Bab 6

2661 Words
Jatuh cintalah saat kau siap, bukan saat kau kesepian..   Setelah beberapa hari Dewa tidak melihat gadis itu akhirnya dia bisa kembali kerumah. Rumah yang biasanya tidak pernah dia rindukan kehangatannya, kali ini bagaikan mimpi bisa merasakan rasa hangat itu dengan cepat. Namun saat dirinya menyadari sesuatu disana, entah mengapa ada perasaan tidak suka menyelimuti hatinya. Pandangan mata gadis itu seakan terluka. Sorot matanya pun begitu redup tidak seperti biasanya. Ingin rasanya Dewa bertanya ada apa gerangan dengan gadis-nya itu, tapi mulutnya masih tidak berani untuk menunjukkan suatu kepedulian didepan gadis itu. Cukup seperti ini saja untuk kali ini. Tidak ingin berharap lebih karena luka yang membekas belum hilang rasa sakitnya. Zalika.. mengapa gadis itu begitu memikat dirinya. Padahal dia tidak pernah menarik perhatian Dewa sedikitpun. Tapi tunggu dulu, Dewa merasa ada yang berbeda dari Zaza. Dari ujung kaki hingga ujung kepala, Dewa terus saja menatap Zaza. Dia masih berpikir, apa yang membuat gadisnya itu berbeda. Ternyata gadis-nya itu telah menutupi kepalanya. Alhamdulillah.. Zaza sudah memilih jalan yang benar. Tanpa dia harus susah payah memberitahunya dulu. "Mas, kamu sudah pulang?" Nenek yang pertama menyadari kehadiran Dewa disekitarnya. Lalu berikutnya saat Zaza tahu Dewa telah kembali, dia memilih kembali kedapur masih dengan pakaian baru yang dibelikan oleh nenek. "Iya bu.." "Kamu mau makan mas?" Tanya nenek sembari mengikuti langkah Dewa menuju kamarnya. Perlahan Dewa menggeleng, dia tidak lapar sekarang ini. "Nanti saja bu" Baru saja Dewa membuka pintu kamarnya, nenek menahan tangan anak laki-lakinya itu. "Bantu ibu untuk bujuk putra mu. Barusan dia marah sama nenek" Sebelah alis Dewa terangkat keatas, ada masalah apalagi antara ibunya dengan Gill. Bukan hal aneh memang jika mereka berdua ribut dalam perkataan. Tapi baru kali ini ibunya meminta dirinya untuk membujuk Gill. Apa sudah sangat keterlaluan? "Nanti mas bujuk" "Ya sudah istirahat dulu kamu." Hampir satu jam Dewa mengistirahatkan tubuh dan pikirannya didalam kamar. Baru ketika hari menjelang malam dia keluar dari kamarnya. Tubuhnya memang sudah lebih segar tapi tidak dengan pikirannya. Diliriknya sekilas pintu kamar yang berada diseberang kamarnya. Pintu itu tidak pernah dia masuki lagi sejak wanita itu telah tiada. 5 tahun sudah hubungannya dengan Gill tidak pernah baik kembali. Apalagi setelah malam itu. Malam dimana semuanya berawal dari kesalah pahaman. Tokk.. tokk.. "Gill.." panggilnya. "GILL.. GILLI..." panggilnya lebih keras. Dewa mengecek arlogi ditangannya, sudah waktunya untuk makan malam. Seharusnya Gill tidak tidur. Atau apa mungkin anaknya itu belum bangun? "Gi..." baru saja Dewa ingin memanggil kembali, pintu sudah terbuka lebar. Wajah anaknya itu nampak baru bangun tidur. Tidak ada wajah sedih atau terluka disana, yang ada hanya wajah datar seperti biasa. "Hm..." "Turun, saya tunggu dibawah" perintahnya. Gill diam, tidak menanggapi namun juga tidak menghindar. Ditatapnya lekat kedua mata hitam milik Dewa, lalu terbitlah sebuah senyuman mengejek darinya. "Apa perempuan tua itu yang menyuruh mu?" "Gill.. dia itu nenek mu. Mau bagaimana pun kamu membencinya, semua itu tidak akan pernah berubah" "Ah, iya. Anggap saja benar. Jika anda mau memulai ceramah, saya lelah mendengarkannya" Ketika Gill ingin menutup pintu kamarnya, dengan cepat tangan kanan milik Dewa menahannya. Dia ikut membalas senyum Gill tidak kalah mengejek. "Apa terlalu sulit mengucap syukur dihati mu?" "Syukur untuk apa? untuk mendapatkan nenek seperti itu" "Gill, jangan hubungkan masalah satu dengan yang lain?" "Hohoho, anda merasa punya masalah yang lain dengan saya?" Gill melipat tangannya didada dan memandang Dewa dengan sinis. "Kau yang selalu seperti ini. Saya tidak pernah percaya darah saya mengalir ditubuh mu !! Karena..." "Saya juga tidak mau memiliki ayah seperti anda..!!!" Ketus Gill. Dia masuk dengan membanting kuat pintu kamarnya. Dewa tidak berkomentar apapun dengan kelakuan Gill. Semua ini terjadi karena salahnya yang tidak bisa mendidik dengan baik. Lihatlah anak mu yang tidak pernah sama dengan ku.. Dewa mendekati ruang makan yang masih sepi. Padahal waktu makan malam sebentar lagi habis dan berganti menjadi waktu untuk beristirahat. Piring-piring yang seharusnya telah tersusun rapi diatas meja makan nampak tak ada satu pun. Pelayan yang biasanya berlalu lalang, tidak terlihat oleh Dewa. Kemana perginya semua orang? Dari arah pintu belakang terdengar suara tangisan. Dewa terburu-buru memastikan yang menangis bukan gadis itu. Ketika jaraknya sudah mendekat, Dewa menghentikan langkah kakinya. Penerangan taman belakang yang tidak begitu terang membuatnya kesulitan dalam mengenali siapa yang tengah menangis. "Tenang nek. Sabar." Ucapan menghibur dari seseorang dapat Dewa dengar ditelinganya. "Nenek bingung Za, kapan Gill bisa kembali seperti dulu. Kapan keluarga ini tenang. Waktu nenek rasanya sudah tidak lama lagi" "Nenek. Jangan begitu" histeris Zaza sembari memeluk tubuh nenek. Dewa sadar itu suara gadis-nya. Jika diperbolehkan, dia ingin menjadi tempat sandaran untuk Zaza. Walau sandarannya itu tak pernah terlihat. "Za, kalau terjadi sesuatu sama nenek. Tolong jangan pernah keluar dari rumah ini. Nenek percaya sama kamu. Tolong perhatikan Kasa, dia itu hanya butuh kasih sayang. Dan juga, tolong kamu lindungi Dewa.." "Lindungi pak Dewa. Kenapa memangnya nek?" "Dia terlalu sering terjatuh dalam sebuah masalah. Bagi orang yang belum mengenalnya, dia hanya laki-laki dingin yang tak memiliki perasaan. Tapi saat kamu telah mengenal dia dengan baik, kamu akan tahu betapa rapuhnya dia." "Nek, tolong, jangan mati sekarang, Zaza masih butuh nenek" isak Zaza tak terima mendengar semua pesan-pesan dari nenek. Nenek mencubit pipi Zaza dengan kuat. Rasanya gemas berbicara dengan gadis belia ini. "Siapa yang mau mati sekarang sayang? peran nenek masih banyak. Kasa dan Dewa masih butuh nenek." "Ih kirain...!!! Bikin kaget aja" kesal Zaza. Nenek tertawa puas karena kepolosan dari pemikiran Zaza. "Mas, kamu ngapain berdiri disitu gelap-gelapan?" dia semakin tertawa kencang karena melihat Dewa bagai patung pengusir setan. Posisi tubuh anaknya itu berdiri dibalik rimbunnya tanaman dihalaman belakang rumah ini. Tapi karena tshirt putih yang sedang Dewa pakai membuatnya terlihat dengan jelas. "Bu, kenapa nangis?" Tanya Dewa tanpa basa basi. "Kamu itu mas, sama kertas bisa bicara romantis, sama laptop mu juga. Lah sama ibu sendiri dinginnya ngelebihin biang es. embok ya romantis sedikit toh" "Romantis apaan sih bu?" Jawabnya dingin. Dengan sangat pintar Dewa seakan biasa saja dihadapkan dengan perempuan muda itu. Padahal kenyataannya kerja jantung miliknya tengah maraton sepanjang jalan raya anyer-panarukan. Lalu hatinya sedang menggali sedalam samudra. Mencari titik letak dimana kesalahannya kali ini. Kenapa setiap dihadapkan dengan gadis ini dia mendadak aneh? "Ya Romantis toh mas, kalau ibu liat di luaran sana romantis ibu dan anak buat ibu minder sendiri. Pengen begitu tapi anak ibu modelnya begini. Terus mau romantisan sama cucu, yang ada perang melulu.." "Harusnya ibu alhamdulillah, masih bagus kan cara romantis kita beda" "Beda apanya? Kok malahan alhamdulillah." "Mau bagaimana pun kami, aku dan Gill, harusnya ibu bersyukur. Karena masih banyak diluar sana yang tidak memiliki anak" "Tapi kalau yang disyukuri nggak tau diri gimana? Kadang ibu mikir, apa kamu bisa romantis mas?" tatap ibu penuh tanya. Pikiran buruk mulai menghantuinya, apa memang anaknya ini tidak bisa menunjukkan sedikit sifat romantisnya didepan orang tuanya sendiri. "Romantis nggak perlu ditunjukkan didepan orang banyak" "Terus didepan siapa?" Dewa menatap Zaza sekilas, gadis itu diam dan menunduk saja sedari tadi. Jangan-jangan dia.. "Zalika !!!" Panggil Dewa. "Eh.. iya pak" jawabnya tersentak kaget. "Kamu tidak tidur kan?" Zaza menggigit bibirnya, dia memang tertidur tadi sebentar namun terbangun karena suara Dewa yang tiba-tiba saja memanggilnya. "Mas, kamu nggak lagi modus sama Zalika kan?" Potong nenek dengan cepat. Zaza langsung saja tersedak mendengar kalimat spontan dari nenek. Sedangkan Dewa hanya diam. Untuk apa dia mengelak toh semuanya benar adanya. "Ya Allah benar-benar kamu mas, ibu bisa mati cepat kalau kamu sampai dekatin Zaza" makinya. "Ibu, apa-apaan sih?" "Kamu yang apa-apaan. Romantisan sama ibu nggak mau, tapi mau romantisan sama perempuan lain. Ya Allah mas, dia ini seumuran anakmu" "Bu !! Dewa tidak romantisan sama siapapun. Ibu kalau ngomong jangan asal nuduh" Dewa membuang pandangannya jauh kearah lain. dia terus saja merapal doa dalam hati, agar rasa gugupnya tidak terlihat dimata ibu kandungnya. "Memang belum tapi kamu mau kan?" Dewa diam tak berani melihat ibunya. Nenek memijat keningnya sembari berjalan masuk kedalam rumah meninggalkan Zaza dan Dewa. "Masuklah" ucap Dewa ketika selama hampir 5 menit keduanya hanya terdiam tak saling pandang. Mungkin keduanya sama-sama sibuk menenangkan detak jantungnya yang memacu sangat cepat. ~***~ Hampir tengah malam Dewa masih belum bisa memejamkan mata. Tubuhnya memang benar sudah beristirahat namun pikirannya masih melayang entah kemana. Kerena bingung mau melakukan apa, dia menarik laci nakasnya lalu membuka kembali sebuah map biru. Dibacanya dengan benar setiap informasi yang tertera disana. Mulai besok dia akan menyerahkan map yang sama dengan ini proposal yang berbeda kepada orang itu. Tekadnya sudah bulat. Dekati walinya bukan dirinya. Jika diawal baik belum tentu berakhir baik. Namun jika diawal buruk maka tugas kita adalah memperbaikinya diakhir. "Za..." Lagi-lagi Dewa dipertemukan oleh Zaza. Walau sejak tadi gadis itu nampak menghindarinya. Tapi kembali lagi Dewa dapat menemukannya. Dewa awalnya berniat ingin kedapur untuk membasahi tenggorokannya dengan segelas air, tapi langkahnya terhenti melihat Zaza. Seperti saat ini, Zaza tengah duduk didepan sebuah piano besar yang memang sengaja diletakkan ditengah rumah. Jari-jari lentiknya mengusap lembut tuts-tuts piano itu. Dia ingin memainkan nada menjadi musik yang indah. Tapi apalah daya, dia tidak mampu melakukannya. "Bapak.." "Sedang apa kamu tengah malam disini?" tegur Dewa. "Ini pak, mau belajar." "Kalau belajar itu dimainkan bukan dilihat saja" Tanpa rasa bersalah Dewa mendekati Zaza yang diam mematung. Gadis itu seperti tidak siap dengan kehadiran Dewa yang begitu dekat. Dia takut suara detak jantungnya sampai terdengar ketelinga Dewa. "Mau nyanyi lagu apa?" Tanya Dewa. Zaza menggeleng dengan cepat. Mengapa berbeda rasanya saat dia bersama Gill tempo hari. Bersama Gill dia bisa menjadi gadis yang tak memiliki urat malu sedikitpun. Namun bila dekat dengan Dewa, dia seakan sudah tersihir dengan daya pikat laki-laki satu ini. Perlahan jemari Dewa menari diatas tuts piano hingga menghasilkan bunyi musik yang cukup indah. I thought of this before over a million times (Aku telah memikirkan ini sebelumnya lebih dari sejuta kali) Who would've ever thought that it would be our time? (Siapa yang mengira jika akan menjadi waktu kita) I just know it, 'cause you're the one (Aku baru saja mengetahuinya, karna kamu satu-satunya) It ain't a selfish love, when I'm with you (Bukan sebuah kegoisan cinta, ketika aku denganmu) You remind me of Allah, and so I know it's true (Kamu mengingatkanku kepada Allah, dan aku tau itu benar) I'll just say it: you are the one (Aku hanya akan mengatakan: Kamu satu-satunya) Zaza menikmati setiap bait yang dinyanyikan oleh Dewa. Bagaikan lirik lagu tersebut memang menuliskan kisah mereka berdua. Terkadang Zaza ikut ternyum kearah Dewa yang juga tersenyum kepadanya. Zaza tidak pernah menyangka suara yang dimiliki Dewa begitu indah. Bahkan Gill yang nyatanya adalah seorang artis kalah bagus suaranya dengan Dewa. Bapak dan anak yang mengagumkan, batin Zaza. Won't you be my BFF (best friend forever) and ever? (Tidak mau kah kamu menjadi BFF (teman terbaik selamanya) dan yang pernah ada? ) Won't you be my partner after this world? (Tidak mau kah kamu menjadi pendamping saya setelah hidup di dunia ini?) We'll see it, when we believe it together (Kita akan lihat, ketika kita mempercayai itu semua) Dreams are meant to be, 'cause you're the one for me (Semua mimpi ditakdirkan terjadi, karena kamu satu-satunya untukku) I never thought that I would ever feel this way (Aku tidak pernah berpikir jika aku akan merasakan hal ini) I ask Allah to bless you every single day (Aku meminta Allah untuk memberkahi setiap harimu) I'll just say it, 'cause you're the one (Aku hanya akan mengatakan, kamu satu-satunya) And when times are tough, and we've got the world to see (Dan ketika waktu-waktu sulit, dan kita sudah mencapainya) Standing right beside you is where I want to be (Berdiri tepat di sampingmu adalah yang aku mau) I just know it: you are the one (Aku baru saja mengetahuinya: Kamu satu-satunya) I prayed about this just over a million times (Aku telah mendoakan ini sebelumnya lebih dari sejuta kali) Who would ever thought that I could call you mine? (Siapa yang mengira jika aku dapat memanggilmu milikku?) I just know it, 'cause you're the one (Aku baru saja mengetahuinya, karna kamu satu-satunya) And when there's gray in our hair and we've not much to do (Dan ketika sudah ada banyak uban di rambut kita dan kita tidak punya banyak hal untuk dikerjakan) I want to spend the rest of my days with you... (Aku ingin menghabiskan sisa hari-hariku denganmu...) Oh don't you know it? (Oh tidak tau kah kamu tentang itu?) You are the one, you are the one (Kamu satu-satunya, kamu satu-satunya) Oh won't you be the one? (Oh tidak mau kah kamu jadi satu-satunya) Zaza masih saja terpukau, padahal lirik lagu yang dinyanyikan Dewa telah habis. Mereka berdua saling memandang seakan ikut terlarut kedalam suasana tengah malam yang cukup romantis itu. "Won't you be the one?" Ulang Dewa. Namun tidak ada respon dari Zaza. Gadis itu seperti tidak paham dari maksud kata-kata Dewa barusan. Yang dia pikir Dewa masih bernyanyi melanjutkan lirik tersebut. Karena merasa semua ini terlalu cepat, Dewa hanya tersenyum manis lalu bangkit dari posisi duduk sebelah Zaza. "Istirahatlah" perintahnya. Lalu pergi meninggalkan Zaza dengan segala kegundahan hatinya. Sepeninggal Dewa, Zaza meringis merasakan sakit. Bukan pada fisiknya, melainkan pada perasaannya. Perasaan yang seharusnya tidak boleh ada mengapa harus muncul dengan cara yang berbeda dan begitu special. Zaza tahu benar siapa Dewa. Dan gadis ini juga tahu posisi nya saat ini seperti apa. Tapi siapa yang bisa menampik hadirnya rasa yang begitu indah ini. "Ya Allah. lindungi hati ku" rintih Zaza. ~***~ Pemandangan pagi yang tidak mengenakan bagi Dewa. Masih sangat pagi, namun matanya sudah disakitkan dengan kedua manusia muda diruang makan pagi ini. Sesungguhnya, bukan hanya matanya yang sakit. Namun hatinya juga sama. Beginilah memang perasaan manusia yang tengah dimabuk cinta. "Ehem.." dehemnya. Zaza yang awalnya tengah melayani makan Gill, menundukkan wajahnya yang bersemu merah. Dia malu jika Dewa sampai melihat wajah merahnya. Apalagi jika mengingat kejadian tadi malam semakin membakar perasaan Zaza. Semalam memang malam paling romantis bagi Zaza, tapi dia tidak tahu apa Dewa berpikir sama sepertinya? Tapi ternyata yang Zaza tidak terpikirkan, Dewa nyatanya melihat hal itu. Namun dengan pikiran yang lain. Laki-laki itu berpikir jika rona merah di pipi Zaza karena ulah Gill pagi ini. Sungguh sakit rasanya. Padahal baru malam tadi dia berpikir hubungannya akan menjadi seindah Rasulullah dan Khadijah. Tapi nyatanya kisah itu terlalu bagus. Karena saat ini kisah Dewa dan Zaza lebih mirip dengan kisah Ali dan Fatimah. Dimana Ali hanya menunduk tak berani berjuang karena dia tahu Fatimah akan bahagia dengan orang yang tepat. Tak bernama bukan berarti tak bermilik.. Hidup adalah serangkaian perubahan alami... Ia spontan, kadang tak terkendali... Seperti seorang pengendara mobil, motor... Sekalipun sudah berhati hati tetap saja... Menabrak atau di tabrak.. Engkau yang tak bernama.. Ketika kau seakan tersenyum padaku... Aku tidak bisa menjaga hatiku untuk keluar... Dari pesonamu dan kelopak indah matamu... Dan ketika matamu memandang diriku... Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak Jatuh Cinta Padamu... Lamunan Dewa usai saat ibunya mengusap lembut bahunya. Seakan tahu apa yang dirinya rasakan saat ini senyum dari ibunya membawa angin yang cukup segar pagi ini. "Makanlah mas" dia hanya mengangguk saja tanpa memakan sarapan dihadapannya. Zaza tengah menanti pujian lagi dari bibir Dewa pagi ini. Tapi semuanya pupus begitu saja saat kedua matanya terkunci dengan sinar mata hitam itu. Biasanya dia hampir tidak bisa melihat pantulan dirinya ketika menatap mata itu. Namun pagi ini mata hitam itu berselimuti kabut kesedihan. Mengapa dengannya? Zaza ingin menjerit bertanya pada laki-laki itu. Ada kerisauan apa yang melanda hati Dewa. Ingin rasanya Zaza berlari mencari obat untuk menyembuhkan rasa sakit dari laki-laki itu. Tapi lagi-lagi kenyataan menamparnya, jika Dewa bukan miliknya. "Dewa pergi dulu bu..." ucapnya. Sekuat mungkin Zaza menahan laju air matanya, rasa sakit kali ini sudah sangat luar biasa. Bagaimana Dewa telah menghancurkan harapannya. Zaza sudah berusaha membuat sarapan dengan rasa yang lebih baik dari yang kemarin, namun ternyata Dewa tidak memakan masakannya yang sudah susah payah dia masakkan untuk Dewa seorang. Dia kecewa dan terluka kali ini.. ~***~ Aku terlalu jauh berlari sampai aku sadar ternyata kau tidak mengejarku lagi. Atau memang sesungguhnya kita berlari pada lintasan yang berbeda.. ----- continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD