DP || 07

2083 Words
Mereka pun kembali menunda membicarakan masalah surat perjanjian tersebut. “Pa, ini teman kerja Liora yang tadi Mama ceritakan,” tukas Mama Lina kepada Papa Liora. Papa Liora menoleh dan terkejut melihat Rey yang tersenyum ramah kepadanya. “Selamat malam, Pak Leo. Apa kabar?” sapa Rey. “Kau mengenal papaku?” tanya Liora. “Liora, dia ini—” Ucapan Leo selaku papa Liora terpotong oleh Rey. “Iya, dulu aku pernah bekerja sama dengan perusahaan Pak Leo. Wah, saya tak menyangka, Pak, ternyata Liora adalah anak Anda,” ujar Rey sambil menjabat tangan Pak Leo dan memberikan sebuah kedipan mata sebagai kode. “Ii-ya. Hmm, Ma, Liora, tolong siapkan pudingnya. Papa mau mengobrol dulu dengan Pak Rey sebentar,” ujar Papa Leo sedikit kikuk. “Baik, Pa!” jawab Liora mencoba tak acuh dengan sikap kedua lelaki yang mencurigakan. Lalu, Rey dan Leo ke halaman belakang, sementara Liora dan Mama Lina ke dapur untuk menyajikan puding. “Liora, kaulihat tadi? Papa dan Rey seperti menyembunyikan sesuatu dari kita,” ujar Mama Lina. “Ya, Ma, aku juga sempat curiga, tapi ... ya sudahlah, biarkan nanti mereka mengaku sendiri. Lagi pula, aku tak begitu peduli dengan pribadi Rey. Kudengar dia itu playboy.” “Wajar saja dia playboy, tampangnya mendukung. Tapi, Mama yakin dari cara dia menatapmu, dia sudah jatuh cinta padamu, Nak.” “Oh, ya ampun, Mama ... jangan mengada-ngada! Orang seperti dia tak mungkin bisa jatuh cinta. Karena menurutku seorang playboy itu tak mempunyai hati!” “Siapa tahu dia insaf karena dirimu.” “Itu lebih tak mungkin, Ma. Aku dan dia baru kenal beberapa hari, dan dia sangat menyebalkan.” “Apa kau sama sekali tak tertarik dengannya?” “Aku? Tertarik padanya? Big no, Mama!” “Hah! Kau akan menarik kata-katamu barusan! Mari kita taruhan. Jika kau sampai masuk ke pelukannya, bagaimana? Apa yang akan kaulakukan untuk Mama?” tantang mama Lina. “Baiklah, aku akan menuruti keinginan Mama untuk segera menikah jika aku sampai jatuh cinta padanya!” “Kau yakin, Sayang? Baiklah, Mama tunggu.” “Tapi jika tidak ... Mama harus bilang ke Papa, supaya aku bisa ikut agency model yang menawariku kemarin. Bagaimana?” “Liora, itu tak mungkin disetujui oleh papamu.”  “Kalau begitu, aku juga tak akan menikah jika cita-citaku belum tercapai.” Mama Lina tampak berpikir. “Hmm, baiklah, Mama akan coba membujuk papamu jika kau menang taruhannya.”  “Oke, deal!” Liora mengulurkan tangannya pada sang mama, dan Mama Lina pun membalasnya. Mereka membawa puding yang sudah dipotong dan diletakkan di piring, membuat tampilannya menjadi lebih cantik dan menarik. “Pa, Rey, masuk dulu. Pudingnya sudah siap,” ujar Mama Lina. “Oke, Ma.” “Baik, Tan.”  Mereka masuk dan kembali berbincang-bincang sebentar, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan Rey pamit untuk pulang. “Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu, Tan, Om. Terima kasih atas jamuannya.” “Sama-sama, Nak. Sering-sering main ke sini, ya. Jadi, Om juga ada teman ngobrolnya,” ujar Mama Liora. “Iya, Tan, saya usahakan.” “Mama, Rey ini orang sibuk. Masak disuruh main ke sini terus,” ucap Papa Leo. “Jika sempat saja, Rey. Kapan-kapan kita bisa janjian jika perlu,” ujar lagi Papa Leo. Rey hanya tersenyum. “Aduhh, Pa, Ma, kalian senang sekali ngobrol dengan Rey? Liora saja malas!” celetuk Liora ketus. “Aduh!” pekiknya karena pinggangnya dicubit oleh Mama Lina. “Maaf ya, Nak Rey. Liora memang sering begitu. Di depan orangnya bilang malas, padahal kalau tak ada orangnya pasti uring-uringan mencari,” ucap lagi Mama Lina. “Mama!” protes Liora. “Haha … tidak apa-apa, Tan,” ujar Rey. “Sudah! Liora, antar Rey ke depan,” suruh Papa Leo. Liora sempat ingin protes lagi, tapi sang papa menatap tajam Liora dan dia hanya menurut. Di depan pintu .... “Thanks untuk hari ini,” ujar Rey. “Ya. Ya sudah sana pulang. Aku ngantuk, ingin tidur.” “Aku tak diajak tidur?” goda Rey. Liora menatap tajam Rey. “Oke. Tolong matamu biasa saja. Jangan lupa besok pagi ke ruanganku dulu. Kalau tak datang, kau tahu apa yang bisa kulakukan,” ancam Rey. “Apa yang bisa kaulakukan? Paling kau hanya ke ruanganku dan menganggu pekerjaanku, lama-lama aku bisa dipecat karena kau.” “Oh ya? Aku jamin tak akan ada yangbisa memecatmu,” ujar Rey. “Ah … sudahlah, kaupikir kau itu pemilik hotel? Pulanglah, aku sungguh lelah dan ingin istirahat sekarang.” “Oke, aku sudah diusir berkali-kali. Aku akan pergi. Good night, My fiance,” ujar Rey mengacak rambut Liora dan memberikan kecupan ringan di pipi Liora, membuatnya mematung merasakan getaran aneh dalam dirinya. “Hei!” Liora hendak protes. “Kenapa? Kau ingin kecupannya di sini?” tanya Rey sambil menunjuk bibir Liora, tapi Liora menangkis tangan Rey. “Tidak! Sudah sana pulang, dan jangan lakukan itu lagi,” ucap Liora dan berbalik masuk ke rumahnya, untuk menutupi rasa gugupnya. Hah! Apa-apaan dia, main cium saja! Tapi, kami kan sudah melakukan yang lebih dari itu? Kenapa dengan jantungku?! Aaahh … Aku sudah mulai gila! batin Liora lalu menaiki tangga dan menuju ke kamarnya. Sementara Rey masih di dalam mobil memperhatikan lampu di kamar Liora yang belum padam juga, dia akan pergi saat lampu itu padam. *** Pagi-pagi Liora sudah berangkat ke hotel. Bukan untuk menemui Rey, tapi untuk mengerjakan pekerjaan yang semakin menumpuk. Perlu diingat, dia sangat tidak ingin berurusan lagi dengan Christoper walau hanya dalam masalah pekerjaan. Jadi, sebisa mungkin dia ingin menyelesaikan tugasnya dengan segera. Namun rencana yang sudah dipikirkan sejak pagi, berantakan sudah saat dia tiba di ruangannya. “Good morning, Miss Hayward,” sapa suara seorang lelaki duduk di kursi Liora membelakangi meja, tapi sepertinya Liora sudah cukup hafal dengan suara yang beberapa hari ini sudah mengganggunya.  “Astagaa … tak bisakah pagi ini kaubiarkan aku bekerja dengan benar?” tanya Liora sambil membalik kursi yang diduduki lelaki yang menyambutnya, siapa lagi kalau bukan Rey. “Tak bisa, hari ini kau harus ikut denganku. Lagi pula, pekerjaanmu sudah dikerjakan. Sekarang pekerjaanmu hanya menemaniku selama aku menginap di hotel ini.” “Bagaimana bisa? Aku masih mempunyai tanggung jawab atas pekerjaanku. Jadi, jangan bicara seenakmu!” “Ya sudah jika kau tak percaya, kau bisa menelepon bosmu.”  Kriiinggg .... “Sepertinya bosmu sudah menelepon lebih dulu,” ujar Rey. Liora memutar bola matanya dan mengangkat telepon itu. “Halo.” “...”  “Ya, Pak, selamat pagi.” “...” “Baik, Pak, terima kasih. Saya akan lakukan tugas dari Anda,” ujar Liora lalu menutup telepon. “Sebenarnya kau itu siapa, sih? Kenapa Pak Direktur bisa menurut denganmu?! Apa kau itu tamu yang sangat-sangat spesial baginya?” “Ah, sudahlah! Kau terlalu banyak tanya. Hari ini kau ikuti dan turuti saja aku, tapi sebelumnya aku ingin kau menandatangani surat perjanjian kita!” Rey mengeluarkan surat tersebut. “Aku tak mau! Kau selalu menyusahkan, dan merugikanku!” “Ya sudah! Terserah kau saja,” ujar Rey dan hendak berdiri. Kriiinggg!! “Ya, Pak.” “...” “Apa, Pak? Tapi, Bapak, kan, tak tahu berkas apa yang dimintanya untuk saya tanda tangani?” “...” “Baiklah, Pak. Maaf!” ucap Liora lalu menutup kembali teleponnya. Tanpa banyak bicara, Liora langsung saja menandatangani surat perjanjian itu. Membuat senyum Rey mengembang dan memperlihatkan wajah tampannya yang berseri penuh kemenangan. “Bukankah kau bisa membuatnya lebih mudah, Nona?” tanya Rey dan mendapat tatapan tajam dari Liora. “Sudahlah, ayo ikut aku sekarang!” ajak Rey lalu memakai kacamata hitam dan menarik tangan Liora keluar dari ruangannya Mereka menuju lobi dan sebuah mobil sport sudah menunggu kehadiran mereka. Rey membukakan pintu untuk Liora, lalu dia memasuki mobilnya dan melaju ke sebuah pusat perbelanjaan yang terletak tak begitu jauh dari hotel tersebut. Mereka memasuki setiap butik dan membeli pakaian di sana. Entah dari mana datangnya Fasco yang sudah siap membawa barang belanjaan Liora yang dipaksa untuk dibeli oleh Rey. Liora sampai tak enak hati melihat Fasco yang membawa banyak barang belanjaan. Sangat tidak cocok dengan tampangnya yang sangar. “Fasco, biar aku saja yang bawa,” ujar Liora. “Tidak apa, Nona. Ini tugas saya,” jawab Fasco. “Tapi—” “Sudahlah, Liora, setelah ini kita makan siang dulu. Lalu siapkan dirimu untuk perawatan di salon,” ucap Rey. “Apa?!” Tanpa banyak kata Rey kembali menarik tangan Liora dan membawanya masuk ke sebuah restoran. Mereka menikmati makan siang mereka. Di sela-sela makan siangnya, Rey menggoda Fasco yang sangat kaku dalam berbicara, hingga tercipta sebuah lelucon yang membuat Liora tertawa lepas. Harusnya seperti ini wajahmu. Jika kau bahagia dengan kekasihmu, aku sudah berjanji tak ingin melihat wajah putus asamu seperti saat pertama kali kita bertemu dan berakhir dengan pasrahnya dirimu dan memberikan dirimu padaku hanya karena frustrasi oleh perbuatan tak bertanggung jawab dari mantanmu itu! batin Rey bersumpah. Dia memang seorang playboy, tapi dia tak pernah ingin mempermainkan hati perempuan. Setiap wanita yang tidur dengannya, itu semua karena keinginan wanita itu sendiri. Rey hanya tak tega menolak dan melihat mereka kecewa dengan sebuah penolakan. Lagi pula, sebelum mereka berhubungan s**s, Rey sudah memperingati bahwa dia tak akan memiliki perasaan apa pun terhadap wanita yang bersedia memberikan tubuhnya untuk ditiduri semalaman atau mungkin lebih. Walau begitu, tetap saja para wanita itu masih bersedia mengejar-ngejar Rey. Bahkan mencari Rey jika mereka merasa kesepian. “Hei, kenapa kau melamun?” tanya Liora membuyarkan lamunan Rey. “Eh, ap-apa? Kau sudah selesai makan? Baiklah. Fasco, tolong kaubawa semua belanjaan Liora ke mobil dan kautunggu di sana saja. Atau setelah itu kau bisa kembalikan padaku, dan kau boleh pergi. “Baik, Tuan.” “Liora, kau sudah memegang gown yang tadi kuminta untuk dipisahkan beserta dengan sepatunya?” tanya lagi Rey. “Iya, ada denganku. Sebenarnya kau ingin mengajakku ke mana lagi?” “Sudahlah, nikmati saja hari-harimu denganku,” jawab Rey dan beranjak lalu meraih tangan Liora dan menggenggamnya dengan lembut membawa Liora ke sebuah salon spa untuk melakukan perawatan tubuh untuk Liora dan me-makeup Liora setelahnya. Sementara Rey menunggu Liora selesai, dia pergi ke kafe untuk menikmati coffe kesukaannya sambil melihat berita di ponsel pintarnya, walau sesekali dia membalas lirikan dari para wanita yang mencuri pandang dengannya. Sampai penglihatannya tertuju pada satu wanita dengan wajah familier yang melintasi kafe tersebut dengan seorang lelaki yang juga seperti pernah ditemuinya di suatu tempat. Bukankah itu Key? batin Rey, tapi masih tak yakin dengan penglihatannya. Dia segera keluar kafe dan mencoba mengikuti wanita tersebut, tapi tetap menjaga jarak karena tak ingin dibilang sebagai stalker. Ditambah wanita itu berjalan bersama seorang lelaki yang juga tak asing bagi Rey, tapi memang dasar Rey yang diingat hanya wanita saja.  Di saat lelaki itu masuk ke toilet, wanita itu menunggunya di luar. Itu dijadikan kesempatan untuk Rey memperjelas penglihatan dan keyakinannya. Rey berjalan mendekati wanita yang membelakanginya dan mencoba untuk menepuk pundak si wanita tersebut agar berbalik menghadapnya, tapi saat tangannya hendak meraih pundak itu, ponselnya berdering. Membuatnya berbalik dan merogoh kantong celananya lalu melihat nama yang tertera di layar ponselnya yang ternyata Liora. “Ya, Liora, kau sudah selesai?” “Sudah, kau di mana?” tanya balik Liora di ujung telepon. “Baiklah, aku akan ke sana sekarang,” ujar Rey tak jadi menyapa wanita itu. Ternyata wanita itu sempat berbalik saat Rey juga membalik tubuhnya, membuat mereka tak jadi bertatap muka. *** Rey tak berkedip sedikit pun saat melihat tampilan Liora yang benar-benar berubah total dan terlihat menawan dan anggun. Cukup lama untuk seorang wanita melakukan perawatan tubuh dan make up hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. “Ini sudah waktunya,” ujar Rey lalu melakukan pembayaran dan mengajak Liora keluar dari tempat tersebut. “Rey, kau ingin mengajakku ke mana dengan tampilan seperti ini? Apa ini tak terlalu berlebihan?” “Tidak, kau sangat cantik sekarang. Sudah kukatakan sejak tadi, kau hanya perlu menikmati hari-harimu denganku dan lupakan lelaki berengsek itu. Mengerti?” tanya Rey, dan Liora tertegun dengan ucapan itu sambil mengikuti langkah Rey yang akan membawanya entah ke mana. Kenapa? Kenapa kau harus repot-repot melakukan ini hanya untuk membuatku melupakan Christoper? Apa karena kau kasihan? Atau kau tak tega karena sudah mengambil kesucianku? Sungguh, aku tak ingin berpikir bahwa semua ini kaulakukan karena kau memiliki perasaan terhadapku. Tapi sikapmu ini terus membuatku salah paham. Aku hanya tak ingin berharap dan akhirnya terluka lagi, batin Liora memandangi punggung Rey yang tegap dan gagah.  ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD