Bab 28

1475 Words
GRACE  -- Lemari kayu itu bergerak-gerak di belakangku. Aku bisa mendengar suara bedebum yang keras ketika seseorang menendangnya dengan keras. Kedua mataku terpejam, aku berusaha untuk membukanya: satu-dua-tiga, kelopak mataku terasa berat, seakan-akan seseorang meletakkan sesuatu di atasnya. Aku mencobanya sekali lagi, kali ini aku merasakan benturan kuat di belakang punggungku. Sesuatu di belakang sana seakan mencoba menendang-nendang punggungku. Kemudian, aku terlonjak ke depan. Tendangan berikutnya semakin kuat. Aku menarik nafas, pandanganku semakin buram, samar-samar aku melihat kain biru mengintip di antara celah pintu kayu yang terkunci rapat di belakangku, kemudian sesuatu menyentakku. Aku bergerak mundur, menekan lemari kayu itu lebih kuat dan sekali lagi merasakan pukulan kuat dari dalam sana. Ben ada di dalam sana. Aku bisa membayangkan kemarahannya sedang melegak. Kurasakan bibirku bergetar, peluh membasahi dahiku, tubuhku berkeringat, wajahku memerah. Aku rasa aku sedang mabuk, tapi aku mengingat dengan jelas ketika laki-laki itu menyeretku ke dalam ruangan sempit berbau apak ini. Jari-jariku mencakar lantai kayu, beberapa di antaranya terluka ketika aku berusaha menghindari serangan Ben. Aku berpikir tulang-tulangku remuk akibat terjatuh dari atas tangga. Aku bisa merasakan darah di ujung bibirku juga luka memar di wajahku. Ingatanku kabur, hanya beberapa yang tersisa: segelas anggur, jendela kusam yang memperlihatkan sudut kota, deretan bangunan bertingkat, dua orang remaja yang berjalan di jalur taman, seorang wanita tua yang berdiri di depan toko kue, dan percakapanku dengan Ben. Apa isi percakapan itu? Aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas, tapi aku menyadari Ben berdiri di sudut ruangan. Kedua mata gelapnya mengawasiku, sudut bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman, kemudian kami mendengar suara ketukan dari lantai bawah. Ben memintaku untuk menunggu, hal yang selanjutnya terjadi, dia menyerangku. Ben meneriakkan sebuah umpatan yang terdengar seperti: k*****t kau! Kemudian semua terjadi begitu cepat. Tubuhku tersentak ke depan, tendangan dari belakang semakin kuat. Punggungku menekan lebih kuat, dengan wajah berkeringat, aku berusaha mencari cara hingga tatapanku jatuh pada potongan kayu dari kursi yang patah. Aku bersusah payah ketika meraihnya. Sementara itu, Ben terus berusaha keluar. Jika aku menyerah, aku akan membiarkan pria itu menyakitiku – lagi. Aku menjulurkan satu kakiku ke depan untuk meraih kayu itu. Satu-dua.. usahaku gagal. Aku mencoba lebih keras, kali ini satu-dua-tiga.. Duk. Duk. Duk.. Suara pukulan semakin keras, aku nyaris terlepas. Udara di dalam sana kian menipis, aku bisa merasakan atmosfer ketegangan dalam setiap tarikan nafas. Dinding-dinding merahnya seakan menyempit, aku tercekik. Lebih jauh! Sedikit lagi.. aku nyaris menyuarakannya. Tubuhku bergetar saat aku berusaha mengingatnya. Dia sedang mengatakan sesuatu tentang bayi perempuan kami yang malang. Aku menamainya Lizzy dan aku suka memanggilnya Liz. Liz Baker, dia akan tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dengan sepasang mata almond, wajah bulat sempurna, hidung kecil yang mancung juga rambut lebat berwarna gelap seperti Ben. Ben memprotes ketika aku memanggilnya Liz, dia lebih suka Penny, dan kami berdebat selama berbulan-bulan karena nama itu, tapi aku tidak pernah melihatnya semarah ini. Aku tidak lagi merasa aman saat berada di dekatnya, dia membuatku takut. Kemudian aku mengingat kejadian malam itu: ketika Ben melempar tongkat golf dan memecahkan kaca di ruang tamu. Dia berteriak di depan wajahku dan mengucapkan umpatan kasar. “Kau jalang k*****t!” Wajahku memerah, aku menangis semakin kencang dan itu tidak membuatnya merasa simpati, aku hanya membuat suasana hatinya semakin kacau. Kemudian aku mengingat Anna Floyd – wanita yang tiba-tiba menyusup dalam kehidupan rumah tangga kami: jalang bermuka dua. Wanita itu tidak hanya merebut suamiku, dia juga merebut tempatku di rumah pernikahan kami dan melahirkan bayi perempuannya yang kotor. Aku tidak suka membayangkannya menempati kamarku, tidur di atas ranjang empuk yang kutempati bersama Ben selama tujuh tahun, atau menggunakan pakaian yang kutinggalkan di dalam lemariku. Aku tidak suka membayangkannya menggunakan semua riasanku, duduk di depan kaca riasku atau menggunakan jubah mandiku. Tapi aku telah melihatnya berkali-kali: Anna sedang berdiri di dapur, satu tangannya menekankan sebuah ponsel ke telinga dan ia berbicara dengan seseorang di seberang, sementara bayi perempuannya sedang duduk dengan polos di atas meja makan yang kubeli di tahun pertama perniakahnku dengan Ben. Aku menatap jari-jari gemuk bayi itu menggenggam sebuah mainan plastik, dia mengayunkan lengan kecilnya ke atas dan ke bawah berkali-kali, kedua mata besarnya tampak berbinar sedang mulutnya mengeluarkan liur. Atau di lain hari ketika aku melihat Anna berdiri di belakang jendela kamarku – kamar yang kutempati dulu, wanita itu sedang mengecat dinding kamarku, mengganti warna biru cerahnya menjadi warna merah yang lebih gelap, dia juga menghilangkan semua poster dan pajangan yang kugantung di dinding itu. Aku menggeram, tapi tidak ada yang bisa kulakukan selain beridiri di seberang, mengamatinya dan berharap suatu saat aku dapat mencekik lehernya. Ben membiarkan semua itu. Dia melakukannya hanya untuk membuat Anna merasa nyaman, tapi aku tahu kebenarannya. Aku sudah melihat monster yang bersembunyi di balik wajah tampannya. Satu – dua, jari-jari kakiku berhasil mengapai potongan kayu itu. Aku menyeretnya lebih dekat, kemudian menggunakan potongan itu untuk mengganjal kedua pintu lemari. Ben terus memukul-mukul, dia berusaha mendobrak pintunya, tapi sejauh ini usahanya tidak berhasil, atau itu hanya masalah waktu sebelum dia berhasil menghancurkan pintu lemari itu kemudian mencekikku. Aku memutuskan untuk pergi sebelum dia benar-benar melakukannya. Kutatap pintu lemari yang bergerak-gerak itu. Kini, suara bedebumnya semakin lemah. Aku mengambil kesempatan itu dan dengan cepat berlari keluar dari ruangan sempit berbau apak itu. Kakiku melangkah dengan limbung sehingga aku nyaris membentur daun pintu. Pandanganku semakin kabur, itu pasti karena dosis obat yang dicampurkan ke dalam anggur yang kuminum. Lorong gelap di bangunan tua itu kini tampak berbayang. Kedua tanganku menyusuri dinding-dinding di kedua sisinya, aku menyeret langkahku dengan cepat meninggalkan tempat gelap itu. Begitu aku mencapai tangga kayu, kakiku terpeleset dan aku jatuh dari tiga tangga teratas. Kini jari-jariku mencengkram susuran tangga dengan kuat. Samar-samar, aku bisa mendengar suara teriakan Ben dari kejauhan, suaranya semakin teredam hingga hanya terdengar seperti sebuah dengungan. “Grace, Grace, sialan kau!” “Tidak, hentikan Ben!” Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku menyeret tubuhku menuju pintu kayu di dalam pondok tua itu. Ruangan kosong di bagian depannya tampak kacau. Daun kering bertebaran dimana-mana, jendelanya rusak dan pecahannya berserakan di atas lantai. Tubuhku limbung, wajahku pucat dan bibirku terasa kering. Kepalaku terluka akibat pukulan keras itu dan aku tidak tahu dimana Abby. Aku harus menyelamatkannya tapi pertama-tama, aku harus menyelamatkan diriku. “Grace! Kau tahu apa? Kau seperti anjing bodoh yang terus mengikutiku.” “Tidak,” suara-suara itu menggangguku, tapi aku tidak berbalik untuk melihat monster itu berdiri di ujung tangga dengan sebuah tongkat golf di satu tangannya. Tubuhku melemah, tapi aku tidak menyerah. Ketika aku akhirnya berhasil mencapai pintu, kuseret langkahku menjauhi pondok itu. Kemudian, aku berlari cepat. Samar-samar aku mendengar Ben berteriak di belakangku. “Jangan ganggu kehidupanku, k*****t!” Kini, aku bisa merasakan air mata membanjiri wajahku. Aku menolak untuk berbalik, aku tidak akan menatap ke belakang hanya untuk memastikan laki-laki itu berada cukup jauh dari jangkauanku. Yang kulakukan hanya terus berlari hingga kedua kakiku menyerah dan sekujur tubuhku rentak. Ketika aku akhirnya berhasil melewati rawa itu, langit telah gelap. Aku kehilangan arah dan aku melupakan Abby. Itu bukan yang terpenting sekarang. Aku harus menyelamatkan diriku. Kuperhatikan jendela kamar Liz mengayun terbuka ketika aku berjalan melewati jalur setapak di seberang rel. Bangunan yang dulu menjadi rumahku kini berdiri di seberang sana dan menatapku kosong. Tidak ada penerangan di kamar Liz. Pintu-pintunya tertutup rapat kecuali pintu di belakang balkon. Samaar-samar aku melihat Anna berdiri di sana, kupikir aku hanya membayangkannya, namun wanita itu memang berdiri di balkon. Kedua matanya menatapku dengan kesal kemudian ia berbalik pergi dan menyentak pintu di belakangnya hingga tertutup. Kereta bergerak melewati bangunan itu di saat yang bersamaan. Dahan-dahan mulai bergerak tertiup angin kencang dan sinar dari lampu depannya menyorot wajahku. Aku bergeming hingga kereta itu berlalu cepat. Kemudian, ketika keheningan kembali menyelimuti jalur di seberang rel, aku melangkah pergi. Jalanannya lebih sempit bahkan terlihat berbayang. Selama sesaat aku lupa jalan untuk kembali ke apartemen Tess. Aku melupakan tas dan syal yang kukenakan. Dimana aku meninggalkan barang-barang itu? Ponselku ada di dalam tas dan kini aku tidak dapat menghubungi siapapun untuk meminta bantuan. Jadi aku terus berjalan dan menahan rasa sakit yang berdenyut-denyut di bagian belakang kepalaku. Setelah berjam-jam, kedua mataku akhirnya mengering hingga tidak ada lagi air mata yang tersisa. Aku pulang dengan perasaan kosong. Namun, aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi dengan remaja yang berkeliaran di sekitar apartemenku. Aku tidak ingat orang-orang yang berjalan di atas trotoar yang sama ketika aku menuju apartemenku, atau sederet mobil yang diparkir secara sembarang di sana. Aku baru mencapai undakan tangga menuju apartemenku ketika langkahku goyah dan aku terjatuh. Kepalaku membentur aspal, rasa sakitnya tak tertahankan. Kemudian aku mendengar suara pekikan seseorang. Jane Foster berdiri di ujung jalan. Wajahnya pucat ketika menyaksikanku. Kemudian laki-laki itu berlari ke arahku. Ia tergesa-gesa. Itu lucu tapi dia terlihat sangat panik. Entah bagaimana aku masih terpikir untuk menertawakannya. Tapi dunia menjadi pudar bahkan sebelum sudut bibirku melengkung. Sebuah lengan yang besar dan kuat merangkulku, dan tubuhku diayunkan. Bibirku bergerak-gerak, tapi aku tidak yakin tentang apa yang hendak kukatakan. Kupikir aku bermaksud mengatakan ‘Abby’. Kemudian, semuanya menjadi gelap.  .. - LAST WITNESS -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD