Sasaran Empuk

1425 Words
September 2019 Kenapa sesakit ini? Jika cinta itu buta, kenapa mataku tetap melihatnya sebantet itu? Jujur, aku lebih rela melihat Kak Ardi menggandeng wanita lain yang lebih cantik atau lebih baik dariku, daripada melihatnya menjadi buruk rupa seperti ini. Kenapa kau kejam, Tuhan? Kenapa kau mengubah memori cinta pertamaku yang manis, menjadi segetir ini?Bahkan aku terima keputusanMu memisahkan kami. Aku terima takdirMu yang membuatku tak pernah memilikinya. Tapi ini terlalu berat.Ini amat sangat berat untuk kuterima, Tuhan!-Alika Dissa Fahlevi *** Setelah meninggalkan Ardi sambil melemparkan dompet buluk pria itu ke perut bengkaknya, Alika kembali ke mobil. Dia meringkuk di balik kemudi mobil BMW hitam milik Arka untuk menguatkan hati. Sudah satu jam lebih gadis berkutek pink menghabiskan waktunya untuk gundah gulana. Matanya basah dan sedikit membengkak. Hidungnya beler, sesekali dia menghisap ingusnya kuat-kuat. Alika gamang, harus  bagaimana dia bersikap terhadap Ardi setelah ini. "Apa aku pura-pura gagarudin, ya?" Alika manggut-manggut lalu mengerutkan kening. "Seperti kata Kak Ardi, aku boleh mengabaikan keberadaannya," gumam Alika sambil menggigiti kukunya. Namun, beberapa detik kemudian gadis itu menghantamkan keningnya ke setir, hingga bunyi klakson mobil milik Arka menggema. "Itu mustahil, aku nggak akan pernah bisa bersikap wajar kepada Kak Ardi," rengek Alika seraya membentur-benturkan kepalanya untuk kesekian kali. Tin ... tin ... tin .... tiiiiiiin! Aksinya berhenti ketika ponsel Alika berdering. Malas Alika merogoh sakunya, lalu mengusap layar smartphone. Beberapa buah pesan masuk dari Arka. Arka : lo di mana? Arka : Al, kok belum balik sih? Arka : Al?? Lo enggak nabrak tiang listrik 'kan? Bukannya membalas pesan atasannya, Alika justru melempar ponselnya ke bangku di sampingnya, lalu meng-hantamkan kembali kepalanya yang pening ke atas setir mobil mahal bosnya. Seorang satpam menghampiri Alika kemudian mengetuk kaca mobil dengan sopan. "Maaf, Mbak. Apa ada masalah?" tanya satpam itu, terdengar sopan. Alika menggeleng. "Kenapa Anda berkali-kali membunyikan klakson?" Alika meringis sejenak. "Maaf, Pak. Tidak ada masalah kok, saya cuma mengecek apakah klakson ini masih berfungsi dengan baik atau tidak." "Kalau mau cek klakson bawa ke bengkel, Mbak." Sang satpam pergi sambil menyemburkan kekesalan yang sudah tak bisa disembunyikan lagi. "Jangan rusuh di sini." Teguran itu rupanya menjadi hidayah bagi Alika. Entah kenapa, tiba-tiba saja dia mendapat pencerahan atas kegundahan hatinya. Cepat-cepat Alika memungut ponsel lalu dengan gesit membalas pesan Arka. Alika : Aku akan segera kembali. Ke hatimu Untuk menghasilkan tunas baru aku harus memangkas dahan kering lama. Yah, aku akan bisa melupakan Kak Ardi jika aku mengisi hatiku dengan pria lain. Dan Arka adalah sasaran empuk. Lebih dari sepuluh menit Arka mengetik lalu menghapus balasan untuk pernyataan absurd dari Alika. Namun, sesuatu yang mampu dikirim hanyalah …. Sebuah emoticon bigung. *** "Masuk," jawab Arka datar, mempersilakan orang yang mengetuk pintu sambil terus fokus menatap layar laptopnya. Alika masuk, menyodorkan kunci mobil kepada Arka. "Sorry, ya, Ka. Tadi ada sedikit perlu jadi telat baliknya." Alika berkata sambil nyengir.Meskipun merasa bersalah, tapi wajah Alika justru tidak menunjukan sedikitpun penyesalan, itu membuat Arka semakin kesal dengan tingkah bawahannya. Manajer keuangan itu meletakkan berkas yang sedang diperiksanya.Tatapan tajamnya menghunus ke arah Alika kemudian. "Ini masih di kantor lho, Bu Alika. Jaga carabicaramu dan jangan biasakan makan gaji buta seperti ini lagi," balas Arka penuh penekanan. "Kan, cuma ada kita berdua di ruangan ini," bantah Alika langsung dibalas tatapan dingin oleh Arka. "Iya deh, maaf. Kalau gitu saya permisi dulu, yang terhormat Bapak Arka Sihartama." Alika berbalik dan berjalan menuju pintu dengan lemas. "Tunggu!" tahan Arka agak keras. Langkah Alika terhenti. Dia segera memutar tubuh untuk menatap si lawan bicara. "Apa lagi, Pak Arka?" tanya Alika lelah. Matanya berputar-putar melawan penat yang menumbuk kepala. "Emmm ... tadi pesan terakhir lo. Bilang mau balik ke hati gue, apa maksudnya?" tanya Arka ragu-ragu. Wajahnya mencari-cari sesuatu untuk dipandang sebagai pelampiasan kegugupan-nya. "Ini masih di kantor lho, Pak Arka. Jangan bicarakan hal lain di luar pekerjaan," balas Alika menirukan gaya Arka tadi. Gadis itu kemudian pergi sambil menahan tawa geli akibat gradasi emosi di wajah Arka. Shit!Umpat Arka dalam batin.  "Alika bener-bener ngeselin! Dia yang mancing duluan, kirim pesan seperti itu. Kenapa jadi aku yang disalahkan?" gerutu Arka seraya menutup kasar laptopnya.  *** “Mungkin tiga tahun itu tak ada artinya untuk Kakak. Mungkin kebersamaan kita tak pernah Kak Ardi simpan dalam kenangan. Mungkin hanya aku yang mencintai dan berjuang. Karena itulah hanya aku yang tersakiti di sini. Karena itu sakitku separah ini!” Ucapan Alika tadi siang kembali terngiang di benak Ardi. Pria itu menatap sendu ke luar jendela, memperhatikan rintik-rintik hujan yang menyejukkan Kota Surabaya malam ini. Di hadapannya ada sepanci air mendidih yang siap merebus dua bungkus mi instan untuk makan malam. Ya, dua bungkus untuk hari ini. Pada saat-saat kalap, Ardi bisa menghabiskan tiga bungus mi dalam sekali makan. Itupun masih ditambah sebutir telur. Ardi memang susah mengontrol nafsu makan saat galau. Jadi jangan heran jika dalam kurun waktu dua tahun, bentuk perjaka terlantar ini berubah total. "Andai kamu tahu, Al." Ardi menghela napas gulana. "Saya tidak pernah pacaran dengan gadis mana pun dua tahun terakhir ini, demi kamu," gumam Ardi sambil mengembuskan duka bersama napas beratnya. Sebenarnya selain alasan hatinya masih terpatri kuat bersama Alika. Kejombloan Ardi adalah buah antara tidak punya waktu dan tidak ada yang mau. Miris! Sudah puluhan kali Ardi mengingat-ingat kenangannya bersama Alika semasa kuliah. Dan dari apa yang Ardi ingat, dia merasa pernah berjuang. Pria itu juga sangat mencinta dan merasa amat terluka. Sebab pada akhirnya dia harus meninggalkan Alika. Ada sebuah rahasia yang membuat pemuda itu terpaksa pergi. Rahasia yang hingga kini masih belum diketahui oleh Alika. Si pria tambun tersebut menuangkan mie yang terlalu lembek akibat kelamaan melamun ke dalam mangkuk, lalu mengaduk-aduknya. Mi beraroma soto itu tampak kurang menggoda, terlihat dari cara Ardi mengaduknya tanpa semangat. Jangankan nafsu makan, nafsu untuk tersenyum saja Ardi tak punya. Meski hari ini Pak Arka memberinya bonus karena dia telah berhasil mendapatkan kontrak baru. Namun, tak ada sedikit pun raut kebahagiaan di wajahnya. Tangis dan ekspresi kecewa Alika hari ini telah meruntuhkan dunia Ardi. Pria dengan lemak berlebih sedang patah hati. Dia tetap patah hati walaupun sudah puluhan purnama berlatih untuk tidak patah hati. Tidak ada satu pun padepokan sakti yang mampu menghapus nama Alika dari hatinya. Tak ada satu pun Jin yang sanggup menggandakan hati Ardi dari cintanya kepada Alika. *** Ting tung! Sebuah pesan w******p masuk ke ponsel Ardiansyah Paradirga. Pria beralis tebal itu tidak langsung membacanya. Pagi ini Ardi terlampau sibuk memverifikasi data karyawan yang akan dirumahkan. Karena itu, dia memilih mengabaikan ponselnya, agar pekerjaannya bisa fokus serta cepat selesai. Setelah mufakat dengan angka-angka dan kurva di layar monitor, akhirnya Ardi memungut ponsel yang sedari tadi terlantar. Pesan yang dia baca membuatnya tercengang. Alika : Kak seperti kata Kak Ardi kemarin, Kakak bilang aku enggak perlu menghiraukan keberadaan Kakak. Oke, aku akan melakukannya. Asal Kakak tahu saja, perasaanku ke Kakak juga sudah lama punah. Jadi jangan berharap padaku. Ardi berdiri dan menatap Alika dengan pandangan yang tak mampu Alika terka. Ruangan tim mereka sepi karena Fredi sedang survey ke pabrik. Sementara Wina dipanggil Arka untuk mendampinginya meeting. Hanya ada Ardi dan Alika yang kini terkungkung aura kelam. "Kenapa mengirim pesan?" tanya Ardi datar. "Apa tidak bisa mengatakan langsung pada saya? Kamu tidak sudi bicara dengan saya, Al?" Alika tercekat, pertanyaan Ardi seperti sihir Princess Elsa yang membuat gadis ini membeku. "Katakan sesuatu, Al!" lanjut Ardi, berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang. "Ka ... Kak Ardi yang memintaku untuk tidak menganggap keberadaan Kakak, ‘kan?" gugup Alika yang sibuk menghindari pandangan mata Ardi. Ardi berjalan ke meja Alika, membuat gadis itu semakin panik serta salah tingkah. "Kakak juga yang bilang tidak menuntutku untuk meman-dang Kak Ardi seperti dulu!" teriak Alika melengking. Teriakan kekanakan itu semata-mata untuk menghentikan langkah Ardi yang semakin dekat. "Kau bukan lagi Kak Ardi cinta pertamaku. Kau adalah Pak Para yang selalu membuatku mual ketika berada di dekatmu." “Jadi Pak Para itu adalah Mas Ardi, mantannya Mbak Al?” sambar Wina yang rupanya sudah datang sejak tadi dan sengaja menguping pembicaraan mereka. “I-itu … anu, Win. Bukan begitu, masalahnya dia sudah banyak berubah. Dan aku kemarin-kemarin belum mengenali kalau Pak Para itu Kak Ardi.” "Mbak Al jahat!" Wina berkomentar dengan gelengan kepala miris yang sungguh-sungguh. Alika syok hingga mulutnya ternganga. Sementara Ardi merasa ikut khawatir tentang nasib dirinya dan Alika di kemudian hari. Ya, sudah sewajarnya sejoli ini mawasdiri. Terlebih Alika. Dia jelas tahu dengan baik bagaimana sepak terjang Wina sebagai bandar gosip kelas wahid di sini. Umpan balik atau bahasa kerennya clickbaitWina sangat peyoratif dan provokatif. Tak ada kabar yang tak viral jika keluarnya dari lambe Erwina. ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD