Bab 25

375 Words
ABBY  -- Suara pecahan keramik itu tidak lebih keras dari teriakannya. Laki-laki itu menayunkan tangannya kemudian merengut lenganku dan menarikku menuju lorong. Aku mencegahnya, menahan tubuhku lebih kuat kemudian menepis tangannya dengan kasar. “Apa yang kau perbuat?!” “Sialan, k*****t!” katanya. “Berhenti! Kau menyakitiku!” Dia berhenti, namun hanya untuk mendapati kemarahan di wajahnya. Aku memeluk tubuhku, melindunginya dengan kedua lengan dan berharap laki-laki itu akan pergi. Keberadaannya membuatku takut. Persis ketika aku mengatakan tentang kehamilan itu, laki-laki itu langsung bereaksi berlebihan. Wajahnya memerah dan aku seolah-olah baru menyinggung suatu hal yang membuatnya marah. Namun, yang membuatku kecewa adalah penolakannya dan betapa mudah laki-laki itu mengatakannya. “Sebaiknya kau gugurkan. Kita sama-sama sepakat bahwa hubungan ini tidak akan menghasilkan apapun. Aku tidak mau bertanggungjawab atas apapun dan kau tidak akan melahirkan bayi itu.” “Begitu katamu? Kau pikir ini kesalahanku?” Laki-laki itu mendengus, ia menampakkan sebaris giginya dan senyuman yang membuatku muak setelah aku mengetahui kebusukannya. “Abigail.. ayolah! Kau tidak menginginkan bayi itu. Kita sepakat kalau kau tidak akan pernah bisa menjadi ibu yang baik.” “Kau ingin aku membunuh bayi ini? Setelah apa yang kau perbuat, kau memintaku untuk membunuh bayi ini?” “Aku tidak mengerti bagaimana aku harus menjelaskannya padamu, tapi ini bukanlah masalah yang akan kita perdebatkan. Kita ambil jalan keluar tercepat. Kau gugurkan bayi itu, dan kita bisa meneruskan semuanya seperti biasa. Kau mengerti?” “Tidak.” “Ayolah..” “Tidak, kau tidak bisa bicara begitu. Aku memberimu apa yang kau inginkan. Kau tidak bisa membuangku begitu saja.” “Apa yang kau inginkan? Hah? Kau ingin aku bertanggungjawab atas bayi itu? Kau ingin aku menikahimu?” “Apa kau akan melakukannya?” Sebuah dengusan. Kemudian, “tidak. Tentu saja tidak. Sudah kukatakan padamu sejak awal, hubungan ini tidak akan mengarah kemanapun.” “Kalau begitu sebaiknya kau pergi.” Aku berbalik menuju tangga, namun pria itu menarikku sehingga aku terhuyung dan nyaris saja terjatuh. “Tidak, Abby! Dengarkan aku! Kau harus menggugurkan bayinya..” “Apa yang akan kau lakukan? Aku tidak akan melakukannya, aku tidak akan memberimu apa yang kau inginkan setelah apa yang kau katakan.” “Abby! Sialan kau!” Kemudian, pria itu mengamuk. Aku tidak sempat mencegahnya. Suara pecahan kaca ketika ia melempar sebuah vas antik milik ibuku, atau ketika tangan besarnya menarikku dan menghinpit tubuhku di dinding. Wajahku berada persis di dinding dan aku bisa merasakan rasa sakit dari pukulannya yang bersarang di wajahku. Kemudian, semuanya menjadi gelap ketika pria itu menyeret tubuhku di atas lantai.  .. - LAST WITNESS -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD