Bab 29

2074 Words
GRACE  -- Grace!! Suara berisik dari buzzer yang dibunyikan berhasil membangunkanku. Aku tersentak karena kaget ketika suara gemerisik yang menyerupai suara lalat yang sedang berkerumun itu kembali terdengar. Kali ini lebih keras. Seseorang menekan buzzer berkali-kali. Tapi itu tidak hanya terjadi hari ini, aku pernah terbangun di pagi yang sama karena suara berisik itu. Kemudian aku segera tahu bahwa ada tiga - mungkin empat orang remaja yang sedang menjahiliku. Kedua mataku terasa berat, aku mengerjapkannya berkali-kali saat sinar matahari yang mengintip di balik celah jendela itu menyilaukanku. Ada empat botol anggur yang tergeletak di atas meja, itu tidak seperti biasanya. Aku hanya sanggup menghabiskan dua botol, malam ini aku pasti sangat mabuk. Apa yang terjadi semalam? Tanggal berapa sekarang? Ini sudah hari keberapa? Sembari memikirkannya, aku berusaha menyeret tubuhku dari atas kasur. Lantai kayu di bawa kakiku terasa dingin, aku baru teringat kalau aku tidak mengenakan pakaian tidurku malam ini. Aku bahkan tidak yakin apa yang kulakukan semalam. Samar-samar aku mengingat Sean, dia sedang menyaksikan film Ghost Rider di ruang depan ketika aku pulang, kemudian laki-laki itu menawarkanku anggur. Kami duduk sebentar dan berbicara. Tapi aku tidak ingat apa yang kami bicarakan. Yang kuingat, Sean pergi sebelum aku jatuh tertidur. Kemudian ada sejumlah pesan yang masuk ke mesin penjawab telepon. Beberapa di antaranya berasal dari Tess, temanku dan beberapa pesan lain dari Dani, seorang pembina di acara sosial yang kujumpai sekitar tiga bulan yang lalu. Pesan itu berisi ajakan untuk menghadiri acara perkumpulan siang ini, acaranya dimulai sekitar pukul sebelas, aku melirik alarm di meja kayu: 11.25. Mungkin lain kali. Aku menyeret langkahku menuju dapur, suara berisik buzzer masih berbunyi di ruang depan. Remaja itu tidak akan berhenti sampai aku menumpahkan seloyang kue di atas kepala mereka. Aku membuka lemari pendingin, memeriksa isinya. Ada tiga botol mineral yang tersisa, dua botol bourbon yang ditinggalkan Sean, sisa makanan kaleng dan keju batangan yang tidak lagi utuh. Aku meraih sebotol bourbon kemudian bergerak menuju dapur seperti anak kecil yang baru saja mendapat maninannya. Meja dapurnya masih berantakan, Sean tidak membersihkan sisa makanannya semalam dan aku lupa mencuci peralatan makanku siang kemarin. Seekor kucing berbulu hitam baru saja melompati jendela yang terbuka, kini kaki kotornya menginjak meja dapur dan lidah kecilnya terjulur saat ia membersihkan sisa pasta milik Sean di atas bak pencuci piring. "Tammy!" Aku suka memanggilnya Tammy, tapi Sean lebih senang memanggilnya Tom si jalang. Laki-laki itu tidak pernah menyukai gagasan untuk memelihara seekor kucing di apartemen milik saudara perempuannya, bagaimanapun kucing itu yang menemaniku dalam masa-masa sulit. Kali ini, Tammy menjilati kuku-kuku tajamnya. Sepasang mata hijaunya kemudian mengamatiku, kucing itu menggerak-gerakkan ekornya seolah mencoba berbicara denganku. "Tammy.. turun dari sana!" Aku membuka lemari penyimpanan porselen di atas, berusaha menemukan gelas yang masih bersih. Namun setelah menghabiskan beberapa detik dan tidak juga menemukan apa yang kucari, aku menyerah untuk meminumnya langsung dari botol. Suara buzzer dari arah depan kembali terdengar. Aku memejamkan mata, mengangkat botol bourbon ke bibir dan menyesap minumanku dari sana. Tammy baru saja meninggalkan bak pencuci piring, kali ini kucing itu melompat ke arah meja makan dan mengelilinginya seperti lapangan bola. "Tammy, jangan!" Ekornya yang panjang melambai ke arahku, kucing itu melompat lagi dan sebelum aku berhasil mencegahnya, ekornya menyikut vas antik milik Tess hingga vas itu berguling di atas meja dan mendarat di atas lantai persis ketika aku hendak meraihnya. Suara pecahan keramik yang jatuh di atas lantai terdengar nyaring. Aku meletakkan botol bourbon-ku secara sembarang dan pergi untuk membenahi kekacauan itu. "Sial Tammy!" Kucing itu melompat pergi dan menghilang dari arah datangnya di balik jendela. Samar-samar aku mendengar suara gemerisik ketika bulu lebatnya menyentuh tirai jendela atau ketika kakinya menginjak pecahan keramik di luar sana. Aku nyaris membayangkan kucing itu mendesis kesakitan. "Jangan bergerak kemanapun, b******k!" Suara buzzer berikutnya membuatku geram. Kali ini suara itu disusul oleh deringan telepon dari samping lemari pendingin. Aku bergerak untuk mengumpulkan pecahan keramik di atas lantai kemudian membuangnya ke dalam kantong hitam. Sebelum aku berhasil mencapainya, telepon  itu kemudian beralih ke pesan suara.   Grace! Aku melihatnya.. wanita itu meninggal. Mungkin overdosis, kecelakaan, sakit, aku tidak tahu. Tapi dia mati. Polisi menemukan jasadnya. Ramai sekali disini. Hubungi aku jika kau siap mendengarnya.    Suara buzzer. Aku menjilati bibirku yang terasa kering. Kali ini aku berjalan melewati lorong gelap menuju pintu depan di apartemen sempit itu. Aku berdiri di depan monitor interkom dan mengintip ke luar, dua orang pria berseragam sedang berdiri di depan pintu. Satu di antaranya menekan buzzer berkali-kali. Aku menekan tombol merah, kemudian pintu bergeser terbuka. Kali ini aku menahannya dengan tubuhku dan hanya menyisakan sedikit celah untuk mengintip keluar sana. Aku melihat dua pria tinggi itu mengamatiku. Satu bertubuh kurus dan jangkung satu yang lain tinggi hitam dan berkulit gelap. Mereka sama-sama mengenakan jaket hitam yang menutupi seragamnya. Pria berkulit gelap itu memiliki tatapan yang lebih hangat semenatara pria kurus bertubuh jangkung memiliki tatapan yang muram. Salah satu dari mereka berbicara, kali ini pria berkulit hitam. "Detektif Jose dan Barry dari NYPD, kami ingin membahas seorang wanita yang dikabarkan menghilang selama sebulan.." "Siapa?" Laki-laki itu belum sempat menyelesaikan kata-katanya ketika aku menggeser daun pintu hingga terbuka lebih lebar. Kini tenggorokanku terasa kering seperti ada sesuatu yang membakar di sana. Aku sudah bisa menebak bahkan sebelum laki-kali itu menunjukkan selembaran foto padaku.  "Namanya Abigail Randle, orang-orang mengenalnya sebagai Abby. Apa kau merasa familiar?" Hening, kemudian – suara ponsel berbunyi. Pria bertubuh jangkung yang memperkenalkan dirinya sebagai detektif Barry kemudian bergerak menyingkir untuk menerima panggilan. Aku masih berdiri di tempatku beberapa detik sebelum pria itu kembali dan berbisik pada rekannya. Jalanan di luar tampak sepi, tidak seperti biasanya, kali ini tidak ada remaja usil yang berkeliaran di sekeliling pintu apartemen milik Tess. Tidak ada wanita tua yang tinggal di seberang jalan, atau gambaran pasangan Foster yang baru-baru ini bertengkar. Aku merasa sendirian. Sean pergi pagi ini sebelum aku bangun, sementara Tess baru akan kembali beberapa hari lagi. Tidak ada seseorang yang berada di apartemen itu. Semuanya kosong. Siang bergerak sedikit lambat hari ini. Aku sedang memikirkan catatan yang kutinggalkan di atas meja ketika detektif Barry bicara. “Dia ditemukan meninggal. Bisakah kita membicarakan ini di dalam?” Aku tertegun, kemudian - “Ya.”     Sudah genap satu pekan yang lalu ketika kali terkahir aku melihat Abby. Aku mengingat wanita itu berjalan menyusuri terowongan gelap kemudian berbalik dan berlari ke arahku sebelum seseorang memukul bagian belakang kepalaku dengan keras. Sudah genap satu pekan yang lalu ketika aku berjalan tersuruk-suruk menuju apartemen Tess dan jatuh pingsan di dekat tangga. Samar-samar aku mengingat Jane Foster yang berdiri di ujung jalan dengan terkejut saat melihatku, kemudian Sean berlari ke arahku, laki-laki itu membopongku dan yang kuingat kemudian, aku terbangun pagi itu dengan tubuh limbung. Sean mengatakan aku pingsan semalaman. Ia khawatir tentang luka di belakang kepalaku, tapi yang membuatku lebih khawatir adalah Abby. Wanita itu tidak ditemukan sejak kali terakhir aku melihatnya di terowongan. “Seseorang pernah melihatmu berkeliaran di sekitarnya dan kelihatannya kau mengenal wanita ini cukup baik.” “Siapa bilang begitu?” “Kami menemukan ponselnya. Kau orang terakhir yang dihubungi Abigal sebelum wanita itu dikabarkan menghilang. Apa kau keberatan memberitahu kami apa yang disampaikannya di telepon?” Aku bergeming memandangi dua polisi itu secara bergiliran. Keheningan itu kian terasa mencekam hingga kupikir aku baru saja mendengar suara nafasku sendiri. Di seberang pintu, dua penyelidik itu masih terus mengawasiku. Tatapannya membuatku berdiri dengan waspada di tempatku. Hingga beberapa detik kemudian, aku memutuskan untuk memberi jawaban. “Ya. Itu benar. Dia pasienku..” “Maaf?” detektif Barry menyelaku dengan cepat. “Dalam catatan yang kami punya, kau tidak bekerja dimanapun. Kau sudah berhenti dari pekerjaanmu sebagai ahli terapis kurang dari lima tahun yang lalu.” “Ya, tapi aku membuka terapi secara online, dan aku mengenal Abby dari sana.” “Terapi online?” katanya seolah sedang mengeja ucapanku. “Ya.”                          “Jadi kau memberi konseling pada pasienmu? Termasuk Abby?” “Benar. Dia yang pertama menemukanku. Dia mengatakan banyak hal tentang pria yang disukainya.” “Kami tidak tahu tentang itu, kau akan mengatakannya?” Aku mengabaikan pertanyaan terakhirnya dan balik bertanya, “bagaimana dia ditemukan meninggal?” “Jasadnya ditemukan di dekat hutan.” “Itu belum tentu Abby, kan? Kalian belum memastikannya.” “Tim kami sudah memastikan itu. Kecocokannya sesuai. Dia wanita yang menghilang.” “Tapi.. aku melihatnya saat itu. Dia masih hidup.” “Mungkin kau bisa menjelaskan apa yang kau katakan sebelumnya.” Kurasa inilah saatnya. Aku menggigit bibir bawahku dengan takut. Membayangkan aku menyeret Ben dalam masalah ini membuatku ngeri. Namun, laki-laki itu telah melakukan sesuatu yang buruk pada Abby dan jika kematian Abby disebabkan karenanya, maka perbuatannya tidak termaafkan. “Ya, dia mengatakan dia memiliki hubungan gelap dengan seorang laki-laki. Aku tahu siapa laki-laki ini. Namanya Benjamin Campbell, dia mantan suamiku.” Kedua detektif itu saling bertukar pandang. Aku menunggu reaksi mereka dengan resah, hingga detektif Jose maju untuk berbicara. “Bagaimana itu menjadi kebetulan?” “Aku tidak tahu! Dia hanya mengatakan padaku kalau dia menyukai dosennya. Kemudian suatu saat dia melihatku berbicara dengan mantan suamiku dan dia mengatakan bahwa laki-laki itu yang dimaksudnya.” “Apa Abigail tahu kebenarannya?” “Tidak, aku tidak ingin membuatnya khawatir. Tapi aku telah memperingatkannya berkali-kali. Dia tidak percaya padaku, jadi aku memintanya untuk mendatangi rumah pernikahanku dan mantan suamiku. Abby melihat Ben bersama istrinya disana dan Ben menjadi marah. Abby mengatakan Ben berkali-kali memukulnya. Aku memintanya untuk menjauhi Ben, tapi Abby menolak. Dia tergila-gila pada pria ini dan perlu kalian ketahui, dia sedang mengandung anaknya.” “Mantan suamimu?” “Ya.” “Jasadnya akan diautopsi dan hasil tes darahnya akan keluar dalam hitungan hari, tapi kami akan memastikan pengakuanmu. Apa ada hal lain yang dia katakan? Kau bilang kau melihatnya saat itu?” “Ya, di terowongan. Aku melihatnya turun dari mobil. Dia menghubungku sebelumnya.” “Apa yang dia katakan?” “Dia meminta bantuanku. Dia bermaksud menemui Ben, tapi kemudian Abby mengatakan kalau laki-laki itu akan menyakitinya.” “Bagaimana dia tahu?” “Ben marah karena Abby cemburu dan berniat untuk membuka hubungan gelap mereka pada istrinya.” “Apa Ben tahu Abby sedang mengandung anaknya?” “Ya, dan dia meminta Abby untuk menggugurkannya.” “Apa Abby melakukannya?” Aku menggelengkan kepala. “Jadi kau punya bukti fisik untuk membenarkan kesaksianmu?” “Percakapan kami di situs terapi online itu dan mungkin kalian bisa memeriksa brang-barang Abby. Pasti ada yang tersisa untuk membuktikannya.” Detektif itu mengangguk, salah seorang dari mereka mencatat sesuatu di sebuah buku kecil kemudian mengangkat wajah dan menyapukan pandangannya ke sekitar apartemenku. “Jadi kau tinggal disini? Apa kau menyewa tempat ini?” “Tidak, ini apartemen temanku Teresa.” Detektif Barry berjalan mengitari seisi ruangan sembari mengamati. Laki-laki itu berhenti persis di dekat perapian. Tatapannya jatuh ke atas meja kayu tepat dimana empat botol alkohol dan sampah sisa makanan kubiarkan tergeletak disana. Tammy secara tiba-tiba mengeong dari arah dapur, kemunculannya telah memecahkan keheningan di seisi ruangan. “Dimana temanmu?” “Dia sedang dalam perjalanan bisnis ke London dan dia akan menetap di sana untuk beberapa hari lagi.” “Ini milikmu?” tanya detektif Barry ketika menunjuk botol alkohol itu. “Uum.. ya, semalam aku menerima tamu.” “Jadi sudah berapa lama kau mengenal Abby?” tanya detektif Jose yang berdiri di seberangku. “Satu minggu yang lalu sejak kami terhubung di situs terapi online itu.” “Berapa banyak pasien yang bergabung?” “Dua puluh satu, mungkin lebih. Sebagian besar sudah tidak aktif.” “Kami perlu melihat percakapanmu dengan Abby.” “Ya, tentu saja.” “Apa kau akan bekerja sama dengan kami?” Aku mengangguk. “Bagus. Kami mengundangmu untuk hadir di kantor polisi besok sekitar pukul satu dan mungkin kami membutuhkan keterangan lengkap tentang mantan suamimu.” “Aku akan memberikannya.” “Ini penting tapi sebaiknya kau tidak berpergian selagi kasus ini ditangani.” “Apa maksudmu? Apa kematian Abby..” “Kami belum dapat memastikannya sampai hasil tesnya keluar. Tapi kau perlu waspada. Wanita itu ditemukan dalam kondisi yang tidak wajar dan itu memberikan asumsi kalau seseorang terlibat atas kejadian ini.” “Itu pembunuhan?” “Mungkin.” Tubuhku bergidik dan aku tertegun sampai dua pria itu berjalan menuju pintu, aku bergegas mengajar mereka. “Tunggu, detektif. Jika kau berpikir kalau mantan suamiku..” “Tidak, kami belum memikirkannya,” sela detektif Jose sembari berbalik ke arahku. “Abigail masih sangat muda dan cukup banyak orang yang mengenalnya. Ada banyak kemungkinan, ada banyak tersangka, tapi kami akan memulainya dari yang terdekat.” Detektif Barry maju kemudian menjabat tanganku dan tersenyum lembut. “Terima kasih untuk waktumu. Sampai jumpa di kantor polisi besok.” Dua laki-laki itu tidak memberiku kesempatan untuk menanggapinya ketika mereka berbalik pergi dan menghilang di balik pintu. Kini, keheningan di dalam ruangan menyelimutiku. Bayangan tentang tubuh Abby yang terkujur tak bernyawa menghantuiku. Aku masih ingat percakapan terakhir kami dan suaranya di telepon. Abby terdengar sangat ketakutan dan tidak ada seseorang yang bisa menolongnya. Tenggorokanku tercekat. Aku tidak bisa memikirkan hal lain sepanjang siang itu. Beberapa hal berkerumun di dalam pikiranku: Ben, Abby dan Anna. Aku bertanya-tanya bagaimana reaksi Anna jika mengetahui hal ini? Dan apakah benar Ben terlibat. Aku tidak ingin menebaknya, namun laki-laki itu mengancam Abby. Abby ada bersamanya ketika kali terakhir kami berbicara dan Ben memaksa Abby untuk mengugurkan bayinya. Mungkinkah Ben pelakunya? Ben memukulku persis di dekat terowongan itu, laki-laki itu mungkin melakukan hal yang sama pada Abby – tapi membunuhnya? Tubuhku bergetar dan wajahku berkeringat. Hanya ada satu cara untuk memastikannya. Aku perlu mendatangi laki-laki itu dan berbicara padanya.  .. - LAST WITNESS -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD