Yuni tersenyum kecil saat membaca pesan dari Numa di awal pagi. Numa memintanya untuk mengirim pakaian kerja sesegera mungkin. Dia yakin Numa pasti melewati malam indah semalam bersama pria yang dia cinta, apalagi mereka sudah lama tidak berjumpa dan tanpa berkirim kabar. “Apa senyum-senyum?” Yuni terkesiap, cepat-cepat menutup aplikasi pesan dan menukar dengan media sosial lain. “Biasa, Mas. Video lucu-lucu.” Irfan membelai pundak polos Yuni. “Pantas kamu selalu hepi kalo kerja, sukanya nonton video lucu.” “Iya dong. Harus begitu, biar hati dan perasaan senang terus setiap hari.” “Kalo melihatku bahagia nggak, Yun?” tanya Irfan sambil mengecup d**a Yuni. “Iya, Mas. Aku bahagia banget.” Yuni membalas perlakuan Irfan dengan kecupan di bibir Irfan. “Aku mau ambil baju di ruangku, Mas.

