GRACE
--
Sudah terlambat, Grace.. aku tidak bisa mencegahnya. Aku hamil dan laki-laki itu tidak menginginkan bayi ini.
Kulitku bergelenyar dan tiba-tiba cairan alkohol di lidahku terasa hambar. Aku menatap layar komputerku untuk waktu yang lama – lebih lama dari yang kukira. Kubiarkan pesannya menggantung di bagian teratas dari kolom percakapan online-ku. Aku tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan, aku tidak berpikir jernih pagi itu.
Abby tidak dapat mencegah kehamilannya, dan laki-laki Itu menginginkan Abby untuk menggugurkan kandungannya. Aku tahu persis alasannya, aku pernah merasakan kekejamannya. Hanya saja, aku tidak membayangkan hal itu akan terjadi pada pasienku. Aku tidak bisa menyalahkan Abby, tapi aku membencinya setelah membayangkan bagaimana wanita itu menggoda Ben. Aku menjadi semakin membencinya ketika dia mengatakan bahwa dia tengah mengandung anak Ben – anak yang tidak pernah berhasil kupertahankan bersama Ben.
Aku benci membayangkan bagaimana Ben menyetubuhi wanita itu. Dia masih sangat muda, tidak cantik tapi cukup menarik. Dia sama kacaunya seperti Anna dan dia adalah masalah lain yang perlu disingkirkan selain Anna. Saat ini, aku tidak yakin lagi tentang perasaanku. Aku tidak yakin keinginanku untuk menyingkirkannya. Aku tidak yakin lagi kalau aku membencinya. Terlepas dari perbuatan kotornya, dia adalah korban lain. Dia sama sepertiku, seperti Anna. Kami tidak lain adalah korban ketamakan Ben. Kami mencintai laki-laki yang salah dan menghancurkan hidup kami karenanya.
Aku rasa aku pernah menjadi sebodoh Abby. Aku melakukan sebuah kesalahan dan membiarkan kesalahan itu menghancurkanku. Itu hal terbodoh yang pernah kulakukan, namun aku tidak bisa menolong diriku.
Darahku berdesir cepat. Aku bisa merasakan adrenalinku berpacu kuat. Untuk pertamakalinya dalam hidupku, aku berhasil membenci laki-laki itu. Aku muak dengan perbuatannya. Dia menghianatiku ketika memutuskan untuk berselingkuh dengan Anna dan rupanya hal itu tidak cukup. Untuk pertamakalinya, aku merasa bodoh. Aku ingin meludahi wajah sialannya. Aku harap aku punya keberanian untuk menampar wajahnya, memukulnya persis seperti yang ia lakukan padaku.
Bibirnya bergetar, keningku berkeringat. Apa yang akan dilakukan Abby? Apa ia akan menggugurkan bayinya seperti yang diinginkan Ben? Apa dia akan melakukannya kemudian kembali pada Ben tanpa rasa bersalah seperti anjing bodoh?
Kau tahu apa? Kau persis seperti anjing! Berhenti mengikutiku seperti anjing! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi.
Aku masih mengingat dengan jelas apa yang dikatakan Ben. Baginya aku tidak lain hanyalah anjing bodoh yang akan terus kembali padanya. Dia tidak menganggapku sedikitpun. Dia telah membenciku bahkan sebelum kematian Liz dan tidak ada wanita yang pantas untuknya.
Kemudian, perasaan itu muncul begitu saja. Aku merasa kasihan pada Abby, dan tiba-tiba aku merasa peduli. Aku tidak ingin Ben menyakitinya persis seperti cara laki-laki itu menyakitiku. Aku tidak ingin melihat laki-laki itu bersikap lembut padanya untuk kemudian memukulnya tanpa rasa bersalah.
Kuncondongkan tubuhku ke depan layar. Kini aku lebih mantap, lebih yakin dengan apa yang hendak kusampaikan dan untuk pertamakalinya sejak bertahun-tahun, aku merasakan perasaan itu kembali: rasa bebas yang membuatku hidup. Aku pernah merasakan hal yang sama ketika aku bekerja di rumah sakit. Perasaan yang membuatku merasa dibutuhkan. Perasaan yang tidak bisa kujelaskan. Aku merasakannya saat ini. Aku peduli pada Abby, dan itu bukan semata-mata karena aku membenci Ben, tapi karena aku merasa bahwa kami tidak lain hanyalah korban yang sama. Aku menginginkan wanita itu bebas, kemudian aku akan menemukan kebebasanku. Aku akan menemukan kembali diriku yang hilang bertahun-tahun setelah kepergian Liz. Abby menjadi harapanku saat ini.
Belum terlambat. Kau bisa meninggalkannya. Kau bisa melanjutkan hidupmu.
Tidak. Kau tidak mengerti. Aku mencintainya. Aku rasa aku rela mati untuknya.
Aku mendengus miris. Wanita ini terlalu muda untuk menyadari tindakannya. Aku pernah menjadi sebodoh Abby, ketika kupikir apa yang kuinginkan adalah yang benar-benar kubutuhkan.
Jangan menyerah! Kau bisa melawannya. Kau tidak boleh melakukan apa yang dikatakannya.
Kenapa kau bicara seperti ini padaku?
Pesan terakhir itu memukulku, membuatku tertegun untuk waktu yang lama. Kemudian setelah menarik nafas panjang, aku memberanikan diriku. Sudah saatnya. Tidak ada Ben sialan yang akan mengacaukan hidupmu.
Karena aku pernah mengalaminya. Aku pernah menjadi gadis bodoh yang tidak berpikir jernih, dan aku sangat menyesali perbuatannya saat itu. Tapi aku tidak bisa mengubah waktu. Apa yang sudah hilang tetaplah hilang. Itu tidak akan tergantikan tapi apa yang menantimu di depan bisa saja kau ubah. Kau tidak harus melakukan apa yang dikatakannya. Laki-laki itu tidak mencintaimu. Dia tidak seharusnya memukulmu. Dia tidak seharusnya melakukan sesuatu dan tidak bertanggungjawab atas perbuatannya. Kau harus menghentikannya. Itu satu-satunya cara.
Bagaimana aku bisa menghentikannya?
Berhenti menangisinya. Berhenti berpikir kalau dia layak untukmu. Kau tidak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi.
Benarkah? Dia ingin aku menemuinya di pondok rahasia kami. Aku tidak bisa menolaknya.
Tidak, itu bukan tindakan bijak.
Bagaimana aku bisa bertindak bijaksana setelah apa yang terjadi? Apa kau berpikir aku bisa berpikir waras?
Aku perlu menemuimu, Abby. Aku perlu menolongmu.
Tapi kau bilang kau tidak menemui pasienmu?
Aku membuat pengecualian.
Dan kenapa kau berpikir kalau aku membutuhkan pertolonganmu?
Kurasa situasinya sudah jelas.
Oke, tapi setelah aku menemui pria ini.
Tidak, kau tidak harus melakukannya. Apa yang kukatakan padamu tentang pria ini?
Aku tidak bisa menahannya, Grace.. aku menginginkannya.
Dia tidak menginginkanmu.
Mari kita buktikan.
Kau harus mendengarkan yang kukatakan..
Tidak ada balasan. Aku menjadi gelisah, jari-jariku menekan tombol keyboard lebih cepat.
Bagaimana jika dia menyakitimu lagi?
Kau tidak tahu siapa pria yang kau cintai.
Abby??
Abby??
Tidak ada balasan. Wanita itu telah meninggalkan percakapan sejak beberapa menit yang lalu dan dia membiarkan pesanku menggantung di laman percakapan kami. Kini aku hanya duduk sembari menatap ke arah layar komputerku dan menunggu. Mataku tidak berkedip hingga cahaya terang dari layar komputer itu membuatnya terasa perih. Setelah beberapa menit menunggu dan tidak mendapatkan hasil, aku memutuskan untuk melacak profil Abby. Aku menemukan namanya di sebuah universitas tempat Ben bekerja. Abby merupakan salah satu mahasiswa di sana dan dia tercatat akan lulus beberapa bulan lagi.
Kemudian, apa yang akan dilakukan wanita itu setelah ini? Apa yang akan terjadi pada bayinya? Membayangkan Abby akan melukai dirinya demi Ben membuatku tidak dapat duduk dengan tenang.
Aku bangkit berdiri meninggalkan komputerku dan bergerak ke arah jendela. Awan pucat yang mengintip di luar sana meniupkan angin dari arah utara. Udara dinginnya baru saja membisikanku bahwa sesuatu akan terjadi.
Kuputuskan untuk meraih mantel dan tasku kemudian aku keluar dari apartemen itu. Ketika aku berjalan menyusuri lorong gelap dan menuruni tangga kayu, aku bisa merasakan kedua tanganku bergetar. Lidahku terasa kering seakan anggur yang kuteguk pagi ini tidak cukup. Meskipun begitu aku cukup sadar untuk melakukan ini. Aku tahu kemana aku hendak pergi dan aku memiliki tujuan: aku ingin menyelamatkan Abby.
..
- LAST WITNESS -