Merindu Lagi

2514 Words
September 2019 "Iya, jadi Pak Para itu adalah Mas Ardi cinta pertama Mbak Al," ucap Wina seyakin-yakinnya. "Waduh!" tanggap Fredi yang terkejut setengah mati. “Sudah benci sebegitunya, ternyata cowok yang dihina-dina adalah cinta pertamanya?” Kedua manusia tersebut sudah hampir satu jam sarapan sambil bergosip, tentang hubungan Para dan Alika di kantin kantor. Wina tidak cuma membagi rahasia ini ke Fredi, hampir seluruh karyawan kantor PT GCI yang pagi itu ada di kantin pasti kecipratan kabar terhangatnya. Hanya butuh setengah hari, gosip tentang kesadisan Alika dalam mencampakkan Ardi sudah tersebar ke seluruh penjuru kantor. Alika belum menyadari hal tersebut karena dia sibuk dengan perkerjaannya. Sampai sebuah jeritan tertahan dari Wina yang terkejut membaca isi pesan di ponselnya, membuat perhatian Alika beralih kepadanya. "Kenapa, Win?" tanya Alika penasaran sambil berusaha mengintip ponsel Wina. Terbata-bata Wina menjawab, "E-enggak ada apa-apa kok, Mbak." "Jangan bohong kamu, Win," sahut Fredi yang tiba-tiba menyambar ponsel Wina. "Waduh!" Fredi mendelik tatkala matanya membaca isi percakapan yang berjalan di grup w******p pada ponsel Wina. Otomatis Ardi yang duduk di samping Fredi langsung tertarik untuk menengok isi pesan tersebut. Sama seperti yang lain. Ardi juga terkejut ketika membaca sekilas pesan yang berjalan cepat. Alika makin tercengang setelah kedua pria di hadapannya kompakan mematung setelah menengok layar smartphone berlogo apel tergigit itu. "Ada apaan, sih?" sungut Alika sambil merebut ponsel Wina dari tangan Fredi. Ardi turut merebutnya dengan gesit. Kini, Alika dan Ardi saling tarik-menarik. Ponsel malang Wina menjadi rebutan. "Lepasin, nggak? Kamu bosan hidup!" bentak Alika mengancam. Ardi hanya menggeleng sambil terus mempertahankan ponsel Wina. Di samping Alika, ada Wina yang harap-harap cemas seraya menggigiti kuku jarinya. Sementara di samping Ardi, ada Fredi yang berkali-kali menepuk jidat."Lepasin!" teriak Alika melengking, tapi Ardi tak gentar sedikit pun. Terpaksa Alika mengeluarkan senjata pamungkasnya untuk melemahkan pertaha-nan Ardi. "PAK ARKA!" seru Alika membuat Ardi panik dan lengah. Lolos sudah ponsel itu ke tangan Alika, dengan cepat dia mengusap layarnya dan melihat isi pesan yang seketika membuat atmosfer di ruangan ini menjadi mistis. "WINAAAAA!" Teriakan Alika membahana. "Ampuni aku, Mbak. Ampun...." Wina menunduk takut sambil menggenggam tangan Alika.  Isi grup w******p karyawan GCI berisi gosip tentang kejamnya Alika dalam mencampakkan dan melupakan Ardi. Alika menghempaskan tangan Wina kesal. Dia memijit kepalanya yang pening. Setelah membaca pesan di grup, Alika hanya duduk lemas dengan tangan terlipat di depan kening. Wajahnya pucat, tanpa ekspresi. Wina menyebutnya, keadaan tenang sebelum badai. Namun, Fredi justru menyimpulkan bahwa Alika sedang berpura-pura tegar. Tidak pernah terbayangkan, teman-temannya akan membuat grup w******p baru tanpa dirinya, dengan tujuan yang amat sangat mulia, yakni mempergunjingkan kekhilafan Alika. Sementara itu, hati Ardi merasa turut terlukai melihat gadis yang dicintainya harus mengalami hal tidak menyenangkan seperti ini. Ardi paham, Alika sudah kenyang menjadi bahan bulli-an sejak kecil. Bahkan selama mereka berkuliah, tak sehari pun Alika lolos dari hinaan. Sekarang gadis itu sudah cantik, seharusnya Alika tidak menerima olokan lagi. Namun pemikiran Ardi salah, setelah cantik bukan fisik lagi yang mereka cerca, banyak jalan menuju Roma. Penggosip memang punya banyak cara untuk menguliti kekurangan orang. Jam makan siang tiba, Wina mengajak Alika ke kantin. Namun, gadis itu menolak dan menyuruh mereka makan siang terlebih dahulu. Fredi dan Wina pun pergi makan siang seperti biasanya, disusul Ardi yang tiba-tiba menyamai langkah mereka. "Mau ke kantin, Pak Parah? Ehh, Pak Ardi?" Fredi bertanya seramah mungkin. "Iya," jawab singkat Ardi disertai anggukan. "Tumben?" celetuk Wina yang merasa aneh. Selama ini Ardi memang tidak pernah makan siang di kantin, dia beralasan membawa bekal. Padahal, sebenarnya si babi buncit sengaja tidak makan siang untuk menghemat pengeluaran. Hari ini pun Ardi ke kantin bukan untuk makan siang, tapi untuk membelikan Alika sesuatu. Setelah mendapat apa yang dicarinya, Ardi bergegas kembali ke ruang kerja. Tanpa mengatakan apa pun, Ardi menyodorkan tiga benda sakti. Sepotong roti isi selai stroberi, s**u kotak rasa cokelat dan permen tusuk rasa s**u melon kepada Alika. Gadis itu terkejut ketika Ardi meletakkan amunisi favoritnya duludi atas meja. Tapi belum sempat Alika bertanya apa maksud Ardi, pria itu sudah lebih dahulu pergi. Beberapa saat setelah kepergian Ardi, sebuah pesan masuk ke ponsel Alika. Ardi : Roti, s**u, dan permen itu untuk kamu. Semoga mereka bisa memperbaiki moodmu. Pesan dari Ardi membuat Alika terenyuh. Tanpa terasa air hangat mengumpul di sudut matanya. Gadis itu benar-benar tersentuh karena Ardi masih mengingat dengan baik apa yang dia suka dan apa yang dia benci. Bukti nyata bahwa Ardi tak pernah sekalipun melupakan kebersamaan mereka. Aku yang menuduhmu lupa kenangan kita, tapi sepertinya aku lah yang terlebih dahulu melupakan keberadaanmu, Kak. Isak Alika dari hati terdalam. *** "Mau yang pink apa yang merah, Mbak Al?" Wina menyodorkan dua pilihan warna lipstik untuk dipulaskan pada bibir Alika. Langkah terakhir dari riasan ala Korea by Wina.Treatment seperti ini jarang-jarang Wina berikan gratis kepada teman-temannya. Sekarang pun Wina berbaik hati merias Alika hanya karena merasa bersalah telah menyebarkan gosip dan menusuk Alika dari belakang dengan membuat grup baru. "Merah aja, deh," jawab Alika singkat. "Nahhhh, jeng jeng jeng ... inilah riasan K-style by Lee Win-a," seloroh Wina seraya mengarahkan cermin ke wajah Alika. Tampak Alika cukup puas dengan riasan Wina, sehingga dirinya takjub dengan wajahnya sendiri. Alika memang cantik karena rajin perawatan wajah ke klinik kecantikan, tapi dia jarang menggunakan makeup seperti pensil alis, lipstik, eye shadow, eye liner, dan lain sebagainya. "Pagi semua," sapa Fredi yang baru tiba disusul Ardi di belakangnya. Alika jadi panik.Dia gegas menyembunyikan wajah menterengnya dari Ardi. Si jelmaan Yoona SNSD bahkan mengambil sebuah map untuk dijadikan penutup wajah. Wina terkekeh melihat tingkah konyol Alika yang saltingakan kedatangan Ardi. "Saya butuh data anggaran gaji karyawan tiga bulan terakhir, Mbak Wina," pinta Ardi pada Wina sambil menyalakan komputer di mejanya. "Oh, kalau data seperti itu Pak Para bisa minta langsung ke Mbak Al," jawab Wina sambil menyikut lengan Alika. "Iya, 'kan, Mbak Al?" Sontak Alika menjawab pertanyaan Wina dengan sebuah cubitan di perut. Wina terpekik, kesakitan. Tetapi beberapa detik kemudian gadis halu yang mengaku calon istri Lee Min Ho itu terbahak. "Butuh buat kapan?" jawab Alika yang masih menyem-bunyikan wajah di balik tudung mapnya. Ardi pun akhirnya menyodorkan sebuah berkas. "Ini hasil analisis anggaran modal sebelumnya. Setelah saya cocokkan dengan buku besar ternyata ada selisih angka yang cukup signifikan. Saya butuh secepatnya data itu untuk mengecek ulang, tapi jika kamu masih sibuk, nanti saja." "Selisih signifikan?" kaget Alika sambil bangkit dan menya-mbar berkas yang disodorkan Ardi. Ardi seperti terhipnotis melihat dandanan Alika pagi ini. Cantik.Alika masa kini dengan tampilan senatural mungkin saja sudah sangat menarik, apalagi ada sentuhan makeup. Ardi seperti disambar kilau cahaya yang terpendar terang dari wajah Alika. "Mbak Al kenapa? Wajahnya kok aneh?" goda Fredi yang sebenarnya juga terkesima melihat penampakan Alika pagi ini. "Bukan urusanmu, Pred!" dengkus Alika melotot kesal ke arah Fredi. Setelah membolak-balikkan kertas dalam map transparan yang diberikan Ardi, Alika akhirnya menemukan sebuah ketimpangan yang dimaksud. Dia segera mungkin menyalakan komputer dan gesit mengetik  di papan ketik. Setelah menemukan apa yang dicari, dengan mata tajamnya Alika mencoba mencocokkan data."Wuahhh, bener-bener nih Pak Eko. Ckckckkk," gerutu Alika sambil menggeleng kesal. "Kenapa dengan Pak Eko?" tanya Fredy penasaran. Alika tidak sempat menjawab, dia langsung berjalan menuju ruangan Arka. Langkahnya yang menggebu karena kesal teringat kecurangan Pak Eko seketika terhenti. Sebelum masuk ruangan Arka,  Alika mengintip sejenak penampilannya di kaca kabin sebelah pintu ruang kerja bosnya. Kebetulan sekali ada masalah seperti ini. Jadi aku tidak perlu repot-repot lagi mencari alasan basi untuk menemui Arka.Dewi Ganjen dalam diri Alika mulai menguasainya. Setelah beberapa kali Alika mengetuk pintu, akhirnya terdengar suara samar Arka yang mempersilakannya untuk masuk.Jangan heran jika Arka sudah di kantor sepagi ini. Dia memang menejer, tapi di timnya dia adalah orang yang paling rajin. Arka datang paling awal dan pulang paling akhir. Gila kerja, begitulah julukannya. Anak tunggal dari keluarga Sihartama itu telah terlatih bekerja keras meski hidupnya sangat amat berkecukupan. "Ada apa, Al?" sambut Arka ramah. "Ini, Ka. Ehh, maaf, maksud saya, Pak Arka. Ada hal penting yang harus saya bicarakan." Arka menarik seutas senyum tipis. "Nggak apa, nyantai aja ... toh cuma ada kita berdua di ruangan ini." "Katanya saya nggak boleh panggil gitu selama di kantor." Alika memutar bola matanya kesal. "Kemarin gue ngomong gitu karena kesal sama lo," balas Arka disertai senyum gemas. Alika memanyunkan bibir cukup runcing sebelum berkata, "Bercandamu serem, Ka!" Arka hanya mampu tertawa lembut, lalu berdiri dari kursinya dan beranjak ke sofa. Tak lupa Arka mempersilahkan Alika duduk sebelum memulai pembicaraan yang katanya penting tadi.  Alika dan Arka ini sebenarnya sangat dekat. Mereka sempat menjalani masa magang dan pelatihan bersama. Jika dahulu Ardi tertarik kepada Alika karena kepolosannya. Pada pertemuan pertama, Arka justru tertarik kepada Alika karena kecantikannya. Ya, Alika si udik buruk rupa sudah bermetamorfosa menjadi gadis menawan saat bertemu Arka. Lebih dari teman,tapi tidak cukup untuk disebut sekadar sahabatan. Ehmmm, sebenarnya Arka sempat nyaris menyatakan perasaannya ke Alika, lho. Tepatnya sebelum Arka membuka rahasia bahwa dirinya adalah cucu dari pemilik perusahaan, lalu meroket pesat menjadi menejer keuangan. Namun, cinta Arka berakhir mengambang. Alika menjaga jarak sejak Arka menjadi atasannya. Kini mereka hanya sahabat lama, yang sesekali adu mulut di kantor.  "Jadi, sepagi ini mau ngomongin apa?" tanya Arka mem-buka. "Ini, Ar.Analisis anggaran biaya modal yang dibuat oleh Pak Eko, financial analyst sebelumnya. Banyak banget ketimpangan. Orang itu udah sabotase angka pengeluaran anggaran dasar, Ka!" jelas Alika seraya menyodorkan berkas tersebut kepada Arka. "Kok kita bisa kecolongan sih? Kalau kakek gue tahu, bisa digorok hidup-hidup cowok ganteng di hadapan lo ini." Sempat-sempatnya Arka narsis dalam kondisi geting. "Kan yang terima semua laporan ini kamu, Ka. Aku mah cuma bertugas menghitung gaji dan membuat beberapa laporan," sanggah Alika tak mau menanggung salah. "Ini juga aku tahunya dari Kak Ardi," lanjut Alika dengan nada lebih rendah. "Ardi siapa?" "Eh. A-anu, Pak Para maksudku.Kan namanya Ardiansyah Paradirga, kayaknya lebih enak dipanggil Kak Ardi, deh." Alika ngeles disertai senyum garing. "Wow. Rupanya kamu sudah berdamai dengan musuh bebuyutanmu itu?” sindir Arka menuai rotasi cepat bola mata Alika. “Iya juga, sih. Lebih enak Ardi daripada julukan yang lo anugerahkan ke dia 'Si-lu-man Ba-bi Bu-ncit'. Itu parah, Al." Alika tak bisa berkutik. Dia hanya mampu meringis. Menunjukkan serentetan gigi rapi, dengan bibir merah jambu yang membingkai manis wajahnya. "Udah, 'kan? Atau masih ada yang ingin dibicarakan? Mengenai masalah Pak Eko, nanti gue akan pikirkan solusinya. Thanks untuk infonya," pecah Arka untuk mengurai hening yang sesaat membuat mereka jadi canggung. "Lo nggak bercita-cita balik?" "Eh, iya. Aku balik dulu deh." Alika jadi salah tingkah. Masih terus berpikir keras, tapi Alika tetap melangkah pergi untuk meninggalkanruang Arka. Tepat sebelum membuka pintu untuk keluar, gadis itu berbalik lalu mengatakan sesuatu dengan gugup. "Emm, nanti siang kamu ada janji makan siang nggak?" "Kenapa? Lo butuh temen kondangan?" sindir Arka mengi-ngat  dandanan Alika pagi ini lumayan mentereng. “Ih, Arka!” Pipi Alika merona di balik pulasan make up hasil tangan Wina. Perlahan tapi pasti, dia menutup wajahnya dengan tangan. "Kok diumpetin?" "Issshhh, makeup ini tuh bukan buat kondangan, Ka. Tapi buat godain kamu," jawab Alika blak-blakan, masih dengan menyembunyikan wajahnya. Sekarang gantian Arka yang bersemu merah dan salah tingkah akibat recehan kejujuran Alika. "Ehemmm...." Arka berdehem untuk melonggarkan napasnya yang tiba-tiba engap akibat kege'eran. "Jadi, tujuan kamu datang ke sini dan pakai makeup se-perti itu buat godain gue?" Arka memastikan. Si cucu pemilik perusahaan yang kini mengenakan kemeja slim fit warna ungu muda, berusaha bertanya sesantai mungkin. Sedangkan sang gadis tidak mungkin bisa santai. Dia  menurunkan tangannya dari wajah kemudian menjawab, "Iya, Ka. Puas kamu!" Alika manunduk malu, seraya mencebikkan bibirnya. Arka justru tersenyum gemas, dia menatap Alika lamat-lamat. Tatapan yang sulit diartikanoleh gadis berzodiak Virgo di depannya. Arka terlihat mengerutkan dahi, dia juga menggigit bibir bawah untuk beberapa saat. Apa yang Arka pikirkan tentang aku? Menghirup napas dalam-dalam merupakan caraAlika mengumpulkan keberanian untuk bertanya, "Jadi … kamu tergoda nggak dengan penampilanku?" "Tergoda." Arka manggut-manggut dengan posisi jemari memegangi jangut bersih tanpa brewoknya. Jawaban yang tidak terdengar seperti jawaban, tapi lebih seperti pertanyaan terhadap dirinya sendiri. "Yang bener!" kesal Alika menyangka Arka bermain-main dengannya. "Alika. Gue yakin tidak ada satu pun cowok normal yang nggak tergoda sama elo. Dan gue itu NORMAL." Alika tercekat. Dia tidak menyangka akan semudah itu menarik perhatian Arka. Padahal secara kasta, mereka jauh ber-beda. "Ehemmm,” dehem Alika untuk merilekskan diri. ”By the way kamu nggak capek ya, Ka?" Arka mengangkat alis kiri. "Capek kenapa?" "Capek lari-lari di kepala aku," gombalkadaluarsadari Alika tetap mampu menggelitik Arka yang tampak  tersipu dalam senyum dan binar matanya. "Kalau kamu capek ada bahu aku kok yang siap menjadi sandaran kamu setiap waktu," lanjut Alika membuat Arka semakin melambung tinggi terangkat balon-balon baper. Arka menyondongkan tubuhnya, sedikit lebih dekat ke posisi Alika duduk. "Lo ngambil les privat ngereceh kayak gini di mana sih, Al?" bisik Arka seraya menjewer pipi Alika dengan greget. Gadis itu memekik, "Uh, sakit tau." "Lalu apa selanjutnya?" tanya Arka melepaskan jeweran-nya. Lalu Apa? Jangan-jangan Arka berharap aku menyatakan perasaan padanya? Apa ini nggak terlalu cepat? Alika bingung harus menjawab apa untuk pertanyaan Arka. "Nanti siang mau ngajak ke mana?" lanjut Arka seraya mengangkat dagu ke arah Alika. "Mau lunch?" Alika menghela napas lega, ternyata dugaannya salah. "Aku udah masak spesial buat makan siang kita. Nanti kita makan bareng di sini aja, Ka," tawar Alika antusias. "Hemmm ... gimana kalau lo beriin bekal lo ke Wina, trus kita lunch di luar. Kebetulan ada restoran seafood enak banget di sekitar kantor kita, gue yang traktir," ucap Arka bersemangat. Alika mengangguk pelan, sembari menyunggingkan seulas senyum tak ikhlas. Meski begitu, hati Alika masih sedikit kecewa karena Arka menolak makanan yang dimasak khusus untuknya. Penolakan Arka atas masakannya bikin Alika mendadak rindu pada sosok Ardi. Alika rindu seseorang yang menantikan hidangan yang dia masak. Seseorang yang menghargai makanannya. Seseorang seperti Ardiansyah Paradirga.Alika pamit mening-galkan ruangan Arka dengan menyetujui tawaran pria tersebut. Dia kembali ke ruangan timnya dengan langkah lemas. Misi pende-katan pada Arka memang berhasil, tapi bukannya berbunga-bunga, malah sesak yang kini dia rasa. Di ruang timnya, entah kenapa mata Alika langsung tertuju pada sosok yang memiliki meja persis di depan meja kerjanya. Alika memandang Ardi yang tengah sibuk dengan setumpuk map dan monitor komputernya. Kalau dipikir-pikir daripada mem-berikan masakan spesialnya ke Wina, yang belum tentu suka dan bisa jadi istri abal-abal Lee Min Hoo itu nyinyirin hasil tangan Alika. Lebih baik memberikan bekalnya pada pria yang sejak dulu telah terbiasa dan suka dengan cita rasa masakan sederhananya. Bukan tidak punya pilihan lain, Alika bulat tekad memberikan bekal buatannya ke Ardi karena dorongan kuat dari hati. Selain itu Alika juga ingin berterima kasih atas s**u cokelat, roti stroberi, dan lollipop rasa melon yang kemarin Ardi sumbangkan kepadanya saat ia gundah. "Ini buat Kakak," bisik Alika sambil menyodorkan kotak bekalnya pada Ardi melalui samping meja, agar Wina dan Fredi yang saat ini sibuk tidak melihatnya. "Anggap aja makanan ini sebagai ganti roti dan s**u yang kemarin. Terima kasih, Kak Ar!" lanjut Alika tanpa berani menatap mata Ardi. Alika segera mengalihkan perhatiannya ke layar monitor begitu Ardi menerima kotak bekal yang dia asongkan, sehingga Ardi tidak memiliki kesempatan menjawab perkataan Alika. Kotak bekal itu membuat Ardi berakhir dengan tersengat rindu. Kini, yang merindu lagi bukan hanya Alika, tapi keduanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD