Bab 21

770 Words
GRACE  -- Kau akan mendapati senjata ini di wajahmu kemudian kau akan mati. Persetan dengan kau!   Suara tembakan. Aku mendengar Bob menjerit dari ujung jalan. Bob yang malang. Rita baru saja menaiki mobilnya, mata gelapnya mengintip melalui spion dan ia tersenyum ke arah kekasihnya yang terkapar di atas aspal. Aku menenguk minumanku kemudian meletakkannya di atas nakas. Samar-samar, aku melihat cahaya dari arah kamar. Layar komputerku baru saja berkedip begitu sebuah pesan masuk. Tubuhku bergetar dan aku kesulitan untuk menelan tegukan anggur berikutnya. Sudah waktunya! Aku menekan tombol off, membiarkan layar televisi itu padam dan keheningan segera menjalar di setiap sudut dinding. Kuseret kaki telanjangku menyusuri lantai kayu untuk sampai di kamar gelap itu. Aku menarik sebuah kursi dan duduk persis di depan layar komputerku. Tiba-tiba, aku merasa takut untuk menghadapinya, tapi sebuah pesan yang baru saja masuk membuatku penasaran. Pesan itu dari Abby. Wanita itu telah terhubung denganku sekitar lima menit yang lalu dan kini, ia terus mengirim potongan pesan dengan cepat.   Hai, Dok.. Apa semuanya baik-baik saja? Kuharap aku bisa berbicara denganmu..   Aku menarik nafas panjang, mengembuskannya perlahan kemudian meletakkan jari-jariku di atas keyboard dan mulai mengetik.   Hai, Abby. Aku minta maaf untuk percakapan kita kemarin. Hanya saja, ada sedikit masalah.   Begitukah? Kupikir kau marah padaku..   Kenapa aku harus marah padamu?   Entahlah, mungkin karena aku menolak pendapatmu?   Tapi ini pekerjaanku dan.. tidak ada yang kulakukan selain membantumu, benar?   Kau benar.   Jadi, bagaimana semuanya berlanjut?   Sebenarnya, dia mengirim sebuah pesan padaku sore kemarin. Kami mengadakan pertemuan khusus di apartemen. Kau tahu? Pertemuan rahasia lainnya.   Apa saja yang dia katakan padamu?   Bahwa dia mencintaiku. Oh Tuhan, aku tidak tahu apa dia mengatakan yang sesungguhnya. Dan.. dia meminta maaf karena telah memukulku. Dia bilang dia sedang berada di bawah pengaruh alkohol.   Begitukah?   Ya. Menurutmu bagaimana?   Menurutku dia tidak mengatakan yang sebenarnya.   Bagimana bisa?   Abby, aku harus mengatakan ini. Sebaiknya kau menjauhi pria itu.   Kenapa kau bicara seperti ini? Bagaimana kau memintaku untuk menjauhinya?   Kukatakan yang terbaik untukmu.. dia dosenmu..   Tidak! Kau tidak tahu apapun. Kau tidak mengenalku – kau tidak mengenal kami. Bagaimana kau tahu yang terbaik untukku?   Aku bisa membuktikannya padamu jika kau ingin.   Benarkah? Kau sudah menemukan cara untuk menemui kami?   Tidak. Tapi datanglah ke perumahan Broodway nomor 11.   Ada apa di sana?   Kau bisa memastikannya sendiri.   Aku meninggalkan percakapan itu beberapa detik setelah pesan terakhir. Kali ini, aku tidak menunggu pesan berikutnya muncul. Bahkan aku mengabaikan sejumlah pesan dari Helen yang baru saja masuk sekitar tiga menit yang lalu. Aku menyeret tubuhku mendekati tepi jendela dan menatap ke bawah sana. Jalanan tampak gelap. Dua mobil terparkir di pinggir jalan dan sejumlah pejalan kaki terlihat baru saja memasuki gang sempit. Kediaman Jane terlihat gelap. Tidak ada cahaya lampu dari arah dapur dan kamar tidur. Mobil Mac Foster yang biasa di parkir di halaman depan, kini tidak terlihat. Pintu rumah mereka juga tertutup rapat. Tapi aku bisa mendengar suara gonggongan anjing peliharaan mereka dari pintu garasi. Aku bertanya-tanya dimana Jane dan Mac Foster berada? Aku tidak memerhatikan mereka sejak terkahir Jane mengunjungi rumahku. Kemudian, di sisi bangunan lain, aku melihat pasangan Wisherman baru saja menyelesaikan makan malam mereka. Mrs. Wisherman sedang berjalan menuju dapur ketika suaminya duduk di belakang meja makan sembari meneriksa buku catatannya. Aku bisa membayangkan percakapan apa yang sedang mereka bahas. Sementara itu, mereka membiarkan televisi dari ruang tengah menyala. Layar baru saja berkedip dan memperlihatkan wajah Mary Monroe di tengah hiruk-pikuk orang yang berkeliaran. Pembawa acara dalam siaran berita itu tampak tidak senang. Berita buruk sepertinya. Seorang pria yang baru saja muncul dari ujung gang menyita perhatianku. Pria itu cukup tinggi, mengenakan setelan jaket berwarna gelap dan jeans longgar yang menggantung rendah di pinggulnya. Ketika pria itu berjalan di bawah cahaya lampu jalan, aku segea mengenali wajahnya. Sean. Pantas saja tampilannya tidak begitu asing. Selama beberapa saat aku terdiam sembari mengawasinya berjalan menyusuri trotoar. Laki-laki itu berhenti tepat di samping kediaman pasangan Foster. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding bata dengan satu kaki terangkat ke dinding. Fakta bahwa Sean berdiri di sana entah bagaimana begitu mengganggu. Laki-laki itu terus menatap ke sekitarnya seakan tengah menunggu sesuatu. Aku memperhatikan tubuhnya merosot ke dinding saat seorang wanita berjalan melewatinya. Sean hanya memerhatikannya sambil lalu. Satu tangannya terjulur ke dalam saku celana dan ia merogoh sesuatu dari dalam sana. Seputung rokok. Ia mengapit batang rokok itu di antara bibirnya, menyulutnya dengan alat pemantik kemudian mengepulkan asap dari lubang hidung dan mulutnya. Cahaya temaram dari lampu jalan tidak memberiku keleluasaan untuk melihat wajahnya lebih jelas, tapi aku bisa merasakan laki-laki itu berpaling dan menatapku dari tempatnya. Tenggorokanku tercekat. Aku membatu untuk kemudian berangsur-angsur pulih dalam kesadaran. Aku bergerak mundur, menutup jendelaku rapat-rapat kemudian meringkuk di atas kasur seperti yang selalu kulakukan. Hal terkahir yang ingin kuketahui adalah teman satu apartemenku berusaha mendekati Jane Foster. Itu seperti mimpi buruk.  .. - LAST WITNESS -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD