Dentum musik dari DJ yang dengan lincah memainkannya membuat bar tersebut tampak berisik ditambah dengan liuk-liuk tubuh banyak orang yang membuat suasana semakin heboh. Semua menikmati permainan musik itu. Hanya satu wanita yang diam di dekat meja bartender dengan sebotol air mineral, matanya hanya menyorot satu laki-laki yang sedang b******u dengan wanita seksi yang terlihat sangat agresif.
Matanya memanas dan perih melihat pemandangan seperti itu. Akhirnya dia memutuskan untuk memesan bir kepada bartender. Dia pun tak tahu
nama-nama bir, tapi dia meminta bir yang mampu membuatnya tenang.
Karena sejak tadi dia tak tenang dengan pakaian minim yang dipilihkan oleh temannya yang entah sudah menghilang tertelan kerumunan orang yang berjoget menikmati musik.
“Hai, boleh kenalan?” tanya lelaki yang sangat terkenal di bar tersebut.
“Ya,” jawab wanita itu, tapi pandangannya masih tak lepas dari laki-laki yang membuat hatinya memanas.
“Aku Reymond, kau?”
“Aku Liora.”
“Beautiful name, like you,” ujar Rey menggoda.
“Thanks,” balas Liora namun tetap tak menatap Rey. Dia masih tetap sibuk dengan pandangannya.
“Apa aku terlalu jelek untuk kautatap? Kau malah sibuk dengan pandanganmu pada lelaki rendah yang hanya puas dengan wanita seperti itu?” tanya Rey sedikit kesal karena baru kali ini dirinya tak diacuhkan oleh seorang wanita.
“Kau benar! Dia memang lelaki rendah yang hanya puas dengan wanita murah seperti itu!” ujar wanita itu, akhirnya menoleh saat Rey sedang meminum birnya. “Dan dia adalah mantan tunanganku yang bodoh karena meninggalkanku hanya untuk wanita seperti
itu,” imbuh Liora kembali menatap mantan tunangannya, membuat Rey sedikit tersedak mendengar pernyataan wanita yang ada di sebelahnya.
“Dia melihatku, kau harus berpura-pura menjadi tunanganku.”
“Apa?!” Rey semakin terkejut dan tanpa mendengar jawaban lagi, wanita itu langsung melumat bibir Rey dengan agresif.
Rey dengan otomatis memegang pinggang ramping Liora dan memperdalam ciumannya. Begitu juga dengan Liora yang mengalungkan tangan dan menempelkan tubuhnya yang berdiri agar dirinya merapat dengan tubuh Rey yang berposisi duduk.
Namun, ciuman itu tak berlangsung lama karena lelaki yang diakui Liora sebagai mantan tunangan menarik kasar tangan Liora yang melingkar sempurna di leher Rey.
“Sedang apa kau di sini?! Dan siapa lelaki kurang ajar ini?!” bentak lelaki itu sambil menunjuk Rey.
“Bukan urusanmu lagi!” jawab Liora tak kalah membentak.
“Dia menyentuhmu, dan itu urusanku karena kau tunanganku!” jawab lagi lelaki tersebut.
“Wait! Apa aku tak salah dengar? Kau!?
Tunangannya?! Hah! You kidding me?!” Rey
meremehkan sambil berdiri dan melindungi Liora agar mundur ke belakang tubuhnya.
“Ya! Memangnya kau siapa?! Berani menyentuh wanitaku!” bentak lagi lelaki tersebut.
“Aku calon suaminya!” balas Rey santai.
Lelaki tersebut tak percaya, tapi dirinya sudah memanas melihat Liora dicium begitu mesra. Dia hendak melayangkan tinju ke arah wajah Rey, tapi dengan cekatan Rey menangkap kepalan tangan lelaki tersebut.
“Kau tak berhak menyentuhku! Bahkan tanganku sudah kau kotori karena harus menahan tangan lemahmu!” ujar Rey memelintir tangan tersebut membuat si lelaki itu menjerit menahan sakit.
“Bro, tolong ya!” ujar Rey kepada salah satu orang yang dikenalnya, dan hendak pergi membawa Liora keluar dari bar tersebut.
“Mau ke mana kau, Berengsek?!” umpat lelaki itu lagi masih tak kapok, walau tangannya masih dipegangi.
Namun, Rey tak menjawab, bahkan menoleh pun tidak. Dia malah mencium pipi Liora dan mengacungkan jari tengahnya. Lelaki tersebut tiba-tiba diangkat oleh dua lelaki bertubuh besar memakai pakaian hitam dan membawanya keluar dari pintu belakang bar tersebut. Lelaki itu meronta, tapi tak
membuahkan hasil karena kakinya saja melayang karena tubuhnya yang terangkat.
“Xander, aku pulang duluan. Di bawah ada sedikit masalah, tapi sudah kubereskan. Kuharap kalian tak terganggu,” ucap Rey di ujung telepon.
“Masalah apa lagi, Rey? Kau mencium wanita milik orang lain lagi?” tanya Xander yang sudah tahu kebiasaan Rey yang selalu membuat masalah saat pergi ke bar, dan Xander-lah yang harus membereskan.
“Tidak, tapi wanita itu yang menciumku lebih dulu. Kauselesaikan saja pekerjaanmu dengan Dennis,” ujar lagi Rey menatap wanita yang sudah mabuk berada di kursi penumpang di dalam mobilnya.
“Hei, tampan, cepat cium siniii ...,” ujar Liora menarik Rey.
“Astaga, Rey. Kau membawa wanita seperti apa lagi?” tanya Xander di ujung telepon.
“Besok kujelaskan. Aku harus mengurusnya. Bye,” ucap Rey menutup teleponnya.
“Hei, hentikan. Kau terlalu mabuk! Kaupikir aku lelaki murahan! kau sudah mencuri bibirku tadi,” ujar lagi Rey ketika Liora naik dan duduk di atas pangkuan Rey dan menghadapnya.
“Leora! Eh Liora, ah, siapalah kau! Macan betina! Di mana rumahmu? Mana tasmu? Aku harus melihat
KTP-mu,” ucap Rey menahan wajah Liora yang hendak menciuminya.
“Astaga, apa tasmu tertinggal di bar?!”
“Bawa aku ke tempatmu! Jangan ke rumahku … ihik! Hehe, apa kau juga tak mau denganku? Aku sudah bersedia menyerahkan tubuhku! Aku ingin tahu apa yang lelaki berengsek itu inginkan? Karena aku tak mau making love dengannya, dia meninggalkanku dan pergi dengan w***********g itu. Aku ingin tahu bagaimana rasanya ...,” ujar Liora semakin ngelantur dan terlelap di bahu Rey.
“Huh … kau akan merasakannya saat sudah mendapatkan lelaki baik-baik nanti, tapi bukan lelaki itu ataupun aku,” ujar Rey setelah memindahkan Liora ke kursi penumpang dan memakaikannya seatbelt.
Lalu Rey menjalankan mobilnya, dia sendiri bingung harus membawa wanita itu ke mana, karena berputar-putar tak jelas, dia juga tak ingin membawa wanita itu ke hotel, entah kenapa kali ini dia tak ingin membuat wanita itu dipandang murahan oleh orang hotel tempat langganannya membawa wanita yang biasa menemani malamnya.
Karena tak ada tujuan jelas, akhirnya dia berhenti di apartemennya. Dia memandang sekali lagi wajah lelap Liora. Di balik make up yang dikenakan wanita itu, Liora terlihat seperti gadis polos yang sedang membutuhkan seseorang untuk menguatkannya.
Cukup lama Rey memandanginya sampai dia tak sadar kalau wanita tersebut sudah terbangun.
“Hai, handsome … kita sudah sampai tempatmu? Ayo cepat bawa aku ke kamarmu. Karena kau sudah membantuku, jadi malam ini aku milikmu … hehe …,” ujar Liora diakhiri sedikit tawa.
“Hei … sudahlah, kau jangan bermain-main denganku! Katakan di mana rumahmu?” tanya Rey.
“Aku lupa! Sudah, cepat bawa aku ke kamarmu!” ujar lagi Liora sambil merangkul leher Rey dan menciumnya.
Rey menarik dirinya. “Hentikan, Liora! Aku tak mau kau menyesal nantinya, cepat katakan di mana rumahmu!?” tanya Rey namun Liora malah tertawa.
“Bahkan lelaki setampan dirimu saja tak menginginkanku! Pantas saja lelaki itu lebih memilih w***********g seperti itu. Baiklah … aku akan pulang dengan taksi,” ujar Liora membuka pintu dan hendak keluar walau tubuhnya sempoyongan.
Astaga … apa aku sedang diuji? Hah! Aku tak tahu dengan apa yang terjadi nanti! Aku akan bertanggung jawab jika dia membuatku khilaf! batin Rey akhirnya keluar dari mobil dan memapah Liora yang berjalan sempoyongan dekat mobilnya.
“Baiklah, malam ini kau boleh tidur di apartemenku! Tapi aku tak bisa menjamin jika terjadi
hal yang akan kau sesali nantinya, yang jelas aku akan tanggung jawab,” ucap Rey sambil menggendong Liora ala bridal.
“Kau berubah pikiran? Oh baiklah … aku memang tak pernah melakukannya, tapi aku ingin belajar darimu cara memuaskan lelaki berengsek sepertinya.”
“Perlu kau ingat! Aku ini tak berengsek, tapi sedikit nakal. Jadi, jangan samakan aku dengan mantanmu itu!” ucap Rey yang sudah tiba di depan pintu apartemennya dan masuk, lalu meletakkan Liora di kamarnya dengan pelan.
Saat dia hendak bangkit, Liora menarik tangan Rey sampai dia terjatuh tepat di atas Liora.
“Hei …!” Rey hendak protes dengan perlakuan agresif dari Liora. Namun, belum sempat dia bicara, Liora sudah lebih dulu meraup bibir Rey. Walau permainan bibirnya tak begitu mahir, tapi Rey menikmatinya dan membalasnya. Bahkan mengambil alih permainan bibir dan lidah itu. Liora yang masih di bawah pengaruh alkohol hanya menikmatinya, dan saling b******u mesra di bawah malam yang redup untuk bersama melepaskan masalah.
*
Liora
Aku tak tahu apa yang kulakukan ini benar atau salah. Aku seperti sedang bermimpi karena perlakuan tak adil dari Christoper selaku mantan tunanganku
yang memintaku untuk melayaninya di atas ranjang seminggu yang lalu.
Aku memakai baju dan make up yang membuatku berubah seperti Cinderella dari negeri dongeng. Temanku yang membuatku terlihat sangat menarik malam ini. Dengan baju ketat yang sangat seksi di bagian belahan dadaku yang menyembul keluar, membuat mata para lelaki b******k seperti Christoper menatapku dengan tatapan lapar, tapi aku tak peduli. Mataku hanya tertuju pada Christoper yang sedang digoda oleh para jalang. Aku tak heran jika dia begitu. Karena selama berpacaran denganku, kami hanya sampai di tahap berciuman.
Hanya saja aku tak menyangka hubungan kami harus berakhir hanya karena aku menolak untuk making love dengannya sebelum kami menikah. Aku tersadar ternyata selama ini dia hanya ingin tidur denganku.
Katakanlah aku kuno, tapi inilah diriku. Aku tak ingin mengecewakan kedua orang tuaku yang membesarkanku dengan susah payah. Kami hanya hidup sederhana, walau ayahku mampu menyekolahkanku sampai lulus kuliah.
Aku bahkan belum bisa memberikan apa-apa karena selama ini uang penghasilanku selalu kugunakan untuk bersenang-senang dengan lelaki itu! Lelaki yang mengucapkan janji manis, tapi mempunyai otak jahat.
Malam ini aku ingin balas dendam dan membuatnya menyesal karena sudah meninggalkanku!
Aku mencoba minuman beralkohol yang sebelumnya tak pernah kusentuh, karena aku sudah tak tahan melihat dia yang terlihat biasa saja setelah putus denganku. Aku merasa sedikit tenang setelah meminum bir yang diberikan oleh bartender.
Kepalaku sedikit pusing karena minuman itu, tapi tiba-tiba ada yang menyapaku.
“Hai, boleh aku duduk sini?” tanyanya.
Hah! Ternyata semua lelaki sama saja! Tak bisa melihat wanita memakai pakaian seksi, batinku. Aku pikir tak ada salahnya jika hanya berkenalan. Lagi pula, lelaki ini tampan walau sedikit gombal. Perkataannya membuatku setuju dengan penilaiannya terhadap Christoper, dan kurasa aku bisa memanfaatkannya saat Christoper melihatku.
Baru saja aku bicara, Christoper sudah melihat ke arahku. Aku tak punya pilihan lain selain mencium lelaki tampan di sebelahku, karena memang ini tujuanku datang kemari. Aku ingin membuat Christoper menyesal telah meninggalkanku.
Aku berhasil. Aku juga tak tahu kenapa aku berani sekali mencium lelaki yang baru saja kukenal, mungkin karena efek minuman alkohol tersebut.
Christoper marah dan terlihat dia sangat cemburu! Apalagi saat dia melepaskanku dari ciuman mendadak dengan lelaki asing ini.
Kaurasakan itu berengsek! batinku bersorak, tapi kepalaku semakin pusing. Christoper terlihat menjadi banyak. Aku tak lagi bisa mendengar dengan jelas apa yang dia bicarakan. Lelaki yang kuakui sebagai tunanganku di depannya, membuatku nyaman berada di belakangnya. Aku kembali mengambil minumanku, tapi sepertinya aku malah mengambil minuman lelaki itu dan rasanya lebih pahit dari minuman yang ku minum sebelumnya. Aku malah semakin tak bisa mengendalikan diriku. Kurasa aku sudah benar-benar mabuk sekarang!
Sampai aku berada di mobil si tampan yang menolongku, entah kenapa dia terlihat menarik sekali. Mungkin karena wajahnya yang seperti bule, aku jadi bertindak agresif. Dia terus menolakku, sangat jual mahal! Padahal dia yang mengajakku untuk berkenalan lebih dulu.
Aku tak tahu lagi setelah itu. Aku terbangun lagi saat dia sedang menatapku. Kurasa dia tertarik denganku, tapi dia malah menanyakan di mana rumahku!
Aku tak bisa pulang dalam keadaan seperti ini! Aku tak mau membuat mama dan papa malu karena
mendapati anaknya pulang dengan keadaan kacau dan pakaian yang kekurangan bahan.
Aku mulai bicara melantur lagi, dan akhirnya dia menyerah karena aku berpura-pura ingin pulang. Dia menggendongku. Aku terbangun saat sudah sampai di kamarnya. Dia hendak berdiri dan meninggalkanku, tapi aku tak ingin ditinggalkan lagi. Aku sudah muak menjadi anak baik yang dimanfaatkan lelaki berengsek seperti Christoper! Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku menariknya hingga dia terjatuh dan aku menciumnya lagi. Kali ini dia membalasnya dengan lembut, entah kenapa aku malah menyukainya, dan menginginkan lebih.
Ini sungguh seperti mimpi. Di saat Christoper yang memintaku untuk making love, aku menolaknya dengan keras. Namun, sekarang aku malah ingin melakukannya dan parahnya dengan lelaki asing.
“Apa ini mimpiku? Jika ya, kenapa aku malah merasa ini seperti nyata?” ujarku setelah dia turun menciumi leherku. Aku merasa aliran darahku mengalir lebih cepat, jantungku berdetak seperti ada ribuan kuda yang berlari.
“Ini memang bukan mimpi, tapi aku janji akan membuat ini seperti mimpi indah untukmu,” balas suaranya yang terdengar serak diiringi desahan nafasnya yang dekat dengan telingaku.
“Baiklah, lakukan jika kau bisa membuatku bermimpi indah,” jawabku
“Kau yakin?”
“Ya.”
“Aku tanya sekali lagi, kau ini masih sadar atau sudah tak bisa membedakan mana kenyataan dan mimpi?” tanyanya lagi membuatku kesal. Sebenarnya dia mau atau tidak? Kenapa bertele-tele?
“Aku tahu ini kenyataan, dan aku juga sudah membulatkan tekatku. Jadi lakukan saja, tapi jangan terlalu kasar!” jawabku lagi. Aku memang mabuk, tapi aku tau ini kenyataan. Bahwa aku sedang bersama lelaki asing akan melakukan hal yang selama ini sangat terlarang bagiku.
“Baiklah, aku akan bermain dengan lembut. Tapi, aku peringatkan padamu, aku tak bisa berhenti di tengah jalan. Jika kau meminta berhenti, mungkin aku akan bermain sedikit kasar agar cepat selesai.”
“Sudahlah! Lakukan saja! Kau terlalu banyak bicara!” bentakku.
*
Rey
Huh! Wanita ini keras kepala sekali! Baiklah, bukan aku yang meminta, tapi dia yang memaksaku! batinku.
Aku tak mau membuatnya menyesal ketika sudah melepaskan kesuciannya, dia ini terlalu labil untuk seorang wanita yang sudah cukup dewasa.
Lalu aku melanjutkannya hingga kami melakukannya, dan aku merasakan manisnya dia. Entah kenapa dia sangat berbeda. Dia begitu indah, dan rasanya ... baru kali ini aku menemukan wanita sepertinya.
“Thank you.Tidurlah, aku akan memelukmu dan membuatmu tenang,” bisikku yang kurasa dia sudah lelah dan langsung terlelap.
Aku memeluknya sampai napasnya teratur, entah kenapa baru kali ini aku merasakan hal yang berbeda dari wanita lain. Dia begitu tenang saat tertidur. Aku merasa dia perlu kulindungi. Memeluknya membuat jantungku berdebar tak keruan, aku hanya ingin membuatnya tenang dan nyaman berada di dekatku.
Aku akan membantumu melupakan lelaki berengsek itu. Aku janji aku akan melindungimu, batinku berucap dan aku mulai terlelap.
*