DP || 10

2488 Words
Sore hari, Rey mengantar Liora pulang, berniat untuk sekalian mampir dan mengunjungi Mama Lina dan Papa Leo, tapi saat sampai di rumah .... “Jadi, malam ini Mama dan Papa pergi ke rumah nenek?” “Iya, Nak. Kau minta temani temanmu, atau Rey saja kalau kau takut di rumah sendirian, Mbo Minah lusa baru datang. Ini benar-benar mendadak, Sayang, karena tante kamu juga harus jagain mertuanya yang juga sedang sakit. Kan tak mungkin nenekmu ditinggal sendiri kalau lagi sakit begini,” ucap Mama Lina dari ujung telepon saat Liora mencari keberadaaan mamanya. “Ya sudah, Ma. Tak apa. Liora bisa sendiri, Ma, siapa juga yang takut! Ya sudah, Liora mau buat makanan dulu. Sudah lapar,” ujar Liora.  “Ya sudah. Bye, Sayang.” “Bye, Ma,” balas Liora lalu menutup teleponnya. “Jadi, mereka tak akan pulang?” tanya Rey yang sudah berdiri di belakang Liora. “Iya, mereka akan menginap di rumah nenekku. Ya sudah, aku mau buat makanan dulu, kau duduk dulu saja.” “Kita pesan makanan saja,” ucap Rey. “Tak usah, kita makan-makanan diluaran terus, boros! Lagi pula, tenang saja, aku bisa memasak. Jangan meremehkanku!” “Aku takut saja, nanti kau masak terlalu asin karena terlalu bersemangat ingin memasak untukku,” ujar Rey tanpa dosa. “Ya sudah! Aku tak jadi masak! Kau makan mi instan saja,” ujar Liora lalu berlalu ke kamarnya. “Hei! Aku hanya bercanda, Liora, aku sangat lapar. Cepat masakkan aku sesuatu untuk kumakan,” ujar Rey memelas. “Tidak, aku ingin mandi. Kau pesan saja delivery.” “Tapi aku ingin mencoba masakan darimu. Lagi pula, jika delivery akan lama datangnya, aku sudah sangat lapar,” rajuk Rey. “Ahh … aku gerah sekali, aku ingin mandi saja. Jika kau lapar buat saja mi instan, ada di lemari sebelah kanan dari lemari es,” ujar Liora. Rey tak mau bergerak dia memilih duduk dan menunggu Liora selesai mandi dan dia akan meminta untuk dibuatkan makanan setelah Liora selesai. Karena Rey tak mau mengambil risiko jika dia memasak sesuatu dia akan menghancurkan dapur, seperti waktu di apartemen Niana. Bukannya membantu dia malah membuat kacau dan makanan yang jadi pun benar-benar tak layak makan. Setengah jam Rey menunggu dan perutnya sudah tak bisa menahan lagi. Dia sangat lapar karena tadi siang hanya memakan burger. Dia menyesal mengikuti kemauan Liora yang hanya ingin memakan junk food. Rey akhirnya mengambil mi cup di tempat yang tadi Liora sebutkan. Dia menghindari masak di kompor. Dia mencoba untuk membuatnya dengan melihat cara pembuatan yang tertera pada kemasan. Dia hanya melihat gambar untuk dimasukan ke dalam microwave, karena mi cup yang tersedia di rumah Liora adalah mie cup Korea. Jadi, dia tak mengerti cara membuatnya. Dengan percaya diri, dia memasukan mie cup tersebut ke dalam microwave, lalu menunggu microwave itu berbunyi. Namun baru beberapa detik mi cup tersebut masuk, suara debuman seperti sebuah ledakan dari dalam microwave berbunyi, membuat Liora yang baru selesai mandi pun terkejut dan langsung keluar hanya dengan kimono handuk yang melekat di tubuhnya. Dia takut Rey melakukan sesuatu yang akan membakar rumahnya.  “Apa yang kaulakukan, Rey!” seru Liora melihat Rey yang panik saat membuka microwave yang berasap. “Aku lapar karena menunggumu selesai mandi, dan aku berniat menganjal perutku dengan mie cup, tapi baru beberapa detik aku masukan mi cup ke dalam microwave, dia malah meledak. Microwave-mu sudah rusak! Kenapa tak ganti yang baru?!” jelas Rey sambil menyalahkan microwave tersebut. “Kau yang tak bisa menggunakannya kenapa menyalahkan microwave-nya!?” “Aku akan ganti dengan yang baru. Makanya buatkan aku makanan, aku sangat lapar.” “Sudah kukatakan masak mi instan saja jika kau lapar. Aku sudah mandi, jadi aku tak ingin masak.” “Jika aku mencoba memasaknya, dapurmu akan terbakar. Jadi lebih baik kau buatkan aku makanan!” ujar Rey akhirnya jujur karena tak bisa memasak sama sekali. “Astagaa … apa kau bercanda? Ini hanya memasak mi instan?!” tanya Liora. “Kau ingin membuatkan atau meledekku?!” “Oke baiklah aku akan masak, tapi kau harus bereskan dulu kekacauan yang kaubuat. Aku akan pakai baju dulu,” ucap Liora lalu masuk ke kamarnya untuk memakai baju santai yang biasa dia kenakan di rumah sweater berwarna abu dengan celana pendek berwarna putih. Namun saat dia keluar .... “Rey, kau sudah membereskan kekacauan tadi?” tanya Liora. “Ya, aku sudah bereskan. Jadi buatkan aku makanan sekarang.” “Ya sudah, tunggu sebentar,” ujar Liora, lalu dia masuk ke dapur. “Ya ampun, Rey!” “Apa lagi, Lioraaa?” tanya Rey sambil memasuki dapur. “Kau ke manakan microwavenya?!” “Aku buang. Aku membuat semuanya yang tadi berantakan, dan mengelap mejanya. Sekarang sudah beres kan?” tanya Rey tak merasa bersalah. “Tapi itu kan tidak rusak, Rey! Kau hanya perlu membersihkannya.” “Aku sudah katakan, akan membelikanya yang baru untukmu. Kenapa kau marah?” “Ah astaga! Kau membuang ke mana microwave-nya?” “Keluar. Tadi kebetulan ada pemulung, dia bilang dia akan mengambilnya jika aku memang ingin membuangnya.” “Jadi kauberikan itu kepadanya?” “Iya, aku juga tak tahu. Mereka kan memang akan menerima barang yang sudah tak bisa kita gunakan,” jawab Rey polos. “Kau ini! Hah! Aku tak percaya kau ini pemilik hotel!” “Aku akan ganti, Liora. Kau tenang saja. Sebentar lagi Fasco akan membawakan yang baru dan yang lebih canggih dan yang penting anti meledak,” jawab lagi Rey. “Hah! Sudahlah, terserah kau saja! Kau duduk diam di sini dan jangan memegang apa pun yang ada di dapur ini! Mengerti?” tanya Liora geram dan membuat Rey hanya mengangguk patuh dan duduk manis di ruang makan. “Kau yakin tak ingin bantuanku?” tanya lagi Rey. “TIDAK! Dan biarkan aku memasak dengan tenang!” ujar Liora tanpa menoleh ke arah Rey. Hmm ... apa dia marah hanya karena aku merusak microwave-nya? batin Rey. Setengah jam lamanya, beberapa makanan sudah tersaji di meja makan. Tinggal menunggu tumisan sayur yang sedang dibuat oleh Liora. Rey yang merasa tak enak, mencoba mendekati Liora yang sedang menunggu tumisan itu matang. Dia ingin meminta maaf atas perbuatannya tadi. “Apa kau marah? Maaf, aku membuat kacau dapurmu,” ujar Rey sambil memeluk Liora dari belakang. “Tidak, aku hanya kesal denganmu! Aku sudah mandi, dan kau membuatku bau masakan lagi. Makanya jangan meremehkanku dalam hal memasak!” ujar Liora, lalu Rey malah mengendus punggung Liora membuatnya merasakan geli. “Hei! Kenapa kau mengendusku! Sudah kukatakan aku jadi bau masakan lagi. Setelah ini aku akan mandi lagi,” ujar lagi Liora. “Kau tidak bau masakan, kau wangi strawberry,” ujar Rey masih terus mengendus. “Rey, hentikan, kau membuatku geli,” ujar Liora.  Rey dengan cepat langsung meraup bibir Liora dan membalikkan tubuh Liora. Dia meraih tengkuk Liora dengan tangan kanannya, dan tangan yang satu lagi meraih pinggang Liora agar merapat dengan tubuhnya. Ciuman itu dibalas Liora dan memperdalamnya karena dengan cepat Rey sudah berhasil menjelajahi lidah Liora dan mengabsen setiap giginya, lalu melumat lagi lidah Liora. Bau masakan yang hampir gosong menyadarkan mereka, membuat Liora melepaskan ciuman itu dan mematikan kompornya. “Huft … hampir saja,” ujarnya dan berbalik menatap tajam Rey yang berhasil menjahilinya. “Maaf … cup!” ujar Rey tersenyum dan memberikan kecupan di bibir Liora dan berlari ke meja makan lalu duduk dengan manisnya. “Apa masakannya sudah selesai, My fiance?” tanya Rey polos sambil mengedipkan matanya. Liora memutar bola matanya dan mengambil wadah yang sudah disediakan untuk menuangkan tumisan yang hampir tak bisa dimakan karena ulah Rey, lalu dia membawanya ke meja makan dan menikmati makanan tersebut dengan Rey yang terus menatap Liora sambil menyantap dan memuji masakan Liora yang sangat lezat. *** Sesampainya di kamar, gadis itu mengganti bajunya dan memberikan Alice baju ganti juga. Mereka pun mulai mengobrol. “Oh ya! kita belum berkenalan, namaku Alice.” “Ya, kita terlalu semangat bercerita. Kenalkan, aku Laura.” *** “Kak, sepertinya Alice dan wanita itu sudah tak ada di pesta ini. Aku sudah keliling, dan ini sudah satu jam berlalu,” ujar Xander kepada Juno. “Ya, mereka sudah tiba di kamar hotel ini. Wanitamu dengan mudahnya mengajak Alice ke kamarnya.” “Kau tahu dari mana?” “Alice menyalakan GPS-nya, dan aku sudah menyambungkannya ke ponselku.” “Oh, kau seperti seorang mata-mata sekarang. Jadi apa rencanamu selanjutnya?” “Jemput adikmu, mereka di kamar 1005, tapi kau harus tetap mengenakan topengmu. Jangan perlihatkan wajahmu, dan buat dia penasaran denganmu.” “Haruskah seperti itu?!” tanya Xander sedikit ragu dengan ide Kak Juno. “Tentu! Kau harus percaya padaku dan adikmu.” “Oke baiklah,” jawab Xander menurut. Xander menuju ke kamar tempat Alice dan wanita itu berada. Mereka sedang menikmati makanan yang dipesannya melalu layanan kamar, sambil berbincang dan membicarakan banyak hal. Terutama Alice yang terus bercerita tentang Xander, membuat Laura penasaran dengan kakak dari seorang gadis yang sangat pintar dan mampu membuatnya tertawa lepas. Berbeda sekali dari sikap yang biasa dia keluarkan saat baru pertama kali bertemu dengan orang asing terutama seorang lelaki. Dia akan bersikap dingin dan cuek terhadap lelaki yang ingin berkenalan dengannya. Bahkan sebisa mungkin dia akan menghindari dari lelaki tersebut. Baru saja mereka selesai melahap dessert, bunyi pintu kamar hotel tersebut sudah berbunyi, menghentikan celotehan mereka. Ting tong “Apa kita memesan makanan lain?” tanya Laura. “Tidak, oh ya ampun! Aku membuat kuenya berantakan. Aku akan bereskan ini. Kaulihat siapa yang datang lagi!” ujar Alice yang sudah mengetahui siapa yang memencet bel pintu kamar tersebut. “Baiklah, pelan-pelan saja makannya,” ujar Laura dan beranjak dari duduknya lalu mengintip dari celah pintu dan melihat seorang lelaki yang mengenakan topeng sedang menunggu dibalik pintu. “Alice, apa kakakmu memakai setelan jas hitam dan topeng berwarna senada?” tanya Laura. “Ya, itu pasti dia! Sejak tadi pasti dia mencariku lewat GPS ponselku. Aku akan sekalian ganti pakaianku. Kau boleh membiarkannya masuk atau biarkan dia menunggu di depan,” jawab Alice. “Aku tak mungkin membiarkan kakakmu di depan,” ujar Laura dan membukakan pintu tersebut, menampakkan Xander yang sangat misterius di balik topeng tersebut. “Maaf, aku menemukan titik GPS adikku Alice di kamar ini. Apa kau mengenalnya?” “Ya, dia sedang mengganti pakaian. Silakan masuk!” jawab Laura. Apa dia lupa membuka topengnya saat keluar dari acara tersebut? batin Laura heran. “Apa kau sudah selesai dengan pestanya? Aku bosan, jadi aku mencari teman mengobrol,” ujar Alice yang sudah kembali mengenakan gaunnya. “Ya aku sudah selesai. Apa kau sudah selesai mengobrol?” tanya Xander dingin. “Setiap wanita yang sedang mengobrol tak akan ada selesainya. Jadi, jika kau sudah selesai, mari kita pulang,” jawab Alice. “Ya sudah, ayo!” ucap Xander sambil beranjak dan keluar dari kamar Laura. “Maafkan aku, Laura, aku harus pulang. Kaulihat kan kakakku seperti apa?” “Yaa … kau benar … dia seperti ice man. Sudahlah, tak apa. Lagi pula, kita sudah bertukar nomor telepon. Kita bisa bertemu saat kau ke Jakarta lagi,” ujar Laura dan memeluk Alice. “Baiklah, kapan-kapan kau yang harus berkunjung ke Bandung. Aku akan mengajakmu berkeliling tempat wisata di sana,” ucap Alice. “Baiklah, nanti kita akan bicarakan itu lagi di telepon. Aku yakin kakakmu sudah sampai lift.” “Ya sudah aku pulang dulu, senang bisa berkenalan dan akrab denganmu.” “Aku juga, hati-hati ya. Jangan sampai kau tertular kakakmu. Aku tak akan bisa senyaman seperti ini lagi jika kau seperti dia,” ujar Laura “Oh, aku sendiri tak bisa membayangkan diriku jika sedingin dia,” balas Alice dan mereka tertawa tanpa tahu jika Xander kembali masuk untuk memanggil Alice yang tak keluar dari kamar. “Apa kalian belum selesai membicarakanku?!” Xander bersedekap d**a sambil bersandar di pintu. “Kami sudah selesai, ayo kita pulang!” Alice dan Xander langsung berbalik dan berjalan lebih dulu. Laura dan Alice masih sempat tertawa sedikit, lalu melakukan pelukan perpisahan dan Alice menyusul Xander yang sudah menunggu di depan pintu lift. Tepat ketika Alice sampai, pintu lift terbuka dan mereka masuk. “Sudah selesai menjalankan misi kalian?” tanya Xander. “Misi ini untukmu juga, Kak. Jadi, jangan bersikap seperti itu.” “Aku hanya tak ingin terlihat bahwa aku mengejarnya. Jika dia tak ingin mengenalku lupakan saja misi kalian. Aku heran kau ini adikku atau adik Kak Juno?” “Inginku memiliki kakak seperti Kak Juno dan Kak Niana, tapi apa dayaku yang terlahir menjadi adikmu,” ujar Alice santai dan mereka sudah memasuki mobil Xander dan menuju apartemennya. “Terserah kau saja.” “Hah! Kenapa kau sangat membosankan? Harusnya kau sudah bisa move on. Kaulihat Kak Rey, dia selalu happy walau memiliki masa lalu yang hampir mirip denganmu.” “Setiap orang berbeda, Alice! Jadi, jangan meminta yang tidak-tidak! Kau sendiri bagaimana? Cinta monyetmu itu tak mencarimu, kan? Sudah kukatakan dia tak baik untukmu.” “Hei! Kenapa kau malah menyinggung masalahku?” “Makanya jangan menyinggungku lebih dulu!” balas Xander.  “Aku tak menyingungmu! Tapi memang kenyataannya kau itu sampai saat ini tak bisa melupakan kekasihmu yang sudah tiada! Kau membuat seluruh keluarga khawatir dengan dirimu! Tak bisakah kau melupakannya dan mencari penggantinya?” “Alice, hentikan!” peringat Xander. “Hentikan apa?! Bahkan mencobanya saja kau tak mau. Bagaimana bisa kau melupakannya jika kau terus menutup dirimu?!” “Kubilang hentikan, Alice!” bentak Xander sambil menepikan mobilnya, membuat Alice terkejut dan menatap Xander tak percaya. Dia tak pernah melihat kakaknya semarah ini. “Apa kau harus semarah itu?” “Aku sudah memperingatimu, Alice, tapi kau tetap bicara tak jelas! Aku akan urus diriku sendiri. Jadi, berhenti melakukan hal itu dan batalkan misi kalian untuk membantuku mendekati wanita itu. Aku akan pakai caraku sendiri,” ujar Xander kembali mereda dan mulai menjalankan mobilnya lagi. Lalu mereka tiba di apartemen dan Alice langsung memasuki kamarnya tanpa bicara sedikit pun dengan kakaknya. Xander memasuki kamarnya, dan mebanting tubuhnya di ranjang sambil mengusap wajahnya. Dia pun merasa lelah dengan kehidupannya. Bukan dia tak mencari kebenarannya, dia mencari tahu semua tentang wanita masa lalunya, tapi nihil. Semua menuju kepada kebenaran tentang meninggalnya wanita yang dia cintai. Walau hati dan batinnya berkata bahwa wanita itu belum tiada. Setengah jam kemudian dia bangun dan membasuh diri dan menganti pakaiannya, lalu keluar dari kamar berniat meminta maaf pada adik yang sangat disayanginya. Dia menyesal telah membentak adiknya tadi. Dia membuka pintu kamar Alice dan melihat Alice yang sudah tertidur dengan baju piyama kesukaannya. Xander membetulkan posisi selimut yang sudah berantakan. Dia merapikan dan menutupi tubuh Alice, lalu mengusap pelan rambut adiknya lalu mengecup kening Alice. “Maaf, Alice, kakak tak bermaksud membentakmu. Aku akan membuka hatiku. Biarkan aku yang berusaha sendiri. Aku akan mendekati wanita itu dengan caraku sendiri. Aku janji Alice,” ujar Xander lalu beranjak dari kamar Alice dan kembali ke kamarnya untuk istirahat. ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD