GRACE
--
Aku berdiri menatap jalanan kosong dan sebuah bangunan yang berdiri di sana, tepat di ujungnya terdapat sebuah plang yang bertuliskan pusat pelatihan kebugaran. Jadi aku memutuskan untuk menggali informasi lebih banyak tentang wanita itu. Aku tidak memiliki gambaran wajah atau nama belakangnya, tapi aku mendapat beberapa orang dengan nama Abby dengan kecocokan yang sama. Aku mulai mencari identitas wanita itu dengan menghubungi universitas tempat Ben bekerja. Seorang wanita yang menjawab panggilanku menanyakan identitas dan urusanku di sana dan aku memperkenalkan diriku sebagai istri Ben.
Aku terkejut bagaimana aku mendapat informasi itu dengan mudah. Abigail Randle, wanita itu tinggal di apartemen lantai tiga, namun seseorang yang mengenalnya mengatakan kalau ia sering berpergian. Jadi aku menunggu di ujung jalan, menatap ke arah apartemen tujuh lantai itu hingga melihat kemunculan seorang wanita bertubuh sintal dengan rambut hitam yang panjang. Wanita itu mengenakan jaket hitam dan terusan celana jogging juga sebuah tas selempang berwarna putih yang menggantung di bahu kanannya. Parasnya tidak begitu cantik seperti yang kubayangkan, namun wanita ini menarik, cukup menarik untuk Ben.
Aku mengikutinya berjalan menyusuri jalur di kota, kami menaiki bus yang sama, namun sejauh ini wanita itu tidak menyadari keberadaanku. Perjalanan itu kemudian berakhir di sebuah gedung pusat pelatihan kebugaran. Menarik sekali. Abigail alias Abby, wanita yang diinginkan Ben, pergi untuk menjalani rutinitas selayaknya wanita normal. Aku tidak pernah menemui pasienku, dan Abby jelas ada di luar bayanganku. Kecuali karena wanita itu mengatakan baru saja melihat Ben menemui seorang wanita yang tidak lain adalah aku. Jadi, Ben adalah laki-laki itu. Ben telah berselingkuh dengan Anna saat kami masih terikat dalam status pernikahan. Kini, Ben berselingkuh dengan Abby, mahasiswinya sendiri dan Anna pasti akan terkejut jika mengetahui ini. Aku membayangkan raut wajahnya yang menyedihkan. Wanita itu akan menunjukkan ekspresi seperti yang pernah kutunjukkan saat mengetahui fakta bahwa ia dan Ben berselingkuh.
Aku dilanda oleh rasa bersalah yang menyakitkan. Aku pernah mengalami hal ini, kemudian sekarang rasanya hal itu seperti terulang kembali. Aku mencoba mengingat-ingat percakapan terakhirku dengan Abby. Ben menemui wanita itu, bercinta dengannya berkali-kali, kemudian mabuk dan memukulnya seperti setan.
Tubuhku membantu. Aku masih berdiri di tempatku ketika menyaksikan Abby berjalan cepat untuk masuk ke dalam bangunan bertingkat itu. Sekilas, aku melihatnya berpaling ke arahku dan aku segera berbalik. Kedua tanganku bergetar, aku menatap bangku kosong di ujung sana dan menunggu. Begitu aku berbalik kembali, wanita itu sudah menghilang.
***
Aku menolak untuk masuk ke situs terapi online-ku pagi ini. Aku tidak yakin apa yang kutakuti, mungkin aku hanya belum siap menghadapi Abby. Sebuah ingatan tentang Ben mengantamku keras. Laki-laki itu berteriak di depan wajahku dan memukulku. Ia melakukannya berkali-kali. Aku juga mengingat Lizzy. Bayi itu menangis di pelukanku, wajahnya memerah dan bibirnya membiru. Aku tidak pernah melihatnya sepucat itu. Jari-jari kecilnya begitu rapuh dan dia kedinginan. Aku memeluknya lebih erat, diam-diam ikut merasakan kesedihannya.
Kupandangi diriku di depan cermin. Liz berbaring telentang di atas kasur. Kuku-kuku jarinya mencakar seprai dan dia tidak berheti menangis. Lengan kecilnya menggapai-gapai di udara seakan sedang memohon agar seseorang mengangkatnya dari sana.
“Aku minta maaf.. aku minta maaf..”
Kata-kata itu terdengar bergetar ketika keluar dari sela-sela gigiku. Kemudian aku jatuh meringkuk di atas lantai dan menangis keras. Kugigit bibirku hingga terluka dan aku hanya melakukan yang sama hingga tangisan Liz mereda. Semakin reda dan bayi itu tertidur.
“Kumohon.. komohon Nancy.. jangan lakukan ini!”
Gracia yang malang.. maukah kau ikut bersamaku?
Tubuhku ambruk di atas lantai kayu. Kini semuanya terlihat seperti bayangan yang kabur. Samar-samar aku melihat langit-langit di kamar Liz bergerak-gerak seakan hendak runtuh, lemari kayu dan nakas di samping ranjang ikut bergerak. Sementara itu, angin yang bersembus dari jendela, menyibak tirai pucat yang kupasang untuk menutupi sinar matahari. Aku bangkit berdiri, sesuatu membisikanku dan aku mulai melihat seorang wanita kecil sedang meringkuk di bawah kasur. Wajahnya pucat, bibirnya yang merah bergetar, sepasang matanya tertuju ke arah pintu yang mengayun terbuka, rambut gelapnya tampak kusut dan jelas sekali bahwa gadis kecil itu sedang ketakutan. Ia menunggu sesuatu. Tangan kecilnya mencakar lantai, aku bisa merasakan ketakutannya, aku bisa merasakan ketegangan yang dialaminya ketika melihat sepasang kaki yang kurus mendekati tepi kasur itu. Kemudian aku menyadari bahwa gadis itu adalah aku yang sedang menahan ketakutannya saat kakak perempuannya bergerak mendekat dan menjulurkan sepasang tangan dengan kuku-kuku bercat hitam yang panjang.
Gracia.. maukah kau ikut bersamaku?
Aku menggeleng. Bibirku bergetar dan di luar sadar, aku menggepalkan tanganku begitu erat hingga kuku jariku melukainya.
Gadis itu menyaksikan Nan bergerak menuju tepi jendela – aku menyaksikannya. Tubuhku meringkuk di dinding tepat ketika Nan menoleh ke arahku. Wanita itu menyeringai, itu bukan seringai biasa – itu sebuah senyum simpati.
Maukah kau ikut bersamaku?
Aku memejamkam mata untuk beberapa saat kemudian, ketika aku membukanya, Nan sudah menghilang. Tidak ada gadis kecil yang bersembunyi di bawah kasur, tidak ada suara Nan. Hanya ada aku dan suara tangisan bayi. Aku menatap ke sekitarku, kamar itu terlihat lebih sempit, tidak ada penerangan kecuali sinar matahari yang mengintip dari celah tirai yang bergerak-gerak di belakang jendela. Aku menghampiri jendela itu, menyibak tirainya, sejenak merasakan ketakutan untuk melihat tubuh Nan yang tergeletak hancur di bawah sana. Kemudian, aku melihat sebuah kilatan yang cepat dan tubuhku ambruk di atas lantai. Aku tidak ingat apa yang terjadi setelah itu, tapi kemudian semuanya berubah.
Lamunanku buyar persis ketika aku mendengar suara pintu belakang digeser terbuka. Ketika aku berjalan menyusuri lorong gelap menuju pintu itu, aku tahu siapa yang akan kujumpai. Sean berdiri persis di dalam gudang. Laki-laki itu sedang memindahkan sebuah lemari kayu yang telah rapuh ke dalam sana ketika aku bergabung dan membawakannya sebotol bir.
“Kapan kau kembali?”
“Sejak sore kemarin, tapi aku tidak melihatmu,” katanya sembari mendorong lemari itu ke sudut gudang kemudian membentangkan kain putih yang digunakannya untuk menutup lemari itu. “Aku berniat menghubungimu, kemudian kusadari kalau kita tidak pernah bertukar nomor telepon. Bukankah itu sedikit aneh?”
“Aku meninggalkan ponselku di kamarku.”
Kedua bahu Sean terangkat. Laki-laki itu menunjuk botol bir dalam genggamanku kemudian bergerak mendekat.
“Apa kau mau berbagi bir?”
“Ya.”
“Terima kasih.”
Sean bergerak menjauh. Aku memerhatikannya ketika laki-laki itu menegak minumannya sembari bersandar di tepi meja. Tiba-tiba saja tenggorokanku terasa kering saat aku mendapatinya sedang menatapku balik.
“Hei, apa kau tahu wanita yang menempati apartemen di seberang?”
“Itu Jane Foster. Apa kau berbicara dengannya?”
“Tidak.”
Aku segera tahu ketika laki-laki itu berusaha menyembunyikan sesuatu, ia akan menandang ke tempat lain. Tapi aku tidak bodoh untuk tahu.
