Ada nada yang perlahan mulai hilang dalam kesunyian, meninggalkan sebuah tanya, akankah kau menjadi milikku suatu saat nanti?
Sudah lewat dari seminggu Dewa pergi, Zaza seperti gadis yang kehilangan sebagian dari hidupnya. Dia selalu saja terlihat melamun ketika membuat sarapan atau saat membantu membersihkan rumah. Tubuhnya yang kecil semakin mengecil karena kurangnya istirahat dan mengkonsumsi makanan yang bergizi.
Sedangkan Gill sejak kejadian sarapan itu, dia seperti tidak terjadi apapun. Hidupnya berjalan begitu saja. Namun ada yang berbeda dari sifatnya kepada Zaza, dia mendiamkan gadis itu. Tidak ada maksud tertentu Gill bersikap seperti itu, tapi sebagian dari hatinya merasakan ada hal aneh yang akan terjadi jika dia memaksakan sikap egoisnya.
"EH, yey. Neng Zaza. Ngapa ngelamun begitu?" Tegur Ray.
Tubuh besar laki-laki itu berdiri layaknya seorang model, lebih tepatnya model pembalut wanita.
"Idih, yey gila ya? Ngeliat eike jadi ketawa-ketawa begitu?" Celetuk Ray tidak suka. Mulutnya sibuk mengigit-gigit ujung kukunya sembari memperhatikan Zaza yang masih sibuk tertawa.
"Duh, mas Ray. Aku tuh lucu liat tingkah mas. Apalagi pakaian mas, duh bener deh mas itu cucok banget tau gak" kekeh Zaza. Air matanya mengalir dipipinya bukan karena dia sedih, tapi karena dia begitu geli melihat pakaian yang Ray pakai.
Pagi ini Ray sudah rapih memakai celana pendek yang cukup ketat di kakinya. Lalu tubuh atasnya menggunakan celana panjang yang memang sengaja dipotong bagian tengahnya kemudian dipakai oleh Ray.
"Kenapa sama pakaian eike? Denger ya cin. Ini tuh lagi ngehits. Makannya kumpul bareng eike. Nanti kita meong bareng...raaawwrr..." jelas Ray sembari menirukan gerakan kucing mengerang.
Zaza tertawa semakin kencang, baginya Ray seperti penghibur disaat hatinya tengah gundah tak tentu arah.
"Begitu neng, kan cantik kalau yey ketawa" kekeh Ray. Tangannya sebelah menarik tubuh Zaza untuk berdekatan dengannya, kemudian sebuah ponsel canggih dia keluarkan dari saku celananya. "Say Cheese..."
"Cis...."
Klik..
Ray dan Zaza mengabadikan moment bahagianya pagi ini dengan sebuah foto yang cukup menggemaskan. "Upload" seru Ray.
"Foto dengan bidadari" gumam Ray sembari mengupload foto tersebut. Zaza yang penasaran mendekatkan wajahnya ke ponsel Ray lalu ikut memperhatikan apa yang sedang dilakukan Ray.
"Eheem..."
Mereka berdua melihat asal dari mana suara tersebut. Dan ternyata disana sudah ada Gill dengan koper besar. "Banci, lo malahan selfie. Gue suruh kesini buat angkutin barang-barang gue" kesal Gill.
"Ye, cin. Marah-marah aja. Belum dapet jatah yey? Makannya meong" sindir Ray.
Dengan malas Ray menarik koper Gill lalu dibawanya keluar rumah untuk dimasukkan kedalam mobil. Jadwal Gill minggu ini memang begitu padat. Jadwal show luar kotanya tidak bisa dia hindari, maka dari itu dia meminta Ray untuk datang kerumahnya pagi-pagi. Tapi yang tak disangka oleh Gill, bukannya membantu, asistennya itu lebih sibuk dengan perempuan yang akan menjadi calon istrinya.
"Ehem.." Gill berdehem kembali. Sekilas dia melirik Zaza dari sudut matanya. "Aku pergi dulu Za, jaga nenek"
"Iya.." sahut Zaza dengan wajah yang sibuk menunduk.
"Assala..."
"Mas Gill.." potong Zaza. "Hati.. hati.." ucapnya terbata-bata.
Gill tersenyum simpul, kemudian dibalas dengan anggukan kepala. "Kamu juga hati-hati, jaga hati mu hanya untukku" gumam Gill sembari berjalan pergi.
Kedua mata bulat Zaza hanya mampu memperhatikan punggung Gill yang lama kelamaan semakin menjauh. Maksud hati ingin bertanya tentang kejelasan hubungan mereka, tapi Zaza mendadak menjadi ragu. Dia tidak ingin di cap sebagai perempuan yang terlalu berharap sesuatu yang belum pasti.
Oleh karena itu Zaza membiarkan Gill yang mengambil keputusan untuk kedepannya. Lagi juga dia mana bisa menolak, ada laki-laki yang mau menikahi dirinya saja sudah merasa begitu indah.
Baru saja Zaza ingin memulai memasak kembali, terdengar suara langkah kaki yang mendekat diikuti suara roda koper yang berdecit dilantai.
"Ada sesuatu yang ketinggalan lagi mas? Lagian gak dicek dulu sih" ucap Zaza. Namun saat dia membalik tubuhnya, tepat satu langkah didepannya tubuh laki-laki yang begitu dia rindukan berdiri tegak. Dia adalah Dewa.
"Pak.. pak Dewa.." tangan Zaza terulur begitu saja ingin menyentuh tubuh Dewa didepannya. Dia takut berhalusinasi jika bukan Dewa yang berdiri didepannya saat ini.
Namun tangan Zaza hanya mampu tergantung di udara, dia urungkan niatnya menyentuh tubuh Dewa ketika Zaza merasakan hembusan napas dari laki-laki itu tepat menerpa kulit pipinya.
"Assalamu'alaikum.." bisik Dewa.
"Wa.. wa.. wa'alaikumsalam.." jawabnya terbata.
Dewa menegakkan kembali tubuhnya, ditatap wajah yang seminggu ini selalu menghantui dirinya. "Menjawab salam itu adalah wajib. Dan Rasulullah pernah bersabda: "Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidak dikatakan beriman sebelum kalian saling mencintai. Salah satu bentuk kecintaan adalah menebar salam antar sesama muslim." apa masih kurang jelas kenapa sesama muslim diharuskan menjawab salam?"
"Tapi pak. Tadi kan saya jawab" lirih Zaza. Dia menunduk kembali karena hatinya saat ini seperti petasan tahun baru yang sedang meledak-ledak tak karuan.
"Karena saya mengucapkannya disamping telinga mu, jadi kamu mampu menjawabnya" Ucap Dewa.
Dia berbalik arah, kemudian berjalan meninggalkan Zaza yang masih diam termenung sendiri. Rasanya Zaza tidak ingin Dewa pergi dari hadapannya. Karena jika boleh dia berkata jujur, rasa rindunya begitu memuncak saat ini.
"Aku merindukan mu..." lirih Zaza, pelan. Tapi yang Zaza tidak tahu ternyata ungkapan perasaan rindunya mampu didengar oleh Dewa yang masih tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri.
"Aku juga merindukan mu.." jawab Dewa sembari memejamkan matanya dan mengusap hatinya. Harusanya perasaan seperti ini tidak boleh mereka rasakan. Tapi apa daya, semakin kedua hati mereka menghindar maka perasaan itu semakin besar dan mengikat.
Memang sesungguhnya Islam sama sekali tidak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta tapi mengarahkan cinta tetap pada rel yang menjaga martabat kehormatan baik wanita maupun laki-laki. Jika sudah merasakan telah jatuh cinta harus berhati-hati karena pada dasarnya jatuh cinta itu seperti minum air laut semakin diminum semakin haus.
Maka dari itu, jika ingin dijabarkan lebih dalam, cinta yang sejati adalah cinta yang terjadi setelah akad nikah karena selebihnya adalah cobaan dan fitnah saja.
Karena itu beberapa hari kemarin ini, Dewa memang sengaja menghindari semuanya. Apalagi dia tahu Gill mencintai perempuan yang sama dengan yang dia cintai. Untuk itu dia lebih memilih mengalah. Tapi pengakuan rasa yang baru saja dia dengar dari bibir Zaza menjadi cambuk bagi dirinya sendiri. Bahwa cinta adalah perlawanan. Antara mengalahkan atau dikalahkan. Antara dihalalkan atau terfitnahkan.
Oh Tuhan...
Hatiku kini terbagi dalam rasa ilusi..
Yang entah sejak kapan menindasku dalam gelap..
Kehadirannya seolah memonopoliku..
Dalam kerinduan yang meremukan jantung hatiku...
~***~
Zaza bergerak bolak balik tidak jelas didepan sebuah pintu. Dia gugup bukan main cuma karena harus memanggil Dewa untuk sarapan bersama.
Tadi setelah Zaza selesai membuat sarapan, nenek datang menghampirinya dan meminta Zaza untuk memanggilkan Dewa dikamar. Ingin hatinya menolak permintaan nenek. Tapi dia tidak mampu. Bukannya dia merasa keberatan hanya sekedar memanggil Dewa untuk sarapan bersama, namun yang lebih parah lagi rasa gugupnya yang tidak bisa hilang. Zaza takut melakukan kesalahan didepan Dewa.
"Pak.. pak De..." Belum sempat Zaza menyelesaikan panggilannya, tubuh Dewa sudah terlihat dibalik pintu kamar tersebut. Badan tinggi dan tegap dibalut sebuah baju koko putih dengan sarung dan peci berwarna senada.
Mata Zaza memperhatikan dari atas hingga bawah, begitu sempurna sosok Dewa dimata Zaza. Kalau dia ingat kata-kata ibunya dikampung, jika melihat laki-laki ganteng atau perempuan cantik coba ucapkan alhamdulillah. Karena Tuhan masih bersedia menciptakan makhluknya dengan fisik yang hampir mendekati sempurna.
"Ada apa?" Tanya Dewa sibuk meneliti wajah Zaza yang gugup.
"Anu.. pak.. itu.. anu.." Zaza menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Dia lupa kenapa dia harus memanggil Dewa dikamarnya.
"Anu apa?"
"Itu loh pak. Masa bapak gak paham sih" kesal Zaza.
"Kamu kan belum bilang apa-apa" protes Dewa.
"Iya juga sih pak" kekeh Zaza tak enak hati.
"Zalika, yang serius !! Ingat, komunikasi itu disebut berhasil jika lawan bicara mengerti apa yang kita sampaikan. Untuk itu diperlukan tutur bahasa yang baik untuk menjelaskan kepada lawan bicara. Bukan hanya 'anu' 'ini' 'itu' mana saya bisa paham?"
"Maaf pak, saya yang gak bisa menyampaikan dengan baik apa yang saya maksud." Tunduknya menyesal.
"Iya, termasuk menyampaikan apa yang kamu rasakan saat ini" sahut Dewa cepat sambil melewati tubuh Zaza yang kembali diam. Otak gadis itu mulai mencerna apa yang dimaksud dengan kata-kata Dewa barusan.
Ketika satu jawaban yang pasti terlintas diotaknya, pipinya bersemu merah.
Dia malu...
"Ihh.. ngegemesin banget deh" gumam Zaza dengan tubuh yang meloncat-loncat tidak jelas.
Cukup lama dia melambung tinggi atas pemikirannya, Zaza kembali ingat apa yang harus dia lakukan tadi. Terburu-buru dia turun untuk menemui nenek.
"Nek..."
"Aduh kamu itu, nenek suruh apa malah kayak orang gila diatas sana" kesal nenek. "Ya udah cepat duduk. Kita sarapan bareng. Nanti Dewa ikut gabung setelah selesai shalat Dhuha.." Zaza hanya mengangguk saja. Kemudian mengambil posisi disebelah nenek.
Tak berapa lama yang ditunggu datang. Dilepaskannya peci putih dari kepalanya, setelah mencium punggung tangan sang ibu, dirinya ikut bergabung bersama untuk sarapan dipagi hari yang cerah ini.
"Kamu kenapa?" kedua mata Dewa meneliti wajah Zaza yang semakin bersemu merah.
"Anu pak, itu.." gugupnya. Nenek hanya bisa menggelengkan kepala sembari tersenyum. Tanpa dijelaskan pun, nenek sudah bisa membaca gerak gerik keduanya jika Dewa dan Zaza ada perasaan yang sama.
"Bu, gimana Gill. Apa dia serius?"
"Kamu yang tanya langsung sama anaknya. Ibu gak bisa jawab. Karena yang akan menjalankan Zaza dan Kasa"
Deg..
Zaza mencoba memfokuskan pikirannya kedalam makanan yang ada didepannya. Dia sudah tahu kemana arah pembicaraan ibu dan anak ini.
"Kalau memang benar, nanti mas hubungi pak Danu" Tegasnya sembari sibuk melahap semua menu sarapan yang disajikan pagi ini.
"Terserah saja. Ibu cuma mau hubungan kalian semakin baik. Bukannya semakin buruk ketika Kasa menikahi Zaza." Dalam diam Zaza merutuki kebodohannya, mengapa saat ini dia tidak mampu menolak. Padahal sesungguhnya hati Zaza sudah berteriak-teriak agar pernikahan ini dibatalkan.
"Za, kamu kok nangis?" Tanya nenek tiba-tiba saja.
"Nggak papa nek.." jawab Zaza pelan sembari melirik Dewa. Tapi Dewa seakan sudah buta akan tangisan gadis itu. "Cuma gak enak badan." Sambungnya. Tubuh Zaza berdiri lalu menunduk kepada nenek dan Dewa kemudian membereskan piring makannya. Semakin lama dia berada ditengah ibu dan anak itu, semakin sakit atas apa yang dia dengar.
"Kamu benar-benar keterlaluan mas" kesal nenek.
"Mas kenapa lagi sih bu?"
"Perjuangkan apa yang kamu rasakan atau kamu akan menyesal selamanya" ketus nenek.
"Apa yang harus diperjuangkan?" Balas Dewa tak kalah tegas. Kemudian terdengar tarikan napas lebih dalam oleh nenek. Kedua mata senjanya memancarkan rasa sedih.
"Dewangga, ibu cuma punya satu pesan untukmu. Berusaha lah menjadi manusia yang baik dan memilih jalan hidup yang terbaik. Jangan pernah lepaskan kesempatan apapun dalam hidup mu sebelum kamu menyesal. Dan ingat, apa yang kamu lakukan dalam hidup merupakan contoh untuk Kasa."
"Please bu, Dewa tahu apa yang Dewa lakukan"
"Iya ibu tahu, karena yang mengenal dirimu sendiri adalah kamu, dan yang mengetahui apa yang kamu mau juga kamu."
Nenek berlalu meninggalkan Dewa yang masih berusaha menghabiskan sarapannya. Sebenarnya bukan ini yang dia mau. Tapi mengapa kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah kebalikan dari isi hatinya. Perlahan Dewa berjalan menelusuri lorong rumah hingga dia sampai di kamar paling ujung dimana biasanya gadis itu beristirahat.
Tangan kanan Dewa terulur begitu saja lalu mengusap lembut daun pintu yang berada didepannya. Mungkin saat ini dia hanya bisa menyampaikan pesan rindunya melalui perantara. Dia yakin nanti tidak akan ada perantara lagi diantara dirinya dan Zaza. Sedangkan disisi sebelahnya tubuh Zaza tertunduk lemas. Kepalanya begitu pusing karena menangisi hal yang tidak pasti.
Matanya bengkak, dan hidung memerah. Sangat-sangat jelek wajahnya saat ini. Batin Zaza ketika dia melihat pantulan wajahnya dicermin. Namun baru saja dia ingin merangkak untuk berdiri membersihkan dirinya, pandangannya tiba-tiba saja gelap hingga tubuhnya ambruk begitu saja diatas lantai yang dingin. Sebelum kegelapan menyelimutinya, sebuah suara terdengar memanggil namanya dengan begitu khas.
"Zalika..."
~***~
Kedua mata Zaza mengerjab-ngerjab berusaha menetralkan pandangannya. Suasana kamar yang putih dengan sebotol infus dan sekatung darah tergantung disebelah ranjangnya. Pikirannya kembali berusaha mengingat-ingat ada apa dengan dia sebelumnya. Dan tidak ada satupun yang dia ingat. Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Zaza, disana berdiri Gill dengan senyuman khasnya. Dihadapan laki-laki itu terdapat meja yang berisikan makanan khas rumah sakit.
"Malam sayang" sapanya.
"Malam?" Ulang Zaza.
"Iya malam, kamu pingsan lama banget. Aku sampai tunda keberangkatan ku tadi." Gill menarik sebuah kursi dan duduk disamping Zaza. Diraihnya tangan Zaza, kemudian dia genggam dengan lembut. Mata Gill memancarkan banyak sekali beban dan kesedihan yang sulit dia tutupi didepan Zaza.
"Kamu kenapa Gill?"
"Aku nggak papa" lirihnya. "Kamu makan yang banyak ya, jangan banyak pikiran. Jangan sampai sakit kayak gini."
"Memangnya aku yang mau sakit begini?" Kesal Zaza tak terima. "Kalau nggak mau, dijaga kesehatannya. Asal kamu tahu, cari donor darah yang sama kayak kamu susah."
"Susah? Tapi itu kan ada?" Tunjuk Zaza pada sekantung darah yang terus mengalir kedalam tubuhnya.
"Iya harus ada dong.." ucap Gill. Digulungnya sweater yang dia pakai, lalu diperlihatkan kepada Zaza sebuah kapas dan plester yang berada dilengannya. "Karena aku berjuang untukmu"
"Jadi...kamu yang.." Zaza nampak terkejut mengetahui apa yang sudah dilakukan Gill untuknya.
"Hus.. udah, jangan dibahas. Yang penting kamu sehat" potong Gill. "Nah sekarang kamu makan" perintah Gill.
"Gill, terima kasih. Karena sudah mau berbagi kepada ku"
"Iya. Makannya cepat sembuh. Kamu mau calon suami mu ini kekurangan darah?" Godanya. Wajah ceria Zaza berubah menjadi kelabu kembali. Dia lupa laki-laki didepannya ini adalah calon suaminya. Bukan yang sedang berada didepan pintu itu (?). "Itu bukannya pak Dewa.." ucap Zaza dengan refleks.
"Mana?" Tubuh Gill berbalik memperhatikan arah yang ditunjuk Zaza, namun tidak ada siapa-siapa disana. Apa mungkin ayahnya sudah pergi lagi? Batin Gill.
Yang sekarang menjadi fokus utamanya bukan ayahnya lagi, namun gadis yang terbaring lemah disampingnya. Menjaga dan melindunginya sepenuh hati akan kehidupan Zaza merupakan tugas Gill untuk kedepannya. Jadi biarkanlah dia bahagia untuk sesaat sebelum semuanya selesai.
~***~
Cahaya bintang pun redup sejenak, ketika jantung ku hampir tidak berdetak saat kedua mata ini melihat mu bahagia bersamanya... Dewangga
-----
continue