“Kurasa di kamar tak akan aman untukmu, Liora Hayward,” ucap Rey dengan tatapan menggoda sambil melepaskan kacamatanya menampilkan mata birunya yang menatap Liora seperti ingin memakannya hidup-hidup.
Liora seperti seekor kelinci kecil yang tersadar bahwa dirinya sudah terjebak dan masuk ke kamar hotel bersama Rey. Dia mengerjapkan mata tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Ma-maksud kau apa?” tanya Liora gugup karena Rey yang semakin mendekat dan memojokkannya sampai tersudut di pintu.
“Tasmu ada di apartemenku. Fasco sedang mengambilnya. Makanya kuminta kau untuk bertemu di rooftop,” ujar Rey berbohong.
“Kalau begitu, aku akan tunggu di rooftop,” ucap Liora hendak berbalik.
“Tunggu saja sebentar di sini!” ujar Rey berbalik dan menuju ke ruang tv lalu membuka jasnya, disusul dengan membuka kemeja sehingga menampilkan tubuh atletisnya, membuat Liora harus menelan salivan.
Apa tubuh ini yang kemarin memelukku? batin Liora.
“Ka-kau sedang apa?” tanya Liora gugup.
“Menurutmu, jika seseorang membuka bajunya, dia ingin apa?” tanya balik Rey.
“Ma-mana kutahu! Tiap orang kan beda-beda,” jawab Liora.
“Kemari kau, untuk apa berdiri kaku di sana!” pinta Rey.
“Katakan dulu kau ingin apa membuka bajumu! Kenapa kau tak malu!?” ketus Liora, tapi Rey malah mendekati Liora dan menarik tangannya dan mendudukkan Liora di sofa lalu menguncinya.
“Apa yang kaupikirkan? Kenapa aku harus malu? Bukankah kita sudah saling melihat? Kenapa aku harus malu? Lagi pula, menurutmu aku mau apa lagi jika aku membuka bajuku?” tanya Rey sambil mendekati wajah Liora yang sudah tertunduk dan memejamkan
matanya. Mungkin baginya tatapan mata Rey seperti mengeluarkan laser yang jika ditatap akan membakarnya.
“Aku mau mandi. Kautunggu Fasco dan bukakan dia pintu jika dia datang,” bisik Rey tepat di telinga Liora dan beranjak ke kamar mandi dengan tawa geli karena berhasil mengerjai Liora.
“Kau!”
Sial! Dia hanya menggodaku! batin Liora.
Liora tak mempedulikan Rey yang bersenandung di dalam kamar mandi. Liora lebih memilih melihat ke sekeliling, karena siapa tahu tasnya ada di suatu tempat, tapi Rey menyembunyikannya. Namun hasilnya nihil, dan akhirnya dia memilih melihat pemandangan luar yang sangat indah.
Lampu di malam hari yang menerangi jalan-jalan dan beberapa gedung pencakar langit yang menjulang tinggi meramaikan kota Jakarta pada malam itu.
“Kau yakin pemandangan di luar sana lebih indah dari diriku?” tanya Rey percaya diri yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya, rambutnya yang masih basah dan dijatuhi tetesan air yang membuatnya semakin err ... seksi!
“Kau mengagetkanku! Ke mana temanmu itu? Kenapa lama sekali! Aku harus pulang,” ujar Liora.
“Aku tak tahu, kautunggu saja! Kan kau yang membutuhkan itu, bukan aku. Masih baik temanku mau membawakannya untukmu,” ujar Rey tak peduli lalu dia ke kamarnya untuk memakai celana. Hanya celana, dia akan bertelanjang d**a di depan Liora. Dia memang sengaja.
“Apa kau tak akan memakai bajumu?”
“Ya, aku tak biasa. Karena aku ingin kerja, jangan ganggu aku. Kautunggu saja Fasco, kau boleh menyalakan tv jika mau.”
“Kalau begitu aku pulang saja, besok pagi saja aku ambil!”
“Tak boleh!”
“Kenapa?”
“Kau sudah menyusahkannya untuk mengambil tasmu, dan kau main pergi saja saat dia lama datang?”
“Baiklah! Aku akan tunggu sebentar lagi, jika dia tak datang aku akan menemuinya besok.”
“Besok dia mau pergi.”
“Kau?”
“Kau itu memang mencari alasan untuk bertemu denganku tiap hari, ya?” tanya Rey.
“Hah! Terserah kau mau berpikir apa.”
“Ya memang terserah aku, ini kan pikiranku sendiri! Sudah ,jangan ganggu aku dulu!” ucap Rey lalu
mulai membuka laptop dan berkas-berkas pekerjaannya. Karena sibuk belajar mengurus hotel, dia pun harus mengerjakan tugasnya sebagai produser saat sudah pulang.
Satu jam kemudian, Fasco yang memang tak akan datang jika Rey tak memanggilnya, membuat Liora mengantuk dan akhirnya malah tertidur di sofa, dan sekarang tv-lah yang menontonnya.
Sementara Rey yang memang tak konsen mengerjakan kerjaannya, akhirnya menyerah dan menghampiri Liora yang terlihat lelah sampai ketiduran.
Rey mengangkat tubuh mungil Liora dengan mudah dan membawanya ke ruang tidur, lalu membaringkannya ke ranjang dengan perlahan.
“Huh! Dia ini tidur atau pingsan? Bagaimana jika orang lain yang bersamanya seperti ini?” ucap Rey pelan, lalu dia memakaikan Liora selimut. Kemudian dia naik ke sisi lain ranjang, dan berbaring menatap Liora yang tertidur pulas. Cukup lama sampai membuatnya ikut tertidur.
*
Pagi hari Liora terbangun lebih dulu karena merasakan sebuah tangan besar melingkar di pinggangnya.
Hm … kenapa tanganku besar sekali? Hah! Kenapa tak bisa digerakkan? batinnya, membuat kesadarannya kembali penuh. Begitu matanya terbuka, dia melihat wajah Rey yang terlelap begitu tenang dan tampan. Ditambah dengan dadanya yang terpampang jelas, membuat Liora harus kembali menelan saliva.
“Apa aku begitu tampan sampai kau tak bisa melepaskan tatapanmu dariku?” tanya Rey masih memejamkan matanya membuat Liora terkejut sekaligus malu karena tertangkap basah telah memperhatikannya.
Liora hendak bangun dari posisinya, tapi tangan besar Rey menahan dan mengeratkan pelukannya.
“Hei! Lepaskan! Kau menipuku, ya?” tanya Liora berontak.
“Hah … aku baru tahu sebuah guling bisa bergerak dan berbicara,” ujar lagi Rey masih tetap dengan mata terpejam.
“Hei! Lepaskan aku! Kau!”
“Aku apa? Kau itu tidur atau pingsan? Hah? Aku memindahkan dirimu yang berat untuk tidur di ranjangku agar lebih nyaman, dan sekarang kauminta dilepaskan! Tak bisa! Tunggu sampai aku terbangun dan memindahkanmu kembali ke sofa.”
“Tapi kau sudah terbangun, dan aku bisa jalan sendiri ke sofa.”
“Huh! Baiklah! Kau itu cerewet sekali, sih,” ujar Rey, bangun dan membawa serta Liora ke dalam gendongannya dan menurunkannya di sofa.
“Sudah! Ambil tasmu,” ujar Rey menunjuk tas Liora.
Liora langsung membuka tas dan mengambil dompetnya. Dia melihat semua isinya masih lengkap, lalu dia kembali merogoh tasnya dan mengambil ponsel. Namun, ponselnya berbeda dari ponsel yang biasa digunakan.
“Ini bukan ponselku!” protes Liora.
“Ponselmu ketumpahan minuman, makanya kuganti,” ujar Rey kembali berbohong. Padahal ponsel Liora sudah hancur karena Rey membantingnya saat Christoper terus mengirimi pesan dan menelepon.
“Hah …?! Aku membelinya dengan gaji pertamaku,” rutuk Liora.
“Kau sungguh cerewet. Masih mending aku menggantinya!” ujar Rey sedikit kesal.
“Aku tak minta diganti. Kalau kau tak ikhlas, aku tak akan mengambilnya,” ucap Liora kembali meletakkan ponselnya dan hendak pergi.
“Bawa, atau kubuang!” ancam Rey.
“Apa?! Kenapa harus dibuang? Tak bisakah kauberikan kepada yang membutuhkannya?”
“Aku sudah memberikannya padamu! Jika kau tak mau, aku tak akan memberikannya pada yang lain,” ucap Rey.
“Baiklah! Aku ambil, dan sudah menjadi hakku, kan, untuk kuberikan pada siapa pun!”
“Aku tak mau tahu! Jika aku telepon, kau harus mengangkatnya!”
“Jika aku tak mau, bagaimana?”
“Kau akan tahu nanti jika kau berani mengabaikanku!” ucap Rey membuka lemari pakaian dan mengeluarkan kantong belanjaan, lalu dia memberikannya kepada Liora.
“Mandi dan ganti bajumu!” ujar Rey.
“Aku ingin pulang saja.”
“Mandi!”
“Kenapa kau memaksaku?”
“Karena kau memang harus dipaksa.”
Liora hanya membalasnya dengan desahan napas, dia lelah berdebat dengan Rey. Lalu dia mengalah dan menuju kamar mandi. Setelah mandi dan mengenakan pakaian yang diberikan oleh Rey, dia kembali meminta kepada Rey untuk pulang.
“Aku sudah mandi, sekarang aku ingin pulang!”
“Kemarilah, dan nikmati dulu sarapanmu,” ujar Rey tengah menikmati sarapan yang dipesannya.
“Aku tidak lapar. Lagi pula, aku harus pulang. Orangtuaku pasti khawatir karena aku tak memberikan mereka kabar.”
“Aku sudah mengurusnya. Jadi, tak ada alasan bagimu untuk keluar dari kamar ini sebelum urusan kita selesai,” ujar lagi Rey sambil mengunyah makanannya.
“Memangnya kita ada urusan apa? Aku juga harus bekerja.”
“Makanya duduk dan habiskan sarapanmu, lalu kita bahas masalah urusan kita,” ucap lagi Rey.
Liora kembali menurut dan duduk di hadapan Rey. Dia mulai mengambil beberapa makanan dan memasukkannya ke mulut.
Rey memperhatikan cara makan Liora yang tak malu-malu, malah terkesan cuek saat semua wanita pasti akan menjaga image-nya di depan Rey. Namun, Liora terlihat sangat menikmati makanannya tanpa peduli ada dirinya.
“Hm … aku tak pernah memakan menu di hotel ini. Lucu sekali, kan? Padahal aku sudah bekerja di sini cukup lama,” gumam Liora sambil kembali menyuapkan sepotong roti isi daging ke mulutnya.
“Habiskan makananmu, baru bicara!” ucap Rey dan hanya dibalas dengan tatapan tajam oleh Liora, walau akhirnya Liora menurut juga.
Setelah perut mereka kenyang, Rey mengajak Liora ke ruangan yang semalam dipakainya untuk bekerja dan mengambil selembar kertas dengan tulisan yang memiliki beberapa point.
“Duduklah dulu, aku akan jelaskan sebelum kau membacanya,” ujar Rey serius. Liora hanya menurut.
“Begini, aku ingin membuat sebuah perjanjian denganmu.”
“Perjanjian apa?”
“Karena kejadian malam itu, kau tahu aku kehilangan sebuah film besar, tapi tenang saja, aku tak akan meminta ganti rugi apa pun padamu.”
“Lalu apa masalahku dengan kehilangan sebuah film besar? Kau yang mendekatiku lebih dulu.”
“Aku hanya iseng-iseng waktu itu sembari menunggu kolegaku, tapi karena kau mabuk dan mantan tunanganmu membuat ulah. Mau tak mau aku harus pergi sebelum kolegaku datang dan melihat keributan yang menyangkut diriku. Aku tak mau mempunyai image yang jelek,” jelas Rey.
“Baiklah, aku memang tak akan bisa menganti rugi dengan uang. Jadi, kau ingin aku bagaimana?”
“Seperti yang kautawarkan padaku saat malam itu, berpura-pura menjadi tunanganmu.”
“Apa?”
“Kurasa kau akan menyetujuinya setelah melihat perlakuan mantanmu kemarin siang,” ujar Rey berusaha menyakinkan Liora. Liora tampak berpikir seperti menimbang-nimbang.
“Baiklah, tapi hanya di depannya saja kita berpura-pura,” ucap Liora, tapi Rey malah tertawa.
“Apa ada yang lucu dari perkataanku barusan?” tanya Liora heran.
“Apa kau sungguh tak mengenal siapa aku? Bahkan mantanmu itu dengan mudahnya mengetahui siapa aku,” tanya Rey disela tawanya.
“Aku tak tertarik dengan kehidupan orang yang baru kukenal.”
“Tapi kau tertarik untuk tidur denganku malam itu,” ujar lagi Rey menggoda Liora. “Oh ditambah tadi malam. Kau harus ingat. Bukan aku yang mengajakmu masuk, tapi kau yang mengikutiku sampai masuk dan berakhir di ranjangku lagi. Beruntung semalam aku sedang lelah,” imbuh Rey. Telak membuat Liora tak bisa membalasnya.
“Sudahlah! Jadi, maumu seperti apa?”
“Pertanyaan itu baru benar!” ujar Rey semangat dan mulai melihat kertas yang sejak tadi dipegangnya, lalu mulai membacakan isinya.
“Persyaratan pura-pura menjadi tunangan Reymond Ben Dobson.”
“Hei! Judulnya seolah aku yang memintamu,” protes Liora.
“Bukankah sudah kukatakan bahwa kau yang memintaku malam itu? Aku ini bukan orang sembarangan. Jika kau ingin aku menjadi tunangan bohonganmu, kau harus menuruti persyaratan dan peraturan yang kubuat,” jelas Rey panjang lebar.
“Hah! Ya ampun, sepertinya aku tak menemukan yang lebih baik dari Christop,” ujar Liora pelan, tapi jelas terdengar oleh Rey.
“Apa yang kaukatakan barusan?” Rey berdiri dan mendekati Liora.
“Aku tak bilang apa pun,” ucap Liora tak mengaku.
Dengan cepat Rey menunduk dan memegang tengkuk Liora. “Biar kutunjukkan bahwa aku lebih baik dari mantanmu itu!” ujar Rey lalu mencium Liora.
*