“Apa yang terjadi, Sean?”
“Astaga, kau kedengaran seperti ibuku. Tidak ada yang terjadi, lupakan saja.”
“Aku bersumpah padamu, sebaiknya kau jauhi wanita itu. Dia memiliki suami.”
Sean menyeringai. Ia mengangkat botol birnya dan menatapku. “Ayolah, kenapa kau tidak mengatakan sesuatu? Kau menemuiku untuk mengatakan sesuatu, kan? Apa semuanya baik-baik saja? Kamarmu bocor atau..”
“Tidak.”
“Kemana kau sore kemarin?”
“Ada beberapa urusan.”
“Menarik sekali kau masih memiliki banyak urusan?”
“Dengar, aku tidak akan mengatakan urusanku padamu, oke?”
“Oke, oke.. aku hanya ingin menikmati bir ini. Tuhan! Rasanya enak sekali.”
“Aku masih punya beberapa di lemari pendingin. Kau bisa mendapatkannya jika kau mau.”
“Terima kasih.”
“Sebenarnya..” aku bergerak mendekatinya hingga kami hanya beberapa langkah jauhnya. “.. aku ingin mengubah layout kamarku. Aku butuh bantuanmu untuk memindahkan barang-barangku ke gudang. Disana mulai terasa agak sesak, aku hanya ingin mengosongkannya.”
“Well, bisa kutangani.”
“Aku terpikir untuk membeli tirai baru dan memperbaiki jendelanya.”
“Oke.”
“Dan.. kerannya tidak berfungsi. Aku rasa tersumbat.”
“Aku bisa mengerjakannya sekarang jika kau ingin.”
“Terima kasih. Aku akan menyiapkanmu makan malam.”
Kali ini laki-laki itu menyeringai lebar. “Kau bisa memasak?”
“Tidak begitu ahli.”
“Itu sebuah kejutan, bukan? Ayo kita lihat! Sialan.. udaranya panas sekali disini.”
Aku menatapnya, tapi ketika laki-laki itu berjalan melewatiku untuk bergerak keluar dari gudang, aku membuntutinya.
Sean dan aku bekerja sama ketika memindahkan beberapa barang di kamarku ke gudang: lemari-lemari tua, sofa yang tidak terpakai, lampu tidur yang rusak, meja kecil yang biasa kugunakan untuk meletakkan lampu, juga satu-satunya kaca di kamar tidurku.
“Aku tidak mengerti mengapa kau ingin membuang kaca ini?” tanya Sean ketika kami bersama-sama menggotong kaca itu menuju gudang.
“Aku tidak tahu, hanya saja.. aku tidak terlalu suka berkaca.”
Laki-laki itu menatap wajahku, kemudian turun dan menilai penampilanku. Hal yang tidak begitu mengejutkanku adalah mendapatinya menyeringai padaku.
“Bisa kulihat.”
Aku ikut tersenyum, alih-alih tersinggung dengan kata-katanya. Kami menghabiskan makan malam bersama-sama setelah itu. Persis seperti dugaanku, makanan yang kubuat tidak begitu memuaskannya. Untunglah aku masih menyimpan bir di lemari pendingin. Tess tidak akan menyukai gagasan untuk menyimpan alkohol di apartemennya, tapi aku dan Sean tidak keberatan sama sekali tentang hal itu. Kami berbicara banyak hingga pikiranku tentang Abby dan Ben benar-benar teralih. Aku rasa itulah yang kubutuhkan: lebih banyak seseorang seperti Sean dalam hidupku.
“Kau tahu apa yang lebih baik dari anggur ini?”
“Apa?”
“Aku bisa mendapatkannya secara gratis.”
Leluconnya hambar, tapi aku ikut tertawa bersamanya. Aku cukup mabuk dan bicaranya mulai melantur.
“Serius Grace, aku penasaran apa yang terjadi pada suamimu? Apa pernikahan itu tidak memuaskanmu?”
“Aku tidak tahu, aku mencintai suamiku.. sangat mencintainya.”
“Kau tidak merasakan hal itu setelah perceraianmu, bukan?”
“Tidak, kau salah. Aku masih mencintainya.”
Sean tersenyum. Laki-laki itu mencondongkan tubuhnya ke arahku kemudian menuang anggur yang lebih banyak ke dalam gelasku yang hampir kosong.
“Ayolah.. ceritakan padaku!”
“Uum.. aku tidak tahu.”
“Apa aku kelihatan seperti psikopat yang akan membunuhmu setelah kau menceritakannya?”
“Tidak, oh – tidak. Tapi itu membuatku merasa..”
“Apa? Kau merasa buruk?”
“Ya, semacam itu.”
“Siapa sebenarnya pria ini? Apa dia monster, atau..”
“Aku tidak akan mengatakan padamu tentang pernikahanku dan Ben, tapi aku akan menceritakanmu tentang saudariku.”
“Kau punya saudari?”
“Ya. Namanya Nancy, aku biasa memanggilnya Nan.”
“Apa dia sudah menikah dan memiliki anak sekarang?”
Tenggorokanku tercekat. Aku membiarkan keheningan itu menggantung selama beberapa detik. Kemudian, Sean masih duduk di seberang dan menunggu jawabanku. Ekspresinya menunjukkan ketertarikan yang besar.
“Tidak.. dia sudah mati.”
Sean bergeser di kursinya dengan tidak nyaman. Jari-jarinya saling bertaut dan dia memiringkan kepala ketika menyimak ucapanku.
“Hidup Nan selalu dipenuhi misteri. Terkadang aku perlu menebak apa yang hendak dilakukannya. Dia sudah seperti itu sejak dulu, ayahku mengatakan dia terlahir dengan kelainan. Dia berbeda dari anak-anak seusianya. Kondisi mentalnya terganggu. Bahkan, ayahku pernah berniat untuk menempatkan Nan di rumah sakit jiwa, tapi ibuku menolak dan mereka mulai bertengkar.”
Aku mengangkat gelas anggur itu ke bibir dan menyesap cairan itu dari sana. Tatapanku kini tertuju pada cairan keemasan di dalam gelas itu dan selama sesaat aku membayangkan wajah Nan di benakku: Nan yang berdiri di balik pintu kamarnya, Nan yang tersenyum ke arahku – Nan yang melompat dari jendela kamarku.
“Sama sepertiku, Nan tidak menyukai pertengkaran itu. Itu seperti sebuah.. penyiksaan mental yang kami dapatkan setiap hari di rumah kami. Kurasa, Nan lebih tersiksa saat mendengar suara-suara keras seperti.. teriakan, suara pecahan kaca. Dia mengatakan padaku tidak ada tempat untuk kami di rumah itu, tidak ada tempat untuknya disana. Tidak hanya sekali dalam suatu malam, aku terbangun dan melihat Nan berdiri di depan pintu kamarku, dia mengawasiku dan membuatku ketakutan. Kemudian, suatu malam, ketika orangtua kami sedang bertengkar.. aku melihatnya, dia berdiri di sana, di balik pintu kamarnya, tersenyum ke arahku. Aku berusaha mengabaikannya. Aku berusaha untuk pergi tidur.. tapi aku tidak bisa, jadi aku bersembunyi di bawah tempat tidurku, aku berguling di sana dan berharap pertengkaran itu segera mendengar. Tapi aku mendengar suara pecahan kaca dari lantai bawah, dan suara lain. Kemudian, suara langkah kaki Nan. Aku melihatnya.. wanita itu berjalan mendekati jendela kamarku dan mengatakan ‘Gracia.. maukah kau ikut bersamaku?’ Aku tahu kalimat itu, dia selalu mengatakan hal yang sama berkali-kali. Aku begitu takut, jadi aku menangis, tapi Nan semakin jauh. Dia mendekati jendela dan aku menyaksikannya melompat dari atas sana. Kemudian.. semuanya hening,” tubuhku bergetar. Aku mengetuk-ngetukkan jari-jariku di atas meja untuk meredakan rasa bergetarnya. Kemudian, aku mendapati tangan Sean di atas tanganku. Laki-laki itu meremasnya begitu kuat hingga aku dapat melanjutkan dengan tenang.
“Aku melihat tubuhnya hancur. Tidak lama setelah itu, aku mendengar suara teriakan ibuku. Dia berlari menghampiri Nan, tapi aku tidak punya keberanian untuk melihatnya lagi. Ayahku menghukumku setelah pemakaman Nan berakhir. Ibuku tidak mau berbicara. Kemudian aku mengerti situasinya, mereka berpikir bahwa aku melakukannya. Aku mencelakakan Nan dengan mendorongnya dari jendela kamarku. Itu adalah kali terkahir aku melihat mereka. Mereka tidak ingin berada di dekatku, jadi mereka mengirimku pada bibiku dan membiarkanku tinggal jauh dari mereka. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk memperbaiki keadaan. Nan membuatku takut, bahkan hingga hari kematiannya, dia masih menghantuiku. Kurasa hingga sekarang. Orang-orang berpikir aku sama gilanya seperti Nan. Tapi aku tidak seperti itu, aku sadar. Nan sakit jiwa, dia tidak menginginkan kehidupannya, dia tidak punya harapan dan dia membunuh dirinya sendiri, aku tidak seperti itu. Tapi setelah mengetahui hal ini, Ben tidak memercayaiku sedikitpun. Dia berpikir sebaliknya: bahwa aku gila, mentalku terganggu dan aku bukanlah istri yang baik untuknya, tidak peduli bagaimanapun aku berusaha.”
Keheningan menyelimuti kami selama beberapa saat. Sean menarik nafas dalam dan menggembuskannya. Sepasang matanya mengawasiku dari meja seberang dan aku bisa merasakan genggamannya pada tanganku mengendur. Jari-jarinya memijat punggung tanganku dan selama sesaat aku merasakan rasa nyaman berada di dekatnya.
“Well, aku tidak pernah mendengar yang lebih buruk dari itu. Maksudku.. orangtuaku memang aneh, tapi tidak ada yang mengerikan seperti kisahmu. Itu pasti sangat berat untuk menyaksikan seseorang yang sangat dekat denganmu menyakiti bahkan membunuh dirinya sendiri di hadapanmu.”
“Itu tidak mudah. Aku menjalani tahun-tahun panjang yang menyiksa setelah kematian Nan. Bahkan hingga kedua orangtuaku meninggal, aku tidak bisa melupakannya. Tapi aku mencoba untuk pulih. Aku mengikuti sekolah psikologi untuk mempelajari ketakutanku, aku ingin memerangi ketakutanku seperti orang lain. Namun, pada akhirnya, aku tidak bisa. Nyatanya sesuatu yang hilang akan tetap hilang, dan ingatan itu.. akan tetap ada tidak peduli sekeras apapun aku berusaha menutupinya.”
Kami saling bertatapan untuk beberapa saat. Itu memberiku waktu untuk menyadari betapa mabuknya kami saat ini dan tidak ada yang benar-benar kami lakukan selain duduk dan berbicara.
“Jika kau melihat melalui jendela masa lalumu itu akan terasa menyakitkan, tapi kau menjalani hidupmu yang sekarang. Maksudku, tanpa kakakmu, atau orangtuamu yang suka bertengkar. Bukankah itu lebih baik?”
“Tidak, kau salah. Aku menyayangi mereka.”
“Seperti kau menyayangi suami yang menghianatimu?”
Hening. Sean duduk terpaku di tempatnya ketika aku menarik tanganku dalam genggamannya.
“Tidak. Itu tidak benar.”
“Laki-laki itu sudah menikah dan memiliki anak dari wanita lain, bukan?”
“Itu tidak benar..”
Aku melihatnya mendengus dan menampakkan sederet giginya ketika ia menyeringai. “Ayolah, akui saja. Aku melihatnya di komputermu. Laki-laki itu, namanya Ben dan.. istrinya yang kau sebut-sebut itu.. Anna. Dan kalian suka bertengkar.”
“Kau tidak harus mengatakan itu dihadapanku!”
“Oke, oke.. aku minta maaf. Kita luruskan saja, oke? Kehidupanmu sudah berubah dan kau tidak sepenuhnya gagal. Maksudku,”
Tiba-tiba saja, aku merasakan atmosfer ketegangan yang hadir di antara kami. Ekspresiku muram ketika menatapnya dan sesuatu tentang kata-katanya membuat tenggorokanku tercekat.
“Kau tidak harus mengatakan apapun lagi.”
“Oh.. Grace.. ayolah. Aku sudah minta maaf..”
“Tinggalkan saja aku sendiri, tolong..”
“Kau tidak berpikir jernih, kita tidak berpikir jernih..”
“Tolong..”
Sean tersenyum ke arahku, tapi aku tahu emosi apa yang sedang ia sembunyikan. Aku menyadari bagaimana sikapku berubah menjengkelkan, tapi aku tidak peduli. Hal terakhir yang ingin kutahu adalah fakta bahwa aku memercayai orang yang salah.
“Oke. Oke.”
Sean tidak berkutip lagi. Ia pergi bahkan sebelum aku meresponsnya dan sesuatu meletup-letup di dalam diriku. Ada suatu emosi asing yang kurasakan ketika melihat kepergiannya: suatu perasaan yang mengatakan bahwa aku tidak benar-benar ingin ditinggal sendirian. Aku tidak mengerti. Aku tidak yakin tentang apapun saat ini, kurasa itu hanya efek alkohol.
..
- LAST WITNESS -