DP || 05

1972 Words
“Biar kutunjukkan bahwa aku lebih baik dari mantanmu itu!” ujar Rey lalu mencium Liora. Liora sama sekali tak menghindar, dia juga tak membalas. Rey semakin memperdalam ciumannya, dan semakin menuntut untuk dibalas. Akhirnya Liora menyerah dan membalas ciuman itu, lumatan lembut dan hangat yang terasa manis membuat Rey tak ingin melepaskan bibir Liora. Malah membuat ciuman itu semakin panas dan b*******h. Liora berdiri dari duduknya. Rey dengan cekatan menarik pinggang Liora dan memeluk tubuh ramping itu sehingga menempel pada tubuhnya. Ciuman itu masih terus berlanjut dan semakin panas. Ditambah Liora yang menggantungkan tangannya di leher Rey sambil mengusap rahang Rey. Rey meremas b****g Liora dengan gemas dan mengangkat tubuh ramping Liora, yang dengan otomatis Liora melingkarkan kakinya di pinggang Rey. Kemudian Rey mulai berjalan menuju kamarnya. Bibir Rey semakin rakus melumat bibir Liora saat dia berhasil membaringkan Liora ke ranjang dan dirinya berada di atas Liora. Bibirnya turun menjelajahi leher Liora dengan lidahnya, membuat Liora tak dapat menahan desahannya. “Ahh … apah yangh khau…,” ujar Liora tak bisa menahan sentuhan mesra dari Rey. Rey tak menjawab, malah semakin menggila dengan membuka satu per satu kancing kemeja Liora. Saat dia akan turun ke area d**a Liora, kegiatannya harus terganggu karena suara dering ponsel. Dia mencoba tak menghiraukannya, tapi dering tersebut tak berhenti berbunyi. Membuatnya mengumpat kesal dan akan memaki orang yang berani menganggunya! Rey akhirnya beranjak dari ranjang dan mengambil ponsel yang terletak di nakas, lalu mengangkatnya. “Halo!” ujarnya ketus. “Selamat siang, Bapak Reymond. Saya Eka dari ‘Oke Sip’ ingin menawarkan pemasangan untuk channel tv ….” “F*cking Sh*t!!!” umpat Rey setelah mematikan ponselnya dan melemparnya ke sembarang arah. Dia kembali menoleh ke Liora yang sudah duduk di pinggir ranjang sambil menahan tawa, karena suara dari ponsel Rey terdengar cukup jelas di telinganya. “Hah! Bersiaplah! Hari ini kau harus ikut ke mana pun aku pergi!” ujar Rey lalu beranjak ke kamar mandi untuk meredam gairahnya yang tak tersalurkan. “Jangan membantah!!” ujar Rey lagi sebelum Liora sempat protes. Setelah merapikan pakaian yang sempat berantakan akibat ulah Rey, Liora menunggu Rey selesai sambil menyeruput kopi yang dia seduh sendiri dengan fasilitas yang tersedia di kamar hotel tersebut. Setidaknya dia merasa sedikit tenang setelah meminum kopi hangat. Dia kembali mengingat kejadian barusan yang hampir saja dia akan melakukan hal itu untuk kedua kalinya, walau dengan orang yang sama, tapi tetap saja, Rey bukan siapa-siapanya saat ini. Entah mengapa setiap sentuhan dari Rey membuatnya tak dapat menghindar atau pun marah dengan perlakuan Rey, tapi malah membuatnya lemah dan menikmati setiap sentuhan itu. Hah! Sepertinya aku sudah mulai gila! batin Liora lalu dia mengambil tasnya dan pergi meninggalkan kamar tersebut tanpa pamit pada pemilik kamar itu. Dia turun ke lantai satu, di mana ruang kantornya berada, dan mulai melakukan pekerjaannya seperti biasa. Dia akan memikirkan masalah perjanjiannya dengan Rey nanti. Sekarang dia harus fokus bekerja, karena dia tak mau kehilangan pekerjaannya dan membuat dirinya semakin kesulitan. Baru setengah jam dia memulai pekerjaannya, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dengan kasar, membuatnya terkejut. Brak! “Liora Hayward!! Sudah kukatakan hari ini kau harus ikut ke mana pun aku pergi! Apa kau tak mendengarnya?!” ujar Rey kesal, sekarang dia sudah siap dengan setelan yang membuatnya semakin tampan dan tak lupa dengan kacamata hitamnya. “Aku harus bekerja, dan lagi, aku belum menyetujui perjanjian itu. Aku akan pertimbangkan. Jika aku setuju, aku akan datang padamu,” ucap Liora santai. Namun, Rey menarik tangan Liora dengan paksa hendak membawa Liora keluar dari ruangannya, tapi Liora berusaha menarik tangannya kembali. “Kau yakin akan menolak ajakanku? Baiklah, aku akan ke ruangan mantanmu dan membeberkan kebohonganmu, bahwa aku bukan tunanganmu!” ancam Rey dan akhirnya Liora menyerah dan menurut untuk ikut dengan Rey. Baru sampai depan pintu ruangannya, langkah mereka harus terhenti karena kehadiran Christoper “Sedang apa kau membawa asistenku? Ini masih jam kerjanya, jadi kalian tak boleh berpacaran di sini!” ujarnya sinis. “Aku ada urusan dengannya, dan aku sudah mengurus izinnya dengan atasanmu,” ujar Rey santai dan menggandeng Liora. * Di dalam mobil Rey, Liora baru menanyakan perihal dirinya yang sudah diizinkan ke atasan Christoper. “Apa benar kau sudah meminta izin pada Pak Presdir?” tanya Liora. “Ya,” jawab Rey singkat. “Memang kau mengenalnya?” “Ya.” “Sebenarnya kau ingin membawaku ke mana, sih?” “Kau itu cerewet sekali! Duduk diam dan jangan berada jauh dariku lebih dari satu meter!” ujar Rey sambil fokus menyetir. Kali ini dia tak meminta Fasco untuk menemaninya, karena dia akan ke lokasi syuting dan melihat perkembangan filmnya. Liora tak mau membalas perdebatan Reykarena tak akan ada habisnya dan dia juga akan kalah. Dia memilih memainkan ponsel barunya, dan terkadang tersenyum kagum karena kecanggihan ponsel tersebut.Hal tersebut tak luput dari penglihatan Rey yang sesekali melirik tingkah laku Liora yang sangat lucu dan menurut dengan perkataannya. “Apa kau lapar?” tanya Rey tiba-tiba karena memang sudah jam setengah tiga. Walau tadi pagi mereka terlambat sarapan, tapi tetap saja mereka akan lapar lagi karena ini sudah hampir sore. “Hmm … sedikit,” jawab Liora, dan Rey langsung menepikan mobilnya. “Kita makan dulu,” ujar Rey mematikan mesin mobilnya dan keluar dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Liora. Mereka memasuki sebuah restoran jepang. Rey memilih menu berkuah seperti shabu-shabu, dan Liora hanya menurut dan tak mau memesan yang lain. Dia takut jika Rey akan memasukkan tagihan makanannya ke dalam surat perjanjiannya nanti. Tak lama makanan mereka tiba dan mereka mulai memasukan daging iris dan beberapa sayuran. Sambil menunggu makanan matang, mereka menyiapkan saus yang akan dijadikan penyedap rasa dari makanan yang direbusnya itu. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya mereka membuka tutup panci dan mengeluarkan uap yang menggugah selera. Dengan cepat Liora mengambil centong untuk mengambil daging dan beberapa sayuran, tapi belum sempat dia menuangkan ke mangkuknya, Rey dengan santainya sudah menyodorkan mangkuknya. “Sebagai tunanganku, kau harusnya mengambilkan bagianku lebih dulu,” ujar Rey dengan senyum. Dengan senyum paksa, Liora menuangkan isi dari panci ke dalam mangkuk yang Rey sodorkan. “Silakan dinikmati, My fiance!!” ujar Liora sambil menahan tawa, karena dia hanya menaruh sayur-sayuran ke dalam mangkuk Rey, karena sibuk memperhatikan Liora, Rey tak melihat lagi apa yang dimasukkan ke dalam mangkuknya. “Thanks, My fiance!” jawab Rey dengan senyum manis, tapi saat dia mengaduk-ngaduk mangkuknya, tak ditemukan satu pun daging di sana. Dia melihat mangkuk Liora yang penuh dengan daging. “Oh, Sayang. Kau kan lagi program diet, jadi kau harus banyak makan sayur. Ini mangkukku isinya sayur semua, kau boleh menukarnya dengan mangkukmu,” ujar Rey mencoba menukar makanannya dengan makanan Liora dan aksi tarik menarik mangkuk pun terjadi. Sampai akhirya Liora kembali harus mengalah karena tangannya terkena kuah dari mangkuknya yang penuh daging. “Terima kasih, Sayang,” ucap Rey begitu mendapatkan mangkuk yang penuh dengan daging. Lalu mereka makan dengan tenang, walau akhirnya Rey mengambilkan daging yang baru dari dalam panci untuk Liora. Betapa senangnya wajah Liora begitu dia bisa mendapatkan daging yang banyak. Hal itu menjadi hiburan tersendiri bagi Rey, sangat jarang ditemui wanita yang seperti Liora. Begitu cuek dengan kehadirannya, dan tak pernah berpura-pura manis di depannya. Malah Liora terlihat sangat mudah untuk dibuat senang hanya karena hal-hal sederhana. Setelah perut mereka terisi dengan kenyang, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan sekitar setengah jam lamanya dan tiba di lokasi syuting yang ramai dengan orang yang sibuk mondar mandir ke sana sini dengan membawa peralatan masing-masing. Setiap kru yang berseliweran, mereka tetap menyempatkan diri menyapa Rey. Bukan hanya para kru, tapi para model dan artis yang melihatnya datang dengan seorang wanita yang terlihat biasa saja, membuat para artis menatap rendah Liora. “Hai, Rey, apa kabar? Sudah lama kita tak pergi hangout, bagaimana kalau malam ini?” ajak seorang artis cantik yang baru naik daun sambil melirik Liora dengan tatapan merendahkan. “Oh, boleh, di mana? Aku akan menyusul,” ujar Rey menanggapi ajakan tersebut. “Di tempat biasa, kau tak ingin menjemput aku dulu?” tanya wanita itu dengan manja. “Hmm … aku masih ada urusan setelah dari sini, tapi aku akan datang dan menemanimu malam ini,” ucap lagi Rey membuat Liora semakin gerah dan memilih pergi untuk melihat-lihat. Liora pun berjalan menjauh dan mencari sesuatu yang lebih enak dilihat, seperti seorang aktor yang sedang duduk di back stage-nya sambil membaca naskah. Saat sedang asyik memperhatikan, sang aktor yang dipandang menyadari dan melihat Liora sekilas lalu kembali menatap naskahnya. Huh! Mentang-mentang aktor, jadi sombong! batin Liora. Lagi pula, untuk apa Rey mengajakku kemari jika dia malah bersenang-senang dengan artis itu? Dasar playboy! rutuk Liora kesal sendiri dan hendak berbalik tanpa menoleh ke arah aktor yang sempat menjadi objek cuci matanya. Bruk! “Hati-hati, Nona!” ujar suara lelaki. Liora mendongak untuk melihat d**a siapa yang dia tabrak, dan ternyata sang aktor yang tadi sempat dipandanginya. “Ma-maaf, aku tak sengaja,” ujar Liora gugup. “Tak apa-apa. Kau datang bersama Pak Produser?” “Apa dia terlihat seperti bapak-bapak?” tanya Liora balik, membuat si aktor tampan itu tertawa. “Tidak, aku hanya sering menggodanya dengan panggilan tersebut. Lagi pula, umurnya sama denganku. Aku heran padanya, kenapa tak menjadi aktor atau model, tapi dia malah senang bermain di belakang layar,” ujar sang aktor. “Oh ya, aku juga heran dengannya, tapi entahlah …,” jawab Liora tak tahu ingin menjawab apa, karena dia juga baru mengenal Rey. “Tian! Sebentar lagi giliranmu take,” ujar salah satu kru. “Oke,” jawab aktor itu. “Baiklah, aku harus bekerja. Kalau tidak, Bapak Produser itu tak akan menggajiku,” ujar si aktor. “Baiklah,” jawab Liora. “Oh iya, jika kau tak tahu siapa aku, namaku Sebastian. Senang bertemu denganmu, Nona ....” Ucapan Sebastian terjeda karena tak tahu nama Liora. “Liora.” “Oke, Liora, semoga kau sering berkunjung ke sini,” ujar Sebastian dan pergi ke tempatnya semula. Lalu Liora kembali berjalan-jalan dan mencari toilet. Sementara Rey .... “Hei, Bro, tumben kau datang kemari,” ujar Xander yang baru datang, karena ternyata tempat syuting mereka berdekatan. “Iya, karena aku tak ada tujuan ingin ke mana. Kau juga ada syuting di dekat sini?” tanya Rey balik. “Ya, baru selesai, dan aku melihat mobilmu terparkir, jadi aku mencarimu. Bagaimana dengan wanita yang kautemukan kemarin?” Rey mengedik ke arah Liora. “Dia sedang digoda oleh Bastian!” ujarnya sinis. “Oh c’mon, Rey, berarti dia sangat menarik jika seorang Bastian sampai mengajaknya untuk mengobrol,” goda Xander. “Diam kau, Xander! Aku ingin sekali memperkenalkannya padamu, tapi nanti saja. Aku ingin dia menyesuaikan diri dengan diriku lebih dulu, kalau tidak kau akan mengembatnya!” ujar Rey bergurau. “Ya ampun, seorang Rey takut mangsanya direbut olehku? Aku bahkan tak pernah tertarik dengan semua wanita yang kaukencani,” ujar Xander. “She is different, Lex! Dan dia bukan mangsa seperti yang lainnya!” ujar Rey kesal. “Haha … kau benar-benar terpikat olehnya. Sudahlah, aku numpang ke toilet dulu ya. Oh ya, besok aku akan ke acara pembukaan butik Niana. Kau ingin ikut?” tawar Xander. “Entahlah, aku akan kabari jika aku ada waktu.” “Hah! Waktumu sekarang hanya untuk wanita itu,” goda Xander. “Berhenti menggodaku, Xander!” “Hahaha ….” Tawa Xander dan berlalu untuk menuju ke toilet. Para kru juga mengenal siapa Ben Alexander, jadi setiap berpapasan pasti ada saja yang menyapanya. Sampai saat ingin memasuki toilet, Xander berjalan sambil membalas sapaan seorang kru. Jadi, dia tak memperhatikan seseorang yang ada di depannya, dan menyenggol bahu seorang wanita. “Maaf,” ujar Xander, tapi tak ada jawaban dari wanita yang pergi dengan terburu-buru sambil mengusap wajah. Lebih tepatnya, seperti sedang mengusap air mata. Bukankah itu wanita yang Rey ceritakan tadi? batin Xander. *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD