DP || 09

1650 Words
“Aku sangat mencintaimu, jadi tak mungkin aku meninggalkanmu,” ujar seorang lelaki yang berhasil menggapai tangan wanita yang sangat dicintainya hampir terjatuh ke dalam lautan. “Tapi kita akan tenggelam jika kau tak melepaskan tanganmu. Biarkan aku jatuh. Kita memang tak ditakdirkan bersama di kehidupan ini. Jadi, biarkan aku pergi!” ucap wanita itu berusaha melepaskan tangannya karena lelaki tersebut akan ikut terjatuh jika si wanita tak melepaskan pegangannya. Beban kedua tubuh orang dewasa sangat berat, dan tali yang menjadi harapan sepasang kekasih itu sudah hampir putus. “Selamat tinggal, aku mencintaimu,” ucap lagi wanita itu sambil melepaskan pegangan tangannya dan dia pun terjatuh di tengah lautan. “Tidak! Jangan tinggalkan aku!” teriak si lelaki. “Cut!” teriak Xander setelah adegan menegangkan dari film tersebut selesai. Saat ini dia sedang berada di kapal pesiar karena pekerjaannya yang menyita banyak waktu. Setelah dirinya sudah terlepas dari perjanjian dengan Juno untuk melindungi Niana, dia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan walau terkadang dia masih membayangkan wanita yang ditemui di acara pembukaan butik Niana tempo hari. Dia sangat penasaran dengan wanita yang terlihat pendiam bahkan murung, mengingatkannya dengan seorang wanita yang sangat dia cintai, dan sampai saat ini masih belum bisa dia lupakan. Mungkin hanya kau yang tahu mengapa sampai saat ini, aku masih sendiri, batin Xander menatap lautan biru. Dia berdiri di tempat yang barusan dijadikan untuk take terakhir adegan menegangkan dari film yang saat ini sedang dia sutradarai. “Aku sangat merindukanmu, Key, apa kau tidak? Sampai kapan aku akan menyesali dirimu? Aku bahkan tak mampu menemukan penggantimu,” ujar Xander entah kepada siapa. Dia beranjak pergi dari tempat itu dan masuk ke kabin untuk mengistirahatkan hati dan pikirannya. Kisah cintanya harus berakhir dengan kepergian wanita yang sangat dicintainya. Ben Alexander Tandy, sampai saat ini dia tak pernah bisa melupakan cinta pertamanya. Wanita yang mampu membuatnya tersenyum, tertawa dan bahkan menjadi gila saat tahu dirinya kehilangan wanita itu. Dia masih tak percaya wanita yang ditemukan dalam kecelakaan tersebut adalah wanita yang sama yang sangat dia cintai. Dia masih merasa bahwa wanita itu masih hidup dan selalu ada di dekatnya. “Sungguh aku tak ingin mencari penggantimu. Aku tak bisa! Biarkan aku begini, Key, maafkan aku!” ucap lagi Xander sambil memandangi foto yang terpasang sebagai wallpaper ponselnya. *** Pekerjaannya sebagai sutradara dilakukan hanya untuk menghabiskan waktu dan membuatnya melupakan wanita tersebut, tapi semua yang dilakukan tak pernah berhasil. Di apartemennya tempat yang menjadi banyak kenangan bersama dengan wanita tersebut tak pernah ingin ditinggalkannya sampai seminggu. Paling tidak, dia hanya akan pergi selama beberapa hari. Terutama di kamarnya. Dia membuat kamarnya dengan banyak pernak-pernik foto dan barang peninggalan wanita tersebut. Dia meletakkannya di sebuah meja, dengan pakaian favorite wanita itu tergantung di samping meja itu dan foto kebersamaannya, serta barang-barang lain yang sering digunakan wanita yang sudah tiada tersebut.  Setiap kali dia pulang dia akan menyapa wanita itu, lalu berdiam diri dan menghabiskan waktunya dengan memandangi foto yang terletak di meja tersebut. Bagi orang lain mungkin dia sudah dianggap gila dengan kegiatannya yang tak bisa melupakan kekasihnya, tapi bagi keluarga dan sahabat yang mengetahui keadaannya, mereka sudah terbiasa dengan kegiatan itu dan memakluminya. Walau sesekali Rey sering menjahili dengan ikut berbicara dengan wanita yang mereka ketahui sudah meninggal tersebut. Malam ini dia sudah siap untuk pergi ke tempat Rey hanya untuk mengisi malamnya yang kian sepi, tapi sebuah surel membuatnya memutar balik arah mobilnya dan menuju tempat yang disebutkan di alamat surel yang sempat dibacanya tersebut. “Aku akan mencoba untuk terakhir kali, Key, just for you,” ujar Xander dan menekan pedal gasnya lebih dalam. ***  Di sebuah ballroom yang cukup megah, dia menghadiri acara yang sebenarnya sangat tidak ingin didatanginya, tapi demi seseorang yang sudah dia janjikan sesuatu, di sinilah dia berada. Dengan setelan jas hitam dipadukan dengan dasi kupu-kupu dan kemeja putih membuat tampilannya terlihat perfect. Walau biasanya dia memang selalu terlihat rapi dan sangat tampan, tapi entah kenapa hari ini dia lebih merapikan diri dan sedikit nervous. Tapi untungnya ini adalah pesta topeng, pesta ulang tahun seorang pengusaha majalah fashion terkenal. Jika bukan karena bantuan Juno yang mengajaknya dalam undangan tersebut mungkin dia tak akan datang. Manik mata sebiru laut itu menelusuri mata setiap wanita yang memakai topeng, mencari sosok yang membuatnya berada di sini. Dia menemukan wanita itu. Mata yang selama ini terbayang dalam mimpinya, sekarang sedang menatap dirinya juga. Dia pun berjalan untuk menghampiri wanita tersebut, tapi wanita itu malah menjauh walau mata mereka masih tetap saling menatap. Saat dirinya hendak mencapai wanita itu, seseorang dari belakang menepuk pundaknya dan Xander berbalik mendapati Juno yang baru tiba. Saat Xander membalik tubuhnya kembali untuk mencari targetnya, wanita itu sudah menghilang tertutupi keramaian orang-orang tersebut. “Kau mencari siapa?” tanya Juno. “Kau pasti tahu tujuanku datang ke sini untuk mencari siapa, Kak. Aku hampir saja mendapatkannya, tapi kau ... ah, sudahlah. Apa kau baru tiba?”  “Hahaha … sorry dude. Ya, aku baru tiba. Meeting terakhirku terlambat, jadi aku pun terlambat ke sini. Untuk masalah gadis yang kaucari itu, aku sudah mendapatkan banyak info, dan kurasa kau harus bergerak cepat jika kau serius menginginkannya.” “Memangnya  kenapa? Aku tak ingin terlalu terburu-buru. Aku pun masih ingin mempertimbangkan setelah mengenalnya.” “Berarti kau tak serius?” “Aku tak bisa bilang serius untuk saat ini, aku hanya masih ingin mencobanya, kau juga sudah tahu masa laluku kan? Aku hanya sedang mencoba yang terbaik untuk saat ini,” jawab Xander jujur. “Haahh … baiklah, tapi jangan terlalu perlakukan wanita ini terlalu manis jika kau tak berminat serius. Aku hanya ingin membantumu, karena aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku juga.” “Baiklah. Jadi, informasi apa yang kaudapat?” “Oh iya, aku hampir saja lupa. Ayahnya yang memiliki acara ini, mempunyai rekan bisnis seorang anak muda.” “Jangan bilang ini adalah masalah perjodohan lagi?” potong Xander. “Bisa kau diam dulu sebelum aku selesai bicara? Kurasa kau sudah ketularan Rey si tukang rusuh itu.” “Baiklah, tapi jangan samakan aku dengan playboy yang hampir insaf itu. Lanjutkan!” “Jadi, beberapa hari yang lalu, anak muda itu tak sengaja bertemu dengan gadis yang kau incar itu. Sepertinya dia sangat tertarik. Dia melakukan investasi ke perusahaan ayahnya dan mengajak kerja sama dengan si ayah. Aku yakin dia ingin mencari perhatian ayahnya untuk dipertemukan dengan anaknya, dan kemungkinan malam ini, anak muda itu tengah mempersiapkan sesuatu untuk gadis itu.” “Apa mungkin dia ingin berkenalan dan meminta kepada ayahnya secara terang-terangan untuk mendekati anaknya?” “Ya, kemungkinan begitu.” “Jadi, menurutmu aku harus bagaimana?” “Culik gadis itu,” ujar Kak Juno. “Apa?! Kau sudah gila, Kak!” “Haha … aku hanya bercanda. Maksudku menculik itu adalah, membuat gadis itu menghilang di pesta ini. Kudengar gadis itu memang tak begitu suka dengan pesta. Dia wanita yang dingin sama sepertimu. Jadi, kali ini kau tak bisa bersikap dingin seperti biasanya. Pakailah roh dari si Rey itu untuk mendekati gadis itu, dan bawa dia pergi dari pesta ini.” “Aku harus membawanya ke mana? Lagi pula, mana ada gadis yang mau diajak pergi dengan lelaki asing.” “Untuk itulah aku mengajak adikmu ke sini.” “Adikku? Alice?” “Yes! I’m here brother!” jawab Alice yang tiba-tiba muncul dari balik Xander. “Kapan kau ke Jakarta?” tanya Xander. “Itu tak penting, Xander. Sekarang Alice harus menjalankan misi ini agar berhasil.” “Misi apa?” “Perhatikan saja adik pintarmu itu,” ujar Juno menunjuk Alice yang sudah berjalan dengan gaya centilnya dan mengambil segelas minuman. Juno dan Xander hendak mengikuti Alice yang menuju ke tempat gadis yang menjadi tujuan utama mereka. Dengan sengaja namun tetap terlihat alami dia menumpahkan minuman tersebut ke baju gadis tersebut. “Oh, sorry … aku tak sengaja,” ujar Alice. “Oh … it’s okay!” “Mari, aku akan membantumu membersihkannya ke toilet.” “Tidak usah, aku bisa sendiri,” jawab lagi wanita itu. “Aku juga harus ke toilet. Jadi, biar aku membantumu sekalian,” ujar lagi Alice memaksa. “Baiklah, jika kau memaksa,” jawab gadis itu dan mereka berdua pergi ke toilet. Sesampainya di toilet .... “Terima kasih untuk tumpahan minumanmu,” ujar si gadis tersebut. “Apa? Kenapa kau malah berterima kasih? Bukankah aku malah merusak gaunmu?” tanya Alice berpura-pura. “Ya. Karena kau, aku tak perlu memakai alasan lain untuk pergi dari acara tersebut. Aku sangat bosan berada di pesta, tapi ayahku sangat senang mengadakan pesta dan memperkenalkanku dengan beberapa rekan kerjanya yang tidak ingin kuketahui.” “Oh begitu, aku juga sama denganmu. Hanya saja, kakakku yang terpaksa menghadiri acara ini. Dia tak enak dengan rekan kerjanya yang mengajaknya untuk menghadiri acara ini, dan aku jadi menemaninya,” ujar Alice sedikit cemberut. “Jadi, setelah ini lebih baik kita kembali ke hotel,” ucap gadis itu. “Tapi aku tak bisa. Kakakku akan mencariku nanti. Lagi pula, aku tak menginap di sini,” jawab Alice. “Ajak saja kakakmu. Aku sungguh bosan dan butuh teman untuk bicara. Kurasa aku cocok bicara denganmu, kau terlihat menyenangkan,” ujar gadis itu, lalu Alice tersenyum.  Aku tak menyangka semudah ini untuk mendekati calon kakak iparku kelak, batin Alice. “Jadi bagaimana? Kau mau?” “Oh baiklah, aku juga bosan karena kakakku terus berbicara dengan rekannya. Jadi, biarkan dia mencariku nanti,” ujar Alice seraya tersenyum. Lalu mereka akhirnya naik ke kamar hotel dan memasuki kamar gadis tersebut. Tak lupa juga gadis itu memberikan kabar kepada ayahnya bahwa dirinya tak bisa mengikuti acara itu sampai akhir karena gaunnya terkena air minuman, dan dia juga tak membawa gaun lain. Sesampainya di kamar, gadis itu mengganti bajunya dan memberikan Alice baju ganti juga. Mereka pun mulai mengobrol. “Oh ya! Kita belum berkenalan, namaku Alice.” “Ya, kita terlalu semangat bercerita. Kenalkan, aku Laura.” ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD