DP || 06

1855 Words
Bukankah itu wanita yang Rey ceritakan tadi? batin Xander. Liora keluar dari toilet dan dengan langkah tergesa-gesa, sampai dia menabrak seseorang namun diacuhkannya. “Untuk apa aku ikuti kemauannya? Jika dia mau memberitahukan Christoper, aku sudah tak peduli lagi!” ujar Liora bermonolog, dan pergi meninggalkan lokasi syuting tersebut. Dia menyetop taksi dan berniat untuk pulang tanpa pamit terlebih dahulu kepada Rey. *** “Bro, aku duluan, ya. Masih ada urusan lain,”pamit Xander kepada Rey yang masih melihat proses syuting adegan terakhir.  “Iya, ke mana wanita yang kaubawa? Tadi kulihat dia keluar dari toilet dengan tergesa-gesa,” ujar lagi Xander. “Oh ya? Dia belum kembali sejak tadi. Aku bertanya dengan Tifanny, dia bilang dia ke tempat Sebastian,” ucap Rey mulai curiga. Dia memang menanyakan Liora pada Tifanny—salah seorang artis— tadi. “Benarkah? Sepertinya dia berbohong padamu. Setelah dari toilet, aku mampir ke tempat Sebastian, dan tak ada wanita itu di sana.” Ucapan Xander kali ini membuat Rey panik dan langsung menuju tempat Sebastian. “Bastian, apa wanita yang kubawa tak ke sini?” tanya Rey langsung begitu tiba di tempat Sebastian. “Liora?” tanya Sebastian santai. “Ya! Bahkan kau sudah mengetahui namanya!” ucap Rey sedikit kesal. “Tentu saja. Jika wanita itu menarik perhatianku, pasti aku akan berkenalan dengannya,” ucap Bastian yang mempunyai sifat yang sebelas dua belas dengan Rey. “Hah! Jawab saja pertanyaanku! Kau itu bertele-tele sekali!” ujar Rey semakin kesal dibuatnya.  “Baiklah, Pak Produser. Sayangnya, setelah berkenalan dengannya, aku sibuk berakting di depan kamera dan kembali ke tempatku untuk membaca naskah dan berbincang sedikit dengan Xander. Intinya, dia tak ke sini lagi,” jelas Sebastian. Rey langsung keluar dari ruangan itu tanpa mengucap apa pun lagi. “Wah-wah, sepertinya wanita itu sangat berarti baginya,” ujar Sebastian pada Xander yang geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh sahabatnya yang sangat arogan. “Sepertinya begitu, aku justru tak sabar melihatnya insaf dan bertekuk lutut pada wanita yang bernama Liora itu. Aku sungguh penasaran seperti apa rupanya,” ucap Xander malah berbincang dengan Sebastian. “Jangan bilang dia belum mengenalkannya padamu?” tanya Sebastian setengah tak percaya. “Oh, ayolah, dude. Apa kau baru mengenalnya? Dia tak akan mengenalkan padaku, jika dia belum mendapatkan hati wanita itu,” ujar Xander yang hanya mendapat gelengan kepala Sebastian, lalu mereka menertawakan Rey. “Hei, Xander! Jangan menjelekkanku di depan bocah itu. Kau ikut aku atau tidak?” Rey tiba-tiba muncul di balik pintu.  “Kau itu seperti hantu saja! Aku akan pergi dari sini, aku ada keperluan. Jadi, tak bisa membantumu,” ujar Xander sedikit terkejut. Lalu mereka berdua pergi dari lokasi syuting .... Jika Xander pergi mengurus pekerjaannya, Rey malah sibuk mencari Liora dan mencoba menghubungi wanita itu berulang kali. Karena teleponnya tak dijawab sejak Rey tahu hilangnya wanita itu. “Ke mana wanita keras kepala itu! Pergi tanpa kabar dan telepon pun tak dijawab!” sergah Rey kesal sambil menambah kecepatan mobilnya. “Fasco! Cari tahu keberadaan Liora sekarang ada di mana!” ujar Rey setelah teleponnya terhubung ke Fasco. “Maaf, Tuan, GPS Nona Liora sudah terhubung dengan Anda langsung. Jadi, hanya Anda yang bisa mengetahuinya saat ini,” jelas Fasco yang sejak awal membeli ponsel Liora dan sudah menyambungkan GPS secara otomatis ke ponsel Rey. “Oke, baiklah! Terima kasih!” ujar Rey lalu mencari Liora melalui GPS dan menemukan titik di mana Liora berada. Dia langsung mempercepat lagi laju kendaraannya agar lebih cepat tiba, tapi di sebuah ibukota yang terkenal kemacetannya, membuatnya geram dan terus menekan klakson jika ada yang menghalangi jalannya. *** Sementara wanita yang keberadaannya dicari oleh Rey, saat ini sedang menikmati makanan yang dibuatkan oleh sang mama. “Hmm ... kenapa ayam ini bisa enak sekali ya, Ma? Mama memasak dengan resep apa?” tanya Liora tulus memuji masakan mamanya. “Kau ini, kalau makan saja pasti mamanya dipuji-puji. Semalam ke mana saja kau tidak pulang dan tidak memberi Mama kabar?” tanya Mama Lina. “Hehehe. Mama membuatkanku makanan sekaligus untuk introgasi, ya?” Liora nyengir polos. “Iya, karena kau selalu begitu! Setiap tidak pulang, pasti langsung sembunyi di kamar. Kau enak bisa bersembunyi, sedangkan Mama? Jika papamu tanya, Mama mau jawab apa?” tanya lagi Mama Lina dan hanya mendapat cengiran dari Liora sambil menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. “Bentar lagi papamu pulang, jangan masuk kamar dulu! Mama sudah buat puding untukmu dan Papa agar kalian bisa mengobrol. Biarpun papamu cuek, sebenarnya dia itu merindukanmu yang semenjak bekerja selalu sibuk. Sekalinya libur, kau selalu pergi dengan Christoper!” “Aku sudah putus dengan Christoper, Ma!” Liora menghabiskan satu suapan terakhir. “Apa? Tapi kenapa kau terlihat biasa saja?” tanya Mama Lina yang tak melihat aura sedih dari wajah anaknya. “Jadi, apa aku harus terlihat menyedihkan?” Liora bertanya balik. “Ya, setidaknya kau pasti merasa kehilangan!” “Aku sudah melewati itu, Ma. Lagi pula, bukan hanya dia lelaki di dunia ini. Aku sadar dia telah menyita banyak waktuku untuk kalian. Jadi, mulai sekarang aku akan menghabiskan waktu luangku untuk Mama dan Papa.” ujar Liora memeluk Mama Lina. “Kau anak yang baik. Sejak awal memang Mama tak setuju kau dengan lelaki itu! Dia itu kurang sopan santun, belum apa-apa sudah menyita waktumu dengan kami,” ujar Mama Lina mengeluarkan keluhannya. “Maaf, Mama, jika selama ini Liora dibutakan olehnya. Liora janji tak akan begitu lagi, Liora akan bersikap keras kepada lelaki yang menginginkan Liora.” “Jangan terlalu keras juga, Sayang. Yang penting dia mengertimu dan tidak mempengaruhimu dengan hal yang tidak baik,” nasihat mama Lina. “Baiklah, Ma. Terima kasih atas nasihatnya, boleh aku nambah?” tanya Liora. “Tentu saja, biar Mama ambilkan untukmu.” Ting tong ting tong “Ah, itu mungkin papamu.” “Biar aku saja, Ma.” Liora bangkit dari duduknya dan menuju pintu. Dia membuka pintu rumahnya dan terkejut saat melihat siapa yang menunggunya di balik pintu. “Selamat datang, Pa—Rey?” Ucapan Liora jadi berganti saat melihat Rey yang ada di depan pintunya. “Halo, Tukang kabur!” sapa Rey sambil tersenyum. Liora berusaha menutup kembali pintu rumahnya, tapi kaki Rey sudah menahan pintu itu. “Siapa, Nak?” tanya Mama Lina menghampiri Liora yang tak kunjung kembali. “Eh ada tamu, kenapa di depan saja? Suruhlah dia Liora!” ucap Mama Lina. “Tante,” sapa Rey sambil tersenyum ramah, sementara Liora tak bisa mengelak lagi, dan membiarkan Rey masuk. “Kenalkan, Tante, saya Reymond. Rekan kerja Liora, Tan,” ujar Rey sopan. “Oh iya, saya Lina, panggil Tante Lina saja,” balas Mama Lina. “Iya, Tante Lina,” jawab Rey kembali tersenyum ramah. “Ayo masuk, kebetulan Liora sedang makan. Apa kau sudah makan?” tanya Lina. “Kebetulan belum, Tan, tapi tak apa, saya sebentar saja kok, Tan.” “Eh, jangan begitu. Makan bareng Liora saja, ya? Ayo, Liora, bantu Mama ambil makanan untuk Rey,” ajak Mama Lina, lalu mereka ke dapur sambil bisik-bisik. “Siapa itu, Nak? Seperti bule begitu? Memangnya teman kantormu ada bule?” bisik Mama Lina yang masih dapat didengar sedikit oleh Rey. “Ish, Mama! Jangan memuji dia seperti itu! Nanti dia kege-eran! Lagi pula, jangan tertipu sama wajahnya! Aslinya dia menyebalkan sekali!” ujar Liora. “Ah masak, sih? Orangnya sopan kok. Dari awal masuk saja senyum terus. Tidak seperti mantanmu itu, tak ada senyumnya! Lagi pula, Mama tak percaya sama penilaianmu terhadap lelaki. Buktinya, kau baru sadar jika mantanmu itu tak baik! Jadi, kali ini feeling Mama pasti lebih tepat! Duh, kalau dia jadi menantu Mama, pasti tetangga pada heboh,” ujar Mama Lina panjang lebar membuat Liora memutar bola matanya. “Jangan mimpi kalau belum tidur, Ma! Sudahlah, beri dia air putih saja, Ma. Repot sekali membuatkannya sirup segala,” ujar Liora setelah melihat mamanya mengambil sirup dari kulkas.  “Ish, anak ini! Sudah sana, kautemani dia saja di luar. Biar Mama yang bereskan minumannya.” “Ih, Mama. Liora dari tadi tidak dibuatkan sirup, tapi saat dia datang, langsung dibuka sirup baru itu.” “Berisik! Sudah sana keluar, ambilkan dia makanan!” titah Mama Lina yang gemas. Liora akhirnya keluar dan menemui Rey yang masih duduk di sofa ruang tamu sambil memperhatikan beberapa foto keluarga Liora dan foto Liora sewaktu kecil. “Jangan lihat-lihat! Nanti kau jatuh cinta denganku!” ujar Liora membuat Rey menoleh. “Jangan ge-er! Sudah selesai membicarakanku yang tampan ini?” Rey meledek pembicaraan Liora dan mama Lina yang masih terdengar. “Ih, senang dibilang tampan sama Mama?! Asal kau tahu saja, Mama itu semuanya dibilang tampan!” “Oh ya? Tapi sayangnya, aku tak percaya sama wanita tukang kabur sepertimu!” Rey kembali menyindir. Liora memutar bola matanya karena perdebatan dengan Rey tak akan menang. “Terserahlah! Mau makan apa hanya basa-basi saja ke sini?” tanya Liora.  “Tadi Tante Lina sudah menawarkan. Kenapa anaknya galak sekali, ya?” heran Rey mendekati Liora. “LIORA! Ya ampun, Nak, kenapa temanmu tak diambilkan juga nasinya?” tanya Mama Lina begitu keluar tak ada Liora atau pun Rey di ruang makan. Liora memelotot dan berbisik kepada Rey sebelum mereka ke ruang makan. “Awas saja jika kau bicara sesuatu yang aneh pada Mama!” ancam Liora. Rey hanya tersenyum mendengar kalimat ancaman Liora. Mereka memasuki ruang makan.  “Tak apa, Tan. Tadi saya lagi lihat foto keluarga di ruang tamu,” jelas Rey. “Oh ... ya sudah. Kalian makanlah dulu, sebentar lagi papa Liora pulang,” ujar Mama Lina. “Terima kasih, Tante!” Mereka makan dengan tenang. Setelah itu, mereka diberikan waktu oleh Mama Lina untuk mengobrol berdua di halaman belakang. Sementara Mama Lina menunggu kepulangan suaminya. Di halaman belakang yang dihiasi dengan beberapa tanaman yang indah dan lampu sebagai penerangan yang cukup untuk bersantai dengan segelas teh hangat disajikan oleh Liora yang dipaksa Mama Lina. Sekarang Rey dan Liora sudah duduk di bangku dekat kolam ikan di sebuah gazebo dari halaman belakang tersebut. “Kenapa kau pergi?” tanya Rey yang memang tujuan awalnya untuk menanyakan hal itu. “Aku hanya lelah dan dari semalam kan memang aku belum pulang.” “Kenapa tidak bilang aku kalau mau pulang? Kenapa harus pergi begitu saja tanpa kabar, dan ditelepon juga tak dijawab?!” tanya Rey lagi menatap kesal Liora. “Aku tak mau menyusahkan. Lagi pula, memangnya aku harus jawab teleponmu kalau aku sedang di rumah?!” “Kan aku sudah bilang kalau kau tak menjawab teleponku, kau akan menerima hukuman. Pokoknya, besok pagi kau harus datang ke kamarku dan—” ucapan Rey terpotong oleh Liora. “Dan apa? Aku bahkan belum menandatangani surat itu! Kenapa aku harus menurutimu!” balas Liora tak kalah sinis. “Kau!” Belum sempat Rey membalas perkataan Liora, Mama Lina sudah memanggil mereka untuk masuk dan berbincang oleh Papa Liora yang sudah selesai makan dan sedang menunggu di ruang keluarga. Mereka pun kembali menunda membicarakan masalah surat perjanjian tersebut. “Pa, ini teman kerja Liora yang tadi Mama ceritakan,” tukas Mama Lina kepada Papa Liora. Papa Liora menoleh dan terkejut melihat Rey yang tersenyum ramah kepadanya. ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD