Kita lihat apa yang bisa dilakukan oleh seorang manajer hotel yang akan kubuat malu di depan anak buahnya, batin Rey memasuki lift dan tersenyum penuh maksud.
Namun, senyumnya menghilang saat melihat seorang wanita keluar dari dalam lift sambil menghapus air mata nya. Dia ingin sekali menarik wanita itu, tapi diurungkan niatnya untuk melancarkan rencana.
*
Siang hari Rey keluar dari kamarnya untuk makan siang, dengan kacamata besar dan kaus santai dia turun ke resto. Dia juga mengajak Fasco agar tak ada yang memperhatikannya jika dia berjalan sendiri. Namun,
saat dia sedang menunggu lift, ada suara dari tangga darurat seperti sedang berdebat.
“Liora, pikirkan kembali. Aku janji akan berubah. Aku sudah mencari tahu siapa Rey, dia itu hanya akan main-main denganmu! Dan kau memberikan kesucianmu padanya?”
“Dari mana kau tahu semua itu? Sekarang semua bukan urusanmu lagi, karena aku sudah memilihnya. Jadi, jangan memintaku lagi, Chris!”
“Tidak, aku tak masalah jika kau sudah memberikan dirimu padanya, tapi aku tahu jika dia hanya bermain-main denganmu. Aku yakin itu! Jadi, kembalilah padaku dan aku akan memintamu pada kedua orang tuamu. Kita akan segera menikah dan memiliki anak.”
“Maaf, Chris, aku sungguh tak bisa.”
“Apa hubungan kita selama ini tak ada artinya lagi bagimu? Apa semuanya hanya main-main?”
“Bukankah harusnya aku yang bertanya seperti itu? Kutanya padamu, bagaimana rasanya saat kau melihat aku berciuman dengan Rey kemarin itu di bar?”
“Tentu saja aku marah dan tak suka melihatnya menyentuhmu! Itu karena aku mencintaimu, Liora.”
“Beberapa hari yang lalu pun aku juga begitu, Chris. Aku marah dan tak suka melihatmu b******u dengan wanita bayaran itu. Percayalah, hatiku lebih
sakit saat kau membayar wanita itu hanya untuk memuaskanmu! Seharusnya kau bersyukur karena aku menemukan pengganti yang lebih baik darimu seperti Rey. Walaupun kaubilang dia playboy, setidaknya aku sudah belajar darimu, yang setia sepertimu saja bisa bermain di belakangku. Jadi, lebih baik aku mendapatkan yang playboy sekalian. Agar aku tak perlu berharap Rey akan setia padaku nantinya,” ujar Liora.
Namun, kesabaran Christoper seperti sudah habis. Dia memojokkan Liora ke sudut dan menguncinya dengan kedua tangannya, lalu berusaha mencium Liora dengan paksa.
“Kau memaksaku melakukan ini, Liora!” Cekrek! Cekrek!
Suara jepretan sebuah kamera dari ponsel menghentikan aksi Christoper dan menoleh ke belakang.
“Sepertinya aku datang tepat waktu,” ujar Rey masuk dan menutup tangga darurat tersebut dengan santai setelah dia merekam dan memfoto perlakuan Christoper kepada Liora.
“Siapa kau? Dan apa yang kau foto?” Christoper ketakutan, sementara Liora sudah berlari dan berlindung di belakang Rey.
“Apa kau lupa? Padahal kau sudah susah payah mencari dataku,” ujar Rey membuka kacamata, memperjelas wajah tampannya.
“Oh, ternyata kau datang juga ke tempatku! Baguslah, aku tak perlu mencarimu untuk membalas dendam! Kemarin memang daerah kekuasaanmu, tapi di sini kau tak bisa memanggil orang-orangmu. Jadi, lawan aku dan gunakan tenagamu!”
“Hei! Bisakan kita lakukan nanti saja? Aku baru saja ingin turun dan makan siang,” balas Rey malas.
“Oh, apa kau takut? Liora, kaulihat sendiri lelaki yang kaupilih untuk menggantikanku? Dia sangat penakut,” ujar lagi Christoper.
“Liora, bisa kau ke resto dan pesankan aku makanan? Sepertinya mantanmu ini tak akan membiarkanku untuk makan lebih dulu,” ujar Rey malah tak nyambung.
“Berengsek kau! Kaupikir aku main-main? Kau terlalu meremehkanku!” hardik Christoper dan hendak melayangkan tinjunya ke wajah Rey. Dengan sigap Rey menangkis dan membalas perlakuan Christoper.
BUG! BUG!
Rey memukul wajah dan perut Christoper dengan cepat sampai membuat Christoper sedikit terhuyung ke belakang.
“Cepatlah, Sayang. Setelah aku membereskannya, aku akan menyusulmu untuk makan bersama.” Rey mengalihkan pandangannya ke Liora yang terkejut dengan perkelahian kedua lelaki yang ada di depan matanya. Bukan hanya karena perkelahian itu, tapi karena kehadiran Rey yang sangat tepat waktu.
“b******n! Beraninya kau mengalihkan
pandanganmu padaku!” Christoper hendak melayangkan tinju lagi. Namun, Rey menangkap tangan itu dan memutarnya ke belakang tubuh lawannya, lalu menendang kaki Christoper sampai berlutut.
“Aku tak habis pikir dengan seorang manajer yang berkelakuan seperti ini! Haruskah aku melaporkan kejadian ini pada pemilik hotel ini?”
“Kau yang akan kulaporkan ke polisi karena kau yang memukulku!”
“Ya, silakan saja! Dan aku akan menunjukkan percakapanmu dengan Liora kepada atasanmu! Kita lihat siapa yang akan menang!” tantang Rey dan di akhiri dengan memukul kembali wajah Christoper dan pergi meninggalkan lelaki yang tergeletak dan kesal karena dirinya harus dikalahkan lagi.
“Ayo, Liora,” ajak Rey menggandeng Liora dan keluar dari tangga darurat itu lalu menuju lift. Di dalam lift, mereka menjadi canggung, sampai pada akhirnya Liora berucap lebih dulu.
“Terima kasih,” ujar Liora.
“Untuk apa?” tanya Rey.
“Karena kau sudah menolongku lagi,” jawab Liora pelan.
“Kaupikir itu gratis? Aku sudah katakan tadi untuk kau pesankan aku makanan. Kaupikir aku menolongmu untuk apa? Hah! Aku benar-benar lapar sekali sekarang ... dan kau harus membayarkan makananku nanti,” ucap Rey membuat Liora membulatkan matanya.
Apa-apaan dia? Bukankah dia memiliki manajemen artis? Kenapa masih memintaku untuk membayar makanannya? batin Liora sangsi.
“Apa?! Kalau begitu, kenapa kau menolongku tadi? Jika ingin menolong orang itu harus ikhlas!” ujar Liora.
“Karena dia menghinaku tadi. Jadi, jangan berpikir aku dengan suka rela menolongmu! Dan karena aku datang tepat waktu, jadi kau harus mentraktirku!” ujar lagi Rey dan lift sudah terbuka lebar, Rey menarik Liora menuju Resto.
“Hei! Tapi aku tak bilang setuju! Lagi pula, karena aku yang bayar, jadi aku yang akan tentukan tempatnya.”
“Mana bisa begitu, memangnya kau sedang birthday? Aku ini menolongmu dari lelaki kurang ajar
itu! Jika aku tak datang, entah bajumu masih utuh atau tidak sekarang.”
“Tapi—”
“Sudahlah, aku sudah sangat lapar! Dan aku ingin makan steak. Kudengar resto hotel ini memiliki koki hebat yang terkenal dengan hidangan western-nya.”
Apa dia bilang? Steak? Aku saja jika ingin makan itu, harus menunggu akhir bulan setelah menerima gaji, atau jika Christoper mengajakku, dan itu pun bukan di sini, tapi di tempat lain yang lebih murah namun rasanya tetap enak. Dan dia menyuruhku mentraktirnya makan di sini? batin Liora lagi. Karena melamun, dia tak sadar jika sudah duduk di hadapan Rey yang sedang memesan makanan dalam jumlah banyak.
“Fasco! Di sini!” Teriakan Rey membangunkan Liora dari lamunannya.
“Siapa dia?” tanya Liora.
“Temanku! Dia juga mau makan, dan aku sudah bilang ada kau akan membayarkan kami makan siang. Aku juga sudah memesan makanan untuk kita.”
“Apa?!”
“Ya, untukku dan temanku, dan untukmu juga.”
“Tapi, aku membawa makananku sendiri.”
“Masa kau membayarkan kami makan, tapi kau sendiri tak makan? Jadi, kau juga harus makan.”
Liora tak mampu berucap lagi. Dia tak habis pikir bagaimana dia bisa bertemu dengan lelaki tak tahu malu seperti Rey. Sementara Rey dan Fasco asyik berbincang membicarakan hal-hal yang tak dimengerti oleh Liora, karena mereka mengunakan bahasa Prancis.
Tak lama makanan mereka tiba, Liora melongo melihat makanan yang dipesan Rey adalah makanan termahal di resto hotel itu.
Dia mencoba mengingat harga dari menu yang Rey pesan, dan menghitung dengan kasar berapa harga yang harus dia bayar untuk tiga makanan tersebut. Hal itu membuatnya tak nafsu untuk memakan makanan yang ada di hadapannya, membuat Rey menyodorkan sebuah potongan daging kepada Liora.
“Apa kau akan membiarkan steak-mu dingin?” tanya Rey.
“Eh, apa?”
“Makan, Liora Hayward.” Rey tersenyum, membuat Liora kembali tertegun memandangi wajah Rey yang ... hmm ... tampan.
“Apa wajahku lebih menarik daripada steak-mu?” tanya Rey sambil mengiris steak-nya.
“Apa?!”
Rey pun kembali tersenyum, dan meraih tangan Liora dan mengarahkannya ke pisau dan garpu yang sudah tersedia di sisi piring steak-nya.
“Apa aku perlu mengajarimu cara untuk makan? Atau kau ingin aku menyuapimu?” tanya lagi Rey. Liora menjadi salah tingkah dan menarik tangannya.
“Ti-tidak perlu, aku akan makan sendiri,” ujar Liora dan mulai mengiris daging steak-nya, sementara Rey dan Fasco sudah menghabiskan makanannya dan hendak kembali ke kamar.
“Baiklah, terima kasih, Liora, untuk makanannya. Maaf, aku tak bisa lebih lama menemanimu makan. Aku harus mengurus sesuatu,” ujar Rey lalu cipika-cipiki dengan Liora. Liora hanya menerima perlakuan sok akrab dari Rey.
Dengan pasrah Liora kembali mengiris dan memasukan potongan daging ke dalam mulutnya. Dia mencoba menikmati makanan yang akan menguras kantongnya. Ponsel dan dompetnya pun dia anggap sudah hilang belum lagi dia harus mengurus surat-surat di dalam dompetnya.
Setelah makanannya habis, dia langsung meminta bill untuk membayar makanan tersebut. Namun, bukan sebuah bill yang didapatnya, tapi sebuah note kecil dengan tulisan.
Terima kasih sudah menemaniku makan siang, nanti malam kutunggu di rooftop pukul 19.00, aku akan mengembalikan barang-barangmu.
Reymond Ben Dobson
“Hah! Apa dia membalasku?!” ujar Liora berucap sendiri.
“Kenapa, Bu?” tanya pelayan yang membawakan bill kepada Liora.
“Ah tidak, terima kasih. Kau kembali bekerja saja,” ujar Liora.
“Baik, Bu!” ucap pelayan tersebut.
Lalu Liora pergi dari resto dan kembali ke ruangannya. Betapa kagetnya dia, saat mendapati Christoper yang terkulai lemah di sofa dalam ruangannya.
“Sedang apa kau, Chris?”
“Aku menunggumu. Tolong obati aku.”
“Kau bisa meminta orang lain. Lagi pula, aku masih ada urusan dengan Rey. Aku ke sini hanya untuk mengambil tas dan ponselku. Pekerjaanku pun sudah selesai. Aku izin pulang lebih dulu,” ujar Liora mengabaikan Christoper yang terkulai lemah dan hendak mengambil tas dan ponselnya.
“Liora,” panggil Christoper memelas. Akhirnya Liora pun mengalah dan mengambil obat P3K yang ada di lacinya dan membantu Christoper mengobati luka pukulan dari Rey.
“Sudah kukatakan padamu, aku sudah memilikinya! Jadi jangan memintaku kembali lagi padamu. Ini terakhir aku membantumu, jadi jangan
membuat ulah dan lanjutkanlah hidupmu dengan benar,” ujar Liora setelah mengobati luka di wajah Christoper dan membereskan obat P3K-nya.
“Apa kau sungguh tak memberiku kesempatan?”
“Tidak, carilah orang lain dan jangan sakiti dia. Aku pergi dulu,” ujar Liora lalu dia keluar dari ruangannya.
“Tapi, Liora, apa kau memaafkanku?”
“Ya, aku sudah memaafkanmu,” jawab Liora lalu dia benar-benar pergi meninggalkan Christoper yang sepertinya benar-benar menyesal akan perbuatannya.
Liora pergi dari hotel ke sebuah kafe untuk menenangkan pikirannya. Dia bingung nanti malam dia harus pergi atau tidak ke rooftop hotel. Tapi, dia memikirkan kembali barang-barang yang ada di dalam tasnya, dan itu bisa mengurangi biaya pengeluaran untuk mengurus kartu identitas yang ada di dompetnya. Setelah memutuskan untuk mengubah hidupnya agar memprioritaskan dirinya untuk kedua orang tuanya, dia harus menekan pengeluaran tak penting dan mengumpulkan uang hasil kerjanya untuk diberikan kepada kedua orang tuanya.
Cukup lama dia memikirkan dan menimbang-nimbang, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke hotel setelah mengisi perutnya di sebuah tempat makan dipinggiran jalan saat menuju ke arah hotel.
*
Pukul setengah tujuh, dia sudah tiba kembali di hotel. Bahkan orang hotel pun heran melihat Liora yang kembali lagi ke hotel saat tadi siang sudah pamit pulang. Dia bertanya kepada resepsionis di sana.
“Miss, hmm ... Mr. Christoper sudah pulang?” tanya Liora.
“Sudah, Miss, dari sore tadi, tapi kasihan dia.
Wajahnya lebam-lebam,” jawab si resepsionis.
“Hmm ... bisakah kulihat daftar tamu yang ada di sini?” Liora mengabaikan perkataan resepsionis itu.
“Hmm ... jika Anda mau melihat, memang bisa. Tapi jangan sampai diketahui Mr. Christoper.”
“Tapi dia sudah pulang. Jadi, dia tak akan mengetahuinya.”
“Memang benar, Miss. Tapi, tolong jangan terlalu lama.”
“Baiklah.”
Lalu Liora mulai mencari nama Rey. Namun, tak menemukan ada penghuni hotel yang bernama Rey. Dia ingat nama temannya, dan akhirnya ia temukan. Ternyata Rey memakai nama temannya untuk memesan kamar. Jadi, Liora tak bisa mencari data tentang Rey.
“Sudah, Miss. Terima kasih. Oh ya, kemarin ada orang yang pesan kamar atas nama Fasco, apa kau tahu bagaimana orangnya?”
“Ya, Miss. Perawakannya tinggi. Walaupun memakai kacamata hitam, tapi kupikir dia tampan sekali, Miss.”
“Begitu? Ya sudah, terima kasih.”
Dia pasti menyamar memakai nama temannya, tapi kenapa? Untuk apa? Dan kenapa bisa kebetulan dia menginap di hotel ini? Apa dia sudah mencari informasi tentangku? Ah, tidak mungkin! Lelaki yang ada maunya seperti dia tak mungkin mencariku! batin Liora.
“Ah, itu dia, i, laki-laki yang bernama Fasco, dia sendirian. Biasanya dia selalu dikawal oleh sopirnya, Miss,” ujar si resepsionis kepada Liora, membuat dia menoleh ke arah di mana lelaki yang di maksud Fasco itu berada. Tapi bukan Fasco yang dia lihat, melainkan Rey yang berjalan dengan setelah jas abu yang melapisi kemeja putihnya. Tak lupa dia tetap memakai kacamata hitam.
Bukankah itu Rey. Ah, benar. Dia menyamar menjadi Fasco, tapi apa tujuannya? Hmm ... entahlah. Setelah aku mengambil tas dan ponselku, aku akan langsung pulang dan tak akan berurusan dengannya lagi. Bisa bangkrut! batin Liora dan menuju lift untuk mengejar Rey. Agar lebih cepat mengambil tasnya jadi tak perlu ke rooftop lagi, pikirnya.
Namun saat di lift, Rey malah terlihat seperti orang yang tak kenal dengannya. Dia bersikap seperti pengunjung hotel biasa. Jadilah Liora juga diam dan menunggu Rey keluar dari lift, lalu mengikutinya sampai keadaan sepi.
Mungkin dia tak mau bicara di lift tadi, karena banyak orang yang ikut naik, batin Liora lagi. Ketika sampai di lantai tujuh belas, pengunjung terakhir dari lift itu pun keluar. Menyisakan Liora dan Rey.
“Hmm ... hei,” sapa Liora.
Namun Rey tetap diam, bahkan melepas kacamatanya pun tidak sama sekali. Sampai tiba di lantai dua puluh, Rey keluar dan Liora mengikuti.
“Apa kau tak melihat note yang kuberikan?” tanya Rey seperti berbisik sambil berjalan menuju ruangannya.
“Ya, tapi kupikir karena aku sudah menemukanmu, jadi untuk apa lagi kita ke rooftop?” jawab Liora dan terus membuntuti Rey. Bahkan dia tak sadar bahwa dirinya sudah masuk ke kamar Rey.
“Kurasa di rooftop lebih aman untukku, tapi di kamar pun tak masalah karena tak ada CCTV di sini, tapi ....” Rey menggantung kalimatnya.
“Tapi apa?” tanya Liora polos masih tak sadar bahwa dirinya sudah berada di kamar.
“Kurasa di kamar tak akan aman untukmu, Liora Hayward,” ucap Rey dengan tatapan menggoda sambil melepaskan kacamatanya menampilkan mata birunya yang menatap Liora seperti ingin memakannya hidup-hidup.
*