“Ha?” Hesti memaklumi Irfan yang tidak percaya, suara Irfan sangat jelas di telinganya, sampai dia harus memperbaiki posisi ponsel di telinganya. “Iya, Irfan. Aku nggak percaya, tapi—“ “Mungkin kamu salah dengar, menemui mantan istri barangkali,” potong Irfan. “Nggak, Irfan. Mereka bilang istri dan bukan mantan istri.” “Atau mungkin mereka yang salah dengar dari Timo.” Hesti menghempaskan napas jengkel, tidak menyukai keadaannya yang penuh tanda tanya. Dia ragu-ragu mengamati keadaan meja resepsionis yang tidak terlalu sibuk. “Oke, Irfan. Aku akan memastikannya sendiri,” ujarnya kemudian. Hesti melangkah kembali ke meja resepsionis dan dia ingin berbicara dengan sekretaris Timo. Hesti sudah berdiri di depan meja resepsionis dan lagi-lagi dengan mudahnya resepsionis itu menyambungka

