Ranti menggerakkan tubuhnya menatap Ario. Matanya terlihat sendu. “Ario.. Aku membaca pesanmu, dan aku juga ingin hubungan ini baik-baik saja. Tapi…” “Jangan bilang tapi..” Ario menunduk di pangkuan Ranti, kedua tangannya menggenggam tangan kekasihnya. “Aku ingin kita bisa saling percaya dan terbuka. Tapi bagaimana mungkin bisa, kalau kamu tidak cerita hal sepenting itu?” Ranti berkata pelan dan mengelus rambut Ario yang masih menunduk di pangkuannya. “Ciuman dengan lawan jenis, apalagi di bibir, bukan hal biasa buatku. Itu hal penting untuk kamu ceritakan, agar aku tidak salah paham seperti yang terjadi sekarang.” Ario mengangkat kepalanya merangkul pinggang Ranti erat, “Tentu sayang, aku tidak mau kejadian ini terulang. Aku sangat berharap kamu memaafkanku. Tidak terbayangkan ra

