“Nggak. Numa saja. Aku senang jadi mamamu.” Morgan mengangguk tersenyum, sorot matanya menunjukkan kagum saat melihat Numa. “Aku sudah melihat ketulusan di matamu, Numa. Kamu tulus mencintai papaku,” ucapnya, dan Numa merasa sangat bahagia. Lagi-lagi Molly memandang keduanya kagum, di usia mereka yang sangat muda tapi sudah menghadapi masalah yang pelik, Morgan yang mengalami perceraian kedua orangtuanya, dan Numa yang harus menyembunyikan status pernikahannya. “Astaga. Dia Timo banget, Numa. Tapi yang ini lebih tegas,” ujar Molly saat Morgan sudah naik taksi online. “Ya, kamu benar banget.” “Mana cakep lagi, Beh, nggak kaleng-kaleng anak om Timo ya?” Molly lalu menoleh ke Numa. “Ck, nggak kebayang cakepnya bagaimana anak lo ma om Timo nanti … mana lo cantik begini?” “Haha, lo lebay,

