DP || 02

2258 Words
Liora Pagi ini aku terbangun dalam pelukan hangat seorang lelaki yang baru kukenal hanya dalam waktu semalam saja, dan aku akhirnya melepaskan mahkotaku untuknya. Namun, entah mengapa aku tak marah. Aku juga tak begitu menyesal. Dia memperlakukanku dengan lembut. Aku melihat wajah tampannya yang masih terlelap. Kuakui dia memang tampan, tapi saat ini aku sedang tak ingin menjalin hubungan lagi dengan yang namanya lelaki! Dengan perlahan aku melepaskan diriku dari pelukannya. Aku turun dari ranjangnya dengan perlahan. Bukan karena aku takut dia terbangun, tapi aku merasa nyeri di bagian bawah diriku. Aku memunguti pakaianku yang berceceran ke mana-mana, lalu ke kamar mandi untuk membasuh diriku yang sudah tak virgin lagi. Setelah selesai, kulihat si tampan masih betah di atas ranjangnya yang nyaman. Aku tersenyum melihat dirinya. Kurasa aku akan menulis sebuah note agar dia tak mencariku lagi. Setelah menemukan kertas dan pulpen, aku pun langsung menuliskan sebuah note untuknya. Aku bergegas pergi dari tempatnya dan pulang ke rumah temanku untuk mengganti baju dan meminjam uang. Untukku membayar ongkos karena dompet dan ponselku tertinggal di bar semalam, dan aku yakin temanku sudah membawanya. Butuh waktu setengah jam untukku tiba di rumah temanku. Ternyata dia pun masih tertidur. Entah pulang jam berapa dia, aku tak peduli, yang jelas aku ingin mengambil tas dan mengganti bajuku lalu pulang ke rumah orang tuaku. Namun, saat usahaku berhasil membangunkannya dan menanyakan tasku. Ternyata dia tak membawanya, melainkan dua orang lelaki tampan yang membawa tasku dan mengurus keributan di bar yang dibuat oleh Christoper. Jadilah aku harus meminjam uang lebih pada temanku untukku pulang ke rumah. Setibanya di rumah aku langsung masuk ke kamar karena aku tak bisa menjawab pertanyaan yang akan dilontarkan mama. Jadi, aku langsung masuk dan tidur karena ini hari minggu, dan lagi tubuhku terasa lelah sekali. Aku tak pernah selelah ini walaupun bekerja sampai lembur. Apa ini efek permainan semalam? Entahlah. * Keesokan harinya aku kembali melakukan aktifitasku seperti biasa. Bekerja di sebuah hotel sebagai asisten manajer dan sialnya manajer itu adalah Christoper. Aku tak punya pilihan lain karena aku membutuhkan pekerjaan ini. Aku tiba di ruanganku tepat waktu. Aku tak mau membuat kesalahan karena akan dijadikan alasan bagi atasanku yang akan menyuruhku ke ruangannya. Kriingg! Baru saja aku katakan, panggilan itu sudah datang “Halo, Liora. Ke ruanganku sekarang!” titah suara atasanku yang tak lain adalah Christoper. Awas saja jika dia memanggilku bukan karena urusan pekerjaan. Aku menuju ke ruangannya dan mengetuk pintunya. Tok tok tok “Masuk!” Terdengar suara perintahnya dari dalam, lalu aku masuk. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanyaku berusaha profesional. “Duduk dulu!” perintahnya. Dia seperti sedang menekuni sebuah dokumen penting, entah itu apa. Yang jelas aku tak mau berlama-lama di sini. Tak berapa lama, dia menutup dokumen itu dan bangkit dari duduknya lalu menghampiriku. “Apa kemarin malam kau baik-baik saja? Sejak kapan kau bertemu dengan lelaki itu? Apa benar dia itu calon suamimu? Kau tahu? Dia itu terkenal sebagai seorang playboy di setiap bar,” tanyanya bertubi-tubi sambil mengunciku dengan kedua tangannya yang ditahan di sisi kursi yang kududuki. “Maaf, Pak, apa tak ada pertanyaan yang menyangkut pekerjaan? Saya rasa itu adalah pribadi saya dan saya tak bisa menjawabnya. Jika tak ada hal pekerjaan yang ingin Bapak tanyakan, bisa saya permisi?!” Aku berusaha tenang. “Liora, aku menghubungimu sejak kejadian itu dan sampai kemarin kau tak menjawab teleponku dan malah mematikan ponselmu. Jadi, aku harus bertanya padamu di mana?” tanyanya lagi. “Aku rasa tak ada yang harus kautanyakan lagi karena aku sudah menjadi miliknya,” ucapku akhirnya tak bisa berbicara terlalu formal padanya sambil menyingkirkan tangannya dan berusaha berdiri untuk keluar dari kunciannya. Namun, usahaku tak berhasil, dia menarik tubuhku ke dalam pelukannya. “Liora, kumohon maafkan aku. Aku tahu kau dan orang itu tak ada hubungan apa pun. Jadi, hentikan sandiwaramu dan kembalilah kepadaku,” ujarnya meletakkan kepalanya di pundakku dan menciumi aromaku. Anehnya, aku tak merasakan apa pun. Tak seperti dulu. Jika dia berlaku manis, aku akan luluh dan memaafkannya. Entah kenapa aku tak merasakan itu lagi. “Maaf, aku tak bisa kembali padamu! Karena aku sudah menjadi miliknya,” ucapku lagi. Karena memang benar, aku sudah memberikan segala yang kupunya pada lelaki itu walau aku tak akan bertemu lagi dengan lelaki itu. “Kau bohong, Liora. Rey itu adalah seorang playboy. Semua mengenalnya dan tak mungkin kau dan dirinya menjalin hubungan serius. Ditambah seleranya itu adalah para model dan artis baru di manajemennya, dan aku yakin dia tak akan menurunkan seleranya dan menjalin hubungan serius denganmu. Walau kau cantik dan pintar, tapi kau bukan tandingan para model itu,” ucap Christoper panjang lebar. Ternyata namanya Rey, aku tak memperhatikannya saat berkenalan hari itu. Apa dia memiliki manajemen artis? Kalau begitu, Christop benar. Aku ini bukan tandingan para model itu, batinku berucap dan mengabaikan Christoper yang masih memelukku. “Liora, aku benar kan? Kau dan dia tak ada hubungan apa pun? Aku janji akan berubah. Jadi, kembalilah padaku,” ujar lagi Christop. Aku melepaskan diriku dari pelukannya dan berjalan menuju pintu ruangannya. “Maaf, tapi aku sungguh tak bisa kembali lagi padamu karena aku sudah menjadi miliknya, dan aku tak bohong. Permisi!” ucapku membuka pintu ruangan dan meninggalkannya yang menyesali perbuatannya. Aku berjalan dengan cepat kembali ke ruanganku. Aku tak tahu kenapa rasanya aku ingin menangis. Bukan karena Christoper, tapi mengetahui tentang lelaki asing yang sudah menjadi orang pertama yang menjamah tubuhku. Kenapa aku harus menangis? Harusnya aku senang karena dengan begitu dia tak akan mencariku. Aku bisa menjalani hidupku dengan tenang tanpa harus menyesal telah memberikan segala yang kupunya jika aku bertemu dengannya lagi, ucapku dalam hati. * Rey Aku tak habis pikir dengan wanita itu. Dia yang memintaku, tapi dia juga meninggalkanku. Aku merasa seperti lelaki bayaran saja! Aku akan mencari tahu siapa dia. Bodohnya dia menulis nama lengkapnya. Apa dia sungguh tak tahu aku ini siapa? Hah! Ini hari Minggu tapi aku harus keluar sepagi ini untuk mengambil tas wanita itu di rumah Xander. Kriingg Ponselku berdering dan menampilkan nama si Mr. Director. “Halo.” “Rey, cepatlah! Jika kau tak datang, Dennis ingin membukanya,” ujar Xander di ujung telepon. “Ya, Xander. Aku sedang menuju tempatmu, jangan biarkan Dennis membukanya!” “Hei! Playboy! Kau baru mengundurkan diri dari perjodohan dengan Niana, dan sekarang sudah mendapatkan wanita lain! Aku penasaran, jadi cepat datang sebelum aku membuka dan melihat isi dalam tasnya,” kata satu suara yang kukenal sebagai suara Dennis. “Awas saja jika kau berani membukanya! Aku akan mengajukan diri untuk merebut Nianamu!” ancamku. “Coba saja kalau bisa!” balas Dennis. “Ah, sudahlah! Aku sedang menyetir! Ingat! Jangan buka tas itu dan melihat isinya!” “Dalam lim abelas menit, jika kau tak datang, aku dan Xander akan mengetahui wanita yang akan membuatmu insaf! Haha.” Lalu Dennis menutup teleponnya. “s**l! Dia berani bertingkah sekarang!” ujarku kesal dan menekan pedal gas mobilku agar lebih cepat tiba di tempat mereka. Kurang dari lima belas menit aku sudah tiba di lobi apartemen Xander. Kriinngg Ponselku kembali berdering, aku mengangkatnya tanpa melihat nama yang tertera di layar. Aku tahu itu pasti Dennis. “Halo! Aku sudah di bawah” “Maaf, Tuan,” kata suara berat di ujung teleponku. “Oh, Fasco … bagaimana?” tanyaku kepada orang yang kusuruh untuk mencari tahu tentang wanita yang membuatku berada di sini pagi-pagi. Aku mendengarkan laporannya dengan teliti sambil menunggu lift untukku naik ke tempat Xander. “Baiklah, terima kasih. Aku akan hubungi Daddy dan mengambil alih tempat itu. Tolong kausiapkan segala dokumen yang harus kupelajari untuk mengurus hotel itu,” suruhku lalu kumatikan ponselku dan masuk ke lift untuk menuju tempat Xander. Ting tong ... ting tong .... Aku memencet bel apartemen dengan tak sabaran. “Sabar saja, Bro!” seru Dennis membuka pintu apartemen. “Mana tasnya!” todongku tak sabaran. “Xander menyembunyikannya dan dia sedang membeli makanan. Aku saja sudah mencarinya sejak tadi,” ujar Dennis membuatku kesal. Entah dia berbohong atau tidak. Aku mengeluarkan ponselku dan menelepon Xander, tapi suara ringtone-nya malah terdengar jelas di dalam ruangan. “Sayangnya dia tak membawa ponselnya, Rey,” ujar lagi Dennis sambil mengangkat ponsel Xander. Aku mematikan panggilan tersebut. “Kalian berdua mengerjaiku, ya?!” tuduhku kesal. “Tidak!” “Dennis, cepat berikan! Aku harus pergi mengurus hal lain,” ucapku. “Aku sungguh tak tahu, Rey. Tadi saat aku ke toilet dia menyembunyikannya, lalu setelah aku keluar dari toilet. Dia pamit keluar untuk membeli bahan makanan, mungkin dia membawanya dan memakai uang wanita itu,” ucap Dennis semakin ngawur. “Hei! Jangan memfitnahku,” ucap Xander di balik pintu. Kami tak sadar jika dia sudah kembali. “Di mana tasnya?” tanyaku tak sabar. “Di laci,” jawabnya singkat. “Laci mana?” tanyaku lagi. “Cari saja di setiap laci yang ada di sini! Selamat mencari, siapa yang cepat dia yang dapat.” “Aku ketemu!” ujar Dennis sudah menemukan tas Liora. “Kemarikan,” pintaku. “Xander bilang siapa cepat dia dapat, rebut jika bisa!” tantang Dennis melarikan diri ke kamar dan menguncinya. Aku menatap Xander meminta kunci cadangan, tapi dia hanya geleng-geleng kepala. “Hei, Dennis, cepat berikan padaku. Aku serius,” pintaku memelas saja. Aku tahu dia pasti membalas semua perbuatanku padanya yang terus menggodanya jika ada Niana. “Hm … mari kita lihat. Namanya Liora Hayward, wow! Xander, dia cantik, tapi tidak lebih cantik dari Nianaku!” teriak Dennis yang sudah pasti membuka tas itu dan melihat KTP dan ponselnya. “Hei! Kembalikan!” Brak! Brak! “Rey, kau bisa merusak pintuku!” Xander memperingatiku. Dia itu tak membantuku sama sekali, dia malah asyik menikmati kopinya. “Xander, bantu aku! Selama ini aku selalu membantumu.” “Baiklah, kuncinya ada di laci sebelah tas yang tadi ditemukan Dennis,” ucapnya santai. Aku langsung bergegas mencari, tapi tak menemukannya. “Tak ada.” “Oh, aku lupa! Alice menginap di sini selama liburan. Mungkin dia membawa kunci yang satu lagi,” jawaban Xander kali ini benar-benar membuatku habis kesabaran. Aku mengambil remote yang ada di meja itu dan berniat melemparkan ke kepala Xander. Hap! Sial, tangkapnya tepat. “Thanks, Rey, aku memang ingin menyetel tv,” ujarnya malah menyalakan tv. “Kau baru kali ini heboh karena masalah wanita. Apa semalam dia membuatmu melayang?” tanya Xander, matanya masih menatap layar 42 inch. “Diam kau! Kau tidak membantuku, jadi aku tak mau menjawabnya.” Cklek “Wah-wah, Xander, kau tak ingin melihatnya?” tawar Dennis begitu keluar dari kamar dengan memegang tas di tangan kiri, dan sebuah ponsel di tangan kanan. “Rey! Sepertinya kau harus berjuang keras. Di ponselnya banyak fotonya dengan lelaki yang semalam babak belur!” ujar Dennis. Aku tak menghiraukannya, tapi langsung merebut semua yang dipegang Dennis. “Terima kasih telah memberitahuku! Aku harus pergi untuk mengurus hal lain!” ucapku menahan emosi. “Apa kau sudah tak tahan ingin menemuinya?” tanya Dennis sedikit teriak, tapi aku tak menghiraukannya karena aku harus ke rumah Daddy-ku dan membicarakan bisnis hotel yang mau kuurus. * Author Rey sudah di dalam mobilnya dan mengambil pelantang jemala lalu memasangkannya ke telinga dan melakukan panggilan kepada daddy-nya. “Dad, aku akan ke rumahmu untuk mengurus hotel yang kausuruh urus itu,” ujar Rey begitu teleponnya diangkat. “Oh, ya, kebetulan sekali, karena lusa Daddy harus mengurus yang di Aussie. Kenapa kau tiba-tiba mau mengurusnya?” “Ya, kurasa aku harus sedikit membantumu. Aku akan mempelajarinya hari ini. Besok aku akan datang dan mengurus semuanya.” “Baiklah, Daddy tunggu. Aku akan menyuruh manajer hotel untuk menyambutmu nanti.” “Tak perlu, Dad! Aku tak ingin disambut. Lagi pula, aku ingin melihat semua kinerja mereka tanpa mereka tahu siapa aku,” ujar Rey. “Ya sudah terserah kau. Kau datang saja, Daddy akan mengajarimu.” “Baiklah.” * Keesokan harinya Rey sudah siap dengan setelan jas yang membuatnya semakin tampan. Dia sudah siap untuk menemui wanita yang membuatnya harus menghabiskan hari minggunya dengan menekuni setiap dokumen semalam suntuk. Belum lagi ponsel Liora yang berdering terus dan memunculkan nama yang sama sampai puluhan kali dan kiriman pesan tak jelas dari pengirim yang memiliki nama Christoper, yang membuatnya semakin geram! “Selamat pagi, Tuan,” sapa suara berat seorang lelaki. “Terima kasih, Fasco. Kau sudah jauh-jauh datang ke sini. Kau sudah menyiapkan semuanya kan?” tanya Rey. “Ya, Tuan.” “Baiklah, jalan sekarang!” ucap Rey sudah duduk di belakang dan Fasco masuk ke kursi sopir, maka mereka pun berangkat ke tempat tujuan. Setengah jam kemudian, Rey dan Fasco sudah tiba di lobi hotel. “Permisi, ruangan atas nama Fasco,” ujar Rey dengan memakai kacamata hitam agar tak ada yang mengenalinya. Walau dia tak pernah datang ke hotel tersebut, tapi kemungkinan besar rekan bisnis daddy-nya bisa saja menginap di situ dan dapat mengenalinya. Hal itu akan membuat rencananya kacau. “Satu VIP suite room di lantai dua puluh, dan deluxe room di lantai sepuluh. Anda akan diantarkan. Apa ada barang yang ingin dibawakan?” tanya resepsionis tersebut dengan ramah. “Tidak, terima kasih,” ujar Rey mengambil kartu sebagai kunci ruangannya, dan memberikan kunci satu lagi pada Fasco. “Kautunggu saja di kamarmu dan istirahatlah dulu. Aku akan ke sana nanti malam, dan melakukan aksiku. Selama aku di ruanganmu, kau boleh pergi berjalan-jalan,” ujar Rey kepada Fasco yang hanya mengangguk patuh. Kita lihat apa yang bisa dilakukan oleh seorang manajer hotel yang akan kubuat malu di depan anak buahnya, batin Rey memasuki lift dan tersenyum penuh maksud. *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD