangat besar sekali bercat putih.” “Kita hanya harus membawa perempuan itu hidup-hidup, bukan?” “Begitulah. Dengan begitu, kita akan mendapat seratus ribu gold.” Tubuh Ellie terhenti, kaku. Sayup-sayup mendengar langkah kaki dari persimpangan pasar. Rumah besar bercat putih di ujung desa? Itu rumah Ellie! Melihat ada bayangan sekawanan pria berjalan ke arahnya membuat Ellie berlari memasuki gang kecil. Dalam hati, ia merapalkan ratusan doa berharap pria-pria itu tidak melihatnya barusan. Meskipun Ellie tidak begitu pintar, ia bisa menyimpulkan pria-pria besar itulah yang akan membawanya ke ayahnya secara paksaan. Dari balik tong sampah, Ellie berjongkok sambil menutup mulutnya supaya tidak bersuara. Suara-suara langkah itu semakin jelas, menandakan mereka berada tak jauh dari Ellie. “Bos, apa kau tadi melihat perempuan berlari ke gang itu?” “Di malam musim dingin seperti ini, perempuan mana yang berani keluar?” “Benar juga, tapi aku sungguh melihat bayangannya tadi.” Pria yang diajak bicara itu mendecak. “Sudahlah, singkirkan pikiran bodohmu. Kita harus segera membawa putri itu ke si Count.” Setelah itu, langkah kaki kembali terdengar. Lama-lama menjauh. Hingga tidak terdengar lagi. Ellie langsung bernapas lega, pelan-pelan bangkit berdiri menjinjing kopernya. Ia harus cepat. Kondisi desa yang sepi tidak akan membantunya bila saja ia tertangkap. Sesampainya di stasiun kereta, Ellie membulatkan mata melihat stasiun itu tutup. Tidak ada seorang pun. Petugas pun tak ada. Ellie yang tidak mau menyerah begitu saja, melangkah memutari stasiun mencari petugas. “Permisi! Apa ada orang di sana?!” teriak Ellie dari depan stasiun yang terkunci. Tidak ada sahutan, harapan Ellie mulai pupus. Bila malam ini ia tidak bisa naik kereta, ia akan tertangkap oleh orang-orang suruhan ayahnya. “Permisi!!” teriak Ellie sekali lagi, kali ini diikuti ketukan nyaring pada pagar besi. “Ya ampun, siapa yang berani sekali malam-malam musim dingin begini keluar dari rumah?” kata seorang petugas yang muncul dari dalam dengan membawa senter. Senyum lega terbit di wajah Ellie. “Sir, malam ini tidak ada kereta yang beroperasi? Saya perlu pergi ke kerajaan Douphens sekarang juga.” “Douphens? Jauh sekali tujuanmu, Nona,” komentar petugas tersebut keheranan, “tapi sayang sekali, malam ini kereta tidak bisa beroperasi karena wilayah sebelah sudah turun badai salju. Makanya, stasiun tutup lebih awal.” Mata Ellie membulat. “Apa? Badai salju?” Petugas tua itu mengangguk. “Iya. Entahlah, sepertinya semakin hari cuaca semakin memburuk saja.” Tidak. Bukan seperti ini yang Ellie harapkan. Para pesuruh ayahnya sudah melangkah menuju rumahnya, Ellie harus segera pergi dari Alterius. Kalau kereta tidak beroperasi seperti ini, Ellie harus bagaimana? Uang yang tersisa hanya cukup untuk menaiki kereta. Ia harus menyisakan banyak untuk membeli rumah. “Lebih baik kau pulang, Nona. Besok kereta akan beroperasi,” kata petugas tua itu berniat undur diri, namun dicegah oleh suara Ellie. “Sir, bisakah saya menumpang di stasiun? Saya tidak punya banyak uang lagi untuk menyewa kamar hotel.” “Mohon maaf sekali, tidak bisa, Nona. Stasiun yang sudah ditutup, maka ditutup.” Tidak mau memedulikan Ellie lagi, petugas tua itu pun pergi meninggalkan Ellie. Bagi putri yang tidak pernah bepergian jauh, situasi semacam ini benar-benar menakutkan. Ellie mulai kebingungan, apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Wilayah lain yang sudah terkena badai salju pasti lambat laun merambat hingga wilayah Alterius. Ellie benar-benar lemah menghadapi suhu terlalu dingin. Kalau diam saja, bisa-bisa aku tertangkap dan semua usahaku sejauh ini sia-sia, batin Ellie gusar. Tak lama, ia menoleh ke pegunungan Alphens yang menjadi batas wilayah Alterius. Tidak ada pilihan lain. Ellie mengencangkan lilitan syal beserta gaunnya agar suhu dingin sedikit terhalau. Kemudian, memantapkan hati dan tekad, bersiap memasuki batas wilayah pedesaan untuk memasuki hutan rindang. Setelah melewati hutan rindang, Ellie akan sampai di pegunungan Alphens. Di balik pegunungan Alphens adalah wilayah kerajaan Zenov yang makmur. Ellie yakin ia akan baik-baik saja selama mengikuti jalur rel kereta api. Dengan begitu, Ellie melangkah menuju hutan. Berbekal senter kecil, Ellie mengikuti jalur rel. Jarak pandang yang minim, kondisi jalan yang berbatu, dan angin yang berhembus mulai membuat Ellie goyah. Salju memang belum turun, tapi berjalan sendirian di tengah hutan di malam hari adalah hal terburuk. Situasi yang sudah buruk membuat Ellie merapalkan doa semoga tidak ada binatang buas yang berkeliaran. Ellie bisa menangani cuaca dingin, jarak pandang minim, dan kondisi tanah yang tidak teratur, tapi tidak dengan binatang buas. Ibu, lindungilah aku, batin Ellie saat berhasil menghindari bongkahan bebatuan. Tidak berselang lama setelah Ellie mengharapkan perlindungan, suara lolongan serigala bergema memasuki gendang telinganya. Bulu kuduk Ellie serempak berdiri diikuti rasa takut menyelimuti. Kepalanya segera menoleh kanan-kiri dengan was-was, memindai apakah serigala-serigala itu berada dekat dengannya. Keringat dingin mulai mengucur merasa serigala itu dekat namun tak tampak wujudnya. Mengikuti insting dan naluri lemahnya, kaki Ellie segera berlari kencang. Pencahayaan senter tidak teratur karena tempo lari. Tetapi, Ellie tidak peduli. Pokoknya, ia harus selamat dari kawanan serigala tersebut. Lolongan serigala kembali terdengar. Bersamaan dengan Ellie terjatuh akibat tersandung bebatuan. Senter dalam tangan kanannya terlempar cukup jauh. Kepala Ellie berdenyut sakit diiringi kesakitan-kesakitan lain di sekujur tubuhnya. Dalam pandangan yang mulai samar, Ellie meneteskan air mata. Apakah begini akhir hidupnya? TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD