Pagi yang cerah telah menyambut. Sinar cemerlangnya menyelusup masuk dari balik tirai yang belum dibuka. Sinar mentari itu menyorot wajah Ellie yang masih belum membuka mata birunya. Perempuan berambut panjang itu merasa terusik, perlahan ia membuka kedua matanya. Mengerjap beberapa kali agar dapat beradaptasi dengan cahaya.
Kening Ellie berkerut menatap langit-langit kamar yang asing. Langit-langit kamar berwarna putih keemasan itu sangat kontras dengan langit-langit kamarnya yang berwarna biru langit. Perlahan, Ellie menoleh kanan-kiri, memindai situasi kamar yang sama sekali bukanlah kamarnya. Keningnya semakin berkerut, bagaimana bisa ia tertidur di kamar ini?
Ellie bangkit, duduk tegak di atas kasur empuk yang beraroma lavender. Benar-benar asing. Perabotan dan segalanya asing. Siapa yang menyelamatkannya semalam? Ellie ingat dia terjatuh di hutan karena ketakutan. Ah, luka. Ellie menyentuh keningnya, merasakan ada kapas yang membalut lukanya di sana.
Di mana ini? batin Ellie seraya turun dari kasur.
Ellie mendekat ke jendela, menyibakkan tirai mempersilahkan sinar matahari masuk. Bersamaan dengan itu, Ellie membelalak melihat taman yang luas terhampar di luar. Tak hanya itu, kamar yang ia tempati ternyata berada dalam istana, bukan hotel mewah maupun mansion.
Astaga, istana siapa ini? Wilayah mana ini? batin Ellie gusar.
“Ah, Nyonya, anda sudah bangun,” ucap seseorang dengan nada ceria membuat Ellie spontan berbalik badan. Ternyata, seorang pelayan. Pelayan muda itu mendekat, “akan saya bawakan air. Apakah Nyonya mau mandi?” tanya pelayan itu ramah setelah berhenti di dekat Ellie.
Alih-alih menjawab pertanyaan, Ellie justru bertanya, “Ini di mana?”
“Istana Alterius, Nyonya. Semalam, Grand Duke membawa anda ke sini dan memerintahkan dokter serta pelayan untuk merawat luka-luka anda. Apakah luka anda sudah membaik?”
Ellie terlonjak. “Istana Alterius? Grand Duke? Grand Duke Gilbert yang kau bicarakan?”
Pelayan muda itu mengangguk. “Benar, Nyonya.”
“Ba—Bagaimana bisa—“
“Sebaiknya anda duduk dulu di kasur agar luka-luka anda tidak kembali terbuka, Nyonya. Akan saya bawakan air hangat untuk mencuci wajah anda,” ucap pelayan itu memotong pertanyaan Ellie. Dengan lembut, ia menuntun Ellie kembali ke kasur, duduk. “Bila Nyonya butuh apa pun, tolong panggil kami. Nama saya Hera, saya yang bertugas sebagai pelayan pribadi anda di sini.”
Ellie mendongak. Raut bingung dan terkejut bercampur padu di wajahnya. “He—Hera?”
“Benar, Nyonya,” sahut Hera tersenyum lebar, “saya undur diri dulu untuk mengambilkan air hangat untuk anda. Tolong tunggu sebentar di sini.”
Suara pintu ditutup membuat pikiran Ellie berhenti bekerja. Seolah menyadarkan bahwa ini kenyataan. Kamar mewah ini berada dalam istana Alterius. Tempat tinggal Grand Duke Gilbert yang kemarin memberikannya sepotong kue caramel. Seorang pahlawan Ophelia selama masa peperangan yang dijuluki Prajurit Kematian karena kekejamannya.
Oh tidak, pikiran Ellie buntu.
Dari semua orang, kenapa harus Grand Duke Gilbert?!
KLEK
Ellie terlonjak kaget mendengar pintu kamar tiba-tiba terbuka. Ia bangkit, menoleh pada pintu. Sosok sang Grand Duke Gilbert melangkah masuk tanpa didampingi siapa pun. Spontan, Ellie membulatkan mata dan mundur beberapa langkah. Pria superior itu melangkah mendekat, belum mengatakan apa pun.
Eugene berhenti di hadapan Ellie. Mata hijau Eugene bertemu dengan mata biru Ellie yang masih membulat. Mereka saling menatap tanpa suara. Perbedaan tinggi badan yang signifikan membuat Ellie mendongak cukup tinggi. Ellie mewanti-wanti, apa yang akan sang Grand Duke katakan sebentar lagi.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Eugene dengan suara beratnya yang khas. Suara khas pria dewasa 20 tahunan yang belum pernah Ellie dengar sama sekali membuat perempuan itu langsung gugup.
Ellie langsung menunduk kaku, merasa makin gugup. “B-Baik, Yang Mulia. Semua ini berkat anda, terima kasih banyak.”
Diam-diam Eugene menahan kekehannya, nyaris tak kuasa melihat tingkah gugup Ellie yang menggemaskan. Perbedaan tinggi badan mereka membuat Eugene berpikir sedang berhadapan dengan boneka mungil.
“Duduklah,” perintah Eugene, berbalik badan melangkah menuju sofa di dekat jendela. Pria itu duduk kemudian berkata kembali. “Ada yang ingin kutanyakan padamu.”
Ellie mendongak, menatap Eugene duduk tenang di sofa tanpa melepas tatapannya dari Ellie. “Ma-Maaf?”
“Duduklah,” perintah Eugene sekali lagi, menyuruh Ellie duduk di tepi kasur dengan dagunya.
Ellie menipiskan bibir. Entah kenapa berhadapan dengan Eugene begini membuatnya benar-benar gugup. Padahal, ini bukan pertama kalinya Ellie berhadapan dengan Eugene. Mungkin atmosfir hening dan hanya mereka berdua saja yang membuatnya segugup ini.
Ellie menarik napas, pelan-pelan duduk di tepi kasur. Kali ini dengan lebih tenang ia menatap Eugene.
“Siapa namamu?” tanya Eugene, menopang kepalanya dengan tangannya yang menumpu pada sandaran tangan sofa. “Apa yang kau lakukan di hutan?”
Pertanyaan semacam itu sudah Ellie duga. Seharusnya ia tidak perlu gugup lagi, tapi perasaan gugup itu datang lagi. Jemari Ellie jadi menyengkram gaun tidurnya untuk menghalau gugup. “Nama saya Elliana Ef—“
Seolah terkena bom waktu, tangan kanan Ellie spontan menutup mulutnya. Memotong perkenalan dirinya secara tiba-tiba membuat kening Eugene sedikit berkerut bingung. Ellie mengalihkan pandangan. Baru saja terpikirkan olehnya apakah aman baginya memberitahu nama keluarganya pada Eugene. Meskipun Eugene tidak pernah bertemu ayah Ellie, namun pria itu pasti mengetahui kekacauan Alterius disebabkan oleh Count Efran, bukan?
Akan tetapi, apabila Ellie berbohong, Eugene dapat memerintahkannya bawahannya untuk mencari latar belakang hidupnya dengan mudah. Ellie tak bisa membayangkan apa yang akan Eugene lakukan bila mengetahui Ellie berbohong.
“Kenapa? Kau ingin muntah?” tanya Eugene, bangkit dari sofa.
Ellie menoleh, berhenti menutup mulutnya. “Tidak, Yang Mulia. Saya baik-baik saja.”
Eugene mendekat membuat Ellie menegakkan punggung. Mengantisipasi apa pun yang akan pria itu lakukan selanjutnya. Eugene berhenti di hadapan Ellie yang duduk di tepi kasur. Pria itu menjulurkan tangan menyentuh kening Ellie tanpa aba-aba membuat perempuan itu menegang kaget.
“Suhu badanmu normal. Seharusnya kau tidak kesakitan lagi,” kata Eugene masih mengusap kening Ellie. Tangan Eugene yang lebih besar dari kening Ellie membuat pria itu sedikit terkejut. Ellie benar-benar kecil dalam segala hal.
Tuan Grand Duke, apa yang kau lakukan?! Jantungku makin berdegup kencang! batin Ellie mati-matian menahan diri untuk tidak bergetar gugup.
“Namamu siapa tadi?” tanya sang Grand Duke seraya menarik tangannya dari kening Ellie. Ia mundur satu langkah, menunduk menatap Ellie.
“Ellie. Anda bisa panggil saya Ellie. Itu nama panggilan saya,” jawab Ellie membalas tatapan Eugene.
“Nama keluargamu?”
Ellie menggeleng pelan. “Mohon maaf, saya tidak bisa memberitahu anda, Yang Mulia.”
Kening Eugene berkerut. “Kenapa?”
“Itu… karena—“
KLEK
“Nyonya, saya bawakan air—“ Hera terlonjak kaget melihat figur Eugene berdiri di hadapan Ellie. Perempuan pendek itu langsung membungkuk berkali-kali sambil berkata, “Maafkan kelancangan saya, Yang Mulia. Saya tidak mengira anda akan berada di sini. Saya permisi!” ungkapnya sedikit panik kemudian keluar dari kamar.
Eugene sedikit menyeringai sebelum memasukkan kedua tangannya dalam saku celana. “Bersiap-siaplah lalu turun ke ruang makan untuk sarapan.”
Ellie mendongak. “Baik, Yang…Mulia.” balas Ellie sedikit tergagap mengetahui Eugene masih menatapnya.
Dua orang itu saling menatap dalam diam sebelum kemudian Eugene melangkah pergi. Meninggalkan Ellie yang merona di kedua pipinya menjalar ke telinga. Tangan Ellie langsung menutup mukanya, kakinya bergerak tak karuan, merasakan gugup masih tersisa dalam dirinya.
***
Di balik pintu kamar Ellie, Hera berdiri tegak menunggu Eugene keluar lebih dahulu. Perempuan muda itu langsung membungkuk hormat melihat Eugene keluar. Sempat terpikir alasan tuannya itu menghampiri Ellie sendirian begini. Tidak aneh, sih, hanya saja rasanya begitu mengejutkan.
“Layani dia sebaik mungkin. Suruh ke ruang makan untuk sarapan,” perintah Eugene sebelum ambil langkah pergi.
Jangankan Hera, Eugene sendiri tidak tahu mengapa ia menghampiri Ellie. Ketika membuka mata, Eugene langsung teringat Ellie. Rasa khawatir langsung mencubit hatinya, entah mengapa. Padahal Ellie orang asing yang sama sekali tidak Eugene kenali. Mereka baru bertemu satu kali di toko roti pedesaan. Di pertemuan kedua, Eugene justru melihat gadis itu terbaring sekarat di tengah hutan.
Rasa penasaran yang tak dapat dibendung begitu saja membuat Eugene menghampiri Ellie. Rasa penasaran yang aneh.
Ketika Eugene duduk di kursi kerja di ruang kerjanya, Raymond datang melaporkan hasil tugasnya. Pria tua gagah itu meletakkan beberapa gulungan kertas dan belasan kertas pada Eugene. Eugene lantas segera membacanya. Mungkin dengan mengetahui latar belakang Ellie, rasa penasaran Eugene pada gadis itu akan sirna.
Eugene mengerutkan kening dalam-dalam, mendongak menatap Raymond dan Charles yang berdiri di hadapannya. “Dia putri Count Efran?” tanyanya dengan nada dingin.
Raymond mengangguk satu kali. “Benar, Yang Mulia. Nona Elliana Efran adalah putri dari Count Efran dan Countess Irene.”
“Dan dia ditelantarkan oleh ayahnya sendiri?”
“Benar, Yang Mulia.”
Kerutan di kening Eugene makin mendalam. Sulit untuk percaya begitu saja. “Menurut kabar burung, Count Efran akan mengalami kebangkrutan, bukan?”
“Benar, Yang Mulia. Beliau kalah saing dengan perusahaan minyak milik Marquess Sanders,” jawab Charles.
“Dan orang itu berniat menjual putrinya untuk menutupi kerugian?”
Jeda sepersekian detik yang cukup mencekam sebelum Raymond mengangguk. “Benar, Yang Mulia.”
Eugene menghela napas pendek seraya meletakkan berkas data diri Ellie di meja. Ia memutar kursinya menghadap belakang, menatap pemandangan luar istana dari jendela besar. Seluruh informasi tentang Ellie membuat kepalanya sedikit pusing. Fakta yang sulit diterima oleh akal pikiran Eugene. Entahlah, sudah banyak manusia kejam yang dihadapi olehnya, namun saat ini Count Efran terasa sangat keterlaluan dibanding orang-orang kejam lainnya dalam hidup Eugene.
Pantas saja dia sangat kurus. Wajah khas bangsawan di wajahnya tidak dapat menyembunyikan jati dirinya dengan benar, batin Eugene seraya menopang kepala dengan tangan kanan bersandar di sandaran tangan kursi.
Charles berdehem untuk memecah keheningan. “Apa yang akan anda lakukan setelah Nona Elliana sembuh dari luka-lukanya, Yang Mulia?”
Itulah yang kupikirkan, jawab Eugene dalam hati seraya memejamkan kedua matanya.
“Mohon maaf, Yang Mulia, menurut saya lebih baik mengirim Nona Elliana ke ibu kota untuk memperbaiki status kebangsawanannya. Dengan begitu, Nona Elliana dapat kembali hidup selayaknya putri bangsawan lainnya,” usul Raymond.
Eugene menghela napas. “Lalu, ayahnya akan mengincarnya terus-menerus untuk dijual entah ke mana.”
“Resiko seperti itu sangat mungkin terjadi, Yang Mulia,” kata Charles, “namun, istana Alterius tidak bisa menerima putri bangsawan tinggal di sini tanpa alasan yang jelas. Walaupun niat kita baik, menjaga Nona, tetap saja Nona masih di bawah tanggung jawab keluarga Count Efran. Kita tidak bisa mencampuri urusan mereka.”
Eugene memutar kursinya untuk menghadap meja kerjanya. Ia meraih salah satu kertas data diri Ellie, membacanya ulang. “Aku akan mengirimkan surat pada Marquis tentang Elliana.”
Raymond dan Charles serempak terlonjak kaget.
“Apa yang akan anda katakan pada Yang Mulia Raja?!” tanya Charles mulai panik.
Eugene melengos, melirik kepala pelayannya mulai bersikap berlebihan. “Memberitahu perilaku b***t si Count. Apa lagi?”
Charles langsung menggeleng keras. “Anda tidak bisa melakukan itu, Yang Mulia. Bila Yang Mulia Raja mengetahui hal itu, beliau akan menyuruh anda untuk membunuh Count Efran. Apakah Nona Elliana menginginkan hal itu terjadi?!”
Eugene tersentak. Pikirannya terhenti beberapa sekon. Ucapan Charles benar. Ellie tidak mungkin menginginkan ayahnya terbunuh meskipun orang itu sudah meninggalkannya tanpa belas kasihan.
Sejauh yang Eugene ketahui tentang Ellie, gadis itu sangat rapuh dan lembut. Tipikal gadis bangsawan lemah lembut penuh kasih sayang. Padahal, Ellie sudah lama kehilangan kasih sayang orang tuanya, namun gadis itu bisa memberikan perasaan kasih sayang pada orang lain hanya dengan melihat mata biru bulatnya.
Sungguh gadis malang.
“Kalau begini, saya memiliki usul yang lebih baik, Yang Mulia,” kata Charles dengan wajah seriusnya membuat Eugene terpaksa meliriknya. “Dengan anda menikahi Nona Elliana, Nona akan selamat dari gangguan Count Efran.”
Di samping Charles, Raymond ternganga setengah mati. Jenderal Pasukan Alterius tersebut bergetar menahan kesal pada Charles yang lagi-lagi bersikap tidak sopan pada Eugene. Sementara, Eugene tidak bersuara. Pria itu mendengus pelan, sudah menduga hal-hal terkait pernikahan akan keluar dari mulut Charles.
Raymond menarik napas dalam-dalam, menahan emosi. “Maafkan Tuan Charles, Yang Mulia. Terkadang mulutnya memang perlu diberi pela—“
“Aku akan mempertimbangkannya,” kata Eugene memotong kalimat Raymond seraya memutar kursinya ke belakang, kembali menatap ke luar jendela.
Ucapan Eugene yang tak disangka-sangka itu membuat Charles dan Raymond ternganga kembali. Bagaimana bisa? Apakah ini pertanda tuan mereka itu mulai memikirkan posisi Grand Duchess dengan benar?
Dengan menahan isak tangis haru, Charles mengusap ekor matanya yang sedikit basah. “Baik, Yang Mulia. Semoga anda menemukan jalan keluar terbaik bagi Nona Elliana.”
Diam-diam Raymond tersenyum kecil menatap figur Eugene dari belakang. Diam-diam juga terbentuk harapan dalam hatinya, semoga tuannya menemukan jalan bahagianya bersama Elliana Efran.
TO BE CONTINUED