DP || 08

2019 Words
Beberapa minggu kemudian Liora sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Rey yang selalu mengganggunya, walau dirinya masih tak mengetahui siapa Rey dan apa yang dia kerjakan, karena sampai saat ini, dia masih menginap di hotel tempatnya bekerja dan lagi dia selalu mengganggu kesehariannya, membuatnya sudah tak heran jika ada Rey di ruangannya dengan santai sambil memainkan ponselnya, terkadang Rey menelepon seseorang dan mungkin bawahannya di manajemen yang mengatur pekerjaannya dari jauh.  Tapi hari ini, tak seperti biasanya, Rey tak ada di ruangannya saat dia tiba, biasanya dia selalu menjadi penghuni utama di ruangannya, harusnya Liora merasa senang karena tak ada yang mengganggu pekerjaannya, tapi entah kenapa dia malah merasa ada yang kurang, sarapan yang biasa dibawa untuk dimakan bersama Rey karena Mama Lina selalu memasakan makanan untuk berbagi dengan Rey, sekarang rasanya dia tak nafsu untuk menyantap sarapannya. Dia ingin sekali menghubungi Rey, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk melakukan itu. *** Liora Kriiinngg Dering telepon nyaring menyadarkanku dari lamunan, aku langsung menjawabnya. “Halo!” jawabku. “Liora, ke ruang meeting lima menit lagi. Kudengar akan ada pemimpin baru,” ujar Christoper. “Oke,” jawabku. Ya, kami sudah berdamai dan bekerja secara profesional.Walau terkadang dia masih sering menghubungiku dan mengajakku makan malam, tapi aku tak pernah pergi dengannya, karena Rey selalu menggagalkannya. Aku juga tak mengerti dengan Rey. Dia selalu bersikap dan memperlakukanku dengan manis, tapi sampai saat ini hubungan kami bukan seperti yang dilihat oleh orang-orang karena aku tak pernah mendengar pernyataan apa pun darinya. Kurasa kedekatan kami saat ini hanya karena surat perjanjian itu. Baiklah, sekarang aku harus bersiap-siap karena seperti yang Christoper bilang, akan ada atasan baru lagi. “Hah ... sepertinya jabatanku semakin rendah saja jika yang bertambah malah atasan dan pemimpin baru,” ujarku berkeluh kesah dan merapikan sarapanku yang tak jadi untuk kusantap. Aku bergegas ke ruang meeting bersama beberapa kepala divisi dan asistennya. Kami bertemu di lift. Ya, aku dan Christoper. Dia ke ruanganku tadi. Dia sering ke ruanganku untuk mengecek apakah aku baik-baik saja saat ada Rey di ruanganku. Aku heran padanya. Dulu saat masih menjadi tunanganku, dia tak pernah mencariku. Sekarang dia selalu mencariku. Memang dasar lelaki jika sudah bukan miliknya pasti akan mencari-cari. Kami tiba di ruang meeting dan bertanya-tanya siapakah pemimpin baru hotel ini. Pasalnya, yang sebelumnya pasti lelaki plontos yang sudah tua atau bapak-bapak berkumis tebal. Sekarang aku mendengar suara berbisik-bisik dari kepala divisi lain yang memang senang bergosip ria. Sedikit kudengar bahwa pemimpin kali ini berbeda dari yang lain. Bahkan ada rumor pemimpin kali ini adalah anak dari pemilik hotel ini yang masih muda.  Aku hanya tertawa dalam hati mendengar gosip itu, sementara entah sejak kapan tangan Christoper memegang tanganku. Tak lama, pintu ruang meeting terbuka dan direktur serta sekretarisnya masuk, dan disusul oleh Rey. Tapi ... tunggu dulu! Rey?! batinku terkejut. Dia melirik tanganku yang digenggam oleh Christoper. Spontan aku menarik tanganku dan membuat Christoper menoleh ke arahku dengan wajah bertanya-tanya. Bukankah harusnya aku yang bertanya? Aku tak memusingkan itu. Saat ini, Rey yang menjadi pusat pikiranku. Kurasa semua orang di ruangan ini memusatkan pandangannya pada Rey yang terlihat berbeda dari biasanya. Dengan setelah jas hitam dan rambutnya yang rapi membuatnya terlihat lebih ... hot? Hot?! Astaga! Apa yang kupikirkan, hah! Ini gara-gara divisi emak-emak yang bergosip di sampingku dan berkata seperti itu. “Baiklah! Terima kasih kalian telah berkumpul di sini.Bukan tanpa alasan aku memanggil kalian, tapi hari ini kalian akan kukenalkan dengan pemilik hotel ini. Yaitu bapak Reymond Ben Dobson. Beri sambutannya,” ujar Pak Direktur lantang dan Rey berdiri dengan senyuman paling tampan. Tampan?! Ya ampun! Otakku benar-benar sudah rusak. Oke, tenang, Liora. Dia itu menyebalkan karena terus mengganggu pekerjaanmu. Pantas saja Pak Direktur begitu segan dan mematuhi setiap keinginannya. Kupikir dia itu tamu spesial. Ternyata dia itu pemilik hotel ini, dan tentu saja dia bisa dengan santai berlaku seenaknya.  Dirinya sudah seperti CEO di novel-novel yang sering k****a, yang bisa seenaknya menggunakan kekuasaan untuk memerintah orang. Kuyakin dia tak bisa mengerjakan apa pun selain mengganggu pekerjaan Pak Direktur! batinku. “Oke, selamat pagi semuanya. Saya tak ingin terlalu banyak berbasa-basi. Saya yakin kalian sudah mengenal saya karena memang selama tiga minggu saya menginap di sini. Saya sering ke tempat kalian hanya untuk sekadar menyapa kalian. Selama tiga minggu ini saya sudah memantau kerja kalian melalui CCTV ataupun melihat cara kerja kalian secara langsung. Tujuannya untuk mencari salah satu dari kalian untuk saya jadikan sekretaris saya. Dan saya sudah menentukannya. Berdasarkan pengamatan saya selama ini, saya akan menarik Liora menjadi sekretaris saya. Posisi Liora akan digantikan dengan Pak Rafael yang baru saja saya terima secara langsung. Sekian dari saya, saya kembalikan meeting ini kepada Pak Direktur,” ucap Rey panjang lebar, dan membuat semua orang di ruangan melongo dan seketika menatapku sinis. Terutama Christoper yang tak percaya dengan semua ini. Hah!? Apa-apaan dia?! protesku yang tak akan kuucapkan di depan semua orang di sini. “Baiklah, terima kasih, Pak. Saya rasa sudah cukup jelas untuk kalian semua. Saya juga tak ingin membuang-buang waktu kalian untuk bekerja. Jadi, saya tutup meeting ini. Untuk Liora, kau bisa tetap tinggal di sini sebentar untuk melakukan persiapan menjadi sekretaris Bapak Rey,” ucap Pak Direktur. Aku hanya mengangguk sambil melihat wajah Rey yang tersenyum penuh kemenangan. *** Author Para kepala divisi beserta asistennya telah kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Begitu juga dengan direktur dan sekretarisnya yang harus kembali ke ruangan, menyisakan Liora dan Rey yang hanya bertatap wajah dengan penuh tanda tanya di wajah Liora sementara Rey terlihat lebih santai. “Kau hebat sekali, ya!” Liora membuka percakapan. “Of course! Kau baru menyadarinya?” tanya Rey. Liora hanya memutar bola matanya. “Baiklah, kau harus membereskan barang-barangmu untuk dipindahkan ke ruanganku,” imbuh Rey beranjak dari duduknya. “Aku bahkan belum menyetujuinya,” protes Liora. “Sayangnya aku tak perlu persetujuanmu itu hal ini,” ucap Rey lalu keluar dari ruang meeting. “Oh ya ... kutunggu sepuluh menit untuk kau tiba di ruanganku. Walau kau tunanganku, kau tetap harus bekerja, Sayang. Tidak ada yang boleh KKN di hotelku,” ujar lagi Rey memunculkan kepalanya di pintu dengan senyum meledek, membuat Liora berdecak kesal. “Kau!” sungut Liora. “Ah, s**l! Dia benar-benar pandai memanfaatkan kekuasaannya!” Liora bergegas keluar dari ruang meeting untuk membereskan barang-barang pribadinya untuk dipindahkan ke ruang Rey. ***  Beberapa hari setelah kepindahan Liora ke ruangan Rey, membuatnya berpikir ulang tentang Rey yang tak bisa bekerja dan hanya akan menyusahkan orang lain. Semua itu salah besar. Selama beberapa hari menjadi sekretaris Rey, Liora dapat melihat kinerja dan kepintaran Rey dalam memimpin hotel tersebut. Dia berusaha untuk mencari para pelanggan untuk menginap bahkan membuat ruangan ballroom terisi jadwal untuk acara-acara kantor atau acara pernikahan dan berbagai macam acara lainnya. Ruangan kamar juga hampir setiap minggunya berganti pelanggan, membuat peningkatan yang terlihat naik secara drastis di hotel tersebut. “Liora, siang ini apa jadwalku?” tanya Rey. “Untuk hari ini kosong, Pak!” jawab Liora formal, membuat Rey gemas memberi tahu Liora. Jika mereka hanya berdua di ruangan, tak perlu memanggilnya formal seperti itu. “Hei ... kau mau kuhukum?!” Rey membuat Liora menoleh ke arah Rey yang terlihat sudah berdiri di depan mejanya. “Apa salahku, Pak?!” Liora sedikit terkejut. “Pak lagi!” “Oh, aku lupa! Memangnya aku tak boleh lupa? Lagi pula, kau tak perlu sampai begitu hanya karena aku lupa dengan yang kau ucapkan!” ucap Liora sadar akan kesalahannya. “Karena kau lupa, hari ini jadwalku untuk menghukummu!” ujar Rey. “Aku tak ada waktu untuk bermain, Rey. Kau pergi saja jika tak ada kerjaan. Jangan ganggu aku!” ujar Liora tak ingin berdebat dan menuruti Rey di luar pekerjaan. “Ya sudah, aku akan menunggu pekerjaanmu selesai lalu kita pergi.” “Aku akan lembur.” “Kau ini memang sengaja menghindar dariku, ya?!” Rey mulai emosi dan menarik tangan Liora. “Hei!” “Dilarang protes! Ikut aku pergi makan siang sekarang!” Rey tak ingin dibantah. Dan di sinilah mereka sekarang, restoran mewah hanya untuk makan siang. “Rey, tak bisakah kita makan siang di tempat yang lebih sederhana?” “Memangnya kau ingin makan apa?” “Aku ingin makan junk food saja, lebih murah dan cepat.” “Ya sudah!” ucap Rey menarik Liora keluar dari restoran tersebut sebelum mereka sempat duduk. Sekarang mereka sedang mengantri di sebuah restoran cepat saji. Beberapa pasang mata lelaki menatap Liora dengan lekat, membuat Rey geram melihatnya karena Liora memakai rok sepan di atas lutut dan kemeja yang pas. Tidak ketat, tapi memperlihatkan lekukan tubuh Liora yang seksi. Rey pun meraih pinggang Liora agar merapat dan mendekat dengannya, membuat Liora terkejut dan menatap Rey heran. “Ada apa?” bisik Liora. “Ada mata tak tahu diri!” jawab Rey sinis, kemudian membuka jasnya dan memakaikannya ke Liora. “Di sini tidak dingin, Rey!” bisik lagi Liora hendak membuka jas yang Rey berikan. “Pakai! Atau aku akan buat kekacauan di sini!” ucap Rey tegas tak ingin dibantah, membuat Liora kembali ciut dengan sikap Rey yang menurutnya sedikit galak. Setelah beberapa menit mengantre, akhirnya tiba giliran mereka memesan makanan. “Selamat siang, bisa saya bantu untuk pesanannya?” ucap si kasir wanita dengan centilnya menatap Rey yang tersenyum ramah. “Kau ingin apa?” tanya Rey. “Kau saja yang pesan, Sayang. Aku samakan saja denganmu,” jawab Liora yang tiba-tiba merubah nada bicaranya sedikit manja. Bahkan dia juga melingkarkan tangannya di lengan Rey, membuat Rey mengerutkan keningnya heran. “Baiklah. Tolong paket burger, kentang, dan cola untuk dua orang,” pesan Rey singkat. Setelah pesanan siap, mereka membawanya dan mencari tempat duduk. Liora mengambil lebih dulu burger tersebut. Dirinya tak tahan karena lapar dan makanan itu terlihat sangat menggungah seleranya. Entah kenapa akhir-akhir ini nafsu makannya bertambah.  “Kau cemburu?” tanya Rey sambil memakan burger-nya. “Kau juga!” jawab Liora membuat Rey kembali mengerutkan keningnya. “Aku yang bertanya duluan, kenapa kau malah bertanya balik?” “Aku biasa saja. Hanya saja jika aku tak begitu, pesanan kita akan lama disiapkan karena kasir itu akan menggodamu terus,” jawab Liora santai. Rey hanya ber ‘o’ ria saja sambil kembali memakan burger-nya dan menghabiskannya. Setelah makanan mereka habis, mereka sempat membeli ice cream untuk dimakan di perjalanan kembali ke kantor. Sesampainya di kantor, karena Rey yang memang tidak ada kerjaan, jadi dia hanya akan mengganggu Liora. “Apa yang kaukerjakan? Biar kubantu,” tanya Rey. “Tak ada. Lagi pula, ini hanya kerjaan yang sempat tertunda karena mengurus pekerjaanmu saja, dan ini juga sudah selesai. Aku hanya tinggal mengurus jadwalmu untuk satu minggu ke depan,” jawab Liora lagi tanpa menoleh ke Rey. “Ya sudah, nanti saja kerjakannya.” “Kau aneh sekali? Baru kali ini aku menemui seorang bos yang menyuruh karyawannya untuk menunda pekerjaannya.” “Ya karena aku bosan!” Liora tak menjawabnya lagi, karena pekerjaannya sedang tanggung dan jam pulang kerja sebentar lagi tiba. Dia ingin cepat pulang dan istirahat karena tubuhnya sangat lelah. Sementara Rey jadi memperhatikan Liora dan matanya berhenti di bibir pink Liora yang seolah memanggilnya untuk dikecup. Sial! Pikiranku jadi m***m jika tak ada kerjaan, ditambah seruangan dengannya membuatku jadi tak bisa mengalihkan penglihatanku darinya, batin Rey. “Eherm! Liora, kemari sebentar!” panggil Rey. “Ada apa? Pekerjaanku sedang tanggung, Rey. Aku ingin menyelesaikannya sebelum pulang.” “Baiklah, aku yang ke sana!” “Sebenarnya kau ingin apa?” tanya Liora terkejut saat menoleh Rey sudah ada di sampingnya dan meraih tengkuknya lalu menciumnya. “Aku ingin menciummu! Apa tak boleh?” tanya Rey lalu kembali mencium Liora dengan lembut dan mesra membuat Liora tak bisa berkutik dan menikmati sentuhan lembut dari Rey. Cukup lama hingga Rey melepaskannya dan tersenyum dengan sangat manis membuat jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. “Kutunggu kau di parkiran. Aku akan antar kau pulang. Sudah lama aku tak mengunjungi calon mertuaku,” ujar Rey lalu pergi keluar ruangan, meninggalkan Liora yang masih harus menormalkan detak jantungnya. Hah! Apa-apaan dia? Bersikap seenaknya! Ingin membuatku terkena serangan jantung?! rutuk Liora dan membereskan pekerjaannya untuk bersiap pulang. ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD