Bab 12

2307 Words
Hingga saat ini aku masih tersesat dalam sepasang matamu, bahkan saat aku sudah tahu bahwa tidak mungkin ada kita diantara kamu dan aku.   "Maafkan aku Dewa, please jangan pergi" pinta seorang perempuan sembari bersimpuh dihadapan Dewa. Tubuh perempuan itu sudah penuh lebam disekitar wajahnya. Air mata semakin menumpuk di kedua matanya. Dia tidak ingin ditinggalkan oleh laki-laki yang selama ini sudah setia disampingnya dalam keadaan apapun. Namun, laki-laki itu seakan sudah dibuat buta oleh keadaan. Tidak sedikit pun Dewa iba pada perempuan yang tengah bersujud dikakinya. Tidak untuk perbuatannya yang sudah kelewat batas. "Dewa, kasih aku satu kesempatan lagi. Aku mohon. Jangan seperti ini. Pikirkan anak kita" ringisnya seakan menahan sakit. Sorot matanya penuh dengan permohonan akan pengampunan dirinya kepada laki-laki yang berstatus suaminya ini. 10 tahun sudah dia membina rumah tangga bersama Dewa, banyak hal yang telah mereka lalui dengan penuh suka cita. Jadi jika tiba-tiba saja semua harus berakhir karena kesalahannya, dia tidak mungkin bisa memaafkan kesalahannya itu. "Harus berapa banyak kesempatan yang aku berikan kepadamu?" tanya Dewa dengan tatapan mengintimidasi. Ditariknya tubuh perempuan itu hingga berdiri dihadapannya. Dari sudut bibir perempuan itu darah yang tadinya mengalir telah mengering. "JAWAB AKU HARUS BERAPA BANYAK LAGI?????" Bentak Dewa tidak tertahan. Dewa sudah mati-matian menahan emosinya agar kedua tangannya ini tidak lagi melayang mengenai wajah yang sejak dulu begitu dia cintai. "Hanya sekali lagi. Bukan untukku namun untuk anak kita Gill.." rintihnya. Dewa memejamkan kedua matanya sejenak. Semoga keputusannya saat ini tidak salah. Karena baginya semua orang pasti dapat berubah menjadi lebih baik. Sama seperti dirinya terdahulu. "Baiklah. Hanya satu kesempatan lagi Lia..." ucapnya sembari berlalu. Ketika Dewa sudah pergi meninggalkannya, Lia menangis sejadi-jadinya. Dia sungguh menyesal akan apa yang telah dia perbuat. Kedua matanya sudah dibutakan oleh kenikmatan sesaat. Padahal sudah sangat jelas Dewa begitu mencintainya sejak pertama kali mereka bertemu. "Maafkan aku Dewa..." Namun yang tidak Lia tahu, sepasang mata terus menatapnya dari balik pintu. Tubuh mungilnya bersembunyi agar tidak terlihat. Dia begitu sedih melihat ibunya disiksa fisik seperti itu. Apalagi sosok yang selama ini dia banggakan telah berubah menjadi seorang monster yang sangat kejam kepada perempuan yang dia panggil ibu. Satu yang akan dia simpan dibenaknya hingga dia besar nanti. Ayah adalah monster yang menyakiti ibunya. "IBUUUUU...." Nafas Gill tersengal-sengal. Ternyata dia bermimpi buruk lagi. Sejak 5 tahun setelah kepergian ibunya, hampir setiap malam mimpi itu terus menghantuinya. Mimpi yang menggambarkan bagaimana jahatnya sosok ayah dimatanya. "Gill.." panggil Zaza dari atas ranjang tidurnya. Setelah menyuapi Zaza makan malam tadi, dia tertidur diatas sofa dalam kamar Zaza. Dan tersadar saat mimpi buruk itu menyerangnya. "Ya Za.." Gill mendekati ranjang Zaza, kemudian menakup tangan Zaza dengan tangan besarnya. Hangat.. Rasa itu yang menjalar didalam tubuh Zaza. Sejak semalam setelah dia membuka mata, dia tahu Gill tengah ada masalah. Karena dari tatapan laki-laki itu tidak seperti biasanya. "Istirahatlah Za, maaf sudah membuat mu terbangun" "Gill, kamu benar gak papa? Cerita sama aku?" "Aku gak papa Za, jangan pikirkan aku. Pikirkan kesehatan kamu dulu" dikecupnya punggung tangan Zaza yang begitu kurus. Kemudian Gill meringis sedih, melihat kondisi tubuh Zaza. "Kamu nggak pernah makan ya? Kurus banget" keluh Gill. "Aku makan kok" bantah Zaza tidak terima. Pipi nya menggelembung lucu seperti seekor ikan mas koki. "Makan tapi masih kurus, berarti cacingan" kekeh Gill. "Enak aja. Kamu ngaca nggak, kalau kamu juga kurus?? Banyak makan tapi kurus kayak tengkorak" balas Zaza dengan senang hati. "Berarti kita sehati, karena sama-sama kurus walau sudah banyak makan." Goda Gill. "Iya kita juga sedarah kan. Sekarang darah kamu mengalir didalam tubuh ku" imbuh Zaza dengan semangat. Gill diam membeku. Dia berusaha tersenyum namun seperti dipaksakan. "Iya. Kamu benar, kita sedarah" lirihnya. "Nanti kita akan...." Kleek.. Kata-kata Gill terpotong ketika wajah Dewa tiba-tiba muncul dari balik pintu. Pakaiannya sudah begitu kusut karena beberapa kancing kemejanya sudah tidak terpasang dengan baik. Rambutnya begitu berantakan dengan kedua mata yang setengah terpejam. "Lanjutkan saja. Ayah masuk karena diluar terlalu banyak nyamuk." Zaza menarik tangannya dari tangan Gill. Dan mendadak menjadi salah tingkah karena kehadiran Dewa. Sedangkan Gill tersenyum begitu miris melihat kelakuan Zaza yang menjadi aneh ketika ayahnya masuk. Saat Gill dan Zaza masih memperhatikan Dewa, laki-laki itu seperti tidak memperdulikan. Dia memilih langsung berbaring diatas sofa empuk yang tadi dipakai Gill untuk beristirahat. Tubuhnya membelakangi Gill dan Zaza. Ketika gerakan bahunya sudah mulai teratur, Zaza baru bisa bernafas lega. Dia yakin Dewa sudah tertidur. "Kau menyukai ayahku?" Tanya Gill dengan wajah jahilnya. "APA????" Zaza shock mendengar pertanyaan Gill. Apa perasaan cintanya begitu terlihat saat ini? "Jangan memasang wajah jelek seperti itu Za" kekeh Gill. "Kamu tidak bisa mencintai dia, karena...." Zaza memfokuskan pandangannya pada laki-laki yang duduk disamping ranjangnya. Sudut bibir Gill tertarik keatas, bukan karena bahagia namun tersenyum karena menahan pedih saat ini. "Karena dia ayah ku, berarti.. ayah mu juga. Bukannya kita akan menikah???" Goda Gill. Zaza mengangguk lemah. Benar apa yang dikatakan Gill dia akan menikah dengan laki-laki ini. Tapi mengapa pikirannya sibuk memikirkan laki-laki lain? Tangan Gill terulur merapihkan pasmina yang menutupi kepala Zaza, hatinya begitu tergerak melihat kecantikan Zaza ketika menutup auratnya seperti ini. "Za, aku bisa tanya satu hal?" Zaza mengangguk cepat. "Kamu tanya apa?" "Ketika kamu membenci sesuatu apa kamu masih mampu mencintai sesuatu itu kembali ketika kamu tahu akan kebenarannya?" Mata bulat Zaza mengerjab-ngerjab tak mengerti. Pikirannya terlalu kosong untuk diajak berpikir saat ini. "Aku bingung harus jawab apa Gill. Karena aku sedikit tahu tentang cinta dan benci. Selama 18tahun ini aku hidup, kehidupan ku terlalu datar. Aku belum pernah merasakan membenci akan sesuatu. Atau aku belum pernah aku merasakan... mencintai sesuatu" lirihnya sembari menatap punggung Dewa. "Tapi, yang aku pernah dengar dari teman-teman. Jika cinta kebanyakan berawal dari benci yang begitu besar. Seperti perkataan dari Ali Bin Abi Thalib, Cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja, siapa tahu - pada suatu hari kelak - ia akan berbalik menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekadarnya saja, siapa tahu - pada suatu hari kelak - ia akan menjadi orang yang kaucintai." Gill menjentikan jarinya pada kening Zaza dengan cukup kuat hingga Zaza mengaduh kesakitan. "Gill sakit" "Lagian, itu aku juga tau" kekeh Gill sembari mengusap kening Zaza yang sudah memerah. Zaza ikut tertawa melihat wajah bahagia Gill. Dia bertanya-tanya dalam hatinya apa memang benar laki-laki ini yang akan menemaninya sepanjang hidup? "Gill.." panggilnya. Diusap lembut pipi Gill yang bersih tanpa bulu-bulu halus diwajahnya. "... terkadang kamu tidak akan peduli seberapa besar kamu membenci sesuatu itu, karena dalam hati mu ini selalu percaya ada satu alasan untuk memaafkan kebencian itu" Gill tersenyum kecut mendengar kata-kata Zaza. Bagaimana dia bisa memaafkan Tuhan dan Ayahnya yang sudah membuat Ibunya pergi untuk selama-lamanya. "Tidurlah..." Gill merapatkan selimut yang dipakai oleh Zaza. Kedua matanya menatap penuh kasih kepada Zaza yang terpaku melihat cahaya bening dimata Gill. "Malam Gill.." ucap Zaza, kemudian matanya melirik Dewa yang masih pada posisi yang sama. "Malam Pak Dewa..." sambungnya dihati. "Malam sayang..." ucap Gill sembari mencium kening Zaza. Saat Gill sudah mempastikan Zaza telah terlelap, dia membalik posisi tubuhnya menghadap laki-laki yang masih tidur diatas sofa. "Bangunlah, aku tahu kau tidak tidur !!!" Tubuh Dewa masih saja tidak bergerak, namun saat Gill tertawa mengejek kepadanya, Dewa berbalik dan bangun dari tidurnya. Tidak ada wajah mengantuk disana, yang ada hanya tatapan dingin seperti biasanya. "Aku tidak menyangka kau menggunakan alasan nyamuk agar bisa menguping percakapan ku dengan Zaza" Dewa bangkit dari sofa, dirapihkannya kancing kemeja yang memang tadi sengaja dia buka agar Zaza percaya. "Kita bicara diluar" ucapnya tegas. Gill mengikutinya dibelakang dia, pikirannya yang bercampur aduk membuatnya tidak fokus. Dia berusaha tidak mempercayai apa yang telah dia ketahui, namun dia tidak bisa. Wajah Dewa selalu membuat dia kesal mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Dewa melipat kedua tangannya didada. Mereka berdiri berhadapan layaknya koboi yang ingin berduel. Namun bukan dengan pistol yang menjadi senjata, melainkan dengan tatapan mengintimidasi dari keduanya. "Katakan, apa mau mu sekarang?" Tantang Dewa. "Lupakan dia..." tegas Gill. Kening Dewa berkerut tidak mengerti arah pembicaraannya. "Maksud mu?" Gill tertawa mencibir kebodohan dari pikiran ayahnya itu. Dia tidak menyangka seorang pebisnis serta penulis seperti Dewa bisa berpikiran lambat juga jika berhubungan dengan C.I.N.T.A "Maksud ku lupakan dia, karena kau tidak berhak atas kebahagiaanya.." Dewa mendadak geram. Atas dasar atas apa Gill berkata demikian? Walau dia tahu putranya ini ingin menikahi Zaza, namun tanpa restu nya pernikahan ini tidak akan bisa terlaksana. Itu berarti dia masih berhak atas kebahagiaan Zaza. Dia masih ada kesempatan yang sama untuk memperjuangkan Zaza. Pikiran Dewa yang awalnya akan mengalah untuk kebahagiaan Gill lenyap sudah. Ditambah tadi Dewa melihat bagaimana lemahnya Zaza hingga dengan kedua tangannya sendiri menggendong Zaza untuk dibawa kerumah sakit. Namun ketika pihak rumah sakit mengatakan membutuhkan banyak darah untuk gadis itu, dia dengan senang hati akan mendonorkannya. Tapi lagi-lagi dia gagal, karena dokter mengatakan jika golongan darah mereka berbeda. Apa Tuhan memang selalu punya penghalang diantara dirinya dan Zaza untuk bersatu? Dewa memiliki golongan darah B, sedangkan Zaza adalah AB dengan Rh negatif. Dimana kondisi golongan darah ini sangat sedikit di Asia, khususnya Indonesia. Karena itu Dewa semakin dibuat bingung akan keadaan Zaza. Dokter menyarankan keluarga dari pihak Zaza yang mendonorkan darah untuknya. Namun saat Dewa meminta Danu untuk mendonorkan darahnya, terbongkarlah jika Zaza adalah anak yang diasuh oleh adiknya Danu. Sehingga golongan darah mereka jelas berbeda. Tapi sesuatu yang tidak Dewa duga tiba-tiba saja muncul, Gill yang pagi tadi berkata ingin pergi untuk show nya hadir dirumah sakit. Lalu dengan senang hati Gill menyarankan darahnya yang diambil untuk Zaza. Awalnya Dewa sulit percaya, bagaimana bisa Gill dan Zaza memiliki Golongan darah sama. Dari sekian banyak manusia di Indonesia, apa tidak sangat kebetulan sekali melihat kesamaan ini, apalagi golongan darah AB - begitu sulit didapatkan. "Laki-laki seperti kau tidak pantas memperjuangkan kebahagiaan Zaza" tegas Gill. Dewa mendekat kearah Gill, ditepuknya bahu putranya itu. "Jika ayah tidak pantas, apa menurut mu, hanya kamu yang pantas?" "Aku pun tidak" lirihnya. "Masih banyak laki-laki didunia ini yang lebih baik untuk gadis seperti Zaza" imbuh Gill. "Jadi? Kamu tidak akan menikahinya." Cengkraman kuat tangan Dewa dibahu Gill tidak dirasakan sama sekali. "Tidak. Bukan aku saja, ayah juga tidak akan bisa menikahinya. Tidak sekarang ataupun nanti !!!" ditepisnya tangan Dewa dibahunya. Dewa meneliti kedua mata Gill, apa dia tidak salah dengar saat ini. Gill tidak jadi menikah dengan Zaza. "Kau serius?" "Iya. Aku seorang laki-laki dan apa yang diucapkan oleh laki-laki harus dipertanggung jawabkan" "Good," ucap Dewa bangga. "Asal kau tahu, wanita itu membutuhkan 4 laki-laki disampingnya agar bisa membuatnya bahagia" jelas Gill. Dewa sempat diam sesaat, otak yang biasanya selalu pintar dalam berpikir seperti kosong tak berisikan apapun. "Wanita adalah makhluk yang rumit. Ada banyak hal yang mereka butuhkan. Banyak sekali asal kau tahu. Dan mereka berharap para laki-laki dapat memenuhi semua kebutuhan itu. Dalam 5 menit sekali keinginan mereka sudah bisa berubah-ubah layaknya seekor bunglon. Jika mereka ingin benar-benar terpuaskan kebutuhannya, mereka harus memiliki empat orang laki-laki untuknya sendiri." Jelas Gill. Dewa diam membisu mendengarkan penjelasan Gill. Otaknya berpikir liar membayangkan Zaza ditengah empat laki-laki yang tidak dia kenal. "TIDAK MUNGKIN" bentak Dewa. Gill tertawa mengejek, laki-laki dihadapannya sudah termakan oleh kata-katanya. "Mungkin saja, kenapa tidak. Kau mau tahu seperti apa laki-laki yang dibutuhkan wanita. Yang pertama laki-laki tua, seperti kau ini. Yang bisa memberikan banyak uang, serta kekuasaan untuk wanita. Mereka tidak ingin berhubungan intim dengan laki-laki tua seperti kau, karena itu aku katakan jangan berharap bisa membahagiakan Zaza" Ingin rasanya Dewa memukul Gill saat ini juga, putranya sungguh kurang ajar bisa berkata demikian. "Lalu yang kedua, laki-laki buruk rupa. Jika diibaratkan, seperti pak Danu dengan Zaza." Kening Dewa semakin berlipat, apa hubungannya dengan Danu? "Biasanya laki-laki buruk rupa akan bersedia melakukan tugas apapun untuk membahagiakan wanita. Seperti menjadi bapak rumah tangga. Karena yang aku tahu, wanita paling malas mengerjakan hal-hal yang berbau urusan rumah tangga. Mereka hanya ingin memiliki banyak waktu untuk kebahagiaan mereka" "Tidak dengan Zaza" potong Dewa. Gill menggeleng-gelengkan kepalanya, dia sudah tahu pasti, ayahnya ini begitu mencintai Zaza. Namun dari keduanya tidak ada yang mau mengakui sedikitpun. "Kau belum tahu Zaza yang sebenarnya seperti apa." Ucap Gill. "Lalu yang ketiga, laki-laki Mandingo. Contohnya seperti aku" bangga Gill. "Mandingo?" Dewa memperhatikan Gill dari atas sampai bawah, lalu tertawa puas kearah putranya itu. "Kamu gak salah? Mandingo seperti mu? Dari mana dilihatnya?" "Jangan menilai aku dari luar !!" bentak Gill. "Karena yang ku tahu, wanita membutuhkan laki-laki yang besar dan kuat. Memang aku tidak begitu besar, tapi aku bisa dipastikan kuat. Dan Zaza membutuhkan laki-laki seperti aku. Karena sudah pasti aku bisa membuatnya kewalahan dalam bercinta" Plaakk.. Dewa refleks memukul kepala Gill dengan tangannya. "Ayah tidak pernah mengajarkan hal seperti ini padamu" "Aku rasa kau lupa, aku sudah cukup besar untuk belajar hal itu" cibir Gill. "Lalu yang terakhir?" Tantang Dewa. "Yang terakhir?" Gill melirik sekilas kepada seseorang yang tengah tertidur meringkuk di kursi ruang tunggu. "... yang terakhir laki-laki Gay seperti Ray" "Ray???" Gill mengangguk mantap, matanya masih memperhatikan Ray yang tengah tertidur. "Laki-laki Gay adalah yang paling bisa diandalkan wanita khususnya Zaza untuk menemaninya, membuatnya bahagia. Menghilangkan beban-beban pikirannya. Serta laki-laki Gay sangat fleksibel untuk diajak berbelaja, memilih barang-barang bagus untuk wanita. Dan kepada laki-laki Gay juga, si wanita menceritakan ketiga laki-laki lainnya itu. Karena dia percaya hanya kepada laki-laki Gay dia mampu menyampaikan keluh kesahnya." Tutup Gill dengan penjelasannya. "Jadi intinya?" Tantang Dewa. "Intinya, aku, kau, pak Danu, dan... Ray. Hanya bisa disekitarnya tanpa bisa memilikinya" DEG.. Memikirkan Zaza harus bersama keempat laki-laki itu membuat Dewa tersulut emosi. Dia tidak ingin berbagi miliknya kepada siapapun, termasuk anaknya sendiri. "Semua itu tidak akan terjadi, karena hanya satu pemenang dari keempat kesatria" tegas Dewa meninggalkan Gill begitu saja. Gill mengusap wajahnya, dia juga ingin egois seperti Dewa. Namun semuanya sirna saat tadi dia mendapatkan info yang sangat tidak dia duga. Hingga dia harus merelakan semuanya.. ~***~ Meski terkadang malam gelap hadir tanpa rembulan, entah mengapa aku masih berharap bintang hadir memberikan sedikit cahayanya.. ----- continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD