Bab 10

2026 Words
Tahukah engkau, ada seseorang yang selalu menjaga mu dari kejauhan ketika kau sedang berjalan bersamanya.. Sudut bibir seorang laki-laki dewasa tertarik keatas, bukan senyum bahagia yang tercipta dari bibirnya itu. Namun sebuah senyuman atas kepedihan hatinya. Dia sadar, sekuat apapun perasaan yang tengah dia rasakan tidak mungkin begitu saja dia ungkapkan. Apalagi gadis itu sudah memilih untuk berjalan bersama yang lain. Karena itulah, kekuatan hatinya di perlukan untuk saat ini. Mampu kah dia tetap tersenyum dan mendukung semua pilihan gadis itu? Tubuhnya berbalik arah menuju ruangan kerjanya. Mungkin menceritakan semua apa yang dilihatnya barusan pada kertas dan pena menjadi salah satu obat yang paling baik. Dewa menyandarkan tubuhnya pada kursi yang biasa dia tempati ketika sibuk menuliskan segala hal yang tengah dia rasakan. Sebelah tangannya sibuk memijit-mijit batang lehernya yang terasa begitu kaku. Baru saja tangannya ingin meraih sebuah pena untuk menuliskan sesuatu, sudut bibirnya kembali meringis. Kenapa hatinya yang sakit namun bibirnya turut merasakan kepahitan itu. Selama 35th dia hidup dan beberapa kali merasakan fase jatuh cinta tapi mengapa saat ini sangat berbeda rasanya. Apa masih pantas diumurnya yang sudah berkepala tiga bisa mengaku jika dia tengah patah hati? Oh ayolah, patah hati tidak pernah memandang umur. Karena rasa sakit itu bisa datang kapan saja saat merasakan kecewa atas apa yang kita rasakan namun tidak terbalaskan dengan baik. Yah seperti itulah Dewa mengakui perasaan kacaunya saat ini. Bukannya setiap tanaman yang dirawat dengan seksama atau dibiarkan tumbuh dengan sendirinya akan memiliki hasil yang berbeda. Sama seperti perasaan cinta. Jika sejak awal Dewa sudah merawatnya dengan baik dengan mendatangi walinya gadis itu, maka hasil baik yang pasti akan dia petik. Tapi apa yang Dewa lakukan selama ini? Dia masih saja diam. Mengagumi gadis itu dari sudut terjauh agar tidak terlihat. Lalu dengan beraninya Dewa mengaku perasaan yang dia rasakan adalah cinta. Kemana perginya otak pintarnya itu? Harusnya dia tahu hasil seperti ini yang akan dia dapatkan. Tapi mengapa Dewa masih mengharapkan lebih? Dewa menghembuskan napasnya dengan kesal. Kertas yang berada didepannya dia remas dengan kuat. Kemudian dia lempar kesudut ruangan itu. Dia merasa kesal akan kebodohannya selama ini. Membiarkan orang lain mendahuluinya. Dan yang lebih parah lagi, orang lain itu adalah anaknya sendiri. Ku terjatuh dalam sebuah harapan indah.. Awalnya hanya sempurna yang kurasakan.. Tapi kini bagaikan bara yang menyala.. Membakar setiap sisi kulit hatiku.. Panas dan abadi terukir disana.. Mencoba berlaku ikhlas untuk mengobatinya.. Atas apa yang telah ku mulai.. Namun begitu sulit untuk ku terima akhirnya.. Ku coba tutupi rasa sakit ini dengan ketabahan.. Dan keridhoanku kepadamu.. Yang telah berlalu untuk pergi.. Biarlah engkau mekar indah.. Ditempat yang telah kau pilih untuk tumbuh.. Karena aku percaya.. Aku mencintai Tuhan ku.. Dan Tuhan begitu mencintaimu.. ~***~ Keringat dingin bercucuran membanjiri pelipisnya hingga mengalir kepada pipinya. Sekali-kali dia berusaha menormalkan detak jantungnya yang begitu tak beraturan. Jika boleh dia jujur dengan laki-laki disebelahnya, dia ingin berkata bahwa dia takut. Zaza takut akan semua yang akan diungkapkan Gill kepada nenek pada makan malam kali ini. "Kasa, sudah pulang ternyata" nenek terlihat kaget saat kedua mata senjanya menangkap sosok cucu laki-lakinya itu tengah duduk berdua dengan Zaza di meja makan. Lalu kemudian nenek merasakan hal aneh. Biasanya Zaza tidak pernah mau makan bersama keluarga ini, tapi mengapa malam ini gadis itu bersedia ikut bergabung. "Kasa udah dari tadi nek pulangnya" jawab Gill dengan senyum yang cukup bahagia. Langkah nenek terhenti begitu saja. Setelah sekian lama cucunya itu tidak mau dipanggil dengan nama 'Kasa' mengapa kali ini dia begitu menurut. "Kamu kemarin abis tour dari mana?" Tanya nenek hati-hati. Takut cucunya ini kemasukan sesuatu ketika tournya. "Dari Surabaya nek, cuma sehari. Lalu Kasa..." dia diam. Kedua matanya menatap Zaza yang berada disampingnya. Kemudian Gill tersenyum semakin hangat. "Lalu Kasa siapin sesuatu untuk orang yang begitu special" jelas Gill. "Sesuatu?" Nenek terpaku atas keanehan kedua anak muda itu. "Kamu makan apa di Surabaya kemarin? Apa kamu kena pukul sama supporter bondo nekat?" "Gak mungkin dong nek, cucu nenek yang satu ini berteman baik dengan bonek" cengir Gill. Dia mencari-cari tangan Zaza yang berada diatas paha gadis itu, lalu setelah dia menemukannya di genggamnya dengan lembut. Seakan Gill takut Zaza akan rapuh jika terlalu kuat. "Abis opo toh? Kamu tiba-tiba mau nenek panggil Kasa, terus bilang mau siapin sesuatu untuk seseorang? Jangan main rahasia sama nenek" "Nek, bukannya ini yang nenek mau selama ini? Gill udah nurut, tapi neneknya jadi aneh. Terus mau nenek apa? Gill serba salah jadinya" "Kasa, hari kemarin sudah lewat dan hari esok belum datang. Kita hanya dapat merasakan sesuatu saat ini saja. Keadaan yang kamu rasa serba-salah bisa diatasi dengan keikhlasan diri kepada Tuhan. Bukan hanya bisanya mengeluh saja" "Ya terserah nenek lah. Capek Gill dengarnya. Gill mau bilang sesuatu" Nenek memilih duduk dihadapan Gill dan mulai memperhatikan keduanya. "Mau bilang apa kamu? Kamu mau bilang sama nenek kalau berhenti nyanyi gitu? Wah kalau itu nenek senang hati dengarnya" "Sampai kapan pun Gill gak akan pernah berhenti. Musik itu hidup Gill setelah mama pergi. Dan, gak ada satu orang pun yang bisa ngelarang Gill buat melanjutkan hidup yang membuat Gill bahagia" "ANGKASA !!" Bentak nenek. "Harus berapa kali nenek bilang, menyanyi itu tidak mendatangkan keuntungan akhirat untuk mu !!! Semua hanya untuk dunia. Kamu gak selamanya tinggal didunia ini. Ingat itu !!" "Terus mau nenek Gill nurut sama nenek. Denger nek, umur Gill sudah dewasa. Gill berhak mengatur hidup Gill sendiri apalagi dalam masalah jalan hidup dan..." Gill takut-takut menatap neneknya yang tengah marah padanya. Sebelum dia melanjutkan, dia memejamkan matanya sejenak. "... dan Tuhan" Astagfirullah al'adzim.. Tangan Zaza yang tadinya masih dalam genggaman Gill seketika ditarik oleh gadis itu. Zaza merasa semua ini sudah salah besar. Bagaimana bisa laki-laki yang akan mengajaknya menikah malah membawanya memilih Tuhan yang lain. "Gill. Kamu sudah gila" kesal Zaza. Tubuhnya bangkit dan berjalan menuju kamarnya yang berada disudut rumah. Dia begitu bodoh atas apa yang tadi dia katakan kepada Gill. Ternyata rasa sakit yang telah dia korbankan percuma. Laki-laki itu bahkan begitu egois. Tidak mendengarkan jeritan hatinya. "Za..." panggil Gill. "Nenek tidak menyangka kamu akan tumbuh menjadi laki-laki seperti ini. Nenek semakin yakin, ibumu memang bukan orang baik-baik" nenek juga ikut memilih pergi meninggalkan Gill seorang diri diruang makan. Selera makan semua orang telah hilang atas tabiat gila dari laki-laki muda itu. "Bodoh !!!!" Maki Gill pada piring-piring yang seakan menertawakannya. "Kenapa kau begitu bodoh Gill, ayolah berdamai dengan yang mereka sebut Tuhan !!!!" Kesalnya. ~***~ Tengah malam tiba, Zaza mengendap-endap keluar dari kamarnya menuju ruang musik yang berada ditengah bangunan rumah ini. Kedua matanya menatap kekiri dan kekanan takut-takut ada yang melihatnya seperti ini. Tidak biasanya Zaza begini, tujuannya untuk keruang musik itu hanya satu. Menemukan laki-laki itu. Tapi saat tiba didepan pintu ruang musik itu, Zaza diam mematung. Ternyata dia salah muncul tengah malam di ruangan ini. Yang dia lihat dan dia dengar adalah jeritan hati kerinduan dari laki-laki yang selalu dia pikirkan. Ijinkan aku selipkan rindu ini dalam tumpuk kertas yang selalu menertawakan ku. Bahkan dengan berani ku benamkan cinta ini dalam genang tinta yang sibuk menari-nari. Semua rindu yang kurasa akan tersimpan dalam sebuah kotak dimana banyak sekali catatan yang selalu terselip namamu. Kali ini tidak perlu ku terka-terka bagaimana perasaan mu disana. Bahkan bunyi dari nada-nada ini sudah seperti jawaban atas apa yang kurasakan. Percayalah kasih, aku telah terjatuh. Hingga.. Lagi dan lagi.. Namun biarlah, ku buat untai kerinduan ini sebagai dawai do'a. Ku dendang syair rindu ini menjadi kidung hati. Kemudian terbias rindu untuk pelengkap sepi.. Zaza dengan cepat menutup mulutnya dengan tangan agak isak tangis tidak didengar oleh laki-laki itu. Tanpa dijelaskan pun Zaza tahu dia tengah terluka. Terluka sama sepertinya. Mengapa kau masih sibuk terdiam sendiri dalam dinginnya malam. Padahal aku selalu disini menunggu kehadiran mu.. Hati Zaza seakan ingin menjerit dan berkata pada laki-laki itu jika dia juga tengah merasakan sakit yang sama. Namun Zaza tidak ingin membuatnya semakin kacau. Hubungannya dengan Gill saja sudah tidak tahu menjadi seperti apa. Karena itu dia tidak ingin membawa Dewa masuk kedalam kerumitan ini. Biarlah, biarlah Tuhan yang mengatur akhirnya. Ketika tubuh Zaza sudah beranjak pergi, barulah Dewa berbalik karena merasakan ada seseorang yang sedang melihatnya. Namun semua hampa seperti hatinya saat ini. Dewa mengusap seluruh wajahnya. Sudah cukup dia membiarkan hatinya berlarut-larut seperti ini. Jika memang gadis itu bukan jodohnya mau bagaimana lagi? Dewa percaya Tuhan sudah menyiapkan yang paling dia butuhkan bukan yang paling dia inginkan. Dia sangat tahu bagaimana seharusnya yang dia lakukan. Namun apalah daya, dia juga manusia biasa. Dia tidak sempurna. Maka dari itu tadi dia biarkan hatinya tersayat sakit. Namun setelah itu Dewa berjanji, sudah saatnya dia melupakan hal yang tidak penting. Karena masih ada yang jauh lebih penting, yakni Tuhan. Bukannya Tuhan selalu tahu apa yang telah dia takdirkan untuk umatnya. Karena itu Dewa berpikir bukannya patah hati selalu bersinonim dengan hikmah. Seharusnya dia bersyukur masih diberi rasa patah ini oleh Allah, masih boleh bersedih, itu artinya dia masih memiliki hati yang sehat. Hati yang bisa merasakan sakit ketika dikecewakan. Bukan hanya sekadar hati, tapi hati yang sensitif, yang lembut dan yang mampu bahagia dan terluka. Dan kesedihan yang dia rasakan dapat dia jadikan pedoman jika masih ada Tuhan yang selalu mendengarkan kesedihan umatnya. Bolehkan saat sedih menangis? Tentu saja boleh. Karena dari air mata yang keluar bisa membersihkan racun-racun. Sesungguhnya airmata lebih bernilai pahala karena menangis mencintai Allah daripada menangisi si dia. Karena sesungguhnya orang yang ditangisi pun tidak tahu bahwa kita telah menangis karenanya. Dewa kembali membayangkan, pada saat jatuh cinta mendengar suara dia memanggil namanya lebih indah ditelinga laki-laki itu dari suara azan. Astagfirullah al 'adzim.. Tak pernah terpikir olehnya ternyata sudah begitu dalam rasa yang tidak benar ini. Ternyata dibalik patah hati ini Allah menyelamatkannya dari cinta yang salah. Dia menyembah dan memuja cinta melebihi menyembah dan memuji Allah. Nauzubillahimindzalik. Cinta tak salah, tetapi mungkin hanya tidak tepat ketika Dewa lebih mencintai sang pujaan hati daripada mencintai Allah. "Hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenang" Ingatlah bahwa Allah maha membolak balikan hati dan keadaan. Untuk itu dia ingin kembali memperbaiki hatinya. Ingin mengisinya dengan cintaNya kembali. ~***~ "Pagi nek.." sapa Zaza. Dia terlihat sibuk dimata nenek. Bergerak bolak-balik sambil menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga ini. "Pagi juga Za. Kamu buat sarapan apa?" "Cuma sup jagung nek sama roti gandum." Jelasnya sembari meletakkan menu sarapan diatas meja. Tak berapa lama, keluarlah dua laki-laki yang membuat Zaza tidak bisa bernapas lega. "Pagi sayang..." sapa Gill, seakan tidak ada apa-apa kemarin malam. Tubuh laki-laki itu mendekati Zaza dan mengusap lembut pipinya. Zaza diam terpaku. Bukan karena bahagia atas pelakuan Gill, namun dia merasa takut Dewa menyalah artikan. "Kamu mau pergi mas?" Tanya nenek ketika melihat sebuah koper besar yang dibawa Dewa. "Iya bu, Dewa mau keluar kota. Ada bedah buku di UNDIP. Mungkin seminggu Dewa tidak pulang bu, abis dari sana Dewa kekampus lain" jelasnya. Dia memakan sarapan yang Zaza buat. Namun tidak ada lagi pujian untuk masakan gadis itu. Apa begitu besar efek sakit hatinya? "Ya sudah, jangan terlalu capek yo. Jaga kesehatan mu" nasihat nenek. "Dewa bukan anak kecil lagi bu" "Iya ibu paham." Nenek melihat kearah Gill dan Zaza secara bergantian. Gill nampak sibuk dengan gadgetnya dan Zaza hanya berdiri sambil menunduk tak jauh dari meja makan. "Kamu gak lagi menghindari sesuatu kan mas?" Seketika Dewa tersedak dengan roti gandum yang sedang dia makan. Pertanyaan dari ibunya memang sangat tepat mengenai hatinya. Dia memang sedang menghindari sesuatu. "Ibu ngomong apa sih?" Gill melirik sekilas kearah Dewa yang menatapnya tajam. "Ibu ngomong apa adanya mas" jawabnya. "Gak bu, Dewa gak hindarin apapun. Karena gak ada yang harus dihindari" tegasnya. Dia berdiri dan hendak beranjak pergi. Namun langkah kakinya terhenti saat Gill mengutarakan keinginannya. "Setelah seminggu kau pulang, berikan aku ijin untuk menikahi Zalika..." Bukan hanya Dewa yang terkejut, namun Zaza dan nenek ikut kaget mendengarnya. Namun itu tak berapa lama, karena Dewa bisa dengan mudahnya merubah wajah kagetnya menjadi dingin kembali. "Baiklah, ayah akan melamarkan dia untuk mu kepada wali sahnya. Pak Danu..." Luruh sudah harapannya untuk mencintai laki-laki itu yang pada kenyataannya dia dengan senang hati memberikan Zaza kepada putranya sendiri. ~***~ Terkadang aku ingin jadi anak kecil lagi, karena lutut yang terluka lebih mudah disembuhkan daripada hati yang tersakiti.. ------ continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD