Bab 9

1963 Words
Terkadang kamu berusaha menghindari sesuatu, bukan berarti kamu membencinya. Kamu menginginkannya tapi kamu tahu bahwa itu salah.. Sudah dua hari Zaza tidak melihat Gill dirumah, terakhir dia bertemu laki-laki itu saat malam dimana Gill memberikannya sebuah ponsel. Awalnya Zaza tidak menginginkan itu, namun Gill meyakinkan jika ponsel tersebut dapat membuat Zaza menjadi lebih mudah dalam mengenal not musik. Ditambah Gill sengaja memasukkan beberapa lagu yang memang dia nyanyikan khusus untuk Zaza. Namun, semua itu sudah tidak ada lagi. Ketika Dewa mengganti musik-musik itu menjadi lantunan ayat suci yang mengalun lembut dari mulutnya. Zaza sempat protes atas apa yang dilakukan Dewa pada ponselnya. Tapi lagi-lagi Zaza menjadi diam ketika Dewa membacakan sebuah hadits dimana mendengarkan musik akan menimbulkan sifat kemunafikan dalam hati. Lagu termasuk perkataan yang tidak berguna dan hanya menyesatkan umat manusia. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala. وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ "Artinya : Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan".[Luqman : 6] Maka dari itu Zaza hanya bisa menuruti semua nasihat Dewa. Jika memang itu yang terbaik mengapa harus diabaikan. Begitulah pemikirannya. Karena Zaza yakin, Dewa bukan manusia yang suka menyesatkan orang bodoh seperti dirinya. "Ehem..." Terdengar dehem seorang laki-laki yang berdiri tak jauh dari Zaza. Dia memang sedang melamun seperti biasa dihalaman belakang rumah. Karena pekerjaannya telah selesai membuatnya ada sedikit waktu untuk mendengarkan surat-surat pendek yang di bacakan oleh Dewa dalam rekaman itu. "Pak.. Dewa.." jawab Zaza gugup. Angin sepoi-sepoi yang berhembus sedikit menerbangkan hijabnya. Tangannya berusaha merapihkan hijab putih yang dia pakai hari ini. Karena Zaza tidak ingin Dewa menyindirnya lagi seperti waktu itu. "Jangan melamun." Dewa memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana pendek. Pandangan matanya ikut menatap jauh kedepan. Seakan ikut menyelami apa yang Zaza lihat. Namun Zaza terkekeh pelan hingga Dewa mengalihkan perhatiannya pada Zaza. Kening laki-laki itu berkerut melihat keanehan dalam diri perempuan muda disampingnya. "Kamu kenapa?" Tanya dia tidak suka. Dewa ingin Zaza membagi kebahagiaannya juga bersamanya. "Nggak papa pak, bapak bilang jangan melamun tapi bapak juga melamun" jujur Zaza. Lalu dia mendekap mulutnya sendiri, takut-takut salah berucap pada Dewa. Dewa tersenyum simpul. Dia merasa termakan kata-katanya sendiri. Sedangkan Zaza yang baru kali ini melihat Dewa tersenyum seakan tubuhnya melemas seperti tak bertulang. Begitu kuat efek senyuman laki-laki itu, batin Zaza. Bahkan Dewa bukan tertawa melainkan hanya tersenyum. Tapi mengapa membuat kerja jantungnya berkali-kali lebih cepat. "Sudah hapal semua surat yang saya kasih?" Anggukan pelan dari kepala Zaza menjadi sebuah jawaban atas pertanyaan singkat Dewa. "Kalau bisa jangan hanya dihapal, namun diperhatikan cara membacanya dengan baik. Karena salah tanda baca sedikit akan membuat artinya berbeda" "Iya pak, saya tahu." Cicitnya lemah. Jari-jarinya saling bertautan, dia gugup luar biasanya saat ini. "Bagus kalau kau tahu." Dewa menghembuskan napasnya dengan lemah, tenggorokannya seperti tercekat sesuatu yang sulit dia keluarkan. "Jangan dengarkan lagu lagi. Tapi..." putusnya. Ditatapnya wajah Zaza yang menantikan lanjutan kata-katanya barusan. "... Tapi, jika musik atau lagu itu ada manfaatnya masih diperbolehkan. Asalkan tidak diniatkan untuk maksiat kepada Allah swt. Lalu, tidak berlebih-lebihan didalam menikmati maupun mendengarkannya sehingga melalaikannya dari perkara-perkara yang diwajibkan, seperti sholat, mengingat Allah maupun kewajiban lainnya. Kemudian, para pemainnya tidak menampilkan perbuatan-perbuatan yang diharamkan atau dilarang agama. Tidak boleh ada gerakan yang bisa memancing syahwat laki-laki. Bait-bait syair lagunya tidak bertentangan dengan adab dan ajaran Islam, seperti mengandung kemusyrikan, pelecehan, jorok dan sejenisnya. Serta tidak diadakan di tempat-tempat yang mengandung syubhat, kemunkaran atau diharamkan, seperti di tempat yang dibarengi dengan minuman keras, dicampur dengan perbuatan c***l dan maksiat." Dewa mengakhiri penjelasannya kemudian menatap kearah lain lagi. Dia tidak mau berlama-lama menatap wajah Zaza hingga menimbulkan zina. "Begitu ya pak." Angguknya paham. "Iya, begitulah. Semua didunia ini yang tidak ada manfaatnya dijalan Allah tinggalkan saja. Tidak ada gunanya. Kamu hanya membuang waktu mu didunia ini. Tahu tidak, waktu didunia sangat sebentar, hanya 1,5 jam waktu di akhirat. Jadi pergunakanlah untuk hal-hal baik. Hal yang bisa menolong mu diakhirat nanti. Bukan hal yang menjerumuskan mu." "Iya pak, tapi susah rasanya mendahulukan kepentingan akhirat dari kepentingan dunia. Zaza jujur nih ya pak, Zaza lebih betah berlama-lama mengobrol dengan teman, membaca novel, menonton televisi dari pada sekedar membaca Al-Qur'an" Dewa menggelengkan kepalanya. Sejujurnya bukan hanya Zaza yang merasakan hal ini, dia tahu pasti semua manusia dimuka bumi ini pasti pernah mengalami apa yang Zaza rasakan. "Kamu tahu apa yang penting?" Gadis itu mengerjabkan matanya berkali-kali. Kelopak mata yang besar dengan bulu mata yang lentik seperti menghipnotis Dewa. Astagfirullah al'adzim.. Jangan sampai dia terhanyut pada tatapan mata itu dan tenggelam dimatanya. Belum saatnya mata itu dia tatap dengan penuh cinta. Nanti, Dewa percaya akan tiba waktunya dia akan dengan puas menatap keindahan ciptaanNya. "Apa pak?" "Niat. Nawaitu..semua yang diniatkan dengan baik akan membawa mu kedalam hal baik. Lalu yang kedua percaya pada dirimu sendiri. Kamu bisa dan kamu memiliki kemauan untuk terus melakukan perintahNya" "Yah pak, kadang perkataan gak pernah sejalan sama kenyataan" keluhnya. Zaza meniup-niupkan angin melalui mulutnya untuk membenarkan hijab yang dia pakai. Benar-benar pemandangan yang indah, batin Dewa.                 Laki-laki itu sedikit berdehem sejenak sebelum memulai melanjutkannya lagi. Dia tidak ingin gadis itu tahu bagaimana debaran jantungnya yang tidak menentu saat ini. "Begini Za, seperti dalam surat An Nisa' (4) : 59, jika kamu mengalami permasalahan dalam agama maka kembalikanlah pada Al-Qur'an dan As Sunnah." "Maksudnya apa sih pak?" Zaza memfokuskan pandangannya, menatap tubuh tinggi Dewa yang berada disampingnya tengah berdiri. "Saya sudah menjawab semua pertanyaan kamu tadi. Coba untuk pahami walau itu sulit" "Kalau saya gak ngerti mau diapain lagi" keluhnya menunduk lesu. "Yang penting percaya pada iman mu. Karena iman adalah keyakinan hati. Ingatlah firman Allah yang satu ini     وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ "Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu". (QS. Al Baqoroh [2] : 143)" tutup Dewa dengan sebuah napas kelegaan. Dia semakin sadar, menuntun gadis ini untuk menjadi lebih baik adalah tugas beratnya setelah meminta Zaza pada wali sah gadis ini. Yang menjadi pertanyaan hatinya, apakah dia sanggup? Bahasa cinta.. Darah seakan mengetuk keempat bagian dalam jantung.. Untuk sekedar mengingatkan agar tak lupa mengalirkan oksigen rindu padamu.. Memaknainya dalam kilasan bahasa cinta.. Aku ingin menjadi orang yang paling bahagia.. Bahagia karena sebuah rasa kan tetap mengalir lembut di sekujur nadi.. Berbagai upaya rangkai kata sederhana telah kulakukan tuk memaknai arti cinta.. Menjadikan cinta sebagai terminal hati bertanya kepada nurani.. Kemana kereta cinta hendak menuju.. Menuju pengampunan dan ridho-Mu.. Atau tempat lain yang selalu ku hindari.. Zaza dan Dewa kembali terhanyut dalam pikiran masing-masing, yang sebenarnya tak mereka ketahui berujung pada satu titik yang sama. Andai cinta dapat bicara, tanpa perlu menjelaskan dan dijelaskan. Mungkin akan lebih mudah bagi kedua insan ini menyatukan rasa yang perlahan tumbuh lalu lama kelamaan terpupuk dengan baik. "Pak.." "Za.." Dewa menggaruk tengkuknya sembari tersenyum, begitupun Zaza, kepalanya semakin tertunduk malu atas kegugupan dirinya. "Saya kedalam dulu" Zaza mengangguk lemah. Ketika tubuh Dewa perlahan meninggalkannya sendiri, barulah dia sadar jika sosok Dewa sedikit demi sedikit sudah merasuki hati dan perasaannya. Dewa sudah berhasil memberikan sebuah rasa yang tak pernah Zaza alami sebelumnya. Rasa dimana cinta tidak perlu mengucap cinta, rasa dimana cinta tidaklah sesuatu yang egois, rasa dimana dari cintalah muncul sebuah perubahan. Perubahan menjadi sesuatu lebih baik. Zaza tertunduk malu, dia seperti gadis tidak normal saat ini. Diam-diam memuji Dewa yang bahkan umurnya 2kali lipat dari umur Zaza. Senyuman yang tadinya akan terbit, hilang seketika. Apa sudah salah hatinya menjatuhkan pilihan dalam mencintai? Atau dia yang salah mengartikan rasa yang baru saja tumbuh. "Za...!!" Gadis itu berpaling melihat asal suara yang memanggil namanya. Dan disanalah sosok Gill tengah berdiri dengan sebuah kertas putih dikedua tangannya. Zaza berusaha memfokuskan akan tulisan yang terdapat dikertas itu. Namun saat dia sadar akan apa yang dia baca. Dia menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya atas apa yang dia lihat. GILL MELAMARNYA.. "Jawab Za...!!!" Teriak Gill. Memang tempat Gill berdiri tidak begitu jauh dengan posisi duduk Zaza. Tapi karena kegilaan laki-laki itu, dia sengaja berteriak-teriak seperti layaknya manusia yang berada ditengah hutan belantara. Zaza tidak memiliki jawaban sama sekali. Dia tidak habis pikir, sudah dua hari Gill menghilang tanpa kabar lalu sekarang laki-laki itu berdiri tak jauh dari Zaza sambil melamarnya. Kalau bukan gilla apa namanya? Jari telunjuk Zaza terangkat keatas keningnya, lalu dimiringkan telunjuknya itu seperti mengatakan bahwa 'kau sudah gila'. Tapi anehnya Gill tidak marah sedikitpun atas respon Zaza. Dia tidak kehabisan akal sama sekali, dia yakin Zaza akan menerimanya kali ini. Dengan gerakan lambat, Gill memperagakan seperti mengambil hatinya dengan tangan lalu melemparkannya kepada Zaza dengan wajah yang sumringah. Zaza tertawa terpingkal-pingkal sampai mengeluarkan air mata dengan gaya aneh yang Gill tunjukan dihadapannya. Perutnya terasa sakit akibat tertawa terlalu kencang. Kedua tangan Zaza terus saja memegang perutnya itu sambil terus menertawakan kelakuan aneh Gill. "Come on Za, lemparkan hati mu untukku" Dia berlutut sembari memasang wajah memelas agar Zaza mengasihani nya. Zaza diam melihat reaksi Gill, ternyata laki-laki itu serius melamarnya. Karena dapat Zaza lihat dari sini, Gill mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari saku celananya. "Be my wife..." pinta Gill dengan wajah ditundukkan. "Jadilah ibu untuk anak-anakku kelak.." Hanya sebuah kalimat singkat seperti itu tapi mampu membuat Zaza tertusuk tepat di hatinya. Dia baru sadar, selama ini Gill sudah menunjukkan tanda-tanda itu namun dia selalu tidak menghiraukannya. Dan sekaranglah akhirnya. Laki-laki ini serius melamarnya. Zaza sadar umur dia dan Gill masih terlalu muda. Bukannya pernikahan yang baik itu seorang perempuan minimal berusia 21 tahun dan laki-laki 25 tahun. Sedangkan dia dan Gill baru berusia 18tahun. Masih sangat jauh dari ukuran normal sebuah pernikahan. "Za, aku sadar kamu bisa berbagi senyuman mu kepada semua orang khususnya laki-laki didunia ini. Tapi yang ku mau bukan itu, aku ingin hanya aku yang bisa selalu berdiri disamping mu ketika tangis air mata yang mengalir diwajah mu. Biarkan aku menjadi sandaran hidup mu, tempat mu membagi keluh kesah dengan semua aktifitas mu. Percayakan aku satu-satunya laki-laki yang bisa menghapus air mata mu. Dan bantu aku Za, bantu aku untuk bisa menjadi kekasih yang selama ini kau cari" Zaza berusaha menutupi isak tangisnya. Dia tidak boleh menangis hanya karena mendengar semua penjelasan Gill. Memang semua yang Gill katakan benar, tapi semua yang Gill artikan salah. Salah, karena bukan Gill lah orang itu. Gill memang yang terbaik, tapi memilih laki-laki untuk menjadi pemimpin dalam hidup berumah tangga bukan hanya yang bernilai baik. Masih banyak hal-hal yang tidak ada dalam diri Gill. Contohnya.. Gill tidak bisa membuatnya mencintai Allah. Tidak, tidak. Bukannya Gill tidak bisa. Mungkin laki-laki ini mempunyai masalah atas ketidakpercayaan atas Tuhan. Jika Gill saja tidak percaya dengan Tuhan, bagaimana Gill bisa percaya kepadanya. "Gill. Bangunlah..." bujuk Zaza yang sudah berdiri dihadapan Gill. "Jawablah Za..." "Aku... ak..uu.. mencintai mu Gill" jawab Zaza. "Namun sebagai saudara mu" sambungnya dalam hati. Entah kenapa dia begitu takut mengeluarkan kalimat itu dari mulutnya. Dia takut Gill akan sakit hati setelah mendengar kejujuran hatinya. Biar bagaimana pun Gill sudah begitu baik padanya. Apa dengan cara menyakiti hati laki-laki itu membalas semua kebaikannya selama ini. "Are you sure?" Gill tersenyum begitu bahagia. Di peluknya tubuh Zaza dan digendongnya sembari berputar-putar. Baru kali ini setelah 5 tahun berlalu dia merasa hidup kembali. Namun yang Gill tidak sadari, Zaza menangis didalam pelukannya. Bukan karena dia bahagia, melainkan karena dia salah. Salah sudah berbohong agar tidak menyakiti Gill. Karena sekarang dia yang sakit atas kata-katanya tadi. "Terima kasih sayang" Zaza tidak menjawab, dia sibuk dengan rasa sakit dihatinya. Biarlah.. biarlah seperti ini. Membuat orang lain bahagia bukannya sebuah pahala? Dibalik jendela yang membatasi dapur dan halaman belakang, terlihat seperti siluet seseorang yang terpaku atas apa yang dia dengar. Dia kembali gagal kali ini.. ~***~ Setiap cerita selalu punya akhir. Tetapi dalam kehidupan sebuah akhir hanyalah sebuah awal yang baru. Awal dari sebuah cerita rasa sakit.. Zalika.. ----- continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD