Bab 18

346 Words
GRACE  -- Aku melihatnya..   Apa?   Aku melihat laki-laki itu menemui wanita lain di kota.   Aku menatap layar komputerku lama, kemudian membaca ulang pesan dari Abby yang baru saja terhubung denganku di situs terapi online itu. Selama sesaat aku memikirkan kalimatnya. Aku melihat laki-laki itu menemui wanita lain. Dia berusaha menceritakan sesuatu bukan?   Kau tahu The Barley's?   Tubuhku menegang seketika, namun jari-jariku tidak berhenti menekan tombol huruf di atas keyboard.   Ya, tempat itu tidak terdengar asing untukku.   Laki-laki itu ada di sana. Dia menemui seorang wanita. Mungkin wanita lain. Aku sudah menduga hal ini sebelumnya, seharusnya aku tahu. Aku akhirnya melihat wanita itu.   Aku mengetahui secara pasti bahwa aku tidak benar-benar ingin mendengar jawaban ini, tapi aku tetap bertanya.   Bagaimana tampilannya?   Rambut kecoklatan, aku tidak yakin.. warnanya gelap. Dia menggunakan mantel hitam dan menenteng sebuah tas kecil. Dia juga memakai syal berwarna biru yang melingkari lehernya. Tampangnya menyedihkan, aku tidak mengerti mengapa pria itu memilihnya.   Apa pria itu mengenakan topi hitam?   Ya, bagaimana kau tahu?   Nafasku terengah. Kini aku merasa bisa mendengar suara detak jantungku yang melambat.   Abby, apa kau telah memastikan kalau pria ini tidak beristri?   Dia tidak pernah membicarakan hal itu padaku. Lagipula sudah kukatakan padamu kalau aku hanya akan menyinggungnya jika bertanya. Dia mudah sekali marah. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi aku penasaran bagaimana dia melakukannya. Dia menemui wanita lain! Dasar sialan! Kuharap aku dapat mematahkan lehernya, meludahi wajahnya atau apapun.   Aku menyentak tubuhku bangkit dari atas kursi dan mulai berjalan mengitari kamarku. Tepat ketika aku melihat pantulan wajahku di cermin, aku menyadari bagaimana wajah itu memucat. Sementara itu, dari balik kaca jendela kamarku, aku melihat kabut hitam menggumpal di atas sana. Langit berubah gelap, kota mendadak sunyi. Layar di komputerku yang berkedip memberitahuku bahwa ada satu pesan masuk lainnya. Nama Abby terpampang jelas di sana. Aku mengabaikan pesan itu kemudian bergerak menuju dapur tempat dimana aku meletakkan botol anggurku. Ketika menemukannya, aku langsung menegaknya satu. Lidahku terbakar, tapi aku tidak berhenti. Kedua mataku terasa menyengat dan aku berkeliaran mondar-mandir seperti orang kerasukan. Ketika aku tidak bisa membendungnya lebih lama lagi, aku mulai menangis. Tubuhku merosot di dinding dan aku meleleh. .. - LAST WITNESS -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD