November 2013
"Jadi perempuan genit sekali!"
Alika menghentikan langkah kaki yang hendak memijak lantai kamar kosnya. Suara berat yang menjadi rem cakram atas laju gadis itu adalah suara Ardiansyah Paradirga.Kakak tingkat yang sudah dihindarinya selama beberapa hari terakhir ini. Tepatnya setelah peristiwa jebakan banci tempo hari.
Hari terjadinya ciuman yang membuat Alika merasa dinistakan. Ciuman yang mempermainkan perasaannya. Ciuman yang .... Ah sudahlah, bahkan Alika sendiri tidak mampu menjelaskannya dengan kata-kata.
Belakangan, Alika sengaja datang ke indekos Ardi saat pemuda itu tidak berada di tempat. Si gadis berpostur tinggi tapi kurang berisi bahkan rela menunggu berjam-jam, agar bisa membersihkan kamar Ardi tanpa harus bertatap muka dengan cowok terganteng di fakultasnya. Alika juga melewatkan beberapa pertemuan untuk belajar bersama Ardi. Padahal sejak dibimbing Ardi, nilai Alika melesat pesat. Sungguh kerugian bagi Alika jika melewatkan bimbingan bersama Ardi. Tapi apa boleh buat, pikiran Alika saat ini sedang runyam. Abege polos ini tidak tahu harus bagaimana menghadapi Ardi semenjak merasa ditipu pemuda itu.
Sikap Alika yang terus menghindar, membuat Ardi geregetan bukan kepalang. Apa yang salah dengan Alika? Kira-kira seperti itulah pertanyaan yang mencuat di benak pemuda gemar makan bakwan ini.
Kedekatan dua insan beda standar memang baru beberapa bulan berjalan, tapi harus Ardi akui bahwa kehadiran Alika di sampingnya, telah membuatnya sangat amat nyaman.
Alika berbeda dari gadis-gadis lain yang datang untuk menggoda Ardi. Jika kebanyakan dari mereka menjaga image semaksimal mungkin, Alika justru memper-tontonkan kekurangannya semaksimal mungkin. Mulai dari lomba kentut dengan Sena, sampai yang terparah yakni lempar-lemparan upil. Alika tidak malu melakukan kekonyolan demi kekonyolan di hadapan Ardi.
Sebab, Alika adalah Alika. Dia akan berkata YA, jika YA. Dan akan berkata TIDAK jika TIDAK. Tulus dan apa adanya.Ardi merasa Alika bahkan tidak memiliki sedikit pun kesombongan. Sifat itulah yang membuat Alika memesona dengan segala kekurangan-nya. Alika yang polos dan lamban dalam berpikir, tak pelak menjadi hiburan tersendiri bagi Ardi. Apalagi jika kepolosan Alika memicu darah tinggi si Sena, pasti Ardi lah orang yang paling terhibur atas tingkah gila mereka.
Bagi Ardi, kekurangan Alika adalah sesuatu yang membuat dirinya merasa lebih sempurna. Ardi menyukai semua tantang Alika. Kepiawaian gadis itu meracik bumbu dan mengolah bahan makanan. Keceriwisannya saat bertanya dan ingin tahu tentang suatu hal. Juga, penampilan unik Alika yang membuat Ardi mudah mengidentifikasinya, sekalipun Alika sedang nyempil di tengah keramaian. Alika bagai benda antik yang hanya ada satu di dunia Ardi. Mungkin itulah yang membuat tiga hari yang Ardi lalui tanpa Alika menjadi begitu hampa. Terlebih sejak ciuman yang sukses menghentak-hentakkan jantungnya. Ardi semakin ter-obsesi terhadap si gadis dekil.
"Genit???" ulang Alika histeris seraya mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
“Iya, genit!”
"Kak Ardi lapar, ta?"
"Kamu itu Al. Jadi perempuan tidak bisa ya, biasa saja. Jangan bersikap segenit itu?" lanjut Ardi dengan muka dongkol.
"Kak," Alika menggeram rendah sambil memberi tatapan bingung kepada Ardi, "salah makan opo toh Kakak hari ini?"
Ardi menghampiri Alika yang sedari tadi geming di tempatnya, hingga jarak keduanya menjadi sangat dekat. "Kamu dan Dimas," kata Ardi dengan tatapan tajam. "Pacaran 'kan?"
Pertanyaan menikam—yang menurut Alika sangat konyol—dari Ardi telah menarik senyum ironinya.
Alika mendengkus. "Pacaran? Pacaran dari Hongkong, Kak?" jawab Alika retoris.
Ardi mempertajam tatapannya ke Alika.
"Kak Ardi ini kenapa sè?" Alika mundur dua langkah dan siaga memeluk pintu, bersiap menutupnya.
"Barusan, saya melihat kamu peluk-peluk si Dimas!" sinis Ardi dengan intonasi lebih tinggi.
Kini Alika mengacak rambut pendeknya akibat merasa frustrasi. Amat sangat frustasi. "Ya, Gusti!" keluh gadis itu sambil menghela napas berat. "Jadi karena aku peluk Dimas, terus Kak Ardi nuduh aku pacaran sama dia? Itu bukan pelukan è. Itu tuh pegangan," jelas Alika sambil mengusap wajahnya.
Memang, sejak dekat dengan Ardi dan Sena, keberadaan Alika tidak lagi dipandang sebelah mata oleh teman-teman seangkatannya. Tidak hanya teman wanita, teman prianya pun sekarang dengan terbuka menerima Alika. Sena adalah raja diraja dari semua organisasi. Pemuda ini aktif di hampir segala organisasi kampus. Tak heran, selain banyak ceweknya, Sena juga memiliki banyak pengikut setia.
Sementara Ardi, selain wajahnya yang tergolong tampan tidak tertolong, dia juga mahasiswa teladan yang jadi kesayangan para dosen di semua mata kuliah. Nama besar Ardi dan Sena sangat berpengaruh di Fakultas Ekonomi kampus mereka. Sungguh sebuah keberuntungan bagi Alika bisa dekat dengan kedua punggawa FE itu, sayangnyasi gadis oon bahkan tidak menyadari aji mumpung yang kini menclok di sisinya.
Ardi menggeleng, bibirnya merapat sejenak sebelum me-ngatakan, "Melingkarkan tangan kamu ke perutnya dan menem-pelkan tubuh kamu ke punggungnya, apa itu tidak cukup untuk didefinisikan pelukan?"
"Kalau gitu...." Alika menghela napas sebelum mela-njutkan ranting kalimatnya. "Kakak juga sering aku peluk-pelukin saat kita boncengan, bahkan tiga hari yang lalu kita ciuman, apa itu artinya kita pacaran?"
Malu, Alika dengan kekanakan menutup pintu kamarnya begitu saja.
"Al," panggil Ardi seraya mengetuk daun pintu bercat putih tulang itu.
Di balik pintu kamarnya, Alika duduk di lantai sambil menyandarkan punggungnya ke pintu. "Aku juga sering peluk-pelukin Kak Sena, Kang Gojek, sampai peluk-pelukin Bapak aku, saat kami boncengan. Apa kami juga pacaran?" kesal Alika dengan suara yang teredam oleh ruang berukuran empat kali lima meter persegi itu.
"Bukan begitu, Al! Masalahnya, kemarin Dimas sempat minta izin ke saya untuk nembak kamu," suara Ardi mulai melunak.
Penjelasan Ardi yang sangat tidak terduga, membuat Alika gegas membuka lagi pintu kamarnya, "Serius, Kak? Tenan, ta?"
"Bahagia sekali ya, kamu?" Ardi melipat tangan di d**a, dan memandang jengah ke arah Alika yang kini tampak girang.
"Yo bahagia ta, wong digodain Kang batagor aja aku udah sueneng pol-polan, apalagi denger mau ditembak Dimas."
Cengiran Alika sejujurnya mengatakan bahwa dia tidak serius dengan perkataannya. Namun bagi Ardi peranakan kutil wereng di depannya itu terlihat benar-benar bahagia.Karena itu tanpa sadar tangan pemuda tersebut mengepal."Jadi itu alasan kamu menghindari saya selama tiga hari ini?"
Pertanyaan Ardi barusan membuat Alika lemas seketika. "Astaga, Kakak kok bisa mikir gitu se?" tanya Alika sambil menga-songkan wajah melasnya.
"Karena faktanya memang begitu."
Jawaban dingin Ardi membuat Alika kesal. "Fakta opo?" balas Alika dengan mata menantang. "Yawes lah, jadi Dimas minta izin ke Kakak buat nembak aku, 'kan? Terus Kak Ardi ngasih izin?"
Ardi menjawab dengan tegas, "Jelas saya melarangnya!"
"Lho, kena—"
Ucapan Alika dipotong cepat oleh Ardi. "Dimas itu play-boy," elak Ardi sekenanya.
Lirikan penuh curiga dari mata Alika mulai mengintimidasi Ardi. "Ah masa?" komentar Alika seiring lirikan mautnya. "Jadi ndak apa, dong, kalau aku jadian sama cowok lain selain Dimas?" pancing Alika membuat ekspresi wajah Ardi berubah menjadi horor.
"Cowok lain siapa maksud kamu?" tanya Ardi penuh antisipasi.
"Anto?"
"Anto tempramennya buruk."
"Feri?"
"Feri m***m!"
"Candra?"
"Candra matre, bisa diporotin nanti kamu."
"Rahman?"
"Rahman seperti Mama Dede, kamu mau diceramahin terus menerus?"
"Divan?"
"Divan egois."
"Ali?"
"Ali jarang mandi."
"Yudha?"
"Ardiansyah Paradirga," skak Ardi tak sanggup Alika elak.
"...."
Alika tak mampu berkata-kata lagi. Menutup pintu kamar adalah satu-satunya solusi yang bisa dipikirkannya saat ini.
Kak Ardi kenapa sè?Desis Alika dalam batin.
"Jangan kabur, Alika Dissa Fahlevi!" Ardi berkata penuh penekanan sambil mengetuk pintu kamar Alika. "Buka atau...."
Belum sempat Ardi melanjutkan kalimatnya, Alika menampakkan batang hidungnya sambil membuka lebar-lebar pintu kamarnya. Sepercik senyum semburat di wajah tampan Ardi.
Sebenarnya pemuda itu tidak ingin mengancam. Dan sebenarnya prediksi ancaman di kepala Alika sangat jauh berbeda dengan wacana ancaman yang akan meluncur dari mulut Ardi.
"Atau opo?" hardik Alika yang diakhiri dengan mengeru-cutkan bibir.
"Atau...."
Ardi menggigit bibir bawahnya untuk menggunting kalimat yang menimbulkan letupan penasaran dari mata Alika. "Kamu mau dibeliin permen s**u mahal dulu, baru mau buka pintu?"
Alika merasa tertipu sekaligus lega. Dia pikir Ardi akan mengancam untuk tidak memberinya bimbingan lagi. Ternyata ... uasem. Ardi terkekeh geli melihat muka kesal Alika yang terbenam oleh pipi menggembungnya. Alika memang suka lollipop rasa s**u-yang di iklannya mengatakan bahwa itu permen s**u mahal-tapi entah kenapa ledekan Ardi kali ini sangat terdengar begitu me-nyebalkan di mata Alika.
"Aku iki kayak anak ayam...."
"Apa?" Ardi bingung karena Alika tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan.
"Yang baru menetas dari cangkangnya," lanjut Alika sambil merunduk, memandang kaki Ardi yang berbalut sepatu Adidas biru putih kasual.
Ardi semakin bingung ke mana arah pembicaraan Alika. "Maksud kamu, Al?"
"Dan orang pertama kali yang aku lihat adalah Kakak." Kini wajah sang gadis bermata hitam pekat terangkat ke arah muka Ardi.
"Al," lirih Ardi saat menyadari ada air mata mulai merembes dari mata bulat Alika.
Alika menghirup kuat oksigen di sekitarnya, lalu mengembuskan perlahan. "Karena itu, selama ini cuma Kakak yang aku ikuti. Cuma Kak Ardi yang aku lihat. Cuma Kakak yang aku dengar. Sebab cuma Kakak yang aku anggap cowok di hati aku," parau Alika sudah bercampur pingkal isak.
"Lalu kenapa kamu harus menghindari saya, Alika?"
Alika mengusap ingusnya sebelum berkata, "Karena aku takut, Kak."
"Kenapa harus takut?" Ardi semakin tidak mengerti.
"Ada begitu banyak alasan untuk mengagumi Kak Ardi.Tapi aku bahkan tidak bisa menemukan satupun alasan untuk berani mencintai Kakak."
Bibir tipis Ardi melengkung ke atas, memekarkan sebuah senyuman dengan cita rasa lega. Mahasiswa yang sedap di-pandang meski tanpa micin ini tidak ragu menarik Alika ke pelukannya. Di samping telinga sang gadis setengah tiang listrik, Ardi mengatakan, "Kamu tidak perlu keberanian untuk mencintai saya, kamu hanya harus mencintai. Dan cinta itu sendiri yang akan memberi kamu keberanian."
***
Poninya jatuh saat dia merundukkan kepala. Alika mengecek lagi isi kantung plastik hitamnya, sambil melangkah keluar dari toko langganan. "s**u, roti, lolypop. Okeh, komplit amunisiku," ujar Alika setelah menghitung ulang benda yang dia beli.
Tinggi tubuh Alika sudah 167 senti meter, berat badannya sedang berjuang mencapai angka 47 kilo. Tetapi yang dia bawa ke mana-mana masih jajanan anak TK.
Alika oh Alika!
Kapan gadis itu bertaubat membeli roti isi rasa stroberi, s**u kotak rasa cokelat, dan permen s**u tusuk rasa melon.
Tittt ... tittttt ... TIT!
Klakson motor dengan nada meminta perhatian menghen-tikan langkah Alika.
"Naik, Al."
Rupanya Ardi. Dia mengulurkan helm ke arah Alika, tapi Alika tidak serta merta menerimanya.
"Lho, Kak Ardi kok tumben kuliah pagi?" tanya Alika sambil memiringkan kepalanya ke kanan.
Ardi membuka helm yang menutup kepalanya agar Alika tak perlu bersusah payah mengintip wajahnya. Pemuda berjaket biru navy itu menjawab, "Saya ada urusan dengan bagian akademik. Ayo berangkat bersama."
Mata Alika berputar, itu tanda bahwa otak pas-pasannya sedang mencoba berpikir keras. Jika saja yang menawarkan adalah pria lain, Alika mungkin akan segera menclok layaknya kutu bertemu kulit kepala. Namun, jika tawaran ini datangnya dari seorang Ardiansyah Paradirga, ada beberapa pertimbangan yang tidak bisa Alika lewatkan. Salah satunya, siapkah mental Alika menerima bulli-an mahasiswi lain yang syirik akan kedekatannya dengan Ardi? Ardi memang bukan artis, tapi kepopulerannya membuat siapa pun yang dekat dengan Ardi akan disoroti.
Selama ini khalayak menganggap hubungan mereka hanya sebatas hubungan bos dengan jongosnya. Alika tidak perlu merasa menistakan ketampanan Ardi dengan keberadaanya. Akan tetapi, semua akan berbeda jika status Alika naik jadi kekasih Ardi.
"A ... Aku, emmm. Aku jalan kaki aja, Kak." Alika menolak dengan senyuman sopan.
Ardi menggaruk ujung alis kanannya sebelum merampas beberapa buku dan tas tangan yang ada di lengan Alika. "Naik, atau mau saya kiloin buku-buku kamu." Pemuda itu menatap Alika sekilas, lalu tersenyum licik.
"Ihhhh, Kak Ardi asem tenan e!"
Tidak ada pilihan. Alika naik meski perasaannya terhadap Ardi masih campur aduk. Kemarin, Alika bagai ketiban bulan. Eh, ketiban matahari. Ardi secara jujur dan terang-terangan mengatakan bahwa dia menyukai Alika. Ardi bahkan meminta Alika untuk mencoba memberanikan diri menerima cintanya. Menjadi pacarnya.
Alika tetap menolak. Gadis t***l itu bahkan menyesali dan meratapi keputusan cerobohnya semalaman. Dan pagi ini, pemuda yang kemarin dia tolak.Pemuda yang nyata-nyata mengguncang dunianya, menawarkan tumpangan menggiurkan. Rasa bahagia, sedih, kecewa, berdebar semua seperti di-blender jadi satu.
"Saya akan menunggu," kata Ardi yang tersadur bising jalanan pagi.
"HUH!"
"SAYA AKAN MENUNGGU DAN MEYAKINKAN KAMU, ALIKA!!!" teriak Ardi membuat beberapa pengendara memandang aneh ke arahnya.
Alika turut malu, dia mencubit perut Ardi untuk memberi kode agar kakak tingkatnya itu berhenti.
Motor Ardi memasuki gerbang UB, setelah meliak-liuk melewati beberapa gedung fakultas lain. Tibalah mereka di pelataran parkir Fakultas Ekonomi. Alika melompat cepat. Kabur adalah wacana yang sudah terancang indah di benak jelita jelantah ini.
"Jangan lari lagi, saya mohon."
"Kak Ardi opo'o, se?!"
"Saya serius dengan kamu, Alika." Tangan Ardi berhasil mengais jemari kanan Alika. "Berikan jawaban kamu di hari terakhir ujian tengah semester. Saya akan menunggu dan membuktikan kesungguhan saya."
Alika menatap Ardi yang terlihat sangat serius. Si poni dora berotak lemot tetap tidak berani coba-coba dengan mahakarya Tuhan yang teramat indah itu. Tidak.
"Tapi, Kak—"
Ardi menggandeng tangan Alika, mengajak gadis itu berjalan di sampingnya. "Ssstttt. Simpan apapun yang ingin kamu katakan. Karena saya tidak ingin mendengar apapun hari ini. Jawab saya tiga bulan lagi, di hari ujian terakhir. Mengerti?"
Alika mengangguk akhirnya, setelah sekian lama tercengang memandang Ardi. Sampai detik ini, Alika masih merasa dirinya mengalami halusinasi. Bagaimana bisa cowok terganteng ini kepincut sama batangan mie lidi gosong sepertinya. Apa saat perjalanan balik dari Banyuwangi ke Malang Ardi kesambet setan pohon asem, ya? Kira-kira seperti itulah pertanyaan yang terus berputar di kepala Alika.
Sepanjang perjalanan, banyak mata memandang ke arah Alika yang bergandengan mesra dengan Ardi. Pemuda itu bahkan mengajak Alika bercanda, agar Alika bisa menghiraukan pandangan orang lain terhadap mereka. Namun, jangan sebut namanya Alika jika fokusnya tidak mudah terdistraksi. Tatapan mereka menelanjangi kerisauan Alika. Dia sampai memperhatikan penampilan Ardi, lalu membandingkannya dengan penampilan sendiri. Miris. Sangat jauh berbeda. Ardi terlihat seperti Ikan Emas yang indah dan berkilauan, sementara dirinya bagai ikan sapu-sapu yang b***k dan aneh.
Kak Ardi adalah satu-satunya cowok yang tidak malu menggandeng tanganku, saat bahkan tidak ada satu pun cowok yang sudi berjalan di sampingku. Aku akan mengingat ini, Kak. Aku tidak akan pernah menggantikanmu, gemuruh hati Alika terenyuh.
***
Malam itu Alika berencana memasak rendang untuk menyambut kedatangan keluarga Ardi. Dia bahkan spesial membeli panci presto baru untuk membuat rendang yang empuk. Terus terang, tadi pagi Alika memutuskan berdamai. Hatinya lega setelah mendengar pernyataan Ardi yang rela menunggu jawabannya tiga bulan mendatang. Ardi bahkan benar-benar membuktikan keseriusannya terhadap Alika dengan tindakan-tidakan kecil nan sweet. Jadi, meski percaya nggak percaya terhadap fakta ini, Alika tetap mencoba memberanikan diri menerima Ardi.
Sebelum berpisah di kampus, Ardi mengatakan bahwa orang tuanya akan datang ke Malang untuk mencarikan kamar kos buat Ayu. Ya, adik Ardi, si Ayu, ingin sekolah di Kota Malang. Ayu sudah terlalu sering pindah sekolah dengan membuat masalah fatal, sehingga tidak ada lagi sekolah di Banyuwangi yang mau menerimanya. Selain itu, Ayu terlalu sering kabur ke Malang karena keberadaan Kakaknya dan Sena di sini. Orang tua Ayu akhirnya sepakat menyekolahkan puterinya di Malang saja.
Dengan semangat '45, Alika memamerkan kepiawaian memasaknya pada Ardi.
"Jangan ke mana-mana, Kak! Tetap di situ dan tunggu sampai aku selesai masak. Oke?" Alika membujuk Ardi agar mau duduk manis di sampingnya.
"Iya," jawab Ardi sabar.
Sebelum meracik bumbu, Alika terlebih dahulu mencuci daging lalu memasukkannya ke dalam air mendidih selama dua puluh detik, kemudian angkat dan tiriskan. Hal itu dilakukan agar darahenyah, bau amis pergi,bakteri hilang, dandaging lebih empuk. Baru deh, dimasak dengan panci presto dan aneka bumbu lengkapnya.
"Ini gimana, sih, nutupnya?" keluh Alika sambil memutar-mutar tutup panci.
Ardi bangkit dan mengambil buku paduan yang ada di dalam kotak kardus. Ardi membolak-balik buku panduan.
"Kamu belum pernah pakai ini?" Masih fokus membaca buku panduan, Ardi melanjutkan, "Tidak ada cara menutup panci di buku ini. Bukunya cuma berisi resep dan ketentuan garansi."
Alika menghela napas kecewa. Namun, beberapa saat kemudian senyum ceria tersungging di wajahnya.
"Udah, Kak. Udah bisa," kata Alika girang.
Ardi ikut tersenyum lega dan kembali duduk. Sementara Alika mulai sibuk meracik bumbu.
"Nih, lihat! Aku tuh paling seksi kalau lagi ngulek bumbu," seloroh Alika membanggakan diri.
Ardi terkekeh mendengar penuturan Alika. "Iya deh, saya percaya," respons Ardi membuat Alika tak segan menggetok jidat lelaki itu dengan ulekan.
"Kak Ardi ndak percaya?" sungut Alika penuh penekanan seraya menyipitkan mata.
Ardiansyah Paragirga awalnya ngeri sekaligus geli, melihat Alika menampakkan ekspresi devil unyu. Tetapi kegelian-nya segera berakhir ketika Ardi menyadari ada sesuatu yang tak beres. Tutup panci presto mengepulkan asapdari sela tutupnya dan berbunyi cukup keras sebelum akhirnya meledak, menyem-burkan seluruh isi.
Untung saja Ardi dengan sigap pasang badan untuk melindungi Alika. Tutup panci, cipratan air panas, beserta beberapa potongan daging mengenai punggung Ardi, menga-kibatkan punggungnya terluka parah. Ardiansyah Paradirga mengaduh lirih, sebelum kehilangan kesadarannya.
"KAK ARDI, JANGAN MATI DULU!" teriak Alika histeris, begitu menyadari tubuh Ardi terkulai dalam pelukannya.
Raungan Alika mengundang perhatian penghuni kos yang lain. Beberapa teman yang kebetulan sedang berada di tempat, langsung membantu Alika membawa Ardi ke rumah sakit terdekat. Luka bakar yang timbul memang tergolong luka derajat dua. Tidak terlalu parah, tapi tidak sederhana juga. Alhasil Ardi harus dirawat selama satu minggu. Alika pun sukses membuat orang tua Ardi bermalam di rumah sakit, yang biaya permalamnya dua kali lebih mahal daripada biaya suite room hotel bintang tiga.
Tak cuma rasa bersalah, Alika juga benar-benar menyesal telah membuat Ardi memiliki bekas luka yang cukup lebar di punggungnya. Bahkan jika harus menjadi pembantunya Ardi selama tiga tahun, tetap tak akan mampu mengurangi penyesalan di hati Alika. Normal jika Alika amat sedih. Dia telah melukai orang yang paling dicintai. Semua terjadi, karena sesungguhnya yang paling terluka adalah orang yang menciptakan luka.
Mengapa Alika harus menandai cintanya dengan sebuah bekas luka. Tidak adakah cara lain yang lebih bersahaja?