Bahkan dalam mimpi pun kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama..
Zaza tidak paham mengapa pak Dewa menghindarinya akhir-akhir ini. Sejak pagi waktu itu semua seperti kembali dari awal. Tidak ada pak Dewa yang baik kepadanya. Tidak ada senyuman tulus pak Dewa yang dia rasakan.
Semua hampa.
Hingga kini Dewa seakan menghilang dari pandangan Zaza. Dia mulai mengingat-ingat kemungkinan kesalahan yang pernah dia perbuat. Namun tak ada satu pun kelakuan buruknya beberapa hari ini. Dia menjadi gadis manis yang bisa membanggakan nenek dan juga Gill.
Lalu apa lagi salahnya?
Diam-diam Zaza menggerutu. Laki-laki dewasa itu pemikirannya sulit sekali Zaza pahami. Sedikit-sedikit berubah layaknya seekor bunglon. Apa memang begitu semua laki-laki dewasa? Setahunya tidak. Pakde Danu tidak bersikap aneh seperti Dewa.
Hufff...
Hampir saja Zaza menampar orang yang tiba-tiba saja berada disebelahnya. Dengan seenaknya meniupkan udara ke telinganya. "GILL !!!" teriak Zaza.
"Kenapa? geli ya?" Tanya Gill.
Zaza mengerut kesal sembari mengupas beberapa bahan yang akan dia gunakan untuk memasak. Semakin hari Zaza semakin terampil dalam urusan dapur. Hasil masakannya pun semakin enak. Nenek tidak pernah segan-segan memuji hasil masakan Zaza. Karena memang nenek percaya Zaza mampu melakukannya.
"Kok cemberut sih? Jelek kamu kalau begini" kekeh Gill.
"Habisnya kamu gak liat-liat sih gangguin aku" rajuknya manja.
"Aduh, kalau begini terus aku bisa peluk kamu nih terus aku cium puas !!!" Ancam Gill. Tapi Zaza tidak takut sama sekali akan hal itu. Dia terus melanjutkan memasaknya sembari memperhatikan Gill yang tengah menjadi penonton dirinya dalam memasak.
"Oh Angkasa Gilli seorang penyanyi terkenal tidak memiliki hati. Harusnya kamu tanya ada yang bisa dibantu atau ambil inisiatif kek, bukannya diem kayak patung gitu aja"
"Wow.. kamu udah bisa suruh aku ya."
Zaza tersenyum seraya membetulkan posisi hijabnya. "Iya dong, kapan lagi nyuruh penyanyi terkenal"
"Biasakan untuk berkata tolong ketika meminta bantuan nona" kekeh Gill.
"Emang harus ngomong tolong dulu ya? Kalau aku gak mau?" Goda Zaza.
Gill mendekati gadis itu yang sudah memasang kuda-kuda untuk lari. Tapi dia kalah cepat, Gill berhasil menangkap Zaza lalu menggelitiknya hingga gadis itu tertawa mengeluarkan air mata.
"Ampun.. ampun Gill"
"Bilang tolong gak?" Paksa Gill. Kedua tangannya memeluk tubuh Zaza dari belakang. Tapi keduanya nampak tidak risih satu sama lain.
"Iya.. iyaa.tolong" lirih Zaza.
Gill melepaskan pelukannya, lalu mencium kening Zaza dengan hangat. Gadis itu tertegun sejenak. Bibirnya terbuka lalu terkatup kembali.
Ini adalah ciuman pertamanya.
Maksudnya, ciuman dari orang lain kepada dirinya untuk pertama kali.
"Gill.." panggilnya.
"Yes baby.." sahut Gill dengan napas yang tak teratur. Dia masih sibuk tertawa karena candaan mereka tadi.
Ketika Zaza tak lagi tertawa, Gill merapatkan mulutnya dan menatap bingung kepada Zaza. Ada apa dengannya?
"Kamu kenapa?"
"Anu.. an.. gak papa kok" jawab Zaza gugup.
Kenapa jantungnya berdetak sangat cepat seperti ini?
"Kok kamu tiba-tiba pucat begini?"
"Aku gak papa..." alibinya. Gill masih menatapnya bingung saat Zaza sudah kembali larut dalam pekerjaannya. "Benar kamu gak papa?"
"Iya Gill. Cepat bantu aku" paksa Zaza.
Dia sudah kembali lupa untuk berkata 'tolong' pada Gill. "Ye, maksa..." kekeh Gill.
"Emang gak boleh?" Cibirnya. "Gill, kamu kan muslim sama kayak aku. Harusnya tanpa aku minta, kamu langsung bisa sadar kalau aku butuh bantuan. Bukannya maksa aku untuk ngomong tolong dulu" gerutu Zaza.
"Kok kamu bawa-bawa muslim?" Tanya Gill tak suka. "Za, tolong jangan bawa-bawa agama jika ngomong sama aku" tegasnya.
Zaza diam seribu bahasa. Biasanya jika ada nenek, maka nenek yang akan menceramahi Gill jika sifat asli laki-laki muda ini sudah keluar.
Tapi kali ini Zaza hanya sendiri. Dia ingin menceramahi Gill namun ilmu agamanya saja hanya seperti irisan kulit bawang. Sangat tipis bahkan tak terlihat.
"Eheem..."
"Pak Dewa.." gumam Zaza. Tanpa sengaja sudut bibirnya tersenyum senang. Dewa, laki-laki ini akan Zaza paksa untuk berperan seperti namanya. DEWA...
"Kalian sedang apa berduaan seperti ini?"
"Anu pak.."
"Bukan urusan anda !!" Ketus Gill. Tatapan mata Gill seperti ingin menguliti Dewa hidup-hidup. Kehadiran Dewa kali ini sangat tidak tepat. Waktu yang harusnya dia gunakan untuk berduaan dengan Zaza harus dia bagi-bagi bersama Dewa.
Memangnya rela bagi-bagi?
"Semua yang dilakukan di rumah saya akan menjadi urusan saya"
"Rumah anda?"
"Iya, rumah saya. Ada yang salah? Atau kamu mau berkata ini rumah mu? Ini akan menjadi rumah mu saat saya telat mati !! Ingat itu Gill." Tegas Dewa. "Dan satu hal lagi, jangan pernah menyalahkan Tuhan jika jalan hidup mu tidak adil. Introspeksi lah !!"
"Anda yang harusnya introspeksi" lawan Gill. Kedua tangannya sudah bertolak pinggang menantang Dewa untuk melawannya.
Keduanya terdiam saling memandang sinis satu sama lain. Bahkan mereka tidak menyadari kehadiran Zaza ditengah mereka. Gadis itu sudah meloncat-loncat. Bergerak kesana kemari untuk menarik perhatian. Bergaya seperti ikan yang berjalan, namun tidak berpengaruh sama sekali.
"Zalika..."
Tubuh gadis itu membeku dengan posisi yang bisa membuat orang tertawa. Mungkin jika keadaan tidak sedang panas seperti ini, Dewa sudah tertawa bahagia melihat gadis-nya sangat menggemaskan.
"Iya pak.." sahutnya sambil meringis.
"Stop melakukan hal aneh seperti itu. Dan tolong buatkan saya kopi hitam. Antarkan keruangan kerja saya." Perintahnya. "Terima kasih" imbuhnya lagi.
Zaza tertegun, laki-laki seperti Dewa saja mampu memohon tolong kepadanya dan mengucapkan terima kasih di akhir kalimat permohonannya. Lalu mengapa dia tidak bisa bersikap begitu.
"Gill sudah dong jangan marah" bujuk Zaza.
"Suatu saat nanti kamu akan tahu keburukan dia" ucap Gill sebelum meninggalkan Zaza seorang diri.
~***~
Tanpa melihat awan putih diatas sana, aku tahu itu jauh. Tanpa merasa luka yang terkoyak, aku sadar itu sakit. Tanpa mengerti arti dari sebuah kata, aku sadar jika semuanya buta tanpa tanda baca.
Lalu mengapa aku tak bisa mengartikan cinta? Yang bawasannya memiliki arti yang sangat sempit tapi terasa begitu luas.
Kadang aku ingin merelakan semuanya, jika pada nyatanya kita hanya sepenggal kisah yang sudah ditinggalkan oleh penulisnya. Tanpa tanda baca. Tanpa jarak. Tanpa luka dan juga Tanpa akhir yang bahagia.
Tok.. tokk.
"Masuk.."
Gadis itu masuk kedalam ruangan yang sama dimana Dewa masih terus memikirkannya dalam sebuah kata yang terangkai.
Bukan untuk mengkhayalkan sesuatu yang tidak-tidak. Namun dia ingin merasakan jika gadis itu benar-benar bisa dalam lindungannya. Dan selalu dalam tuntunannya menuju jannah.
Apa masih kurang mulia keinginan Dewa?
Tapi mengapa rintangan selalu membuat langkahnya semakin sulit. Bahkan terlihat tak bergerak sama sekali. Sudah dia tekan berkali-kali rasa gugupnya dalam mendekati gadis ini. Namun lagi-lagi gagal.
Bukannya memang sejak awal dia telah gagal?
"Ini pak kopinya"
Zaza hendak berbalik namun perkataan Dewa menghentikan langkah kakinya.
"Jika memang keindahan tidak dapat saya miliki, ijinkan saya melihatnya bahagia suatu saat nanti"
Mulut Zaza terbuka lalu terkatup kembali dalam beberapa menit yang membisu diantara keduanya.
"Tidak-tidak. Jangan memasang wajah seperti itu. Saya tidak bermaksud membuat mu bingung" kening Zaza memang berlipat memikirkan cara terbaik untuk menjawab semua kata-kata Dewa.
"Mungkin bagi bapak, saya tidak paham kata-kata bapak. Tapi percayalah pak, waktu sekolah dulu bahasa Indonesia saya mendapatkan nilai terbaik" kekehnya.
Tertawanya begitu saja menular kepada Dewa yang nampak salah tingkah. Ketika mereka kembali terdiam, Zaza bertanya akan satu hal kepada majikannya itu.
"Bapak pernah mendengar kisah cinta merpati dan mawar.?"
"Hm. Pernah. Cerita lama."
"Ah kalau gitu saya ganti dengan pensil dan penghapus" ucapnya. "Pernahkah penghapus marah kepada pensil ketika banyak coretan yang sudah ditimbulkan oleh pensil itu?"
"Tidak.."
"Anggap saja itu jawaban dari kata-kata bapak tadi. Saya yakin bapak paham." Kekehnya.
"Kamu yakin saya paham?"
"Tentu saja. Lihat saja mading dibelakang kursi bapak. Semua untaian katanya begitu tersirat. Bahkan butuh pemikiran tinggi untuk mengartikan itu semua." Jelasnya dengan wajah kagum.
"Saya tidak sehebat itu."
Dewa menutupi rasa malunya, dia berdoa agar Zaza tidak paham maksud dari tulisannya. Karena semua yang tersirat disana adalah bukti cintanya untuk Zalika seorang.
"AH. Perasaan bapak saja" ucap Zaza.
Sebenarnya sejak tadi Zaza sudah berusaha menghilangkan rasa gugupnya. Hingga beberapa kata-kata yang tak seharusnya dia keluarkan begitu saja terlontar dari bibir mungilnya.
Kening Dewa berdenyit bingung. Mengapa nada bicara Zaza seperti perempuan penggoda seperti itu?
"Aduh.. maaf ya pak.. sekali lagi maaf" ucapnya. Kemudian dia telah pergi meninggalkan Dewa yang tersenyum tak jelas.
Baru beberapa langkah kakinya keluar dari ruang kerja Dewa, wajah Gill sudah menatapnya dari atas hingga bawah.
Zaza sadar wajah Gill tidak seperti biasanya.
"Gill.."
"Ikut aku.." ajak Gill.
Tanpa menunggu persetujuan dari Zaza, Gill sudah menarik tangan gadis itu dengan kuat. Hingga tanpa sadar mereka sudah tepat berdiri didepan mobilnya, Gill meminta Zaza masuk kedalam mobil itu. Lalu mengemudikan mobilnya menembus jalanan ibu kota.
Zaza menatap tabjuk pemandangan didepannya ini.
Sejak tadi dia diajak pergi oleh Gill, Zaza masih tidak berani bertanya. Namun saat sampai ditempat yang dituju dan menyajikan pemandangan yang begitu indah Zaza kembali terhanyut.
Saat ini dirinya dan Gill tengah berdiri dilantai tertinggi sebuah gedung apartement. Dan parahnya Gill telah menyiapkan semua ini sejak lama.
"Ya Allah Gill bagus banget" ucap Zaza. Dia terkagum-kagum menatap jauh pancaran dari sinar lampur ibukota pada malam hari.
"Kamu suka?"
Gill memposisikan tubuhnya disamping Zaza. Bahkan tinggi mereka berbeda jauh.
Hijab yang Zaza kenakan sedikit bergerak karena tertiup oleh angin yang cukup kencang. Malam ini angin begitu tak bersahabat dengan siapapun. Begitu pula dengan Zaza. Tubuhnya sedikit menggigil kedinginan.
"Lebih baik?" Tanya Gill.
Dia memeluk tubuh gadis itu dari belakang. Rasanya begitu nyaman. Seperti yang Zaza harapkan selama ini. Sosok seorang kakak yang tidak pernah Zaza miliki.
Kakak ?
"Iya, terima kasih"
Zaza merasa aneh dengan Gill yang tertawa dibelakang tubuhnya. "Gill, kamu sehat kan?"
"Kalau laki-laki itu melihat kita seperti ini entah apa yang akan dia lakukan"
"Siapa?" Tanya Zaza yang tidak mengerti maksud dari kata-kata Gill.
"Siapa lagi kalau bukan Dewangga"
"Pak Dewa maksud mu?"
"Iya. Kamu tahu kan bagaimana dia menurut banget sama Tuhannya itu"
"Gill !!! Itu juga Tuhan kita" bentak Zaza tak suka.
"Bukan.. itu bukan Tuhan kita. Aku nggak suka kamu dipengaruhi yang tidak-tidak oleh nenek dan laki-laki itu"
"Tapi Gill, semua ini memang nggak seharusnya begini. Dalam Islam memang nggak boleh bersentuhan diluar hubungan yang jelas."
"Jadi kamu mau ceramahin aku juga?" Gill membalik tubuh Zaza agar menghadapnya.
"Iya, aku ingin menjadi lebih baik Gill. Untuk Allah"
"Bukan untukku?"
Zaza menggeleng lemah. "Kamu bukan siapa-siapa ku Gill. Bahkan aku tidak seharusnya begini. Ayolah Gill. Jangan membuat ku terdesak. Memang sejak SMA, yang ku ingin kan cinta antara aku dan laki-laki. Tapi semakin kesini aku sadar. Yang aku butuhkan bukan itu. Aku butuh cintaNya bukan cinta makhluknya." Jelas Zaza.
"Jadi kamu..."
"Dengarkan aku dulu Gill.." ditakupnya kedua pipi Gill oleh tangannya. Lalu ditatapnya lekat manik mata Gill yang berwarna cokelat. "Aku sayang sama kamu. Aku mau membantu kamu sebisa yang ku mampu. Dan.."
"Dan?" Ulang Gill.
"Dan jangan pernah tinggalin aku" jelasnya. "Ibu ku dikampung pernah bercerita, jika sejak bayi aku sudah ditinggalkan ibu kandung ku."
"Lalu?"
"Cukup sekali aku merasakan seperti itu." Lirihnya.
Gill memeluk erat tubuh Zaza, kemudian mengecup pucuk hijabnya.
"I always be with you, Za.."
Bibir Zaza tersenyum bahagia didalam pelukan Gill.
Dalam hatinya Zaza berdoa, agar Tuhan tidak membebankan dosa yang berat kepadanya karena telah melanggar larangannya.
"EH... KALIAN.. !! inget, ada eike disini. Jangan peluk-peluk begitu. Eike juga pengen cin" teriak Ray.
Jangan bertanya mengapa Ray ada disini, karena memang gedung ini adalah apartement yang dia tempati. Sejak beberapa hari yang lalu, Gill sudah meminta ijin dengan Ray untuk mengajak Zaza ke lantai tertinggi di apartementnya. Niat laki-laki itu ingin menyatakan perasaannya. Tapi ketika tadi mendengar kata-kata dari gadis yang dia cintai, semua kalimat yang dia telah susun dihapus kembali olehnya.
Mungkin belum saat ini, atau bisa jadi tidak akan pernah terucap perasaan hatinya.
"Diem lu banci !!!"
"Ye, biar banci begini yey juga pakai eike buat jadi asisten yey"
Zaza dan Gill tertawa kompak. Apalagi melihat pakaian yang dipakai Ray malam ini. Sangat diluar dugaan.
"BANCI INSAF !!!"
Ray yang duduk tak jauh dari Zaza dan Gill tengah menyelimuti tubuhnya dengan sebuah selimut. Hingga kepala nya tak lupa dia tutup juga. Karena selimut lebar itu membuat Ray seperti berhijab panjang.
Sangat menggemaskan, batin Zaza.
"Sirik yey lu pada"
"WOO..."
Mereka bertiga tertawa sembari mengejek satu sama lain. Sedikit menghilangkan perasaan sakit yang dirasakan Zaza dan Gill secara bersamaan.
~***~
Pelangi malam..
Kala hujan selesai menghampiri maka akan hadir sebuah pelangi menghiasi.
Kala cinta menjauhi biarlah rintik hujan yang menjadi saksi.
Jika malam tidak pernah hadir pelangi.
Karena sehabis cinta sakitlah yang menghiasi.
Dewa memijat tengkuknya yang terasa sangat berat. Project tulisannya yang awalnya akan terbit 6 bulan lagi kembali dipercepat. Apalagi penerbit tempat Dewa mendedikasi tulisannya itu mendesak karya terbaru Dewa yang digadang-gadang akan meledak dipasaran.
Karena itu Dewa mengerjakan semuanya dengan serius. Tidak ingin ada cacat di karya terbarunya. Dewa menulisnya dengan sepenuh hati sangat berharap akan hasil yang memuaskan.
Mungkin jika tulisannya berhasil membius pembaca dipasaran, bisa jadi berdampak pada kisah cintanya. Walau belum ada tanda-tanda kemajuan sedikitpun dengan kehidupan percintaannya.
Saat ini hati dan pikirannya tengah berperang. Karena hatinya tak ingin melepaskan yang memang pada kenyataannya bukan miliknya.
Dia bukannya tidak tahu jika antara Zaza dan Gill ada rasa yang lebih dari seorang teman. Tapi bila dia boleh egois, dia ingin membutakan matanya dan membiarkan hatinya mendatangi hati Zaza dengan cara yang baik.
Namun setelah berkali-kali pemandangan antara Zaza dan Gill terlihat dimatanya, dia bisa apalagi.
Selain iklhas dan menerima kenyataan jika ternyata Zaza hanya bisa dia miliki didalam tulisannya. Bahkan didalam mimpi nya pun, gadis itu tidak pernah datang.
Dia sudah lelah menentang takdir. Biarlah seperti ini, pikiranya.
Dewa tersenyum ketika kedua matanya menatap jam diatas nakas. Sudah waktunya untuk menemui kekasih hatinya. Mungkin dengan sholat malam semua akan menjadi lebih baik. Bukannya kali ini kekasih hatinya tengah memperhatikan Dewa dan memberikan Dewa sedikit cobaan untuk ketebalan imannya?
Bahkan dalam Al-Baqarah ayat 286 saja dijelaskan. "Allah menguji setiap orang sesuai dengan kemampuannya..." jadi Dewa percaya jika setelah ini dirinya akan semakin baik lagi. Aamiin.
Hanya itu harapannya. Karena harapannya yang lain telah sirna.
Dia keluar dari ruang kerjanya menuju kamar tidurnya untuk melakukan sholat malam. Tapi semua itu tidak terjadi karena satu hal.
Gadis-nya tengah memadu kasih dengan putra sematawayangnya itu.
Astagfirullah al'adzim.. ucapnya sembari mengusap d**a yang terasa sakit.
Beginilah nasib manusia yang telah dimakan oleh waktu. Ibarat sebuah ponsel, maka Dewa bukan ponsel pintar dengan segala aplikasi menarik didalamnya. Namun lebih kepada sebuah ponsel lama dengan hanya memiliki permainan game ular didalamnya.
Sangat mengenaskan..
~***~
Ikhlaskan segala rasa yang berduka, fakta yang tidak pernah terduga, dan hati-hati yang sedang kecewa. Allah tahu yang terbaik, untukku, untukmu. Untukmu, apapun yang terbaik, semoga bahagia.
-----
continue.
jangan lupa di tap love sama di komen ya