“Ranti, sayang.. Boleh buka pintunya? Aku salah,” Ario bicara perlahan, namun tidak ada jawaban dan tidak ada respon apapun. Ario menanti di depan pintu kamar, entah kenapa rasanya tidak bisa tenang. Ia membuat kekasihnya menangis, bahkan ini pertama kalinya Ranti terlihat begitu sedih. Ia kembali mengetuk pintu, semua yang ada didirinya bergejolak. Pintu itu masih tertutup. Tidak tahan rasanya untuk berdiam diri dan menunggu, apapun akan ia lakukan selama Ranti membuka pintu itu. “Ranti, aku mohon buka pintunya. Rasanya tidak enak, aku sudah membuatmu begitu sedih.” Pintu itu akhirnya terbuka, Ranti menatapnya dengan sendu. Ario memeluknya, “Apa yang harus aku lakukan? Tolong..” Ranti tidak bersuara.. “Aku mohon sayang, itu semua tidak aku inginkan, aku tidak membalasnya. Kej

