Bab 8

2126 Words
Jalan yang indah tidak dapat ditemukan tanpa tersesat terlebih dahulu..     Saat subuh tiba, Zaza tidak terlihat di area mushola rumah. Gadis itu seperti menghilang di telan bumi. Biasanya saat subuh menjelang, dia yang paling dulu sampai di mushola dan merapihkan shaf sajadah yang ada. Tapi tidak dengan pagi ini. Dewa terlihat sibuk mencari keberadaan Zaza. Apalagi saat ibunya datang kemushola gadis itu tidak terlihat bersama. Kemana dia pagi ini?                 Padahal sebentar lagi sholat berjamaah akan dimulai. "Kamu kenapa mas?" "Nggak papa bu." Kedua matanya masih menatap awas jauh ke belakang Ibunya. Beberapa pelayan lainnya masih banyak yang berdatangan ke mushola itu. "Kamu cari Kasa apa cari....?" Goda nenek. "Mas nggak cari siapa-siapa bu. Ayo bu.." Ajak Dewa. Dia berusaha berpikir positif, mungkin saja Zaza sedang tidak sholat, sehingga dia tidak melihat gadis itu pagi ini. Setelah shaf rapih, Dewa memulai sholatnya dengan khusyuk dan ikhlas. Lantunan surat yang dia baca begitu merdu bagi siapa saja yang mendengar. Tak terkecuali Zaza yang mengintip dari balik jendela dapur. Hari ini dia tidak bisa mengikuti sholat karena halangan yang dirasakan setiap bulan oleh perempuan. Dan saat dia bangun tadi lalu melihat wajah tidak enak dari Dewa, dia mengurungkan niatnya untuk muncul dihadapan laki-laki itu. Zaza kembali kekamar, dia merenungkan apa yang menjadi kesalahannya pada Dewa hingga laki-laki itu seperti menahan semua emosinya. Apa Dewa marah karena dia pergi dengan Gill? Batin Zaza. Tapi itu tidak mungkin. Untuk apa Dewa marah karena hal itu. Memangnya Zaza siapanya? Zaza kesal dengan sikap semua laki-laki seperti ini. Mereka selalu membuat wanita merasa sangat special tapi nyatanya tidak. Hampir 30 menit dia merenung apa yang menjadi kesalahannya, akhirnya Zaza memutuskan untuk keluar dari kamar. Namun waktunya sangat tidak tepat. Dia bertatap muka dengan Dewa yang baru saja kembali dari musholanya. Dia bingung harus bersikap seperti apa kepada Dewa. Bahkan laki-laki itu tidak memandangnya setelah sekilas tatapan mereka bertemu tadi. "Kamu kenapa nggak kemushola Za?" Tanya nenek yang sudah berdiri dibelakang Dewa. "Anu.. nek. Itu, Zaza lagi haid" tunduknya malu ketika Dewa masih bisa mendengar percakapannya dengan nenek. "Terus kemana kerudung mu Za?" Tanya nenek kembali. Zaza memegang kepalanya dan meringis saat Dewa juga memperhatikan bahwa Zaza tidak memakai hijab saat ini. "Lupa nek.." cicitnya. "Zalika, apa karena kamu sedang haid otak mu menjadi tidak berfungsi dengan baik?" Ucap Dewa dengan nada yang sedikit marah. Dia menyesalkan atas semua sifat Zaza yang menganggap remeh agama. "Maksud bapak?" Zaza tidak terima dengan perkataan Dewa. Laki-laki itu sama saja mengatakan dia bodoh dan tidak menghargai agamanya. "Maksud saya, kamu karena haid saja sampai lupa memakai kerudung mu. Lalu, apa semua perempuan haid bisa bermalas-malasan untuk tidak bangun ketika subuh tiba. Masih banyak hal lain yang bisa kamu kerjakan untuk menggantikan pahala mu, kamu memang tidak bisa sholat tapi kamu bisa mendengarkan kultum tadi. Harusnya ada ilmu yang bermanfaat yang bisa kamu dapatkan. Namun semuanya menjadi sia-sia. Hanya karena alasan klise yang kamu gunakan" "Tapi pak, kan saya lagi haid" sanggah Zaza masih dengan rasa tidak terima diperlakukan seperti itu. Ini semua bukan kemauannya, dia juga ingin terus sholat, namun Tuhan sudah membuat sesuatu yang special itu kaum perempuan. "Memangnya kepala mu haid juga? Sampai tidak memakai kerudung mu. Memangnya telinga mu haid juga? Sampai tidak bisa mendengarkan kultum. Memangnya mata mu haid juga sampai malas bangun subuh." Zaza mengurungkan niatnya untuk membalas kata-kata Dewa. Dia mengaku salah kali ini. Zaza sadar dia hanya seorang pembantu namun kerjaannya hanya bermalas-malasan. Seharusnya tadi dia tidak masuk lagi kedalam kamar untuk bersembunyi. Melainkan dia seharusnya langsung membereskan dapur dan menyiapkan sarapan pagi ini. "Memang perempuan haid tidak boleh masuk kedalam tempat sholat, tapi kamu kan bisa mendengarkan dari sini. Suaranya juga sampai terdengar kesini. Jadi menurut saya tidak ada alasan perempuan haid menjadi malas" ucap Dewa tak terbantahkan. Laki-laki itu berlalu meninggalkan Zaza dan nenek yang saling beradu pandang. "Sudahlah Za, maaf kalau Dewa kasih tau kamu dengan cara bicara yang gak enak" "Nggak papa kok nek, Zaza yang salah. Tadi sebenarnya Zaza udah bangun tapi..." "Tapi apa?" "Zaza takut nek, ngeliat mukanya pak Dewa kayak mau makan orang" jujurnya. Nenek tertawa mendengar suatu kejujuran dari Zaza. Gadis ini memang sangat berbeda jika disamakan dengan gadis-gadis lain di luar sana. "Duh nek, Zaza salah ngomong kayaknya" imbuhnya lagi. "Sudah deh nek, Zaza mau buat sarapan dulu" "Nggak perlu sayang. Nenek sama Dewa lagi puasa. Jadi kamu nggak perlu masak sepagi ini" ucap nenek dengan senyuman. "Nenek puasa?" "Iya Za, nenek memang biasanya selalu puasa bareng Dewa tapi kemarin ini berhenti karena nenek yang juga kurang sehat dan sekarang ini baru kita mulai lagi. Dan Insha Allah semuanya lancar" jawab nenek. "Zaza nggak pernah puasa senin kamis nek" lirihnya. Nenek mendekati Zaza dan mengusap rambut ikalnya itu. "Kamu mau puasa juga? Nanti setelah haid mu selesai kita puasa sama-sama ya" "Benar ya nek?" "Iya dong benar. Nenek kasih tau kamu ya, Allah pernah menerangkan dalam salah satu hadits mengenai hal ini. "Puasa tersebut milikKu dan juga Saya sendiri yang hendak membalasnya. Dan juga kebaikan tersebut hendaknya dilipat gandakan hingga 10 kali lipat (HR. Bukhari dan Abu Daud)" Kamu paham gak Za sama hadits itu?" Zaza menatap nenek dengan pancaran mata yang berbinar. Dia baru tahu jika mengerjakan puasa senin kamis maka pahalanya akan diberikan hingga 10 kali lipat. Jika tahu seperti itu, dia sejak dulu mau mengerjakan itu. "Paham nek. Keren. Itu beneran nek sampai 10 kali lipat?" "Iya beneran dong, masa Allah bohong. Makannya itu nanti nenek ajak kamu buat puasa ya" kekeh nenek. Zaza mengangguk antusias, dia bertekad akan melaksanakan puasa sunnah itu dengan baik. ~***~ Dewa baru keluar dari ruang kerjanya pukul 10 pagi. Dia hari ini tidak ada rencana untuk mengecek hotelnya dan hanya melakukan pekerjaan yang sempat tertunda beberapa hari kemarin ini. Melanjutkan tulisannya yang baru. Untuk itu Dewa hanya mengurung diri di ruang kerjanya sehabis subuh tadi. Tapi lama kelamaan dia jenuh juga dengan hanya menatap layar monitor laptopnya saja. Oleh karena itu dia berniat mencari kesejukan untuk otaknya. Ketika tubuhnya sampai di ruang keluarga, semua nampak sepi. Dia tidak melihat keberadaan siapapun disekitarnya saat ini. "Pada kemana?" Gumam Dewa. Dia menuju halaman belakang untuk mengecek keberadaan gadis itu. Dewa berjalan perlahan kesana dan meneliti semua tempat yang kemungkinan gadis itu berada. Dan ternyata Dewa benar, gadis itu tengah duduk sendirian di ayunan kayu yang terletak menghadap taman bunga dihalaman belakang. Dewa terus saja memperhatikan gadis itu dari kejauhan. Dimatanya Zaza sama saja dengan perempuan lain. Namun yang membuatnya berbeda adalah Zaza mampu mengambil hatinya yang sudah lama beku. Dia mendekati ayunan itu untuk memastikan apa yang tengah Zaza lakukan dipagi hari ini. Biasanya pemandangan yang sering Dewa dapatkan, gadis itu tengah merajut kasih dengan Gill, putranya. Tapi mengapa Zaza sendirian kali ini? Apa Gill sedang pergi? Ketika dirinya tepat berdiri disamping Zaza, ternyata Dewa mendapati Zaza tengah menunduk sembari mendengarkan sesuatu dari ponsel yang ada ditangannya. Ponsel? Dewa memperhatikan ponsel yang masih baru dan berharga cukup mahal yang berada ditangan Zaza. Bukannya Dewa mau suudzon dengannya, tapi dari mana gadis itu mendapatkan ponsel semahal itu. Pasti Gill yang memberikannya, tebak Dewa. Zaza tidak menyadari jika Dewa sudah tepat disampingnya. Sampai ketika Zaza melihat wajah Dewa dipantulan layar ponselnya yang gelap. "Bapak....!!!" Pekik Zaza. Dia menepuk-nepuk bagian dadanya, jantungnya tengah memacu sangat cepat seperti ingin keluar dari tempatnya. "Jangan buat kaget dong pak" ucapnya sedikit kesal. "Kamu sedang apa?" Kedua fokus mata Dewa masih memperhatikan Zaza yang tengah tersenyum-senyum mendengarkan sesuatu dari ponsel tersebut. "Aku..ini pak.. kemarin malam Gill, maksud ku mas Gill kasih aku ini" jelas Zaza. Pikiran Dewa langsung menerawang mengingat kejadian malam itu. Dimana dia melihat Gill tengah mendekati wajah Zaza. "Oh.." jawabnya dingin. "Iya pak. Jadi kemarin malam itu mas Gill minta saya tutup mata. Eh pas dia deketin saya, ternyata dia pasangin headset ke telinga saya. Dan baru deh saya bisa dengar musik ini" Kedua alis Dewa saling beradu, dia kembali berpikir dengan otak pintarnya. Jadi Gill memasangkan headset untuk Zaza bukan melakukan hal-hal aneh. Kenapa dia bisa dengan ceroboh mengartikan segala sesuatu. Apa karena...? Tidak, tidak. Dia tidak merasakan apapun kepada Zaza. Bukannya mengelak perasaan yang hadir, tapi keadaannya yang belum mengijinkan untuk merasakan perasaan yang tumbuh ini dengan baik. Dia tidak ingin membenarkan rasa itu jika hubungan mereka belum dalam ikatan yang halal. "Sini pak, mau dengar gak?" Zaza melepaskan sebelah headsetnya dan memberikan kepada Dewa. "Tidak. Terima kasih." Jawabnya dingin. "Ih bagus tau pak" paksa Zaza. Gadis itu berdiri dihadapan Dewa, kemudian berjinjit untuk memakaikan headset ditelinga Dewa. Ketika Headset telah terpasang, wajah Dewa seperti tidak menikmati hal itu. Ini suara Gill, batin Dewa. Dalam musik itu, Gill tengah bernyanyi dengan diiringi gitar akustik yang menurut Dewa tidak ada bagusnya sedikit pun. "Gimana pak?" Tanya Zaza dengan senyum bahagianya. "Baguskan?" Lanjutnya lagi. Dewa menarik ponsel yang ada ditangan Zaza, lalu mengotak atik isi ponsel didalamnya. Jemarinya bergerak cepat untuk melakukan sesuatu yang diluar pemikiran Zaza. "Bapak ngapain sih? Ini kan baru dikasih sama Gill" rengek Zaza. Karena tinggi Zaza tidak sebanding dengan Dewa, dia tidak bisa melihat apa yang dilakukan Dewa pada ponsel barunya. Dewa mengeluarkan jenis ponsel yang sama dari saku celananya lalu melanjutkan aktifitasnya mengotak atik ponsel Zaza. "Wah, ini punya bapak ya? Kok bisa sama percis ya?" Takjub Zaza. Setelah cukup lama ponsel itu diotak-atik, Dewa kembali menyerahkan ponsel itu ketangan Zaza. Kemudian dia berlalu tanpa sepatah kata pun. "Idih kok pergi gitu aja" Zaza tersenyum salah tingkah mengingat hal gila tadi. Dia sudah berani mendekati Dewa dan memakaikan headset pada laki-laki itu. Tangan kanannya menyentuh d**a kirinya yang berdetak dengan cepat. "Ini jantung kayak ngerti aja deh. Kalau dekat dengan dia pasti deg-deg an begini." Kekeh Zaza dengan wajah yang bersemu merah. Kemudian Zaza duduk kembali diatas ayunan itu sembari melihat ponselnya lagi. Ketika tangannya mulai menyalakan musik kembali, dia dikejutkan dengan suara Dewa yang mengalun lembut ditelinganya. Dewa bukan sedang menyanyi direkaman itu, melainkan laki-laki itu sedang melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Bahkan tiba-tiba saja dilayar ponsel itu muncul tulisan arab yang sedang di lantunkan oleh Dewa. Zaza memandang tabjuk dengan semua ini. Dia berpikir bagaimana caranya Dewa membuat semua ini dengan begitu indah. Dengan begitu Zaza bersyukur bisa sekaligus belajar cara membaca huruf arab itu dengan baik. Tentunya dibantu dengan suara Dewa yang dia dengar. يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠﴾ Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalamsurga (QS al-Fajr [89]: 27-30). Tanpa disadari Zaza, Dewa terus memperhatikan kegiatan Zaza dari jauh. Sudut bibirnya tertarik begitu saja. Perlahan tapi pasti dia mampu menarik perhatian Zaza, bukan dengan wajahnya yang tampan, bukan dengan kekayaannya, tapi dengan mengingatkan Zaza jika Dia selalu ada ditengah mereka. ~***~ Dewa berbalik tubuhnya dan menjauhi area dapur untuk kembali kedalam kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat dia dipergoki oleh nenek yang tampak begitu bahagia dengan wajah senjanya. "Mau sampai kapan kamu begitu?" Goda nenek kepadanya. "Maksud ibu?" Kedua alis Dewa saling bertautan. Dia tidak paham apa yang dimaksud ibunya saat ini. "Itu, Zalika. Mau sampai kapan kamu bermain-main seperti ini. Memangnya ibu yang tua ini nggak tau kamu lagi usaha buat deketin dia" "Ibu salah paham" Dewa berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak begitu kencang. Dia belum siap jika ibunya tahu masalah ini. "Seorang ibu tidak akan pernah salah dalam mengartikan sikap anaknya" kekeh nenek ditengah kata-katanya. "Kalau begini ibu kayak liat kamu belasan tahun lalu. Tapi setidaknya sekarang lebih baik" Dewa hanya bisa menunduk dan bingung harus melakukan apa kali ini. Dia sudah tertangkap basah oleh ibunya. "Cepat halalkan dia, sebelum Kasa yang merebutnya dari mu" "Jadi? Ibu setuju Dewa sama dia?" Dari raut wajahnya, terlihat sekali Dewa bahagia karena telah merestuinya. "Ibu akan setuju dengan siapa pun asal anaknya bahagia. Dan ibu tahu kamu bahagia saat bersama Zaza" Laki-laki itu mengangguk tanda dia telah mengerti apa yang sudah dikatakan ibunya. Memang benar dia tidak boleh berlama-lama seperti ini. Lebih baik dihalalkan segera dari pada di teruskan menjadi dosa. Saat Dewa ingin melanjutkan niatnya untuk kembali keruang kerjanya, nenek kembali berbicara hingga langkah Dewa terhenti begitu saja. "Kesalahan adalah pengalaman hidup, belajarlah darinya. Jangan mencoba tuk menjadi sempurna. Cobalah menjadi teladan bagi sesama. Terutama untuk Zaza, gadis itu banyak butuh bimbingan mu, mas. Cepat selesaikan urusan perasaan mu. Katakan padanya tentang rasa yang kini kamu rasakan." Lalu Dewa menggeleng, dan tersenyum simpul kepada Ibunya itu. "Menurut ku, tidak perlu kata untuk ungkapkan segala rasa. Karena senja sudah cukup membaca mata" jelas Dewa sembari berlalu. Kali ini nenek yang tersenyum. Dia yakin jalan yang anaknya akan ambil adalah jalan yang terbaik untuk kedepannya. ~***~ Biar sepi dan kesendirian menemaniku mengais pada wajah malam. Menikmati tiap sayatan getir dari mimpi lalu yg masih berusaha merayu waktu.. ----- continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD