BAB 2

1694 Words
“Grand Duke, sepertinya akan turun badai salju, sebaiknya kita segera kembali ke istana,” kata Raymond sang Jenderal Pasukan kepada Eugene yang tenang menaiki kuda di depannya. Eugene pun berhenti, diikuti oleh seluruh pasukan di belakangnya. Pria berambut hitam itu mendongak, merasakan suhu semakin dingin karena angin berhembus kencang. “Sepertinya begitu. Besok pagi kalian lakukan penelusuran lagi di hutan ini. Viscount sialan itu pasti tak akan lari terlalu jauh.” “Baik, Yang Mulia!” sahut para pasukannya diikuti tunduk kepala hormat. Dengan begitu, Eugene berputar arah untuk kembali ke istananya di area Alterius Selatan. Ia membenarkan tudung kepala dan jubahnya guna menghalau dingin. Mata hijau Eugene mengamati hutan yang terasa semakin mencekam. Eugene tidak mau berurusan dengan kawanan serigala, namun instingnya mengatakan malam ini ia akan bertemu serigala-serigala buas itu. Kalau bukan karena Viscount Marten nekat kabur dari penjara bawah tanah istana, Eugene tidak akan repot-repot memasuki hutan demi menangkap pria gendut itu. Eugene bisa saja menyuruh pasukannya mencari buronan itu, tapi darahnya sudah mendidih. Viscount tidak tahu diri itu masih berani menentangnya dan itu membuat Eugene ingin segera memenggal kepalanya saja. Alih-alih menangkapnya dan melemparkannya kembali ke jeruji besi. Bangsawan-bangsawan serakah seperti itu adalah hal yang paling Eugene benci. Raymond yang menaiki kudanya di belakang Eugene tiba-tiba tersentak. Pria paruh baya itu langsung menjalankan kudanya ke depan tuannya, bermaksud menghentikan perjalanan. Eugene cukup terkejut atas pergerakan itu, ia mengerutkan kening melihat Raymond menoleh kanan-kiri penuh waspada. “Maafkan saya, Yang Mulia. Saya sayup-sayup mendengar lolongan kawanan serigala,” ucap Raymond masih mengedarkan pandangan ke segala arah. Eugene menegakkan punggung, ia melirik memindai keadaan sekitar. AAAUUUUU!! Seluruh pasukan terkesiap. Dengan spontan, mereka bergerak melindungi Eugene dari segala sisi. Sementara Eugene berpikir sejenak. Dari lolongan barusan, sepertinya jarak kawanan serigala tidak terlalu jauh. Tidak terdengar suara langkah kaki maupun rumput terinjak. Kawanan itu tidak bergerak. Eugene menghela napas. “Kembali berjalan. Kawanan itu memang dekat, tapi mereka tidak berja—“ ucapannya terhenti kala matanya menangkap sorotan cahaya berpendar di antara pepohonan. “Yang Mulia, sepertinya ada seseorang di sana,” kata salah satu prajurit di sisi kanan Eugene. Eugene kembali melirik, sorot cahaya itu bergerak tidak beraturan sebelum kemudian menghilang. Dari sorotnya, pasti itu cahaya senter. Eugene tidak bisa membayangkan ada seseorang berkeliaran di hutan dalam situasi musim dingin begini. Maka, Eugene berpikir orang itu pasti Viscount Marten si buronan. “Kita hampiri. Bisa saja itu Viscount,” perintah Eugene langsung disambut anggukan Raymond. Mereka kembali berjalan dengan Raymond memimpin di depan. Para pasukan siaga mengelilingi Eugene dari segala arah. Mengantisipasi kawanan serigala tiba-tiba muncul menghalangi mereka. Setelah melewati semak-semak dan tanjakan curam, pasukan kembali berhenti karena Raymond. “Biar saya cek terlebih dahulu, Yang Mulia.” Eugene hanya mengangguk. Sang Jenderal Pasukan pun bergerak menghampiri senter yang menyala tergeletak tanpa pemilik di tengah hutan. Raymond memindai keadaan sekitar senter tersebut. Tidak mungkin senter berjalan sendiri, bukan? Beberapa detik lalu ia melihat sorot senter itu mengarah tidak teratur. Kuda yang ditumpangi Raymond bergerak kembali, mencari pemilik senter. Tidak lama, ia terkejut melihat seorang perempuan tergeletak pingsan. Terdapat koper tak jauh dari perempuan tersebut. Nampaknya, perempuan itulah pemilik senter. Pasti ia berlari karena mendengar lolongan serigala hingga terjatuh dan pingsan. Raymond lantas kembali ke pasukan dan tuannya berada. “Yang Mulia, saya menemukan seorang perempuan pingsan di sana. Ia membawa koper, sepertinya perempuan itu yang membawa senter barusan. Saya menunggu perintah anda.” Mata Eugene sedikit membesar karena terkejut. Bagaimana mungkin seorang perempuan berani berjalan sendirian memasuki hutan belantara? Tanpa mengatakan apa pun, Eugene menjalankan kudanya berniat menghampiri perempuan itu. Diikuti oleh pasukannya, Eugene berhenti di dekat perempuan bergaun merah itu tergeletak tak sadarkan diri. Ia turun dari kuda, kemudian melangkah mendekati tubuh perempuan mungil tersebut. Eugene memutar tubuh yang terjatuh terjerembab itu, lalu tak kuasa menahan keterkejutannya. Perempuan mungil di toko roti. Ya. Tidak salah lagi. Meskipun wajahnya kacau ternodai keringat dan tanah, Eugene dapat mengenalinya dengan jelas. Wajah perempuan mungil yang terjatuh karena terdorong kerumunan di toko roti tadi sore. “Bagaimana, Yang Mulia? Sebaiknya anda bergegas karena salju sudah turun,” ucap Raymond menginterupsi. Perlahan, jemari Eugene mengusap pipi Ellie. Membersihkan noda tanah yang merusak kecantikan perempuan itu. Ini di luar dugaan, Eugene tidak pernah mengira akan menemukan perempuan ini pingsan di tengah hutan. Mata hijau Eugene menangkap koper tergeletak tak jauh darinya. Otaknya menyimpulkan satu kalimat. Perempuan ini kabur. “Kita bawa ke istana.” Elliana Efran pun dibawa oleh pasukan Eugene seiring salju turun menyelimuti tanah. *** Pasukan tiba dengan selamat di istana Alterius, tempat tinggal sang Grand Duke. Eugene segera turun dari kuda, lantas melepas jubahnya yang telah diselimuti beberapa butir salju. Para pelayan dengan sigap mengambil alih jubah Eugene. “Selamat datang, Grand Duke. Syukurlah anda kembali dengan selamat,” ucap Charles, kepala pelayan istana. “Apakah anda ingin membersihkan diri? Akan saya siapkan air hangat.” “Ya dan taruh beberapa botol anggur di kamarku,” tanggap Eugene, “ada perempuan yang kubawa. Taruh dia di kamar dan panggilkan dokter. Suruh pelayan melayaninya dengan baik.” Charles terlonjak, namun berusaha mempertahankan senyum lebarnya dan mengikuti langkah Eugene. “Perempuan?” Tiba-tiba Eugene berhenti, membuat Charles ikut berhenti. Pria itu menoleh dengan raut garangnya. “Kenapa?” tanyanya bernada dingin. “Apakah ini artinya Yang Mulia sudah berniat memikirkan posisi Grand Duchess Gilbert yang kosong selama 3 tahun sejak penobatan anda?” tanya Charles dengan senyum lebar formalnya yang menyebalkan bagi Eugene. “Kau ingin membahasnya lagi?” tanya Eugene sinis. “Ada atau tidak adanya Grand Duchess tidak berpengaruh bagiku.” Charles mengangguk singkat. “Tapi, berpengaruh bagi saya, Yang Mulia. Saya bukan istri anda yang harus mengatur anggaran rumah tangga.” Eugene menghela napas singkat. “Itu tugasmu.” ucapnya tegas sebelum kemudian kembali melangkah. “Posisi Grand Duchess benar-benar penting bagi reputasi anda, Yang Mulia. Para bangsawan akan terus membicarakannya dan berusaha menjatuhkan reputasi anda tanpa anda sadari.” “Aku tidak tertarik pada pernikahan.” Charles sedikit melengos. “Tolong anda pertimbangkan lagi, Yang Mulia. Bila sampai tahun depan belum ada yang mengisi posisi tersebut, para bangsawan akan kembali menyebarkan rumor di pesta-pesta kerajaan.” Eugene melengos keras. “Aku tidak peduli, Charles. Sebaiknya kali ini kau diam dan jalankan perintahku barusan.” “Baik, Yang Mulia.” Dengan begitu, Eugene melangkah sendirian menaiki tangga menuju kamar tidurnya. Pria dengan tinggi 192 cm itu mengacak rambutnya frustasi. Jujur saja, Charles dengan segala ocehan tentang pernikahannya itu sangat mengganggu telinga Eugene. Sudah sejak 3 tahun lalu pria tua itu mengoceh tentang pernikahan dan posisi Grand Duchess. Padahal, Eugene sudah berkali-kali mengatakan ia belum tertarik menikah. Lagi pula, seberapa pentingnya posisi Grand Duchess bagi reputasinya, huh? Eugene menjatuhkan diri di sofa dalam ruang kerjanya. Helaan napas panjang berhembus keluar dari hidung mancungnya. Eugene menyandarkan lehernya di atas punggung sofa, merasakan tulang lehernya bergemeletuk kecil. Ia sangat lelah dan semakin lelah karena ocehan Charles.  Menikah, batin Eugene kini melengos keras. Wanita tidak berkompetenlah yang dapat merusak reputasiku dalam sekali tindakan. Dan kau menyuruhku menikah, lucu sekali. Eugene dengan segala pemikiran kritisnya selalu mengatakan itu. Ia yakin tidak akan ada wanita yang sanggup bertahan mendampinginya. Selama tiga tahun menjadi Grand Duke, banyak perempuan bangsawan yang menghampirinya. Mendambakan rupa dan statusnya yang cemerlang. Bahkan terang-terangan menyatakan perasaannya. Hal-hal semacam itulah yang merepotkan bagi Eugene. Ocehan Charles hari ini pasti didasarkan tindakan Eugene membawa pulang seorang perempuan. Padahal Eugene hanya menyelamatkan hidupnya, tidak bermaksud apa-apa. Tapi, Charles berpikir ini adalah hasil ocehannya selama tiga tahun tanpa henti. Eugene melengos. Perempuan kue caramel itu memang cukup manis. Tubuhnya pun terlalu ramping dan mungil seperti boneka. Eugene yakin perempuan sekecil itu pasti sangat rapuh bila dipeluk oleh—Tunggu, tunggu! Apa yang barusan Eugene pikirkan?! Eugene menegakkan punggung, kemudian mengacak rambutnya kembali. Kini tampak lebih frustasi. “Apa yang kupikirkan.” TOK TOK “Yang Mulia, air hangatnya sudah saya siapkan.” ucap Charles di balik pintu. Eugene mengembuskan napas, bangkit berdiri melangkah keluar. Charles menunggunya dengan tenang di balik pintu. Pria itu tidak melakukan apa-apa selain menunggu Eugene melangkah lebih dahulu. Namun entah mengapa, senyum lebar formalnya membuat Eugene ingin memukulnya habis-habisan. Gara-gara Charles, Eugene sakit kepala. “Kau sudah mengurus perempuan itu?” tanya Eugene beberapa saat setelah mulai melangkah menuju kamar tidur. “Sudah, Yang Mulia. Dokter sedang memeriksanya dan para pelayan sedang melayaninya dengan baik.” Hening. Sesaat, Eugene ingin bersyukur karena kepala pelayan itu tidak mengoceh lagi. Namun, harapannya pupus saat Charles berdehem dan berkata, “Sebaiknya tahun ini anda mempertimbangkannya lebih serius, Yang Mulia. Posisi Grand Duchess.” Kaki Eugene spontan berhenti melangkah. Pria kekar itu balik badan, menatap Charles dengan wajah murkanya. “Charles, kubilang apa tentang pernikahan-pernikahan itu?” “Anda tidak bisa bersikap begitu selamanya. Cepat atau lambat, efek itu akan muncul dan melukai masa depan anda, Yang Mulia,” balas Charles dengan argumen yang sama selama tiga tahun. “Aku tahu dan kau tidak perlu mengoceh hal-hal seperti itu lagi.” “Bagaimana saya diam saja sementara saya mengkhawatirkan masa depan anda, Yang Mulia.” “Terima kasih tapi aku tak butuh.” Charles menghela napas. “Yang Mulia, sebentar lagi akan diadakan Royal Banquet di Istana Ophelia untuk penganugerahan gelar dan sebagainya. Jika anda lagi-lagi tidak datang, apa yang akan dipikirkan Yang Mulia Raja Marquis dan para bangsawan lainnya?!” Eugene mendelik. “Bilang saja aku sibuk membangun wilayahku, apa susahnya, Charles?!” “Tidak bisa! Saya tidak sanggup lagi berbohong pada Yang Mulia Raja!” “Akan kulakukan apa pun, kau tahu itu, kan.” Charles menggeleng. “Tidak akan terjadi, Yang Mulia. Saya akan terus mendesak anda untuk segera menikah. Kalau bisa, sesaat setelah perempuan yang anda bawa itu sadarkan diri, saya akan langsung melempar surat lamaran—“ “Hentikan itu!” seru Eugene langsung memotong dengan alis hampir menyatu. “Kau gila menyodorkan surat lamaran para perempuan yang tak jelas asal-usulnya.” Charles berdehem, memperbaiki postur tubuhnya. “Baiklah, saya akan memerintahkan Sir Raymond mencari tahu latar belakangnya.” “Lakukan sesukamu,” Eugene berbalik badan, kembali melangkah, “yang jelas, aku tidak berminat.” Perdebatan berhenti setelah Eugene memasuki ruang tidurnya. Charles hanya bisa menghela napas melihat betapa keras kepalanya sang Grand Duke. TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD